My Edelweiss

My Edelweiss
The Power of Love



Sepulang dari kediaman sang ibu, Nino tidak kembali ke kantor. Ia memutuskan untuk pulang, mendinginkan otaknya yang mendidih. Kemesraan Aluna dengan musuh bebuyutannya masih menari-nari di kelopak mata.


Tiba-tiba ponselnya berdering, seseorang menelepon pemuda itu. Raut wajahnya sumringah karena penelepon itu adalah orang yang akan membeli restonya.


"Baik, saya akan segera ke Jakarta. Mungkin besok atau lusa, untuk pastinya saya akan memberi kabar lagi. Terimakasih, Pak Gustavo atas kerjasamanya." Nino mengakhiri panggilan.


Jemari kekar itu menggenggam ponsel hitam metalik dengan erat, targetnya benar-benar akan membeli aset miliknya. Tak sia-sia ia langsung memberi pesan pada Tuan Takur itu, ya Pak Gustavo adalah seorang konglomerat. Banyak yang bilang kekayaan yang dimiliki bisa menjamin hingga tujuh keturunan.


Akhirnya Nino akan kembali merebut Aluna, tetapi apakah wanita itu masih mau menerimanya? Itu masalah belakang, yang terpenting ia akan berusaha semaksimal mungkin. Jika perlu, ia akan membawa Bu Hilma ke hadapan Aluna untuk menjelaskan duduk perkara.


"Tuan, ini teh pala Anda," ucap salah satu asistennya.


"Terimakasih, letakan saja di meja!"


"Baik, Tuan. Apa ada yang Anda butuhkan lagi?" tanya wanita itu lagi.


"Tidak, itu saja cukup."


Wanita paruh baya yang telah lama mengabdi di kediaman mewah itu, meletakkan secangkir teh yang masih mengepulkan asap di atas meja. Kemudian bergegas pergi melanjutkan kembali tugasnya.


Nino berdiri, berjalan mendekati sebuah rak buku kecil yang tertata di ruang tamu. Ia menuliskan sesuatu pada sebuah buku kecil. Pria rupawan itu menutup buku bersampul coklat tua yang menemani hari-harinya.


Dirinya selalu meluapkan segala emosinya dalam buku itu, dari awal perjumpaan dengan Aluna hingga saat ini. Segalanya tertulis rapi dalam tiap paragraf. Nino bukanlah pria yang mudah jatuh hati. Kenyataan pahit yang harus dilaluinya menjadikan sikapnya kurang empati.


Nino selalu mengemis perhatian, menjadi sosok anak yang nakal di sekolah. Perasaan ingin dicintai meluap dalam hatinya. Pernah beberapa kali ia menaruh hati, namun tidak pernah ia ungkapkan. Alasannya selalu sama tidak ingin menyakiti orang yang disayanginya. Karena ia pernah membaca, jika ibunya berselingkuh maka kemungkinan besar sikap itu menurun pada sang anak.


Hingga suatu saat, ia berjumpa dengan Aluna, hidupnya berubah 180 derajat. Nino yang dahulu dikenal sebagai introvet, kini bisa membuka diri. Pria itu bisa menceritakan banyak hal dengan kekasihnya. Bagi Nino mencintai Aluna adalah separuh hidupnya.


Hal ini menjadikan Nino pria posessif, ia tak pernah mengizinkan Aluna pergi dengan sahabat-sahabatnya. Nino menganggap mereka sebagai ancaman besar. Bagaikan bajak laut yang Ingin merebut harta berharga miliknya.


Nino tidak mudah ditebak, bisa saja ia bersikap ramah, tetapi berubah garang hanya dalam beberapa detik. Sifat ini ditumbuhkannya untuk melindungi diri, tetapi di balik semua itu Nino adalah pria yang baik. Rela melakukan apapun untuk orang yang dikasihi. Melindungi Aluna segenap jiwa dan raga.


Nino menghela napas seraya memejamkan mata. Wajah Aluna terlukis di pelupuk matanya. Senyum manis mengembang dari sudut bibir pria berdarah Belanda itu.


Lamunannya mengingat kejadian-kejadian masa kecil, Nino selalu dihina karena tidak bisa membeli mainan yang bagus. Bahkan untuk meminjam saja, Nino tak punya keberanian.


