My Edelweiss

My Edelweiss
Godaan Setan



Nino berusaha memejamkan mata sejenak. Menenangkan saraf-saraf kepalanya yang menegang. Bahkan pria itu melupakan janjinya untuk menjemput Rere. Tak ada hal lain yang memenuhi benaknya kecuali bayangan wajah Aluna yang berlalu pergi.


Gelora yang bergemuruh dalam dadanya mengingatkan pria berdarah indo itu, bahwa cinta seorang Aluna yang sederhana telah merasuk jantungnya. Sehingga luka yang ia torehkan turut dirasakan. Lelah menghadapi dilema hati, kelopak mata netra kecoklatan itu terkatup, bersamaan dengan deru napas yang perlahan stabil.


Dua jam berlalu, seorang asisten rumah tangga Nino menaiki tangga dengan terpongoh-pongoh. Ia mengetuk pintu kamar tuannya berulang kali. "Tuan, Nona Rere datang, Tuan."


"Sudah, biar aku saja yang membangunkannya. Pergi sana!" sentak Rere kepada wanita paruh baya yang lama mengabdi pada keluarga Sasongko itu.


Wanita bernama Atin itu menggangguk patuh, ia berjalan melewati Rere sembari membungkuk. Asta yang mulai tampak keriput itu gemetaran mendengar suara nyaring gadis berkacamata minus.


"Cih, membuang waktuku saja!" rutuk Rere kesal dengan kinerja asisten Nino.


Gadis bersurai sebahu itu membuka pintu ruang tidur yang ternyata tidak terkunci. Darahnya berdesir hebat melihat tubuh kekar Nino yang tergeletak pasrah di atas ranjang. Tampaknya setan sedang mempengaruhi alam pikiran Rere. Wanita itu mendekat, menaikkan kaki kanannya di atas ranjang dan kemudian menekuk lutut. Belahan gaun yang ia kenakan secara tak langsung tersingkap karena posisinya saat itu.


"Honey, bangunlah!" Rere memainkan jemarinya di atas dada Nino, sesekali ia memejamkan mata. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.


Nino merasakan sesuatu menindih tubuhnya, begitu susah untuk bernapas. Nyaris saja pria itu kehabisan oksigen, jika ia tidak segera membuka netranya. Pemandangan pertama yang dilihatnya sungguh membuat jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tetapi ia sangat terkejut.


"Rere!" Nino mendorong tubuh wanita itu hingga terjembab ke lantai.


Rere tersenyum kecut, berusaha bangkit dan merapikan gaun. "Beginikah caramu memperlakukan calon istri?"


"Maaf, kamu mengagetkanku."


"Aku menunggumu sejam lebih! Eh, ternyata malah asik tidur," celoteh Rere dengan nada mengejek.


Nino mengancingkan kembali kemeja bagian atas yang sengaja dibukanya sebelum tertidur. Netra kecoklatannya menatap lurus Rere, ingin sekali ia menyayat wajah berbentuk persegi itu untuk mengurangi sakit di hatinya. Namun, tak mungkin hal konyol tersebut dilakukan, bisa-bisa Nino akan dijebloskan ke penjara.


"Aku mau mandi dulu, keluarlah!" perintah Nino dengan datar.


"Tidak, aku menunggu di sini saja," cicit Rere tanpa rasa malu.


"Terserah."


Pria itu tak ingin memberi sambutan apapun pada calon istrinya. Cinta dan kebahagiaan telah terenggut begitu saja, adilkah? Tentu saja tidak. Seiring meredupnya hati, Nino tak mampu lagi bergerak lebih jauh bersama Aluna. Mau tak mau dirinya harus menghapus segala tentang mereka. Kini hanya Rere yang ada di sisinya, mungkin ia harus mulai membiasakan diri hidup dengan wanita yang berbeda.


"Ada perlu apa mencariku? Bahkan meminta papamu untuk menelepon Pak Suhandi," tanya Nino dengan rambut yang masih setengah basah.


Rere memandang pria idamannya lekat, jiwanya bergelora hebat. Baginya pesona Nino begitu kuat apalagi dengan rambut basah. "Nino, aku ...."


"Katakan apa maumu? Aku tidak punya banyak waktu."


