My Edelweiss

My Edelweiss
Cemburu?



Cahaya keemasan menerobos masuk melalui jendela kaca besar tepat mengarah ke tubuh Aluna. Surai hitam legamnya yang terurai hampir menyentuh lantai tampak berkilauan.


Wanita itu merengangkan tubuhnya, mengangkat tangannya tinggi ke langit-langit kamar. Kulit putih pucatnya tampak berkilauan di bawah sinar mentari. Aluna yang mulai tersadar itu, kini memandangi ujung jemarinya yang ramping.


"Hmm, sudah pagi lagi. Padahal aku baru saja tidur, ini semua gara-gara pria kurang ajar itu!"


Manik mata berbentuk almond itu tampak bergetar, pandangannya tak menentu. Saat ini hatinya bagaikan gado-gado. Semua rasa bercampur aduk, kejadian kemarin dengan Alfaro membuatnya seakan tidak ingin beranjak dari posisinya saat ini. Ya, ia tak ingin pergi bekerja!


Apa aku izin tidak masuk saja ya? Tapi, ini hari senin! Laporanku pasti menumpuk kalau aku absen. Baiklah, aku terpaksa harus melihat tampang playboy cap capung itu.


Akhirnya setelah beberapa menit melamun, Aluna turun dari zona ternyaman kaum rebahan itu. Kakinya bergerak malas menuju kamar mandi, hanya beberapa menit kemudian ia sudah siap dengan setelan black blouse dan pencil long pants berwarna kopi susu.


Pagi itu rona wajahnya tak cerah, tepat lima menit sebelum absensi terakhir Aluna tiba. Wanita itu melangkah gontai sembari mengayunkan tas tangannya.


"Pagi, Aluna," sapa Alfaro yang entah sejak jam berapa duduk di depan meja kerjanya.


"Pagi."


Aluna menarik kursi tempurnya dengan lemas. Ah! Lelaki itu masih saja tersenyum seperti biasa. Atau memang dia termasuk golongan pria bermuka tebal? Aih, seperti badak bercula saja.


Manik mata Aluna bergerak naik-turun. Berpindah dari layar monitornya kemudian melirik punggung Alfaro. Sedetik berlalu tidak ada respon. Semenit bergulir masih bergeming. Ternyata benar dia lelaki bermuka bilik bambu! Bahkan kata maaf saja tidak ada.


"Hey, playboy kadal!"


Alfaro tidak menoleh ke belakang, karena memang ia tak merasa itu namanya. Lelaki itu masih saja sibuk dengan berbagai dokumen yang harus dicek.


Aluna menendang pelan bagian belakang kursi Alfaro. Lelaki iru tersentak dan menoleh ke belakang. "Ada apa, Lun?"


Kabel putih panjang terjulur dari daun telinganya, Alfaro segera melepas benda itu. Pantas saja ia tidak menoleh, ternyata lelaki itu memakai headset. Di jam kerja seperti ini memakai properti yang bukan alat kerja sungguh dilarang. Namun, tampaknya itu tidak berlaku bagi putra Dewangga.


"Enggak merasa bersalah?" tanya Aluna ketus.


Lelaki itu mengerutkan keningnya. "Salah? Aku bahkan belum keluar ruangan dari tadi. Memang ada masalah apa?"


Astaga! Lelaki macam apa dia itu? Atau mungkin kemarin Alfaro kerasukan memedi, sehingga ia tak sadar telah mencium Aluna di depan umum.


"Ha-ha, jangan pura-pura amnesia!"


alfaro mengerucutkan bibir sembari menepuk-nepuk pipinya. "Oh iya, soal ciuman kemarin!"


Tiba-tiba pria itu berteriak, sontak seisi ruangan itu menoleh ke arahnya. Alfaro hanya cengar-cengir sembari mengatupkan kedua tangan untuk meminta maaf. Banyak dari mereka yang bergumam sendiri. Mungkin menganggap anak baru itu pria berotak mesum.


"Lun, maafin aku ya. Kemarin itu bagiku biasa." Alfaro mengedip-kedipkan mata seperti anak kecil.


Manik mata Aluna membulat sempurna. "Biasa bagaimana? Apa kamu ini seorang maniak? Hal tabu begitu kamu bilang biasa, hah!"


Alfaro menempelkan jari dibibirnya. "Ssst, pelankan suaramu!"


