
Rere masih tetap bergelayut manja di lengan Nino. Gadis itu menghampiri resepsionis, meminta satu kunci berwarna keemasan. Entah apa yang akan dilakukannya.
"Kalau ada yang tanya ruangan ini, bilang saja sudah penuh," titah Rere pada karyawan muda berparas manis itu.
Kemudian, dengan penuh percaya diri ia menggiring lelaki itu untuk memasuki salah satu ruang tidur. Astaga, Nino tampak pucat pasi. Apakah ini artinya ia menghianati Aluna? Tidak! Ini bukanlah seperti apa yang dia bayangkan.
"Kenapa berhenti? Ayo masuk, Sayang!" pinta Rere sembari menyandarkan kepala di lengan atas Nino.
"Kenapa kita ke sini?"
Rere memutar bola matanya malas. "Ish, kamu mau bertemu wanita itu 'kan?"
"Maksudmu Aluna? Iya, di mana dia?" tanya Nino dengan antusias.
Wanita itu melepaskan pelukannya dan membuka ruang tidur yang berada di lantai atas itu perlahan-lahan. " Di sana."
Jantung Nino berdetak kencang, tampak Aluna sedang tertidur dengan posisi meringkuk dengan tangan dan kaki yang terikat. Pakaian yang ia kenakan bukan setelan kerja, melainkan sebuah gaun berwarna putih. Sejak kapan ia berganti pakaian?
"Aluna ...." Nino melangkah untuk mendekati wanitanya.
Anehnya Rere tidak menghentikan langkah lelaki itu. Ia malah mengekor di belakang Nino dengan santai. Mungkin ia menunggu pertunjukkan selanjutnya.
"Kamu sudah datang, Nino," sapa seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi.
Manik mata Nino membulat sempurna, suara yang baru saja memanggilnya itu adalah musuh bebuyutannya. Lelaki itu tampak bertelanjang dada, hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya!
"Sialan! Apa yang sudah kamu lakukan, hah?" Nino refleks menghampiri Alfaro dan mendorong lelaki itu dengan kasar.
"Bisa kamu tanyakan nanti setelah dia bangun."
Nino memperhatikan penampilan lelaki itu dari ujung kaki hingga kepala. Napasnya berhenti sesaat, rambut Alfaro tampak basah. Apa yang mereka lakukan? Mengapa semua menjadi ambigu seperti ini?
"Kembalikan dia padaku! Jangan pernah menyentuhnya lagi!"
Alfaro bertepuk tangan dan memandang rivalnya lurus. "Ternyata, dia memang istimewa. Sayang, aku harus mendahuluimu."
"Maaf, ya," ejek Alfaro.
Darah putra Bu Hilma semakin berdesir hebat, kata demi kata yang dilontarkan Alfaro menancap di relung sanubarinya. Apakah ini nyata? Wanita yang paling ia cintai telah berkhianat.
"Kalian, apa kalian sudah ...." Nino tak mampu menuntaskan kalimatnya.
Alfaro mengangguk, seakan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Nino. "Ya, kami melakukannya."
"Bedebah! Akan kuhabisi kau!" Nino menghantam dada polos Alfaro dengan kuat. Otot-otot bisepnya tampak menegang.
Lelaki itu terhuyung, tetapi ia tidak memberikan perlawanan dan malah tersenyum simpul. "Bunuh saja, nasi sudah menjadi bubur. Kamu tidak akan pernah menghapus jejakku darinya."
Seluruh tubuh Nino mendadak lemas dan tak berdaya, tulang-tulang yang menyangga dagingnya seakan terlepas. Lelaki itu melonggarkan kepalan tangan dan berbalik ke arah wanitanya. Ia hanya mampu menatap sendu Aluna yang bergeming. Hatinya telah hancur menjadi serpihan kecil.
"Tidak mungkin."
Lelaki itu berlutut di hadapan Aluna yang tertidur nyenyak. Mungkinkah wanita itu lelah karena menangis atau hal lain? Tangan kekar itu gemetaran, ia ingin menyibakkan surai panjang yang menutupi wajahnya.
