My Edelweiss

My Edelweiss
Fitting



Usai menghabiskan sarapannya, Nino dan Aluna bergegas pergi ke rumah sang mama. Sesekali Lelaki itu melirik kekasihnya dari balik kaca spion dalam. Entah mengapa, meskipun lebam di sekukur tubuhnya belum memudar Aluna tampak sangat bahagia.


"Selamat datang, Tuan muda dan Non Aluna," sapa Bi Inah yang kebetulan berada di depan kediaman Bu Hilma.


"Terima kasih, Bi. Lagi apa di sini?" tanya Nino dengan alis mengernyit.


Kekasih Aluna itu memandang asisten ibunya itu dari ujung kepala hingga puncak kepala. Di jam segini berjaga di depan rumah, seperti sedang menunggu seseorang.


"Itu, Tuan. Saya diutus Bu Hilma untuk menunggu sebuah paket."


"Hmm, baiklah. Kalau begitu saya masuk dulu, ya," ucap Nino datar.


Mereka berdua pun memasuki kediaman megah itu dengan senyum mengembang. Tak sabar rasanya Nino ingin melihat Aluna mencoba gaun pengantinnya.


"Selamat pagi, Mama," sapa Aluna sembari menghambur ke pelukan Bu Hilma.


"Pagi, menantuku. Hari ini cantik sekali, kenapa kemarin tidak jadi kemari? Padahal mama sudah menyiapkan gaunnya, lho."


Pipi Aluna seketika bersemu merah, astaga pujian itu membuatnya melayang seperti kapas. Begitu ringan dan tak terarah, sanjungan benar-benar mampu meluluhkan hati wanita, ya.


Nino menjawab pertanyaan ibunya dengan cepat, karena melihat rona wajah Aluna yang tampak kebingungan. "Itu, kemarin ada meeting mendadak, jadi enggak sempat kemari, Ma."


"Hmm, begitu. Duduklah di sini, Sayang," pinta Bu Hilma pada Aluna sembari menepuk sisi kanan kasurnya yang kosong.


Obrolan Aluna dan sang mertua terjeda ketika dua orang asisten rumah tangga mengetuk daun pintu. Mereka berdiri mematung di ambang pintu, menunggu Bu Hilma mengizinkan untuk masuk.


"Masuklah," perintah Bu Hilma dengan nada lembut.


"Tuan, Non, ini minumannya. Mau diletakkan di mana?" tanya asisten rumah tangga lainnya sembari membawa nampan berisikan camilan dan minuman.


"Letakkan di nakas saja, Bi! Bisa tolong panggilkan Bi Inah?" titah Bu Hilma lembut.


Wanita yang tampaknya berusia lebih muda dari Bi Inah itu mengangguk dan bergegas pergi. Sesaat kemudian Bi Inah memasuki ruang tidur majikannya.


"Bagaimana, Nyonya? Apa yang bisa saya bantu?"


Bu Hilma tersenyum penuh arti. "Tolong ambilkan gaun Aluna di ruangan tengah!"


Sepuluh menit berlalu, Bi Inah dibantu dengan beberapa asisten lain membawa sebuah gaun pengantin mewah. Ia mendorong perlahan rak display baju mini. "Ini, Nyonya."


"Bantulah Aluna mencobanya, Bi."


"Ah, biar Aluna memakainya sendiri saja, Bi Inah. Nanti benahi saja bagian yang belum sempurna, ya. Aku tidak ingin tubuh wanitaku disentuh orang lain, meskipun Bi Inah juga seorang wanita," kelara Nino.


Bi Inah tersenyum dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Baiklah, Tuan. Saya akan membantu untuk menarik resletingnya saja."


Putri Bu Asmi itu merasa lega, terlintas ia teringat bagaimana cara Alfaro melakukan hal keji. Menyeret tubuhnya ketika sampai di hotel karena Aluna menolak untuk berhubungan badan dengannya.


Aluna mulai memakai dalaman gaunnya yang berwarna seperti kulit. Beruntung, pakaian itu dapat menutupi sebagian lebamnya. Sehingga, tidak begitu kentara. Bagaimana pun ia tidak ingin ini menjadi beban bagi mertuanya?


Gaun Pengantin berwarna putih tulang itu melekat sempurna di tubuh Aluna. Bahan Lace yang dipadukan dengan renda bunga membuat gaun itu tampak sangat mewah. Apalagi lengannya didesain tiga per empat dengan model transparant, sehingga menonjolkan sisi cantik sekaligus santun.


"Luar biasa, Non. Anda tampak begitu sempurna," decak Bi Inah dengan mata berbinar.


Kekasih Nino itu pun tersipu, pipinya merona bagaikan memakai blush on. Ekor matanya melirik ke arah lelaki yang akan menikahinya itu, penasaran bagaimana reaksinya. Namun, tidak ada respon apapun, putra Bu Hilma itu hanya bergeming sembari tersenyum.


"Nino, bagaimana menurutmu? Bukankah itu tampak bagus untuk Aluna?" tanya Bu Hilma yang seakan peka dengan keinginan calon menantunya.


Lelaki bertampang cool itu tersentak, ah ternyata ia sedang melamunkan sesuatu. " Hmm. Ya, lumayan lah."


"Hah? Hanya begitu komentarmu?" tanya Aluna dengan bibir mengerucut.


Bu Hilma terkekeh melihat gesture tubuh kedua calon mempelai itu. Beliau jadi mengingat masa-masa mudanya. Penuh gairah dan pertengkaran kecil, sama seperti Aluna dan Nino saat ini. Ah, masa muda yang sangat menyenangkan.


"Sudah, coba sekarang Nino yang memakai setelan jas. Bi, Inah tolong bantu ya."


Asisten kepercayaan Bu Hilma itu mengangguk dan dengan cekatan memasang setelan jas berwarna hitam itu pada Nino. Desain yang sederhana, tetapi tampak elegant. Ia mengenakan tuxedo berbahan velvet dengan kontras warna lebih gelap dari celana yang dikenakan.


"Tuan, Anda begitu mempesona. Sisanya kita tambahkan saja dasi kupu-kupu, ya?" tanya Bi Inah sembari memberikan dasi itu.


Namun, Nino mendorong tangan asisten ibunya itu pelan. "Tidak, Bi. Itu terlihat terlalu formal dan kuno. Aku akan membuatnya seperti ini saja."


Lelaki itu bukannya mengenakan dasi kupu-kupu seperti calon penggantin pada umumnya, malah membuka kancing bagian atas kemeja putihnya. Seakan memamerkan sisi kerennya di depan Aluna.


"Oh, Damn! Kamu begitu cool, Nino!" pekik Aluna tanpa sadar.


"Tentu," ucap Nino sembari mengedipkan satu netranya.


Visualisasi Nino Huzair Sasongko