Namun, saat ini dengan gagah berani ia mempertahankan haknya. Nino kita bukan lagi pria yang tak berguna. Ia memiliki cinta yang mengubah takdirnya, the power of love begitu kira-kira slogannya.


"Brengsek! Bangun kamu!" bentak seseorang sembari menguncang tubuh Nino.


Lelaki itu tersentak dan membuka kedua matanya. Ternyata itu ayah tirinya. "Apa-apaan ini, hah? Siapa yang mengizinkanmu masuk?"


"Cih, aku tidak butuh izin siapapun! Bagaimana bisa kamu membatalkan pernikahan dengan Rere? Mau ditaruh mana mukaku!" sentak Pak Sailendra kacau.


"Aku tidak punya waktu bicara denganmu."


Nino tidak menggubris orang yang telah mengganggu kesenangannya itu. Ia malah asik memainkan ponsel, membalas pesan singkat Pak Gustavo. Bahkan pria itu tak memandang sedikit pun ke arah ayah tirinya yang tampak kebarakan jenggot itu.


"Nino! Kamu benar-benar anak baj*ingan!" Kali ini, suami Bu Hilma mencengkeram kerah leher Nino dengan kuat.


"Lepas!" tampik Nino dengan kasar.


"Aku bisa melaporkanmu kepada satpam karena telah merusak ketenanganku. Jadi, sekarang pergilah atau kamu bersedia untuk diseret-seret keluar," sambung Nino lagi, masih dengan menatap layar ponsel.


Plaaaakk!


Tamparan keras mendarat di wajah tampan Nino. Ayahnya tak terima dengan ucapan putra tirinya tersebut, dimatanya perbuatan Nino telah mencoreng nama baik keluarga Sailendra.


"Apa yang sudah kamu lakukan anak setan?" tanyanya geram.


"Aku hanya menyatakan akan mengusirmu jika kamu tidak segera keluar," jawab Nino lantang sembari beranjak berdiri.


"Dasar anak jahanam! Sikapmu persis seperti ayah kandungmu! Bedeb*ah!"


Nino memicingkan mata, memandang pria itu lekat. "Lebih baik aku yang saat ini daripada dirimu, merebut istri rekan kerjamu sendiri! Kamu tidak lebih dari seekor binatang!"


"Lancang!" Pak Sailendra bersiap untuk menampar Nino lagi, tapi kali ini tercekal oleh tangan Nino.


Jemari kekar Nino mencengkeram pergelangan tangan, pria berusia paruh baya yang tampak masih bugar itu. Lalu mendorong tubuh ayah tirinya hingga terhuyung.


"Hai, kamu pria brengseek. Aku muak melihatmu! Enyahlah dari kehidupanku! Jika, kamu mau nikahi saja Rere sendiri," ejek Nino sembari menyeringai.


"Kamu tidak punya etika! Cabut kembali keputusanmu atau kamu akan menyesal!" ancam Pak Sailendra.


"Aku tidak takut! Pergilah sejauh mungkin! Aku mual melihat tingkah menjijikanmu. Kamu tahu, aku merasa sangat bahagia bisa mengatakan ini." Nino terus menghina ayah tirinya itu, hal yang selalu ingin dilakukannya.


Ayah tirinya mengepalkan tangan, kemudian dengan kesal pergi. Meninggalkan Nino yang tersenyum penuh kemenangan. Selangkah lagi, ia semakin dekat dengan Aluna.


Sesungguhnya Nino tidak bisa hidup tanpa Aluna, hatinya merasa kosong dan gila. Cinta wanita itu bagaikan candu, membuat seluruh saraf tubuhnya hanya memikirkan dia. Nino menaiki anak tangga, menuju ruang tidurnya.


Pria itu mengempaskan tubuh di atas ranjang, melepas penat seharian itu. Ada kabar gembira dan kabar buruk. Buruk karena ia bertengkar dengan Aluna, tetapi itu memicunya untuk berani mengambil pilihan tepat.


"Sayang, tunggulah aku! Nino tidak akan membiarkanmu jatuh ke pelukan pria lain!" gumam Nino sembari memejamkan mata.


Banyak harapan yang tergantung, inikah kekuatan cinta. Bagi Aluna pria itu adalah cinta pertamanya, tetapi bagi Nino wanita itu adalah cinta terakhirnya. Mungkinkah segala keinginanya dapat terpenuhi? Akankah kisah cinta mereka kembali terajut?