Tiba-tiba wanita itu menggeliat, Aluna perlahan membuka kelopak matanya. Tampak sangat jelas netra berbentuk almond itu sembab, kantung matanya menghitam. Ia mengerjap beberapa kali, menajamkan kembali penglihatannya.
"Syukurlah kamu selamat. Ayo kita pergi, Nino!" rengek Aluna lirih.
Derai air mata mengalir deras dari sudut netra Aluna, ia tampak sangat menderita. Apa yang harus Nino lakukan? Ia bisa saja menghajar Alfaro dan Rere, tapi masalah tidak akan selesai. Mereka akan terus menghantui kehidupan Nino.
"Nino, bantu aku. Kenapa kamu diam?" tanya Aluna dengan tatapan sendu.
"Tidak, bukankah kamu menikmati permainanmu dengan cecunguk itu?" Manik mata Nino beralih ke posisi di mana Alfaro berdiri.
Aluna terperanjat dan mengerutkan dahinya. "Permainan apa? Aku--"
Belum sempat Aluna menjelaskan, Rere telah menarik lengan Nino dengan cepat. "Tepati janjimu, Nino! Sekarang giliranku."
Mengapa Nino mengacuhkannya dan memilih bersama Rere? Saat ini jantung Aluna seperti diremas-remas, pedih dan nyeri datang bersamaan. Wanita itu hanya mampu menatap lurus lelaki yang tidak menoleh sedikit pun ke arahnya itu.
Lagi-lagi Rere bersikap manja kepada Nino. Ia terus menarik-narik kemeja lusuh yang lelaki itu kenakan. "Bagaimana, Sayang? Aku masih menunggu."
"Ya, tapi apa ada ruangan lain? Aku tidak ingin melakukan itu di depan wanita ini," ujar Nino dengan suara parau.
Jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Nino. Otaknya sudah tak mampu berpikir realistis, dunia seakan menimpa tubuhnya dengan satu hentakkan saja. Ini semua begitu masygul, sakit dan perih.
Wanita berkacamata itu menggandeng Nino, membuka pintu samping dalam ruangan di mana Aluna terlelap. Di balik pintu itu ada satu ruangan lagi, sehingga dua ruang tidur itu saling terhubung.
"Tidak! Nino, jangan pergi!" pekik Aluna histeris.
Putri semata wayang Bu Asmi itu meraung sejadi-jadinya. Kini, satu-satunya harapan telah pupus. Lelaki yang ia cintai ternyata memilih wanita lain, melukai kalbunya sekali lagi.
"Tetaplah di sini! Aku akan kembali tengah malam, Gadisku." Alfaro menjambak surai Aluna dan menciumnya.
Takdir macam apa yang harus Aluna terima kali ini? Lebih baik ia mati dan kembali menjadi tanah dari pada harus menanggung malu dan trauma seumur hidupnya. Nino, lelaki yang seharusnya bersedia untuk melindungi malah berpaling. Sesakit inikah kepercayaan yang telah ternodai.
"Nino, apa kamu suka kamar ini?" tanya Rere sembari tersenyum.
Lelaki itu mengangguk ringan. Harus diakui interior yang digunakan oleh keluarga Rere, bukanlah kaleng-kaleng. Semua fasilitas terlihat elegan dan mewah. Beberapa lukisan terkenal pun tergantung di ruangan itu. Sayangnya, anak gadis keluarga konglomerat ini begitu liar, ia telah dibutakan oleh hasrat.
"Sayang, kemarilah!" Rere mengempaskan tubuhnya di ranjang
Lelaki muda itu mengalihkan pandangan dari gaun yang tersingkap. Nino memberi kode, izin ke kamar mandi. Dalam kamar mandi ia mengecek isi dalam dompet yang masih terselip di saku belakang celananya.
"Untung aku masih membawanya!"
Lelaki itu menyeringai, hanya ini yang akan menghentikkan tingkah liar Rere. Nino melirik bungkusan kuning di tangannya dengan lekat.
"Aku harus mencari sesuatu untuk mencampurkannya." Nino memutar otaknya dan sebuah ide terlintas.
