
Setelah selesai dinner, Nino bergegas menarik Aluna keluar. Ia akan segera mengantar wanitanya itu pulang. Lelaki itu tak ingin merusak kepercayaan calon mertua dengan membawa putrinya pulang larut malam. Aluna mengikuti sang kekasih dengan mulut penuh puding. Perasaan kesal masih bergelayut di hatinya.
"Nino kamu bisa pelan dikit, enggak sih?" tanya Aluna ketus.
"Cepetan! Udah jam segini lo. Kamu mau ibumu marah?" tanya Nino tanpa memandang lawan bicaranya itu.
Aluna menggeleng dengan memasang tampang cemberut. Mereka segera memasuki mobil avanza putih kesayangan Nino. Lelaki itu tak mau membuang waktu dan segera tancap gas menuju rumah sang kekasih. Hanya butuh waktu 15 menit, mereka telah sampai di depan rumah Aluna. Tampak calon mertua sedang asik menjemur pakaian.
Waduh, Camer jam segini njemur baju? Atau ini memang trik untuk memantau aku dengan Aluna?
Dua sejoli itu segera turun dari mobil, Aluna berlari menghampiri ibunya yang tampak sangat lelah. Nino mengikuti langkah wanita itu dari belakang, sembari memasang senyum paling manis.
"Ibu, jam segini kok nyuci sih? Kenapa enggak nunggu Luna aja?" tanya Aluna merasa tidak enak dengan ibunya.
"Iya, Enggak apa-apa ibu kan baru pulang dari depot, Lun. Kasian kamu nanti capek, kerjaan di kantor pasti banyak," jawab ibunya sembari mengelus kepala putri semata wayangnya itu.
Aluna bergelayut manja di lengan ibunya. "Hmm, pasti lebih capek Ibu."
Nino yang sedari tadi hanya diam mematung kini mulai melancarkan aksinya, ia harus bersikap baik demi menarik perhatian calon mertuanya itu.
"Selamat malam, Bu. Maaf kami pulang agak larut hari ini," ucap Nino dengan sopan sembari menyalami calon mertuanya.
"Jangan sungkan begitu, Nak Nino. Kamu ini sudah kuanggap seperti anak sendiri. Ayo masuk dulu!" perintah wanita itu sembari menenteng ember cucian.
"Saya langsung pulang saja, Bu. Em, enggak enak dilihat tetangga sudah jam segini," tolak Nino dengan halus.
"Eh, tetangga udah pada tidur. Kamu makan dulu ya? Pasti belum sempat makan kan, kebetulan banget tadi Ibu masak capcay kebanyakan."
Nino menggaruk kepalanya, ia tak tahu harus berkata apa. Mau menolak tak enak hati, tetapi perutnya sudah sangat kenyang.
Haduh, bagaimana ini? kalau aku tolak nanti dipikir aku enggak doyan masakan ibunya Aluna. Sedangkan tadi aku sudah menghabiskan banyak makanan. Perutku masih kenyang.
"Emm, sa--" Belum sempat Nino mengucapkan satu kalimat, Aluna menginjak kakinya dan menjawab dengan cepat. "Belum kok, Bu."
"Bagus, ayo cepetan masuk! Angin malam enggak baik buat perjaka." Wanita itu memasuki rumah sembari terkekeh.
Mulut Nino menganga terkejut dengan ucapan Aluna. Ia masih berusaha untuk menolak tawaran itu. "Hah, ta--tapi...."
"Sudah, ayo masuk! Beri sedikit kesan penurut dong di hadapan ibuku," ucap Aluna menyeringai.
Rasakan pembalasanku, Hohoho. Salah sendiri kamu bikin aku kesal terus! Aluna tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi wajah Nino yang terlihat kelabakan.
"Ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi," ucap Nino dengan nada pasrah.
Mereka bertiga kini duduk di ruang makan. Ruangan yang berbeda jauh dengan milik Nino. Di sana hanya ada meja persegi sederhana beralasan taplak motif bunga yang terpasang di atasnya. Juga empat buah kursi sebagai pelengkapnya. Ibu Aluna segera memanaskan sayur, dan menghidangkan di atas piring.
"Sebenarnya tadi kelebihan sayur ini mau ibu kasih ke Bu Retno, tetangga baru kita itu loh, Lun, tetapi berhubung Nino ada di sini, jadi bantu kita menghabiskan ya, Nak?" pinta ibu Aluna.
Nino hanya mengangguk patuh, tak tahu mau bicara apa lagi. Beberapa menit kemudian hidangan telah tersaji. Sepiring besar capcay, nasi putih yang masih mengepulkan asap dan setoples kerupuk.
Ibu Aluna mengambil 3 centong penuh nasi putih, dan beberapa sendok capcay dalam satu piring. Kemudian ia meberikannya pada Nino. "Ini buat, Nak Nino. Aluna mau Ibu ambilkan juga atau bagaimana?"
"Enggak usah, Luna ambil sendiri aja, Bu."
