
"Hih, kenapa sih dia? Sewot banget!" gerutu Aluna sembari menggigit gemas sisa semangkanya.
"Cemburu," jawab Pak Suhandi lirih.
Sontak Aluna menoleh dan memicingkan netra. "Apa, Pak?"
"Berburu, kalau zaman dahulu pasti banyak yang berburu di sini, ya?"
"Eh? I-iya mungkin, Pak," jawab Aluna sekenanya.
Aluna menggaruk tengkuknya, apa mungkin pendengarannya bermasalah? Ia yakin tadi manajernya itu mengucapkan kata "cemburu" bukan berburu. Entahlah, mungkin memang sudah waktunya ia memeriksakan diri ke THT.
"Cukup istirahatnya! Kita lanjutkan lagi," perintah Nino.
Satu per satu dari mereka kembali mengambil formasi bagaikan semut yang berjajar. Berjalan beriringan untuk menaklukan gunung tertinggi yang terletak di antara kabupaten lumajang dan malang itu.
"Akhirnya kita sampai di pos tiga!" pekik Yeri kegirangan.
Jalur pendakian ke pos tiga sekarang sedikit lebih panjang dan memutar. Pepohonan lebat menghiasi bagian kiri dan kanan jalanan. Sesekali burung-burung terlihat berterbangan dari satu pohon ke pohon yang lain. Pemandangan Kota Malang yang asri pun terlihat dari atas sana.
Nino mengusap netranya yang kemasukan debu seraya memberi komando lagi.
"Berisirahatlah dengan baik di sini! Karena sesuai arahan tadi, jalur menuju Pos empat akan melewati tanjakan yang sangat curam.
Aluna memandang sekelilingnya dengan takjub. Manik mata almond itu membulat sempurna, ia merasa seperti di atas awan. Dengan jelas dapat melihat kumpulan awan yang bergerak perlahan. Sungguh pemandangan yang luar biasa.
"Indah sekali," decak Aluna kagum.
"Untuk melengkapi kenikmatan melihat awan, alangkah baiknya jika kalian menyantap semangka yang dijual di sini." Pak Suhandi lagi-lagi mengajak anggota untuk mengisi bahan bakar tubuh.
Semangka dan awan merupakan kombinasi yang epik. Entah mengapa, semangka terasa begitu lezat di Gunung Semeru ini. Mungkin karena dehidrasi setelah melakukan perjalanan dan membawa barang berat, sehingga buah yang kaya akan air ini terasa begitu nikmat.
Setelah selesai memakan semangka, mereka melanjutkan kembal pendakian menuju Pos 4. Medan yang lumayan sulit menghabiskan banyak energi mereka. Beberapa di antaranya tampak kewalahan, berbeda dengan Nino yang memang sudah terbiasa.
"Aduh, aku sudah ngos-ngosan!" keluh Yeri dengan napas tersengal-sengal.
Staff marketing yang selalu bersamanya --Raka-- menepuk bahu Yeri. "Jangan mengeluh terus! Bicara bisa membuatmu semakin kehilangan tenaga!"
Usai melewati tanjakan yang sangat curam, jalur berikutnya menurun atau biasa disebut dengan bonus bagi para pendaki. Sebelum tiba di pos empat, pemandangan cantik Ranu Kumbolo sudah terlihat dengan jelas. Air Kehidupan yang tenang di danau ini seolah-olah memanggil agar mereka segera sampai di sana.
Setibanya di pos empat, rasanya perjalanan sudah tidak berat lagi. Beban di Pundak Akibat mengangkut pembawa pun seakan lenyap, rasa capek Yang mengikuti Sepanjang pos Ranu Pani sampai pos empat pun sirna begitu saja.
Hal ini karena keindahan Ranu Kumbolo yang memang benar-benar sudah tampak di depan mata. Daya magis yang ditimbulkan oleh keelokan danau alami itu begitu luar biasa. Sang surya mulai tenggelam, semburat jingga menghiasi cakrawala.
"Mau berisirahat di sini atau lanjut mendekat ke Ranu Kumbolo?" tanya Nino kepada anggota timnya.
"Lanjut saja, Pak. Kita mendirikan tenda di sana sekalian saja," jawab Pak Suhandi yang di setujui oleh anggota lain.
Nino akhirnya mengangguk setuju, ekor matanya terus memperhatikan Aluna. Tampaknya gadis itu baik-baik saja, bahkan terlihat sangat menikmati pendakian pertamanya.
Perjalanan dari pos empat ke Ranu Kumbolo pun berbeda. Medan yang mereka lalui tidak lagi menanjak. Langkah kaki yang tadinya diiringi deruan napas panjang dan berat sekarang berganti menjadi nada yang memecah keheningan. Guratan-guraan halus di wajah yang berdebu perlahan berubah menjadi senyuman.
Nino berjalan terus hingga Shelter Porter dan berhenti tepat di depan cekungan dua bukit yang ada di sana. Ia melambaikan tangan kepada Pak Suhandi dan anggota lain.
"Kalian, tolong bantu aku mendirikan tenda! Tetap sesuai batas pendirian ya, jadi kita tidak akan di tegur oleh ranger yang diundang."
