My Edelweiss

My Edelweiss
Kesepakatan



Hari ini Nino mengambil izin cuti untuk pergi ke Jakarta. Sebelumnya ia sudah memeberitahu perihal itu pada Pak Suhandi. Pria itu ingin sandiwara itusegera berakhir. Bagaiamana pun cinta yang dipaksa begitu menyakitkan.


Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih sembilan jam itu ditempuh Nino dengan santai. Semoga saja Pak Gustavo setuju dengan harga yang ia tawarkan, Nino tak ingin mengambil banyak keuntungan. Sekiranya cukup untuk mengembalikan uang milik ayah Rere dan sedikit tambahan untuk kembali modal usaha baru.


Tak terasa sembilan jam berlalu tanpa halangan, bahkan Nino tak sadar ia telah sampai di ibukota. Segera dirinya memesan kendaraan online menuju Amuz Gourmet, tempat yang dijanjikan oleh Pak Gustavo. Nino sengaja ke kota itu menggunakan kendaraan umum agar tidak kentara dan tidak terjebak kemacetan. Maklum saja, kota dengan penduduk padat pasti akan mengalaminya.


"Dengan Pak Nino Huzair?" tanya sang supir online.


Nino mengangguk. "Benar, itu saya."


"Amuz Gourmet ya, Pak."


Lagi-lagi Nino hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sang supir melaju dengan kecepatan standart, entah mengapa jalanan terasa cukup lenggang untuk ukuran kota besar atau memang Bang online itu handal memilih jalan tikus.


"Bukan asli sini ya, Pak?" tanya pengemudi itu mencairkan suasana.


Nino tersenyum simpul. "Iya, Bang. Saya asli Jatim."


"Loh, iya ta? Saya juga dari sana, teparnya Madura. Ternyata kita sama-sama perantau," ucap pria itu dengan aksen khasnya.


Nino terkekeh mendengar logat pengemudi itu yang sangat kental dan medok. Padahal dirinya juga terkadang jika berbahasa daerah akan terdengar lucu. Namun, justru itu yang membuat mereka akrab.


Perjalanan singkat itu berakhir di depan aula Amuz Gourmet, sebuah restoran ternama yang bernuansa romantis. Entah mengapa Nino heran dengan pilihan Pak Gustavo kali ini, mengapa tidak bertemu di restoran miliknya saja.


Namun, ia tetap menghargai keputusan calon pemilik asetnya itu. Nino memasuki bagian dalam ruangan elegant yang berlokasi di Energy Building lantai dua, Jakarta Selatan itu.


Pria itu mengambil posisi duduk di tengah ruangan dengan alas sofa berwarna jingga yang menawan. Manik mata Nino mengamati sekeliling, sayup-sayup terdengar suara alunan musik halus menambah kesan mendalam resto bergaya Prancis itu.


"Hmm, aku ingin memilikinya satu untuk usaha baruku nanti," gumam Nino sembari mendongakkan wajah.


Mantan kekasih Aluna itu memandang plafon berdesain struktur menara Eiffel yang menghiasi langit-langit. Terlihat mengagumkan, apalagi ditambah dengan lantai marmer yang menjadikan setiap celah di ruangan itu tampak sangat mewah.


"Sudah lama menunggu?" Seseorang menepuk bahu Nino dari belakang.


Nino menoleh ke sumber suara dan mendapati orang yang sedari tadi ia tunggu. Pria berketurunan China-Belanda itu memandang Nino dengan tersenyum. Para waiter dan waiteress menghampiri mereka berdua.


Setelah memilih beberapa menu yang akan mereka santap. Nino memulai pembicaraam ringan. "Bagaimana kabar Anda, Pak?"


"Luar biasa! Saya merasa sangat baik ketika mendengar kabar darimu," kelakar pria yang memiliki wajah serius itu.


Memang benar adanya jika ada pepatah yang mengatakan "jangan melihat buku dari sampulnya". Begitulah kira-kira penilaian Nino pada rekannya itu. Wajah yang tampak sangar dan kaku ternyata berjiwa humoris.


"Anda bisa saja, Pak."


"Tidak, itu benar. Kabar yang Anda berikan itu membuat saya kembali bersemangat. Bahkan saking semangatnya saya meninggalkan istri di mall. Lalu lupa untuk menjemputnya kembali," oceh pria berusia setengah abad itu dengan terkekeh.


