My Edelweiss

My Edelweiss
Ancaman Buaya



Aku memiliki cara tersendiri untuk mencintaimu. Bukan seperti Rama-Sintha atau pun Romeo dan Juliet, bukan dengan beribu rayuan yang kulisankan setiap saat. Namun, aku siap mengambil resiko atas segala kekuranganmu.


~Nino Huzair Sasongko.


💕💕


Dapur berdimensi empat kali lima meter itu mendadak gaduh oleh pekik dan tawa Aluna. Wanita itu tampak sangat bahagia. Tidak ada lagi kegundahan dan senyum getir seperti tempo hari.


Begitu pula dengan Nino, rona wajahnya bercahaya dan tampak sangat menikmati momen kebersamaan mereka. Memang benar, cinta memiliki sihirnya sendiri. Membuat siapa saja yang terjerat panah asmara cupid, menjadi linglung akan pesonanya.


"Nino, aku sekalian mandi di sini boleh?" tanya Aluna dengan mengerling manja.


Lelaki itu menempelkan jari telunjuk di permukaan bibirnya sendiri. "Hmm, boleh tapi ...."


"Tapi apa?" cerocos Aluna dengan cepat.


"Ada syaratnya dong."


Wanita bersurai hitam legam itu mengerutkan kening. "Syarat apa? Ada tarif masuk toilet gitu?"


"Bukan! Kamu pikir ini tempat wisata, pakai tarif," dengkus Nino kesal.


"Lha, terus apa? Buruan, aku gerah!"


Nino mendekatkan pipinya. "Password dulu."


Aluna memonyongkan bibirnya sembari memejamkan mata. Tangan usil Nino meraba-raba sebuah talenan berbahan plastik yang tadi dicuci oleh wanita itu.


"Lebih dekat," ucap Nino sembari menahan tawa.


Wanita itu bergerak maju, semakin mendekat dan ketika ia ingin mengecup pipi sang kekasih. Dengan cepat Nino menempelkan talenan itu, sehingga bibir ranum Aluna menempel di alas untuk memotong itu.


Sontak Aluna membuka netra, ia terbelalak ternyata Nino lagi-lagi usil. "Nino, awas kamu!"


"Satu kosong! Mandi dulu baru kita lanjut." Nino mengedipkan satu matanya dengan genit.


"Dasar mesum!" rutuk Aluna sembari berjalan ke arah kamar mandi.


Usai melakukan ritual di kamar mandi, Aluna bergegas memakai kembali pakaian kerjanya Karena memang ia tidak membawa pakaian ganti. Selesai mengenakan setelan blousenya, wanita itu menuju ruang tamu.


Namun, Nino yang tiba-tiba muncul bagaikan setan menarik pergelangan tangan Aluna. Menggiring paksa wanita itu untuk mengikuti langkahnya.


"Kita mau kemana?" Aluna meronta-ronta.


Nino memicingkan netra dan menatapnya lurus. "Diam, ikuti saja aku!"


Hah? Apakah Nino kerasukan jin? Beberapa saat lalu ia tampak sangat manis, meskipun tetap jahil. Detik ini berbeda, dia terlihat sangat kesal.


Mereka menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Aluna berusaha menstabilkan keseimbangan tubuhnya. Jangan sampai ia terguling dari tangga, jika itu terjadi mau ditaruh mana mukanya.


"Masuk!" Nino mendorong tubuh Aluna agar memasuki kamarnya.


Lelaki itu mengajak Aluna ke ruang tidur dan ini sudah malam. Apa yang akan dilakukan Nino? Mungkin olahan daging sapi tadi keliru, sehingga menaikkan libidonya. Entahlah, kita lihat saja mereka.


"Ganti bajumu!" titah Nino sembari menyentuh handle salah satu pintu almari.


Almari pakaian berbahan jati itu memiliki enam buah pintu. Benar, enam! Entah, pakaian apa saja yang ada di balik pintu. Model klasik elegant sangat kentara, terutama lukisan bunga ivory yang tergambar di setiap permukaan.


Perpaduan warna putih dan gold yang mewah, serta bagian depan dihiasi oleh kaca besar yang melengkung. Membuat pemiliknya bisa dengan leluasa bersolek.


Pintu almari itu berderit, memecah kesunyian. Nino menggelang ringan ketika melihat Aluna yang terbengong-bengong mengamati almarinya.


"Pilih pakaian yang kamu suka. Baju itu sudah bau asap," beo Nino tanpa tading aling-aling.


