
Pagi-pagi buta Bi Inah sudah mondar-mandir sembari membawa memo kecil. Ia mengecek persiapan-persiapan apa saja yang sudah dilakukan. Ya, hari ini adalah hari yang paling mereka nantikan. Apalagi jika bukan pernikahan Tuan dan Nona mereka —Nino dan Aluna—
Tertulis jelas di buku catatan Bi Inah semua detail persiapan. Wanita itu membaca kembali catatannya.
•PERSIAPAN PERNIKAHAN•
- Berkas-berkas syarat pernikahan √
- Undangan pernikahan √
- Penyewaan gedung dan cathering √
- Pembayaran jasa W.O √
- Seserahan dan ubo rampe √
- Gaun pengantin √
- Cincin pernikahan √
- Mahar √
- Souvenir √
- Mobil pengantin √
- Menghias kamar pengantin √
Wanita itu sibuk memainkan penanya, mencoret-coret tulisan dalam kertas memo.
"Oke, semuanya sudah siap 90%!" ujarnya lirih. Ia mempercepat langkahnya menuju dapur untuk mengecek kue-kue seserahan.
"Hemm, sempurna! Bentuk kue-kue ini begitu menggoda. Aku yakin nyonya akan puas dengan ini. Terimakasih atas kerja keras kalian semua!" puji Bi Inah kepada para bawahannya. Pujian itu disambut hangat dan seketika dapur pun riuh oleh gelak tawa.
Penantian panjang Aluna akan terbayar, sedari tadi dirinya dirias dengan teliti. Ia memandang pantulan bayangnya di cermin, seperti tak percaya bahwa hari ini ia telah menjadi mempelai wanita.
Gaun pengantin yang dikirimkan oleh Bu Hilma menambah aura kecantikan gadis oriental itu. Begitu pas ditubuh sintalnya.
Beberapa kali Aluna mengedip-kedipkan mata, berusaha membiasakan diri dengan bulu mata palsu yang membahana itu.
Terdengar suara ibunya memanggil. "Aluna, cepat keluar!" teriak ibunya daei balik pintu
"Iya, Bu!" ujar Aluna seraya menoleh ke arah pintu.
Bulir-bulir air matanya mengalir. Sang ibu terharu memandang gadis kecil yang dahulu selalu mengikuti kemanapun ia pergi ini, akan segera menjadi seorang istri. Aluna memeluk erat ibunya, seakan pelukan itu bermakna 'Hari ini relakan aku, Ibu! karena sampai kapanpun aku tetaplah Aluna kecilmu'.
Kemudian gadis itu menarik tubuhnya, merapikan kembali gaun pernikahan yang ia kenakan. Ia berputar-putar bagai gadis kecil di hadapan ibunya. Seakan ingin menghibur sang ibu yang tampak sedikit sedih itu.
"Lihat, Bu! Apa Luna terlihat bagus memakai gaun ini?" tanya Aluna manja.
"Tentu saja! Pakaian apapun yang kamu kenakan akan terlihat cocok, apalagi jika dihiasi senyumanmu," ujar ibunya sembari tersenyum kecil.
"Ahh, Ibu bisa saja," rajuk Aluna.
Bu Asmi menghela napas panjang. "Kamu memang putriku yang paling cantik."
Sang penata rias kembali mempersilakan Aluna duduk, masih banyak yang harus dibenahi sebelum mempelai pria datang. Ibunya hanya mengamati dari sofa di sudut ruangan itu, beberapa kali tampak menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putrinya yang konyol.
"Tolong Anda miringkan kepala ke kanan sedikit, Nona!" perintah penata rias.
"Hmm, baiklah."
Aluna mematuhinya dan memiringkan sedikit kepalanya ke kanan. Ia mencuri pandang, melihat benda apa yang dipasangkan di rambutnya itu.
Ternyata benda berwarna silver yang bersinar itu sejenis hairpin. Berbentuk bunga, dengan beberapa hiasan lain yang mengelilingi, bentuknya seperti sebuah bando. Tampak sangat serasi dengan warna rambut Aluna. Berkilau, seperti melambangkan suasana hatinya yang saat ini berbunga-bunga.
"Cocok, Nak! Sangat serasi untukmu," puji Bu Asmi.
Dari kejauhan tampak ibunya mengacungkan jempol, tanda hiasan rambut itu sangat cocok untuknya. Aluna tersenyum-senyum sendiri melihat pantulan wajahnya. Sepertinya rombongan pengantin pria sudah tiba. Di luar terdengar hiruk pikuk, keluarga Aluna menyambut kedatangan mempelai pria.
Ibunya bergegas ke luar ruangan, memastikan sekali lagi bahwa semua persiapan telah selesai dengan baik. Ia tak ingin, di hari itu ada sesuatu hal yang akan merusak kebahagiaan putrinya. Wanita itu menghampiri Bi Inah yang terlihat sangat sibuk.
"Bagaimana, Bi? Ada yang kurang?" tanya Bu Asmi was-was.
Bi Inah menggeleng dengan cepat. "Tidak, Bu. Serahkan saja pada saya, semua aman terkendali."
Bu Asmi tersenyum dan berkeliling, manik matanya memandang dekorasi model kotemporer itu dengan takjub. Seluruh meja telah tertata rapi, berbagai hidangan pun telah duduk manis di meja saji. Beberapa pelayan telah mengambil posisi masing-masing. Siap untuk melayani setiap tamu undangan yang hadir.
Nino menunggu di tengah aula ruangan itu, duduk terdiam di meja putih diiringi keluarga mempelai wanita.
Ia menanti kehadiran Aluna. Jantungnya berdegub kencang, saat gadis pujaannya itu mulai menampakan diri. Melangkahkan kaki jenjangnya dengan sangat hati-hati. Kepalanya tertunduk seakan sengaja menyembunyikan paras cantiknya. Tanpa sadar Nino berbisik, "Aluna ...."
Gadis itu mendongakkan sedikit kepalanya, menunjukkan paras cantiknya di hadapan calon suaminya. Nino terpukau betapa indah pemandangan yang tampak saat itu. Aluna tersipu malu, dan mengerlingkan matanya. Membuat Nino semakin terpesona dan ingin segera menyelesaikan prosesi pernikahan itu.
Visualisasi Aluna Tavisha, gambar hanya sebagai pemanis 😆