Mantan kekasih Aluna itu ikut tertawa membayangkan jika dirinya berada di posisi sang istri. Pasti akan uring-uringan dan berasumsi suaminya telah memiliki wanita lain. Sehingga meninggalkan dirinya di pusat perbelanjaan sendirian.


"Sudah, kita langsung saja ke topik pembahasan. Apakah Anda benar-benar akan menjual resto itu?" tanya Pak Gustavo sembari menyeruput segelas café au lait, sejenis minuman kopi pesanannya.


"Oh, tidak masalah. Saya akan membayar harga yang pantas untuk resto itu. Saya sangat menyukai tiap desainnya, sama seperti restoran ini."


"Kalau boleh saya tahu, bagian mana dari resto saya yang mebuat Anda sangat ingin mengelolanya?" Kening Nino berkerut heran.


"Banyak hal."


"Boleh saya mendengar kesan Anda sedikit tentang resto itu?" tanya Nino lagi dengan tatapan menelisik.


Pak gustavo mengangkat satu alisnya. "Karena tempat itu awal mula pertemuan dengan istri saya. Suasana yang romantis dan dihiasi lampion-lampion, serta jendela besar dan detail unik pada dinding resto Anda mengingatkan saya akan kampung halaman orangtua saya."


"Hanya itu?"


"Tentu tidak, bagi saya kegiatan di dalam dapur itu selalu menarik untuk disimak. Dahulu saya mempunyai keinginan menjadi seorang chef. Namun, karena tidak ada dukungan dari keluarga, saya seperti ini, " beo Pak Gustavo merendah.


"Selamat, Pak. Anda semakin membuat saya yakin menyerahkan aset berharga itu pada Anda. Saya melihat sosok kakek yang begitu mencintai masakan."


"Ya, benar! Kakekmu itu orang hebat, dia bisa menciptakan makanan lezat dengan tangan ajaibnya. Bahkan dahulu, saya sempat penasaran dan ingin mengintip sihir apa yang dilakukan beliau? Bukankah itu konyo?" Tawa Pak Gustavo menggelegar.


Pria berperawakan tinggi besar itu melongokkan wajah, mendekat ke arah Nino. "Benar, Anda hanya meminta harga segitu?"


"Ya, saya rasa itu sudah lebih dari cukup."


Pak Gustavo merogoh saku jas yang ia kenakan dan mengeluarkan gepokan kertas kecil berlogo. "Ini tiga milyar yang Anda minta." Pria itu menyodorkan secarik cek "Dan ini bonus karena sudah menemani saya di sini."


"Tidak, saya tidak bisa menerima ini." Nino mengembalikan cek kedua yang bernominal dua belas juta rupiah.


"Terimalah sebagai penghormatan untuk kakekmu. Saya merasa sangat terhormat bisa memiliki resto legendaris itu," ocah Pak Gustavo lagi, kali ini sembari mencomot eclair.


Putra semata wayang Bu Hilma itu tersenyum simpul. "Terimakasih, Pak. Saya akan selalu mengenang jasa Anda."


"Kembali kasih, apakah Anda akan menginap di Jakarta malam ini?" Pak Gustavo membenahi posisi duduk.


Nino menggeleng pelan. "Tidak, masih ada hal lain yangbharus saya urus. Oh iya, ini semua dokumen penting resto. Anda bisa mengeceknya dahulu, Pak." Nino menyerahkan sebuah amplop coklat yang cukup tebal.


Lelaki rekan bisnis Nino mengecek satu persatu lembaran kertas yang dibawanya. Benar-benar transaksi jual beli yang aneh, bahkan mereka tidak membawa notaris. "Baiklah, untuk peralihan hak kepemilikan akan segera saya urus. Jadi Anda hanya tinggal menandatanginya."


"Terimakasih. Anda memberikan saya kemudahan."


"Bukan hal besar. Atau mungkim saya gang akan mengunjungi Anda di Jawa? Sekalian saya juga ingin pergi berlibur. Boleh?"


"Tentu, dengan senang hati, Pak."


Transaksi hari itu berjalan mulus, kini Nino hanya harus menata perkataan untuk menyampaikan maksud hatinya pada ayah Rere. Pria itu merasa sedikit aneh dengan sikap ayah tirinya yang terus memaksa untuk menikahi Rere. Apakah ada sesuatu di antara mereka?


Pak Gustavo dan Nino berpisah, rekan bisnisnya kembali ke kediaman. Sedangkan Nino kembali berkutat dengan transportasi umum untuk kembali pulang.