"Aku mau ini saja," ujar Aluna lirih.


Wanita itu menunjuk sebuah gaun berwarna abu muda. Ekor matanya memperhatikan tingkan Nino yang tampak biasa saja. Lelaki itu segera menarik keluar gaun itu dari tempatnya.


"Semua ini koleksimu? Jangan bilang kalau kamu sering berdandan seperti wanita!"


Pikiran aneh Aluna memenuhi benaknya, bisa saja Nino memiliki hobi yang aneh. Apalagi jika diamati, pria itu memiliki wajah yang cantik seperti layaknya seorang gadis. Bukankah itu modal yang mendukung?


"Jangan berpikiran aneh-aneh! Mama yang menyediakan semua ini, ternyata bermanfaat juga," oceh Nino sembari memutar bola mata.


Nino menempelkan gaun berwarna serupa dengan abu rokok itu ke dada Aluna. "Cepat ganti! Bisa-bisa kuman di pakaianmu itu menempel di kulitku."


"Siap, Tuan," jawab Aluna dengan nada mengejek.


Sikap Nino yang seperti itu sering kali membuat Aluna kesal. Ya, kekasihnya mungkin salah satu penganut perfeksionisme.


Keyakinan bahwa apapun yang akan dilakukannya dan orang di sekitarnya harus sempurna untuk mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik ataupun non-materi.


Namun, bukankah kebersihan juga sebagian dari iman? Hmm, yang penting tugas Aluna berganti pakaian saja. Lagipula gaun itu nyaman dipakai.


"Pantas tidak?" tanya Aluna yang keluar dari kamar mandi dalam ruang tidur Nino.


Lelaki itu terpana untuk sesaat. Maxi dress berbahan lace kombinasi katun itu melekat sempurna di tubuh Aluna. Model lengannya yang berbentuk sabrina memamerkan sedikit bagian lengan atas yang mulus itu.


"Cantik." Nino menghampiri Aluna yang asik mengamati pantulan dirinya di cermin.


Aluna menoleh dan lengkungan manis tercipta di antara kedua sudut bibirnya. Memamerkan sebuah gigi ginsul yang menyembul malu-malu. "Terima kasih."


"Ini yang cantik."


Tangan lelaki kekar Nino menyentuh aksen pita besar di bagian belakang pinggang Aluna. Memang hiasan pita itu menambah kesan feminim dan imut bagi siapapun yang memgenakannya.


"Hmm, aku enggak cantik?" Aluna berbalik dan melingkarkan tangan di bahu Nino.


Nino menatap lekat kekasihnya, lelaki normal pasti akan menjawab dia cantik. Bahkan sangat elok, kulit seputih susu dan manik mata berbentuk almond merupakan perpaduan yang sempurna.


Wajah Aluna benar-benar menjadi ciri khas wanita Asia. Hal itu pula yang menjadikan Nino jatuh ke dalam pelukan wanita yang sedikit ceroboh itu.


"Tidak, kamu jelek!" jawab Nino dengan watadosnya.


Aluna membuka mulutnya lebar. "Hey, kalau aku jelek, kenapa masih bersamaku?"


"Terpaksa."


Dengan penuh percaya diri, Nino mengucapkan hal itu. Ia menaikkan satu alisnya dan menyeringai. Menanti reaksi sang kekasih yang mulai tampak kesal.


"Oh, gitu. Ya udah, kita putus sekarang!"


"Memang kita jadian?" tanya Nino dengan tatapan menelisik.


Aluna menelan salivanya sendiri. Astaga benar juga, Nino tidak memintanya untuk kembali menjadi kekasih. Namun, langsung terang-terangan melamarnya. Bahkan sebentar lagi mereka akan menikah.


"Hmm, enggak sih. Ta-tapi 'kan kita bisa dihitung sudah bertunangan. Kalau begitu kata yang pas ... membatalkan."


Nino menarik kasar tubuh Aluna ke dalam dekapannya. "Kalau kamu berani membatalkan pernikahan kita. Jangan salahkan aku, jika melakukan sesuatu yang akan membuatmu meminta kunikahi!"


"Lepas, Nino! Aku janji enggak akan membatalkannya," rengek Aluna.


Wanita itu memukul-mukul dada bidang sang kekasih, tiba-tiba seseorang mengetuk daun pintu yang memang sengaja dibuka lebar.


"Permisi, Tuan. Ada pihak W.O menunggu di bawah."