Kali ini karyawan lain yang berada di ruangan itu melongokan kepala, melihat ada drama apa antara Aluna dengan anak baru? Tetapi sesaat kemudian keadaan kembali kondusif karena kekasih Nino itu memilih untuk diam.


"Minta maaf atau kamu aku laporkan!"


Wanita berparas oriental itu menelan salivanya sendiri, saat ini di balik punggung Alfaro berdiri seorang pria yang baru saja namanya disebut.


"Lapor apa?" tanya Nino dengan alis mengernyit.


Alfaro membalik badan dan kembali menatap layar. "Itu, kemarin aku mencium Aluna."


Gila! Alfaro begitu terus terang, apa ia tidak pernah berpikir dulu sebelum berbicara? Dengan cepat Aluna mengambil alih pembicaraan berbahaya itu.


"Begini, maksudnya bukan ciuman nganu, tapi-" Aluna menggigit bibir, melihat tatapan lurus Nino.


"Ikut aku ke ruanganku. Sekarang!" Nino menarik pergelangan tangan kekasihnya tanpa mendengar penjelasan apapun.


Lelaki berbadan kekar itu terus menggiring tubuh sintal Aluna, sesekali wanitanya merengek agar ia melepaskan cengkeraman. Namun, bukan Nino jika ia mengabulkan permohonan orang yang dianggapnya bersalah.


"Apa yang kamu lakukan? Jawab!" bentak Nino di dalam lift.


Lelaki itu meletakkan kedua tangannya di antara tubuh Aluna. Sehingga, wanita itu tidak dapat bergerak sedikit pun.


"A-aku, aku bisa jelaskan itu. Ini tidak seperti yang kamu kira."


Nino mengangkat sedikit wajah Aluna dengan jari telunjuknya. "Oh, kamu sudah pandai berbohong! Pikirkan alasanmu sebelum sampai di ruanganku!"


Nino menurunkan tangannya dan kembali menghadap pintu lift, karena lampu indikator menunjukkan sebentar lagi mereka akan tiba di lantai lima.


Di ruangan lain, Pak Suhandi asik mengecek satu persatu rekaman CCTV. Tak disangka ia melihat adegan bosnya dengan sang kekasih. Pria tambun itu menelan saliva dan segera mematikan monitor.


"Sebaiknya aku kerjakan hal lain, kenapa juga Pak Nino bermesraan di dalam lift?" beo Pak Suhandi lirih.


Akhirnya, lelaki yang juga seorang ayah dari ketiga anaknya itu kembali berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk. Sesekali ia melirik monitor, mungkin penasaran apa yang terjadi selanjutnya.


Sesampainya di ruangan Nino, lelaki itu menurunkan semua tirai agar ruangan kaca itu tertutup. Kemudian ia bergerak menghampiri Aluna yang terduduk di sofa.


"Jelaskan padaku!"


Nino mendorong tubuh Aluna, hingga wanita itu bersandar di bantalan sofa. Tatapan dingin khasnya menerobos masuk ke dalam relung hati Aluna. Kali ini ada yang berbeda, tatapan itu berkilat seperti ada badai petir di dalam sana.


"Kemarin, Al tiba-tiba mencium tengkukku di depan penjual es kelapa, tapi aku-"


Aluna menghentikan kalimatnya, deru napas Nino menjadi sangat cepat dan terasa panas. Apa yang terjadi? Salahkah ia berkata jujur?


"Lanjutkan! Kenapa diam, hah?" tanya Nino dengan dada yang naik-turun menahan emosi.


Sesaat setelah ia mendengar kata cium dan tengkuk, tubuhnya memberi respon berlebihan. Api cemburu telah melahap habis batinnya. Nino bahkan belum menyentuh Aluna di bagian sensitif itu.


"Lalu aku menamparnya dan pergi. Tadi aku ingin ia meminta maaf, tapi Al malah bilang kalau itu biasa dilakukannya. Kemudian dirimu datang, seperti itu kronologinya," jelas Aluna dengan wajah tertunduk.


Saat ini ia tak berani mengangkat wajah, emosi Nino selalu meledak-ledak tiap kali berhubungan dengan pria lain. Layaknya seekor domba jantan yang siap menyeruduk domba lain yang menggoda betinanya.


"Beraninya cecunguk itu mencicipi wanitaku! Akan kuhajar dia!" Tangan Nino mengepal kuat, beriringan dengan gemretak gigi dan otot leher yang menegang.