My Edelweiss

My Edelweiss
Kejadian Semalam?



Hari ini adalah hari kedua Nino berada di Surabaya. Semalam tak ada seorang pun membangunkannya, cacing dalam perutnya mulai berdemo. Pria itu perlahan mengucek mata, ia meraba nakas di samping kanannya. Namun, tak kunjung menemukan apa yang dicari. Dengan malas, dirinya memaksa kedua kelopak mata untuk berbuka lebih lebar. Ia tercengang, ponselnya tak ada di sana.


"Astaga, aku lupa mengambil ponsel di dashboard!" gerutu Nino sembari menepuk keras dahinya.


Pria itu berjalan menuju kamar mandi yang berada di sudut ruang tidur itu. Lagi-lagi manik matanya terbelakak, karena ia mendapati seseorang di dalam bath tub. Seorang wanita! Wanita itu sedang berendam menikmati buih-buih sabun yang memenuhi tubuhnya. Gila! Niat sekali wanita itu menggoda Nino.


"Rere! Apa yang kamu lakukan di sini, hah?"


Gadis itu mengernyitkan alis. "Ini rumahku, aku bebas mau ke mana saja."


"Bu--bukan begitu. Apa yang kamu lakukan di kamar mandi ini?" tanya Nino lagi, kali ini dengan menekankan kata.


"Mandi, kamu benar-benar hebat."


"Hebat? Apa maksudnya?"


Rere bangkit dari bak mandi berukuran sepanjang tubuhnya itu. Nino segera memalingkan muka, tak ingin melihat apa yang tak seharusnya ia lihat. Wanita itu terkekeh kemudian memakai piyama handuk berwarna merah. "Kamu tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?"


Nino mengintip sedikit gadis itu dari celah-celah jarinya. Memastikan lawan bicaranya sudah berpakaian. Kemudian ia menurunkan tangan dengan cepat. "Apa yang terjadi? Bahkan aku tak mengingat apapun, aku hanya merasa sangat lelah dan mengantuk."


"Hmm, sebegitu nikmatnya kah diriku? Sampai kamu lupa, Honey."


Gadis itu memainkan jemarinya di atas dada bidanh Nino. Pria itu baru menyadari bahwa dirinya telah bertelanjang dada. Padahal semalam sebelum ia tidur tidak melepaskan pakaiannya.


"Jangan sentuh aku!"


"Aww, bagaimana bisa kamu berkata begitu setelah apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Rere dengan wajah memelas.


"Aku tidak melakukan apapun!"


"Kamu melakukannya denganku berkali-kali semalam! Sudahlah, cepat bersihkan dirimu! Kita akan segera ikut Papa menghadiri peresmian." Rere berlalu pergi, melenggak-lenggokan tubuhnya yang memang sexy.


Nino mengacak rambutnya, memandang tubuhnya dari ujung kaki. "Apa yang aku lakukan? Sial! Apa sebenarnya yang terjadi?"


Tak butuh waktu lama, Nino telah berpakaian rapi. Ia masih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Bergegas ia menuju ruang tengah, di sana tampak ayah tirinya sedang bersendau gurau dengan Pak Hendra --ayah Rere--


"Selamat pagi," sapa Nino dengan tampang tak bersemangat.


"Pagi," jawab ayah tirinya dan Pak Hendra berbarengan.


Tiba-tiba Rere muncul dari sudut ruangan, membawa segelas susu coklat. "Honey, kamu nampak lusuh sekali. Apa kamu masih merasa lelah karena semalam?"


Semalam? Ya, ucapan Rere mengundang banyak pertanyaan. Bahkan ayah tiri Nino dan ayah Rere beradu pandang. Rere dengan cepat menyadari perubahan mereka, dan mengubah perkataannya.


"Maksudku, apa main catur kemarin membuatmu tidak bisa tidur semalam?"


Nino menggangguk, ia tak tahu apa ekspresinya itu benar atau tidak. Pria itu hanya terdiam, tertunduk memandangi meja makan yang tampak mengkilap. Mereka berempat pun menikmati sarapan pagi itu tanpa ada pembahasan lagi. Tanpa membuang waktu, mereka segera bergegas menuju lokasi peresmian cabang.


"Nino, bolehkan aku menitipkan putriku padamu?" tanya ayah Rere tiba-tiba.


