My Edelweiss

My Edelweiss
Penyesalan



"Jelaskan padaku, Nino!" Suara Aluna bergetar menahan gejolak dalam hatinya.


Wanita itu hendak pergi, tetapi cekalan tangan Nino menghentikan langkahnya. Manik mata almond itu mulai berkaca-kaca. Kejutan macam apa lagi ini?


"Tetap di sini!"


Pak Sailendra mendekat, berhadapan dengan putra tirinya itu. Sorot matanya tajam, bukan seperti tatapan seorang ayah. Di sana tersirat dendam dan kebencian yang mendalam.


"Tinggalkan wanita itu!" sentak Pak Sailendra sembari menunjuk Aluna.


Tangan Nino yang terus menahan Aluna itu mendadak bergetar. "Tidak! Aku akan menikahi ibu dari anakku!"


Rere terkejut bukan kepalang, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Bukan karena penolakan Nino yang kesekian kalinya, tetapi karena pernyataan pria itu bahwa 'ia akan menikahi ibu dari anaknya'. Itu artinya, wanita yang pernah Rere labrak sewaktu di kantor Nino, sudah mengandung anak lelaki itu?


Dalam tata krama keluarga Rere, mengejar apalagi menikahi pria yang telah memiliki anak adalah kesalahan fatal. Kesalahan yang dapat menghapus namanya dari silsilah keluarga konglomerat itu. Sudah pasti ini menyangkut reputasi keluarga besarnya.


"Ja-jadi, dia hamil?" tanya Rere terbata-bata.


"Ya, baru beberapa minggu." Lelaki itu mengelus perut rata Aluna.


Aluna masih tidak paham apa yang terjadi, ia ingin sekali berteriak rasanya. "Ta--"


Nino menghentikan kalimat Aluna dengan membekap mulut wanita itu. "Kamu merasa mual? Ayo kita ke toilet, istirahatlah di kamarku dulu, Sayang."


Lelaki itu benar-benar pemain ulung. Ia bahkan rela berbohong demi mempertahankan hubungannya dengan Aluna. Entah akan jadi seperti apa kelak, jika kabar itu sampai menyebar ke kantor.


"Plaaaakk!" tamparan keras mendarat di wajah tampan Nino.


Aluna tersentak dan refleks menyembunyikan diri di balik punggung Nino. Tangannya gemetar dan dingin, bukan karena lelah sehabis mendaki melainkan ketakutan mendengar pertikaian keluarga itu.


"Nino! Kamu benar-benar keterlaluan!"


Ayahnya tak terima dengan alasan tersebut, dimatanya perbuatan Nino telah mencoreng nama baik keluarga Sailendra. Apa-apaan itu? Hamil? Hah! Ia tetap tidak percaya ucapan anak tirinya.


"Apa yang sudah kamu perbuat, hah? Kamu lupa atas jasa Rere yang membantu perusahaan Sasongko, jika tidak ada dia sudah pasti pabrik dan office itu akan gulung tikar!"


Tatapan dingin yang menjadi ciri khas Nino menusuk kornea mata Pak Sailendra. "Aku sudah mengembalikan uang mereka, jadi tidak ada lagi hutang budi. Toh, Rere juga bisa membeli pria manapun yang dia mau dengan uang. Untuk apa mencariku?"


"Jaga bicaramu! Mana etika yang diajarkan Sasongko, hah? Pantas saja jika mamamu lebih memilihku."


"Lebih terhormat perbuatanku, daripada seseorang yang lebih bejat. Merebut istri rekan kerjamu sendiri!" pungkas Nino geram.


Putra Bu Hilma itu memutar bola matanya malas. "Hanya mengatakan kebenarannya, aku akan bertanggung jawab atas apa yang kulakukan. Itu saja, menikahi wanita yang sudah mengandung darah dagingku."


"Anak jahanam! Jangan pernah menganggapku papa lagi!" tuding sang ayah.


Nino mengerutkan dahi. "Papa? Sejak kapan aku memberi julukan mulia itu?"


"Sampai mati pun, aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan itu!" hardik Nino lagi.


"Kamu--" Pak Sailendra mengatur napasnya yang tersenggal.


Manik mata ayah tiri Nino berkilat merah, otot-otot lehernya menegang. "Apa kamu bilang? Dasar anak brengs*ek!"