"Papa menitipkan ini padaku untukmu." Rere menyodorkan selembar kertas berwarna putih tulang pada Nino, di atasnya terdapat sebuah stempel dan tanda tangan.


"Ini untukku?" tanya Nino sembari memicingkan mata.


Rere mengangguk setuju, ia mendekat, menyentuh kerah kemeja Nino. Kemudian menarik pria itu dalam dekapannya. "Asal kamu mau menikah denganku, perusahaan keluarga Sasongko akan bangkit. Bahkan Papa akan memberimu bonus lain, jadi kapan kita 'kan menikah?"


Nino tertegun, manik matanya menyusuri keramik berwarna cream yang menjadi tempatnya berpijak. Ini sama saja seperti menjual harga dirinya? Namun, hanya itu jalan pintas agar perusahaan peninggalan sang ayah tidak gulung tikar.


"Ya, kita akan membicarakn itu nanti. Aku terima pemberian papamu. Sampaikan terimakasihku untuknya."


Wanita itu tersenyum simpul, melingkarkan kedua tangannya manja di leher kokoh Nino. Tatapan mereka saling beradu, sebenarnya gadis itu cantik. Bahkan sangat cantik, hidungnya mancung, netranya yang terbingkai kacamata itu tampak bulat, dan bibir tipis merekah melengkapi kesempuraan.


Namun, hati Nino tak bergetar sedikit pun. Padahal jika itu Aluna yang menggoda, mungkin Nino akan melahapnya habis. Bisa saja sesuatu terjadi sebelum pernikahan. Sayangnya hubungan yang sudah terjalin lama itu harus kandas. Pria itu menunduk, luka hatinya kembali menganga. Bahkan kali ini lebih lebar dari sebelumnya, ia benar-benar merindukan sosok periang Aluna.


"Tunggu aku di bawah! Aku ingin ke toilet sebentar, Re," ucap Nino yang berusaha mencari alasan agar wanita itu pergi meninggalkannya.


"Baiklah, jangan lama-lama! Aku ingin kamu temani aku ke cafe."


Mantan kekasih Aluna itu hanya mengangguk patuh. Nino berjalan menuju almari, membuka pintu benda berbentuk persegi panjang itu perlahan. Suara decitan memenuhi ruangan yang mendadak sunyi. Ia mengeluarkan kembali foto kenangan dengan Aluna, lalu mendekapnya erat. Seakan-akan itu bisa menjadi perantara untuk menyampaikan rindj yang tak terbalaskan.


"Aluna, berapa kali pun aku mencoba. Hatiku selalu kembali padamu. Aku sangat menyesal."


Tiba-tiba ponsel Nino berdering pertanda sesorang melakukan panggilan. Ia menyambar benda itu, kemudian melihat ke tampilan layar. "Rere lagi!"


Dengan malas Nino menuruni anak tangga, sedangkan Rere menunggunya dengan wajah masam. "Ayo! Kamu lama sekali."


-**


Waktu telah menunjukkan dini hari, tetapi Nino dan Rere belum juga kembali. Entah ke mana saja mereka berkencan? Apa itu bisa disebut kencan? Bukan! Ini hanya sebuah peran yang harus Nino mainkan. Saat ini dirinya adalah seorang aktor dalam cerita madu dua.


"Nanti aku tidur di kamarmu, ya?" pinta Rere sembari mengusap-usap dada Nino.


"Tidak, kamu akan tidur di kamar tamu. Aku tidak ingin hal mengerikan terjadi lagi. Apa kamu mau diberi label wanita murahan, hah?"


"Tak masalah jika itu bersamamu. Aku rela melakukan apapun demi dirimu, bahkan jika itu harus merelakan tubuhku," beo Rere seraya memainkan rambut pendeknya.


"Aku bukan Pria seperti itu." Nino menyeruput segelas kopi pahit, terasa amat getir segetir hatinya.


"Tempo hari kamu sangat hebat! Aku sampai kewalahan." Rere menutup mulut dengan telapak tangan.


Jari-jari kuku Rere tampak terawat dan runcing. Ia terus melancarkan senjata untuk menggoda. Apakah Nino sanggup menolak kucing betina itu? Masihkah dia mengingat akan dosa?