My Edelweiss

My Edelweiss
Kabar Gembira



Pak Suhandi masih memandang Nino dengan tatapan menelisik. Rasa penasaran kian menghantui dirinya, dengan tidak mengurangi rasa hormat, pria itu menanyakan pada sang majikan. "Kalau boleh saya tahu, apa yang harus saya persiapkan?"


Nino memindah posisi duduknya agar lebih dekat dengan kaki tangannya itu. Mantan kekasih Aluna membisikkan sesuatu ke telinga Pak Suhandi. Tiba-tiba air muka pria tua itu berubah merona dan bersemangat.


"Ternyata itu tujuan Anda! Baiklah, saya akan menyelesaikan tugas saya dengan baik!" Pak Suhandi yang antusias dengan ucapan Nino barusan.


"Apa ada hal lain yang Anda butuhkan? Biar saya catat sekalian, Pak," cicit Pak Suhandi lagi.


Nino menggeleng ringan. "Tidak, aku ingin semua berjalan apa adanya. Jangan terlalu berlebihan!"


"Untuk jadwal keberangkatan, bagaimana jika bulan depan? Sepertinya mulai tanggal enam Juni kita tidak ada jadwal dengan relasi. Atau nanti saya cek ulang untuk memastikannya," ucap pria tambun itu menimbang-nimbang.


"Boleh, lakukan saja apa yang menurut Anda baik! Tolong segera hubungi pihak penyelenggara travelnya juga ya, Pak!" perintah Nino dengan santai.


"Siap!"


Kesepakatan sudah terjadi di antara mereka. Betapa bahagianya para staff nanti, jika mereka mendengar kabar baik itu. Tak sabar rasanya, Pak Suhandi ingin menyebarkan berita itu.


Namun, sebelum itu Nino menjamu tamu istimewanya itu dengan menu makan siang yang luar biasa. Beruntungnya pria itu, sudah dapat makan siang gratis plus berita bahagia. Netra tuanya menatap hidangan yang tersedia dengan seksama.


Di atas meja telah terhidang sepiring besar capcay dengan lauk ayam dan udang goreng tepung, di samping kanan pria itu tersedia dua gelas minuman, berisi jus jeruk dan air putih. Padahal itu hanya makanan inti belum dengan penutupnya.


Pak Suhandi meneguk salivanya sendiri, aroma hidangan itu menggelitik silia dalam hidungnya. Namun, pria itu masih sadar diri karena belum dipersilakan oleh tuan rumah.


Nino sempat melirik Pak Suhandi yang tampak klametan. "Silakan dimakan, Pak! Jangan hanya dilihat saja!"


"Terimakasih," ucap Pak Suhandi sembari mengisi piring kosongnya dengan cepat.


Setelah selesai melahap habis hidangan inti dan penutup. Pak Suhandi dengan wajah merona memohon izin untuk kembali ke kantor. Terbesit rasa malu dan sungkan di wajah yang mulai keriput itu, tetapi mau tak mau ia harus kembali mengemban tugas.


"Pak Nino, saya pamit mau kembali ke kantor," ucap Pak Suhandi tersipu.


"Hahaha, iya silakan! Jangan lupa untuk memberitahu para staff bahwa kita akan berlibur bulan depan."


Pria tambun itu mengangguk patuh dan pergi meninggalkan kediaman Nino dengan perasaan puas. Apalagi hidangan penutupnya tadi adalah yoghurt beku yang diberi toping irisan mangga. Manis dan segar, menetralkan rasa eneg dari makanan utama yang cukup berat.


-*


Dalam kurun waktu lima belas menit, apak Suhandi sudah kembali berada di depan lobby kantor keluarga Sasongko. Ia meminta sekretarisnya untuk mengumpulkan para staff di ruang pertemuan, karena dirinya akan mengadakan rapat mendadak.


Beberapa karyawan berkasak-kusuk mendengar kabar itu. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ada rapat? Berbagai pertqnyaan muncul. Dengan santai sekretaris itu mengatakan untuk bertanya hal itu kepada Pak Suhandi langsung.


Berbondong-bondong ke-23 staff itu memasuki ruang pertemuan. Tanpa di aba-aba lagi mereka langsung menduduki kursinya masing-masing. Menanti kehadiran sang manajer yang terkenal humoris itu.