"Siao, Pak!" ketiga orang itu mulai membuka tenda, anggota lain tanpa dikomando juga membantu mereka. Dua tenda telah didirikan, satu tenda besar dan satunlagi tenda yang berukuran lebih kecil.
Aluna mempersiapkan kopi manis untuk mereka semua, kecuali Nino. Karena pria itu tidak mengkonsumsi minuman itu dan menggantinya dengan segelas teh hangat. Tiba-tiba hasrat ingin pipis muncul, Aluna menarik-narik lengan jaket Yeri yang memang berada di dekatnya kala itu.
"Yer, aku kebelet pipis. Toilet di mana ya?" bisik Aluna dengan wajah merona.
Nino yang melihat tingkah Aluna itu merasa sedikit curiga. Kenapa dia bisik-bisik sama Yeri? Padahal aku sudah menjauhkan dia dari Alfaro. Sekarang Yeri, maunya apa, sih!
"Pergilah ke sana!" Yeri menunjuk sebuah toilet, kira-kira hanya berjarak sepuluh meter dari lokasi mereka.
Tanpa menunda lagi, Aluna berlari menuju toilet. Udara mulai berubah dingin. Suhu di sana bisa mencapai 0-2 ° C, jika sedang mencapai musim kemarau. Gadis itu bersendakep untuk mengurangi hawa dingin yang menyusup.
Setelah puas menyambangi toilet, Aluna kembali bergabung dengan tim. Banyak mata memandang gadis yang memang tampak ayu meskipun tanpa riasan itu.
Namun, manik mata indah Aluna tetap lurus, menatap Nino yang sedang membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Hanya di tempat tersebut kayu bakar boleh dinyalakan.
"Yuk, Lun kita gabung di sana!" ajak Raka yang tiba-tiba muncul dari tenda besar.
Aluna mengangguk setuju dan berjalan mengekor Raka. Rasanya setelah melihat Nino, udara di sana semakin dingin dan menyentuh hatinya.
Astaga, kenapa pesonamu begitu menggoda, Nino? Kalau seperti ini caranya, entah sampai kapan aku akan bisa melupakanmu!
Wanita itu duduk bersandingan dengan Raka dan Yeri. Ekor matanya melirik gundukan batu-batu yang berjajar rapi. Heran dengan apa yang dilihatnya, Aluna mengernyitkan alis.
"Itu apa ya?" tanya Aluna sembari menunjuk gundukan batu-batu itu.
Yeri segera menepis tangan Aluna. "Jangan sembarangan nunjuk! Ini di alam bebas, Lun."
"Lah, memang kenapa?" Aluna menepuk-nepuk pipinya agar hangat.
"Yang kamu lihat itu prasasti untuk mengenang mereka yang berlalu pada saat melakukan pendakian Semeru. Melalui Prasasti itu kita bisa belajar untuk lebih berhati-hati saat berjuang menaklukan gunung ini," timpal Raka yang memang sudah mastah dengan mendaki.
"Hah! Ma-maaf. Saya tidak bermaksud mengusik," ucap Aluna ketakutan.
Wanita itu mengatupkan kedua tangan dan mengangkatnya setinggi kepalanya. Seperti gerakan memohon ampun atau sembah sujud pada raja.
"Hari semakin gelap, kalian harus istirahat jika ingin melanjutkan rute besok. Untuk Aluna, kamu tidur sendiri ya di tenda kecil itu, berani?" Pak Suhandi menyeruput kopinya dengan tatapan menelisik.
"Be-berani, Pak. 'Kan tenda kita bersebelahan."
"Bagus, nanti juga ada yang akan menjaga di depan tenda, tapi bergiliran ya setiap satu jam," sambung pria tambun itu lagi.
Para anggota lainnya mengangkat jempol serentak. "Siap, bosku!"
Aluna memutuskan untuk istirahat, tubuhnya terasa begitu lelah. "Permisi, aku pamit tidur duluan ya." Gadis itu menutup mulutnya yang baru saja menguap.
Dirinya harus banyak mengumpulkan energi, karena besok medan yang akan ditempuh pasti lebih extreme. Beruntungnya saat itu ia tidak bertepatan dengan periode bulanan, sehingga staminanya bagus.
Sedangkan Pak Suhandi memberi kode pada Nino, ketika pendaki wanita satu-satunya itu masuk ke tenda. "Pak, kita bisa mulai mempersiapkannya sekarang. Saya tadi sudah menghubungi penjual bunga di bawah, mereka akan tiba pukul tiga."
"Kerja bagus, Pak. Apakah yang lain juga tahu?" tanya Nino.
Orang kepercayaan Nino itu mengangguk. "Ya, kita membutuhkan banyak orang untuk rencana Pak Nino."
"Ayo mulai kita garap! Aku tidak sabar menunggu hari esok."
Tampaknya kegiatan rahasia itu sangat asik. Beberapa orang memegang lembaran kertas HVS yang nyarisnterbang tertiup angin dan yang lainnya sibuk dengan spidol. Mereka sengaja tidak membuat suara berisik agar Aluna tak menaruh curiga. Entah apa yang mereka lakukan?