"Aku akan satu mobil dengan ayahmu, dan Rere kutitipkan di mobilmu. Bagaimana?" tanya pria itu lagi dengan lebih jelas.


"Baik, Om."


Gadis itu bergelayut manja di lengan Nino. Semakin ia memaksa untuk menerima keadaannya saat itu, hatinya semakin sakit. Wajah Aluna terus membayanh di kelopak netranya. Perasaan bersalah dan takut bercampur menjadi satu.


Jarak tempat peresmian itu tidaklah jauh dari kediaman Rere. Sehingga dalam waktu singkat mereka telah sampai. Banyak orang yang telah menanti kehadiran mereka, setelah proses pemotongan pita. Para tamu undangan lainnya dipersilakan untuk menikmati hidangan.


Tiba-tiba Pak Heru mengambil alih microphone milik pembicara. Kemudian ia berbicara dengan nada yang lantang. "Hari ini saya juga akan memberi kabar gembira, cabang perusahaan ini akan dikelola langsung oleh Nino, calon suami putri saya."


Bagai tersambar petir di siang bolong, Nino membuka mulutnya lebar-lebar. Pernyataan Pak Heru membuat pria itu tercengang, ia mengalihkan pandangan ke arah Rere. Gadis itu hanya tersenyum simpul. Apa lagi ini? Keadaan semakin rumit dan memojokkan dirinya.


"Aku tidak bisa menerima ini. Kita bahkan bukan sepasang kekasih!" sentak Nino di hadapan Rere.


"Ya, kamu boleh memikirkannya dulu. Lagipula kekasih itu hanya status tak begitu penting buatku."


"Yang penting aku sudaj merasaknnya semalam. Kamu benar-benar membuatku candu," sambung Rere dengan tatapan lembut.


Setelah acara itu selesai, Nino bergegas menghampiri Pak Heru di aula kantor barunya yang sedang asik mengobrol dengan seseorang. "Maaf, Om, bisa kita bicara sebentar?"


Pak Heri mengernyitkan alis, merasa heran dengan tingkah Nino. "Ada apa Nino?"


"Saya tidak bisa menerima jabatan dan cabang yang telah Om Heru berikan."


"Kenapa? Bukankah kamu dan Rere sudah merundingkan ini?"


Nino terbelalak, apa yang sebenarnya dikatakan wanita itu? Bahkan ia tak tahu apapun. "Tapi saya tetap tidak bisa menerimanya."


"Hmm, pikirkan dulu baik-baik. Jangan tergesa-gesa dalam mengambil pilihan!" Ayah Rere berlalu pergi, meninggalkan Nino yang semakin bingung.


Dia hanya ingin perusahaan ayahnya bangkit, bukan meminta perusahaan dari keluarga Rere. Drama macam apa lagi ini? Jelas ada sesuatu di balik semua pemberian keluarga konglomerat itu.


"Tak perlu kaget, aku yang meminta Papa memberikan cabang ini untuk kamu kelola. Ini hanya hadiah kecil dariku," ucap Rere yang tiba-tiba muncul sembari memeluk pinggang Nino.


Pria itu membalikkan tubuhnya, melepas paksa tangan yang melingkar itu. "Aku tidak menginginkan ini."


"Terserah, kalau tidak mau juga tidak apa-apa."


"Namun, kamu harus tetap bersamaku! Jika ingin perusahaan ayahmu tetap berjaya," ancam Rere dengan senyum menyeringai.


Benar adanya, kesepakatan licik antara ayah tirinya dan Rere hanya menguntungkan mereka berdua. Pihak yang paling dirugikan adalah Nino. Dia tumbal dari perjanjian konyol itu.


"Ya, aku akan pulang siang ini, " ujar Nino mengubah topik pembicaraan.


"Oke, aku akan sering mengunjungimu setelah menyelesaikan studyku."


Nino mempercepat langkahnya, ia ingin segera pergi. Meninggalkan lubang buaya itu, bisa-bisa ia akan semakin gila jika harus terus berhadapan dengan iblis betina. Ucapan 'semalam' itu masih terus terniang, entah apa yang terjadi? Kekasih Aluna itu kini merasa jijik, jika benar ia telah melakukan sesuatu dengan Rere. Bahkan ia merasa dirinya tak sanggup lagi bertatap muka dengan Aluna.