"Selamat siang menjelang sore," sapa Pak Suhandi dengan gaya humornya.


Pak Suhandi menarik kursi miliknya dan meletakkan bokong semok itu di atas kursi. "Kalian tahu kenapa saya mengadakan rapat mendadak?"


Beberapa orang menggeleng pelan, sedangkan sisanya hanya bengong. Mungkin karena terlalu fokus mendengar ocehan Pak Suhandi. Termasuk Aluna, ia sebisa mungkin hari itu menghindari tatapan Alfaro karena kejadian semalam.


"Langsung ke pokok permasalahan saja, mengingat waktu kita yang tidak terlalu banyak. Hari ini saya akan mengumunkan bahwa bulan depan kalian tetap akan dapat menikmati fasilitas tour, kecuali untuk karyawan yang memiliki masa kerja di bawah satu tahun."


Pernyataan Pak Suhandi itu disambut dengan sorakan bahagia, rasanya semangat kerja mereka kembali tumbuh. Liburan selama seminggu dengan cuma-cuma akan mereka rasakan kembali, cukup untuk menyegarkan otak yang penat.


Namun, tidak bagi Aluna. Wanita itu merasa gusar, karena jika tour artinya ia akan bertatap muka dengan Nino selama seminggu. Sedangkan hubungan mereka tidak cukup baik, bahkan Nino tidak mau membalas pesan singkat yang ia kirimkan tempo hari.


"Bagaimana ada yang mau ditanyakan?" tanya Pak Suhandi kepada para staff.


Seseorang berambut cepak dan mengenakan kacamata tebal mengangkat tangan tinggi-tinggi pertanda ia meminta sedikit waktu untuk berargumen.


"Silakan, Danu!"


"Mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa ikut karena istri saya hamil tua, apakah ada penalti yang harus saya penuhi? Atau peraturan lainnya?"


Pak Suhandi tersenyum, memang benar Danu baru saja bekerja di sana selama kurang lebih 14 bulan. Artinya pria itu baru pertama kali mengikuti kegiatan tour. "Pertanyaan yang bagus, kamu tidak harus membayar penalti, malah akan diberikan libir dirumah untuk sementara, tetapi tidak selama waktu liburan. Mungkin sekitar tiga atau empat hari saja."


"Bagaimana? Apakah kurang jelas?" tanya Pak Suhandi lagi, kali ini dengan menekankan kata.


"Terimakasih, Pak. Sudah sangat jelas," jawab pria yang akan segera menjadi seorang ayah itu dengan berbinar.


Sang manajer tersenyum simpul. "Tidak ada yang bertanya ke mana kita akan pergi?"


"Ke mana, Pak?" seloroh seseorang tanpa intruksi.


"Gunung Semeru. Apakah ada dari kalian yang keberatan?"


"Tidak." Semua audience yang berada di sana menjawab serempak.


Tentu saja tidak ada yang menolak, kapan lagi mereka akan menikmati indahnya pemandangan Mahameru dan mendaki Puncak Para Dewa itu dengan cuma-cuma, tanpa dipungut biaya apapun dan seluruh akomodasi ditanggung perusahaan.


Kesempatan yang sangat langka, lagipula hampir saja fasilitas ini dihapuskan karena perusahaan yang mengalami krisis keuangan beberapa waktu lalu. Mungkin Nino sendiri juga memikirkan tentang kesejahteraan karyawannya. Bukan hanya memaksa mereka untuk memajukan perusahaan bagaikan sapi perah.


Bekerja penuh delapan jam, tanpa diberi kelonggran untuk menyegarkan otak. Padahal ada maksud lain dalam rencananya itu dan hanya Pak Suhandi yang tahu. Kaki tangannya itu sangat bersemangat dengan ide cemerlang sang bigbos.


"Maaf, Pak saya karyawan baru di sini. Itu artinya saya harus tinggal di kantor dengan para karyawan yang belum mencapai satu tahun masa kerja?" tanya Alfaro tiba-tiba.


"Iya, tenang saja tahun depan akan ada lagi! Kamu bisa menikmati itu setelah cukup mendedikasikan waktumu di perusahaan ini."