My Edelweiss

My Edelweiss
Rahasia di Balik Pekerjaan



Empat tahun kemudian.


"Yes! Tugas hari ini selesai juga, akhirnya aku bisa sedikit santai." Aluna meregangkan tubuhnya, masih dengan posisi duduk menghadap monitor komputer. Netranya bergerak naik-turun mengoreksi laporan periodik yang baru saja ia kerjakan.


Oke, stock barang gudang dengan permintaan konsumen masih memadai. Besok pagi, aku harus segera menemui Bu Yanti untuk meminta tanda tangan.


Wanita itu masih sibuk menggerakkan kursor komputer, meyakinkan diri bahwa kewajibannya telah tuntas dan tidak ada yang terlewat.


Saat ini Aluna telah menjadi salah satu karyawan magang di PT. Mitra Sukses, yang merupakan perusahaan besar di bidang industri jamu instant, meskipun semua itu harus ia lalui dengan berat. Bekerja sekaligus kuliah,tetapi hal itu tak pernah menyurutkan semangatnya.


Jabatan yang ia sandang saat ini adalah warehouse, atau biasa disebut bagian gudang. Mengawasi pergerakan Keluar-masuknya hasil produksi baik dalam maupun luar negeri. Dari jerih payahnya itu, ia berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan membuka sebuah depot sederhana untuk ibunya. Lokasinya pun tak jauh dari rumah mereka, tepat di depan rumah Bibi Ike.


"Lun, ayo makan dulu! Keburu dingin nanti," perintah ibunya dari luar.


"Iya, sebentar lagi, Bu. Luna beresin berkasnya dulu!" jawab Aluna sembari menata tumpukkan kertas yang berserakan di meja.


Gadis manis yang menjelma menjadi seorang wanita dewasa itu, beranjak pergi meninggalkan ruang kamarnya. Ia segera menghampiri sang ibu yang telah menunggu di meja makan. Aroma sedap menggelitik indra penciumannya, beberapa hidangan laut berbaris dengan pasrah, siap untuk di makan. Aluna segera melahap hidangan kesukaannya dengan bersemangat.


"Hmmm, enak!" pekik Aluna girang.


"Habiskan saja. Sudah selesai laporannya, Lun?" tanya ibunya sembari meletakkan sendok di piring.


"Hu-um," jawab Aluna dengan mulut penuh.


"Ibu cuma mengingatkan saja, jangan terlalu sering lembur. Bagaimanapun kesehatanmu lebih penting, Nak."


"Tapi, Bu kalau aku tidak segera menyelesaikan semua laporan, aku sungkan dengan, Pak Suhandi," ujar Aluna dengan tatapan memelas.


Wanita paruh baya itu menghela napas kasar. "Apa kamu enggak punya niat cari kerja lain? Pekerjaan yang tidak memforsir tenaga dan pikiranmu, Luna."


"Tidak, Bu!" jawab Luna dengan polosnya.


"Ini sudah yang ke berapa kali, ibu bertanya hal yang sama? Aluna enggak akan pindah dari sana." Wanita itu menggenggam erat garpu makannya. Sorot mata yang teduh berubah menjadi tajam.


"Ya sudah terserah kamu, kalau begitu jangan lupa makan!" Sang ibu terlihat kesal dan berlalu pergi meninggalkan anak gadisnya sendirian.


Aluna menyandarkan kepala di kursi, memandang langit-langit ruangan itu. Ini bukan pertama kalinya ia berdebat dengan sang ibu perihal pindah kerja. Ibu Aluna hanya ingin anak semata wayangnya itu mencari pekerjaan yang lebih santai. Namun, selalu ditolak oleh Aluna. Bayangan wajah sang manajer melintas di pelupuk matanya. Seorang pria tambun berambut cepak yang selalu tersenyum ramah.


Bagaimana bisa ia mengecewakan seseorang yang telah mengangkat derajat hidup keluarganya? Seorang atasan yang bersedia, menyokong semua biaya kuliahnya tanpa meminta imbalan apapun dan menggajinya sama seperti karyawan tetap.


Tiba-tiba ponsel Aluna bergetar, menyadarkannya dari lamunan. Ia menatap notifikasi di layar ponsel, sebuah pesan masuk dari orang yang baru saja ia bicarakan.


From: Pak Suhandi


Luna, ini sudah tanggal dua, aku mengirimkan sejumlah uang untuk membayar biaya wisudamu. Jangan lupa kirim bukti pembayarannya ya! Oh, iya aku menanti salinan laporan periodik minggu ini. Tolong kirimkan via telegram saja. Terimakasih.


Aluna tersenyum, hal inilah yang selalu membuatnya bersemangat. Di mana lagi dia akan mendapatkan fasilitas pendidikan seperti ini. Ia pun segera mencuci peralatan makan dan bergegas kembali ke kamar. Namun, seketika raut wajahnya tampak gelisah. Ia tak menemukan flashdisk tempatnya menyimpan laporan.


Jemari-jemarinya sibuk mengobrak-abrik laci meja kerja dan akhirnya ia menemukan apa yang dicari. Harta berharga itu tergolek tak berdaya di antara tumpukkan kertas hvs.