Nino menelan salivanya sendiri, manik matanya membulat melihat porsi makanan di depannya yang luar biasa banyak.
Astaga, ini sih porsi kuli! Piringnya aja sampai enggak kelihatan ketutupan nasi. Bagaimana caranya aku menghabiskan semuanya?
"Loh, kok bengong sih? Ayo lekas dimakan! Mumpung masih hangat enak," ujar ibu Aluna membuyarkan lamunan Nino.
"Ta-tapi ini terlalu banyak, Bu."
"Hust, enggak boleh bilang gitu! Lelaki muda seperti kamu ini butuh banyak energi, jadi makan yang banyak ya. Ibu enggak mau punya menantu loyo," tandas wanita paruh baya itu santai.
Aluna mencuri pandang, melirik Nino yang tampak terus memandangi makanan dalam piring sajinya. Kemudian ia mengambil sedikit sayur capcay tanpa nasi. Nino mengerucutkan bibirnya, sewot dengan perbedaan isi dalam piring mereka.
"Bu, coba lihat Aluna enggak mau makan nasi. Nanti kalau dia sakit gimana?" protes Nino.
"Enggak, dia memang sudah biasa makan tanpa nasi di atas jam sembilan malam. Katanya untuk menjaga body goals," ucap wanita itu sembari mengunyah makanan.
"Bwee!" Aluna menjulurkan lidahnya pada Nino.
"Awas kamu ya!" gerutu Nino lirih.
Aluna merasa sangat puas malam ini. Akhirnya ia bisa membalas kekesalannya pada Nino. Sedangkan lelaki pujaan itu sibuk menghabiskan makanan. Beberapa kali tampak Nino menyelingi tiap suap nasinya dengan air minum. Mungkin tujuannya agar makanan itu cepat terdorong ke dalam kerongkongan.
"Hati-hati kalau makan nanti tersedak," ucap Aluna sok perhatian.
"Hmmm, Hu-um," jawab Nino dengan mulut penuh.
Tiga puluh menit berlalu, Nino menyandarkan tubuh di kepala kursi. Akhirnya ia selesai menghabiskan jatah makannya. Sepiring nasi porsi kuli dan dua gelas air mineral lolos masuk ke dalam lambungnya.
"Aduh, perutku begah sekali." Nino bergumam lirih sembari mengusap-usap perut yang tampak sedikit buncit.
"Waw, sudah habis. Nak Nino mau tambah makanan penutup? Ibu masih punya persediaan jelly di kulkas, mau?" tawar ibu Aluna kepada Nino.
Hah masih ada makanan penutup segala? Nino akan kesakitan semalaman kalau sampai perutnya dipaksa menelan makanan lagi.
"Ah, tidak. Makanan ini saja sudah cukup, Bu. Terimakasih," jawab Nino secepat kilat.
"Baiklah, tapi lain kali harus mencicipi makanan penutup di sini, ya." Wanita paruh baya itu berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Nino.
Meninggalakan mereka berdua di meja makan. Aluna segera merapikan meja makan, ia membawa piring-piring kotor ke wastafel. Nino masih saja diam di tempat, tak menggeser sedikit pun posisi tubuhnya.
"Mau sampai kapan kamu teler gitu? Enggak mau pulang?" ejek Aluna.
"Tunggu sebentar! Beri aku lima menit lagi, rasanya perutku akan meletus." Nino mengambil napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Aluna kembali mengambil posisi duduk di samping Nino." Mau aku kerokin pakai centong nasi?"
"Hah, buat apa?" tanya Nino keheranan.
"Katanya sih bisa mengurangi perut yang begah, mau coba?" tawar Aluna lagi sembari melirik perut Nino.
"Enggak deh. Nanti dikira ibumu aku mau berbuat mesum lagi," jawab Nino kesal.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Selamat menikmati perut yang buncit. Hihihi." Aluna berdiri dan bersiap untuk pergi.
Namun, Nino menarik ujung pakaiannya. Menahan gerakan Aluna, dan membuat wanita itu kembali duduk. "Kamu tega ninggalin aku sendiri."
Nino memasang tampang melas, Aluna hanya menggeleng pelan. "Ya-ya aku tetap di sini. Lalu kamu mau apa?"
"Aku mau satu ciuman."
Mata Aluna membulat. "Apa? Ini di rumahku, loh." Aluna memicingkan matanya.
"Lalu kenapa?" Nino mendekatkan wajahnya, tangan kekar itu menggenggam erat jemari Aluna.
"Kamu gila!" Aluna mendadak berdiri.
Nino menarik kasar tubuh Aluna, sehingga wanita itu jatuh dalam pelukannya. Ia mengecup bibir Aluna dengan cepat.
"Sekarang kita impas!" Nino melepaskan dekapannya dan berjalan menuju ruang tamu.
"Sial! Lagi-lagi aku kena jebakan!" Aluna menggigit bibir bawahnya dengan kesal.