My Edelweiss

My Edelweiss
Terperangkap



Nino mengerjapkan mata beberapa kali untuk memperjelas pandangan yang masih buram. Ia meringis kesakitan karena nyeri pukulan di pundaknya masih terasa. Manik netra hazel itu menyusuri ruangan lembab tempatnya berada, cahaya remang-remang terpancar dari satu bohlam kecil yang tergantung di tengah ruangan.


Dadanya terasa sesak, aroma apek dan pengap menyiksa indra penciuman. Bagaimana tidak? Hanya ada sebuah ventilasi kecil di sudut ruangan. Bulu kuduknya meremang kala ia mendengar suara decit binatang pengerat.


Kini, posisi pria tampan itu sedang terduduk dengan tangan dan kaki yang terikat seutas tali. Entah, berapa lama Nino tak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan lemas.


"Hah, dimana aku? Tempat macam apa ini! Kotor sekali."


Nino melongokkan kepala, ia mengamati sekelilingnya. Tidak ada siapapun, hanya dirinya seorang. Terlintas bayang wajah Aluna. Bagaimana nasibnya? Dimana wanita pujaannya itu saat ini?


"Apakah kamu baik-baik saja, Sayang?" gumam Nino lirih, nyaris tak terdengar.


Nino menggigit bibir bawahnya lalu tertunduk lesu. Pukulan keras di bagian bahu dan tengkuk masih mempengaruhi jarak pandangnya, kepalanya terasa berdenyut hebat. Tiba-tiba, terdengar derap kaki memecahkan keheningan, ada seseorang mendekat. Bukan! Tampaknya beberapa orang.


Bahana langkah itu semakin jelas menuju ke arahnya. Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita berbicara, suara itu tidak asing bagi Nino. Namun, ia tidak dapat menerka siapa pemiliknya.


"Mana, kuncinya? Cepat buka!" Wanita itu memerintah seseorang dengan lantang.


"Baik, Bos."


Pintu ruangan berderit keras, cahaya yang lebih terang perlahan masuk. Sosok yang berdiri di ambang pintu itu belumlah menampakkan wajah. Hanya bayangan punggungnya yang terpantul pada cermin tua yang berada di samping Nino. Pemuda itu menoleh ke kiri, menajamkan penglihatan karena benda itu dipenuhi debu.


Seseorang bergaun merah berdiri sembari berkacak pinggang, pemilik surai sepinggang itu membiarkan mahkota kepalanya tergerai begitu saja. Perawakannya ramping dan semampai. Tangan kanan wanita itu memakai sebuah gelang kristal yang tampak berkilauan.


Nino tertegun, ia hapal benar perhiasan itu dari mana asalnya. Benda itu adalah hadiah bagi orang-orang kepercayaan ibunya. Ya, Bu Hilma selalu memesan perhiasan yang sama untuk para bawahannya yang dirasa cukup berkompeten. Apakah ia orang suruhan?


Wanita itu membalikkan badan, mendekati Nino dan menyeringai. Mempertontonkan deretan gigi putihnya yang dibingkai lipstik merah maroon.


"Margareth," ucap Nino lirih.


"Ya, ternyata kamu masih ingat denganku, Nino," ujar wanita berwajah indo itu masih dengan senyum ala joker.


"Tentu saja aku mengingatmu, ternyata kamu dalang dibalik semua ini? Cepat buka ikatanku!" Nino berteriak sembari menghentak-hentakkan kakinya yang terikat.


Wanita itu mendekat, menaikkan kaki kanannya ke tengah-tengah kursi yang Nino duduki. Tepat di tengah! Mata Nino membulat sempurna, ia terkejut bukan kepalang.


"Apa, coba ulangi? Kamu mau aku melepas ikatan?" tanya Margareth sembari memainkan jemarinya di bibir Nino.


Lelaki itu memalingkan wajah, menolak sentuhan wanita berambut pirang itu. "Jangan sentuh aku!"


"Ah, ternyata kamu masih saja dingin seperti dulu. Apa kamu lupa? Kita hampir melakukan itu ...."


Nino terpaku sesaat, memorinya mengulang kejadian di hari wisudanya. Saat itu, selepas acara selesai ia bereuforia merayakan kelulusan bersama para sahabatnya, termasuk Margareth. Ya, mereka memang satu kelas dan jurusan di masa itu.


Bahkan mereka pun pernah menjalin hubungan dekat, tetapi bukan sebagai kekasih. Hanya sekedar hubungan tanpa status, keduanya berpesta minuman keras hingga malam tiba. Larut dalam tegukkan alkohol yang memusingkan.


Saat itu hubungan Nino dengan Aluna renggang. Kekasihnya itu tidak memiliki waktu untuk menemani. Wanita yang selalu mengisi relung hatinya itu sibuk mengurus rumah dan sekolah. Akhirnya segala kekecewaan ia lampiaskan bersama Margareth. Benar-benar masa suram bagi Nino.


"Emm, tubuhku terasa panas," desis Margareth sembari menyibakkan rambutnya.


"Kemarilah, aku akan mengurangi panasnya."


Dalam rintik hujan, Nino yang telah mabuk menubruk tubuh Margareth. Memeluknya dengan erat, gadis berparas indo yang ternyata telah lama memendam cinta pada putra Bu Hilma itu pun larut dalam suasana.


Kedua remaja nakal itu hampir saja melakukan hal yang tidak pantas. Beruntungnya kakek Nino memergoki mereka. "Apa yang kalian lakukan, Hah? Bubar!"


Lamunan Nino buyar ketika Margareth mengusap-usap bahunya.


"Honey, aku masih punya pertunjukkan lain." Margareth melambaikan tangan ke arah daun pintu.