"Re, aku haus. Bisakah kamu memesankanku jus jeruk?" pinta Nino dari balik kamar mandi.
Wanita konglomerat itu bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Ia menuruti segala perintah Nino, dunianya seakan hanya berisi mereka berdua saja. Rere segera memainkan ponsel dan menghubungi pihak hotel untuk memesan minuman.
Selang beberapa menit, dua gelas jus jeruk telah tersaji. Nino meneguk sedikit minuman itu. Kemudian, ia berjalan menghampiri Rere.
"Mandilah dulu! Aku suka dengan aroma tubuh wanita selepas mandi."
Lagi-lagi wanita yang dilanda kasmaran itu mengiyakan, ia segera mengambil handuk putih yang tertata rapi di dalam almari -- fasilitas hotelnya-- dan menuju toilet tanpa menaruh curiga.
"Tunggu aku, ya," goda Rere dengan kerlingan manja.
Nino dengan cepat mengeluarkan bungkusan yang telah ia siapkan. Sebelumnya ia memastikan wanita itu benar-benar masuk ke kamar mandi. Manik mata cokelatnya fokus menuang serbuk itu ke dalam gelas minuman Rere. Kemudian segera mengaduknya hingga tercampur rata.
"Sip!"
Rere keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama handuk. Sebagian kaki jenjangnya terekspos dan tampak putih mulus. Namun, Nino tidak merasakan ketertarikan dengan wanita itu atau mungkin hatinya memang hanya untuk Aluna.
"Aku sudah selesai."
Nino menepuk sisi kanannya, memberi isyarat agar Rere duduk di sampingnya. Lalu, ia menyodorkan segelas minuman itu.
"Minum dulu, aku tidak mau kamu dehidrasi," ucap Nino dengan nada nakal.
Sesungguhnya lelaki itu merasa geli mendengar ucapannya sendiri. Namun, trik ini yang paling bisa diandalkan. Nino mengamati Rere yang menegak habis minuman segar berwarna jingga itu sembari berhitung dalam hati.
1, 2, ..., 17, 18, 19, 20.
Dalam hitungan ke-20, Rere memijat kepalanya, mendadak penglihatannya memburuk. Bayangan Nino pun tampak menjadi beberapa buah, semuanya kabur dan perlahan menjadi semakin gelap.
Nino memapah tubuh itu dan meletakkannya di atas kasur. Ia mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa gambar Rere yang acak-acakan dengan balutan handuk. Tidak tahu apa yang ada dipikiran Nino, untuk koleksi atau yang lain? Pria muda itu segera merapikan kemejanya dan membuang sisa serbuk itu ke dalam toilet.
Apa sebenarnya yang dituangkan Nino? Serbuk itu adalah soporific powder. Sejenis obat tidur yang biasa ia gunakan saat insomnia melanda, Nino selalu membawa resep dokter itu dalam dompetnya, jika ia sewaktu-waktu membutuhkan.
Lelaki itu membuka kembali pintu yang ia lewati sebelumnya --tempat dimana Aluna berada. Dadanya bergemuruh hebat, ketika ia menyaksikan kondisi Aluna. Bagaimana pun keadaannya wanita itu tetaplah calon istrinya.
Nino menghampiri Aluna dan berbisik lembut. "Ayo kita pulang, Sayang!"
Bulir bening menetes di ekor mata Nino, batinnya merintih dan meronta pada dunia. Mengapa ini harus terjadi di saat mereka akan bersatu?
"Ka--kamu kembali, Ni--Nino," ucap Aluna dengan suara sengau.
Nino mengangguk pelan. "Iya, maafkan aku membuatmu menunggu."
Lelaki itu membopong tubuh yang tak berdaya itu keluar ruangan. Tidak ada satu orang pun yang menjaga, mungkin Tuhan telah memberikan mereka kesempatan untuk meninggalkan tempat terkutuk itu.
"A--aku ta--takut," rancau Aluna dengan derai tangis.
Lelaki itu menatap lurus kekasihnya, sekujur tubuh sintal Aluna penuh lebam. "Ada aku di sisimu, tidurlah."