"Sudah, Om. Jangan membuat keributan! Ayo kita pergi saja!" ajak Rere dengan mata sembab.


Sebelum meninggalkan kediaman mewah itu, Rere sempat beradu pandang dengan Aluna. Tatapan lurus dan tajam tertuju kepada kekasih Nino itu. "Tunggu saja, aku akan membuat perhitungan denganmu, wanita jal*ang!"


Pak Sailendra merasa sangat kesal dengan kelakuan anaknya. Tampak ia menendang pot bunga ketika keluar dari kediaman Nino.


"Sabar, Om. Kita bermain halus saja," ucap Rere dengan menyeringai.


Pak Sailendra memicingkan mata. "Bermain halus?"


Rere mengangguk ringan, tampaknya ia mempunyai rencana rahasia. Ayah tiri Nino mengekor saja. Karena idenya sudah buntu untuk memaksa Nino menikahi Rere.


Upayanya untuk mendapatkan 30% saham milik keluarga Rere dan hak milik aset keluarga Sasongko pun kandas. Ya ... Karena alasan itulah Pak Sailendra terus menerus memaksa Nino menikahi wanita berkacamata itu. Ia ingin memperbesar perusahaannya dengan menggandeng keluarga konglomerat itu. Mereka berdua segera memasuki mobil dan melanjutkan persekongkolan ilegal.


Di sisi lain, Aluna terus memperhatikan Nino dengan tatapan menelisik. "Jelaskan! Apa maksudnya menikah, keluarga Rere memberi bantuan, entah apa lagi tadi yang diucapkan papamu!"


"Dia bukan papaku!" sergah Nino dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ya, dia bukan papamu. Jelaskan semua, oh iya apalagi dengan alasan aku hamil. Kamu gila!"


Nino menarik tubuh Aluna, hingga wanita itu terhuyung ke depan. Pria itu mempererat dekapannya, menyentuh bagian punggung Aluna. Gaun tosca dengan bagian belakang sedikit terbuka itu memamerkan kulit mulus kekasihnya.


Lelaki itu menghirup aroma tubuh Aluna, memejamkan netranya sesaat. "Aku hanya ingin tetap bersamamu."


Aluna mendorong Nino dengan sekuat tenaga. "Namun, bukan begini caranya! Apa kamu pikir dengan berbohong, hubungan kita akan baik-baik saja? Bagaiamana jika ini sampai ke telinga yang lain?"


"Masa bodoh, yang penting aku menikahimu. Mereka akan diam jika lelah, aku tak mau ambil pusing."


"Apa benar wanita itu pernah membantu perusahaanmu?" tanya Aluna sembari mengerutkan dahi.


Nino menarik napas dalam. "Benar, tetapi aku harus menikahinya. Saat itu aku tidak dapat berpikir jernih, lelaki keji itu memberiku pilihan yang sulit."


"Apa?"


Lagi-lagi Nino menarik paksa tubuh molek Aluna ke dalam pelukannya. "Menyelamatkant perusahaan mendiang ayahku atau tetap bersama dirimu, dan menunggu aset itu gulung tikar."


Pandangan Aluna seketika kabur, jadi perubahan putra Bu Hilma selama ini demi menyelamatkan perusahaan, bukan karena ia benar-benar menyukai gadis lain. Wanita itu tertunduk, menyesal karena ia hampir saja berpaling dari Nino.


"Hah, Kenapa kamu tidak menceritakannya dari awal?" Manik mata Aluna berkaca-kaca.


Cinta pertama Aluna itu menyentuh dagu sang kekasih, menaikan sedikit wajah rupawan itu agar sejajar dengan pandangan netranya. "Aku tidak ingin membebanimu."


"Lantas, bagaimana dengan perusahaan keluargamu? Mengapa kamu menolak pernikahan itu, Nino?" desis Aluna.


"Awalnya aku juga berpikir hanya itu jalan satu-satu. Namun, hatiku tetap tidak bisa menerima kehadiran Rere. Jadi, aku memutuskan untuk menjual restoran kakek di Jakarta dan mengembalikan uang keluarga Rere." Nino membelai wajah Aluna dengan lembut.


"Apa kamu tidak menyesal? Bukankah resto itu juga kenang-kenangan dari kakekmu 'kan?"


Nino semakin mempererat dekapannya. "Penyesalanku adalah kenapa aku tidak memilihmu dari awal."