Muncullah wanita lain, ia tersenyum penuh kepuasan. Nino bergeming, memicingkan matanya tajam. Wanita yang baru saja memasuki ruangan itu adalah Rere. Wanita yang paling dibencinya sekaligus perusak kebahagiaannya.


"Perkenalkan, ini saudari sepupuku, Rere. Ups! Aku lupa kalian 'kan sudah saling kenal," ujar Margareth dengan nada mengejek.


"Hallo, Sayang. Kamu pasti terkejut akan kedatanganku?" tanya Rere sembari mengedipkan satu netranya.


Nino menggertakkan giginya. "Ternyata kalian berdua bersekongkol! Lepaskan aku!"


"Tenang, sabarlah sedikit! Masih banyak pertunjukkan lain, simpan tenagamu kalau masih ingin bertemu dengan, Aluna." Margareth membasahi bibir dengan lidahnya.


Mereka benar-benar pemain ulung! Selama ini menutupi rahasia besar. Aku yakin mama juga belum mengetahui hal ini.


"Dimana Aluna, hah? Jangan sekali-kali kalian menyentuhnya! Atau aku akan turun tangan!"


"Oh, aku takut!" pekik Margareth dan Rere bersamaan.


Kemudian kedua wanita itu tertawa terbahak-bahak. Gaung suara mereka membahana di penjuru ruangan.


"Aku tidak menyangka kamu melakukan ini, Margareth! Apa tujuanmu, hah?" tanya Nino dengan netra berkilat.


"Aku? Karena masih tersimpan cinta dan dendam untukmu, di sini." Wanita itu menunjuk dadanya.


"Apa ini membuatmu puas? Kamu bahkan bisa memiliki lelaki yang lebih dariku!"


Margareth memicingkan matanya, iris keabuan itu tampak sangat jelas. "Ya! Aku puas melihatmu tersiksa. Apa kamu pikir memendam cinta bertahun-tahun itu mudah, hah? Aku ingin melihatmu menderita!"


"Kalau begitu lepaskan Aluna!" sentak Nino dengan otot-otot leher yang kian menegang.


Rere mendekatkan wajahnya ke arah Nino. "Tidak semudah itu, tunggu sampai singa jantan itu selesai dengan kekasihmu. Ha-ha-ha."


Singa jantan, apa maksudnya? Apakah saat ini Aluna bersama lelaki lain? Tidak! Calon istrinya bukan wanita murahan seperti kedua wanita yang berada di hadapannya itu.


"Cepat katakan, dimana Aluna?"


Lagi-lagi kedua wanita itu beradu pandang dan menyeringai. Lalu, Margareth melangkah keluar. Ia berhenti di ambang pintu. "Sisamya kuserahkan padamu, Re."


"Bolehkan aku bermain dengannya?" tanya Rere dengan mata berbinar.


"Tentu. Dia milikmu sekarang, lakukan apapun yang kamu mau! Wanitanya tidak akan mengganggumu." Margareth mengedipkan satu matanya dan berlalu pergi.


Kini, hanya ada Nino dan Rere. Nino memutar otak agar ia bisa meninggalkan tempat jahanam itu. Wanita berambut sebahu itu, sibuk dengan ponselnya. Sepertinya, ia sedang mengirimkan pesan.


"Arrgh!" erang Nino keras.


Rere langsung memalingkan wajah, menatap Nino lekat. Sebenarnya ia hanya ingin memiliki lelaki itu bukan menyiksa, tetapi demi bisa bertemu Nino lagi ia mengikuti segala skenario sang kakak sepupu.


"Sayang, aku akan melepas ikatanmu. Namun, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku," ucapnya memelas.


Nino mengangguk patuh, hanya ini jalan satu-satunya. Ia harus bisa merayu Rere dan menyelamatkan Aluna dahulu. Rasanya darah lelaki itu telah sampai di ubun-ubun, ketika ia mendengar kekasihnya bersama lelaki lain.


Rere tersenyum riang, ia segera melepaskan ikatan Nino. "Sudah, apakah ini sakit?"


"Sedikit." Pria muda itu meregangkan otot-ototnya yang kaku.


Rere memandang Nino lekat. Cintanya pada lelaki itu terlampau dalam. "Biar kuobati."


"Tidak perlu. Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?" Nino memandang Rere, manik mata mereka bertemu.


Seketika hati Rere meleleh, tatapan dingin itu bersambut dengan bulu mata yang lentik. Membuat dadanya berdesir hebat. "Aku hanya ingin merasakan bibir itu."


"Okey, aku akan melakukan apapun, tetapi tunjukkan aku dimana Aluna sekarang." Nino mendekati Rere dan mencengkeram pergelangan tangan wanita itu.


"Ah, ke-kenapa harus itu syaratnya? Aku tak ingin wanita lain memilikimu," ujar Rere parau.


"Karena dia calon istriku, aku tidak mungkin membuat malu keluarga Sasongko."


Rere menarik napas dalam. "Baiklah, tapi aku tidak yakin kamu masih akan mencintai dia, setelah melihat apa yang wanita itu lakukan."


"Maksudmu?" tanya Nino dengan kening berkerut.


"Kita lihat saja nanti, ikutlah denganku!" Rere memeluk erat lengan putra Bu Hilma itu.


Mereka melewati tangga yang menjulang tinggi, ternyata ruangan yang di tempati Nino tadi adalah sebuah gudang bawah tanah. Hiruk-pikuk terdengar dari luar, Nino terbelalak ketika sampai di ujung tangga.


Rere membuka pintu besar itu perlahan-lahan dan tempat itu adalah hotel milik keluarga Rere. Pantas saja, jika mereka bisa keluar masuk sesukanya.


"Ayo, masuk! Selamat datang di royal homestay milikku," ujar Rere dengan senyum mengembang.