"Alhamdulillah, kamu di sini ternyata. Bisa copot jantungku kalau kamu hilang, Sayang. Aluna mencium Flashdisk berwarna hitam itu dengan gemas."


Di sisi lain, Pak Suhandi tampak berbincang-bincang dengan seorang pria berjas hitam. Manik mata cokelat milik pria itu menatapnya dingin. Sepertinya pria tambun itu sangat menghormati pria yang berdiri di depannya itu. Beberapa kali terlihat ia menganggukan kepala sembari tersenyum.


"Sudah saya sampaikan, Pak."


Pria tambun berdarah manado itu mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Sungguh beruntung Aluna mendapatkan kekasih seperti, Pak Nino. Sudah ganteng, kaya, baik hati pula. Saya jadi ingin memiliki menantu seperti Anda."


Nino, lelaki itu yang selama ini berada di balik Pak Suhandi.


"Pak Suhandi ini bisa saja. Bukankah kedua anakmu itu jagoan? Apakah Bapak masih tega menjodohkan kami?" tanya Nino dengan tatapan khasnya.


"Ti-tidak tentu saja tidak! Membayangkannya saja sudah membuat saya geli, Pak." Kedua pria dewasa itu tertawa terbahak-bahak bersama. Nino merangkul pundak Pak Suhandi yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri.


"Terimakasih atas kerjasamanya, Pak Suhandi. Sampai Bapak repot-repot datang ke gubuk saya ini," ucap Nino merendah.


"Jangan begitulah, Pak! Ini suatu kehormatan bagi saya dapat membantu. Saya seperti kembali menjadi muda, sungguh pengorbanan cinta Anda luar biasa, saya pamit pulang dulu."


Eksekutif muda itu hanya mengangguk, senyum tipis terbingkai di wajah tampannya. Ia merasa tersentuh oleh ucapan kaki tangannya itu.


Ya, sudah empat tahun Nino merahasiakan ini dari Aluna. Kalau tidak, bagaimana gadis polos itu bisa menerima bantuan itu? Tinggal selangkah lagi, dirinya 'kan melihat kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu cantik. Nino berjalan memasuki kediamannya setelah mengantarkan Pak Suhandi ke parkiran.


🦄🦄🦄


Cahaya sang surya menyusup di antara bingkai jendela. Sayup-sayup terdengar kicauan burung yang bernyanyi bahagia. Sentuhan hangat mentari pagi mulai menjalari tubuhnya, aroma nasi goreng memenuhi ruang tempat Aluna berada, memaksa wanita itu untuk segera membuka mata.


"Hmmm, nasi goreng." Aluna bergumam sendiri.


Ia berusaha membuka kelopak matanya yang serasa dilem alteco. Setelah kedua netra terbuka sempurna dan nyawa terkumpul, Aluna bergegas mandi dan berganti seragam kerja. Tak lupa ia sarapan terlebih dahulu bersama sang ibu sebelum mengais rejeki.


"Aluna kerja dulu, Bu," ucapnya sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


Dengan penuh gairah ia pergi bekerja bersama bang ojol, karena hari ini sepeda motornya akan digunakan sang ibu untuk berbelanja. Sesampainya di kantor, Aluna bergegas menyiapkan beberapa berkas yang harus di tanda tangani Bu Yanti. Ia mencari wanita itu kesana-kemari. Namun, tak terlihat batang hidungnya. Akhirnya dengan putus asa Aluna kembali  ke meja kerjanya.


"Kenapa, Lun? Lemes banget kaya habis ngeronda aja," goda Farhan, teman sekantornya.


"Aku daritadi kaya setrika mondar-mandir nyari, Bu Yanti."


"Yeelah, kamu enggak baca pengumuman di grub whatsapp kantor?" tanya Farhan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Aluna menggelengkan kepala. "Emang, ada apa?"


"Nah, kan dasar pea! Bu Yanti izin enggak masuk karena harus operasi caesar! Kandungannya dalam bahaya, makanya dia harus segera melahirkan," celoteh Farhan panjang lebar.


"Loh, terus berkasku gimana dong?" tanya Aluna dengan wajah melas, tetapi sahabatnya itu hanya menghendikkan bahu.


"Tenang, katanya ada yang akan ditunjuk mengambil alih posisi Bu Yanti, sampai ada kandidat penggantinya," ucap Karin, salah satu divisi konsumsi.


Aluna mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah, kira-kira jam berapa ya datangnya?"


"Mungkin sebentar lagi, tadi kata Pak Suhandi begitu sih. Oh iya, denger-denger dia itu ganteng loh! Udah ah, aku mau ajak Farhan ke kantin dulu, yuk!" Karina berlalu pergi sambil mengedipkan mata kirinya.


Dasar genit!


Tiga puluh menit berlalu, Aluna masih terpaku di depan monitor. Namun, tiba-tiba seisi kantor tampak ricuh, para karyawan wanita bergerombol di depan pintu. Berdesak-desakan seperti hendak membeli pakaian diskon.