
Hari demi hari pun berganti, seminggu sudah Nino memainkan perannya. Kehidupan pria itu kini bagaikan panggung sandiwara, tetapi Aluna yang telah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya merasakan perubahan. Namun, gadis itu berusaha menepis perasaannya karena kepercayaan yang ia berikan pada Nino melebihi apapun.
Seperti saat ini, mereka memutuskan untuk beristirahat dan makan siang bersama. Namun, tak ada lagi kemesraan dan canda tawa layaknya pasangan kekasih. Hubungan mereka hambar bagaikan sayur tanpa garam. Aluna berusaha mencairkan suasana yang dingin itu. Sedingin hati Nino, mungkinkah pria itu kembali menjadi manusia es?
"Nino, nanti pulang kerja temani aku ke mall, ya!" ajak Aluna sembari mengaduk es teh manis favoritnya.
Namun, kekasihnya hanya terdiam dan sibuk memainkan ponsel. Tanpa menghiraukan mimik wajah Aluna yang cemberut, Nino tetap asik mengutak-atik layar ponsel itu.
"Issh! Main apa sih?" tanya Aluna sembari menyambar ponsel pintar milik kekasihnya.
Dengan sigap Nino kembali merampas ponsel itu dari tangan Aluna. Manik mata gadis itu membulat sempurna, tidak biasanya sang kekasih mengambil paksa barang dari tangannya. Walaupun itu benda kesayangan Nino.Tanpa sungkan pria itu langsung kembali menatap layar. Hal itu membuat gadis berwajah oriental itu sangat kesal.
"Kamu kenapa? Beberapa hari ini sikapmu aneh!" oceh Aluna dongkol.
Nino mendongakkan wajah, tanpa ekspresi dan rasa bersalah pria itu menatap kekasihnya. "Aku sibuk."
Aluna terdiam, memang ia sudah terbiasa dengan manusia es itu, tapi kali ini nada bicaranya lebih tinggi. "Maaf, nanti sore bisa temani aku 'kan? Aku mau beli sesuatu untuk kuberikan pada anak Winda yang baru lahir."
"Maaf, aku lagi sibuk dan enggak ada waktu untuk pergi ke mall. Berangkat saja dengan sahabatmu yang lain, ya. Aku janji lain waktu pasti akan kutemani."
Gadis itu mendengkus kesal. "Oke, sepertinya ada hal lain yang selalu membuatmu melupakanku."
"A--apa maksudmu?" tanya Nino gelagapan.
"Lupakan! Bukan hal penting, mungkin hanya perasaanku saja. Cepat habiskan baksonya!"
Ekor mata Nino melirik gadis yang menemaninya selama ini. Sedari tadi ia sibuk membalas pesan Rere, karena jika telat beberapa menit saja. Gadis nekat itu akan meneleponnya berulang kali. Tentu saja Nino tak ingin hal itu terjadi, jadi pria itu selalu menanggapi obrolan Rere yang tidak ada habisnya.
"Nino, kalau kamu ada masalah ceritakan saja padaku." Aluna tiba-tiba membuat pernyataan yang menohok.
"Tidak, semuanya baik-baik saja."
"Bagaimana dengan perusahaan ayahmu?"
"Baik, semua baik."
Lagi-lagi Aluna dibuat heran dengan tingkah Nino. Ia memicingkan mata, tak ada satu pun yang berbeda pada penampilan prianya itu. Masih tetap rapi dan wangi sama seperti biasa. Hanya saja lelaki itu lebih sering memainkan ponselnya ketika mereka berkencan. Mungkin itu pesan penting dari para client ibunya, mengingat untuk saat ini Nino juga dalam posisi membantu kakak tirinya untuk mengelola perusahaan.
"Jaga kesehatanmu, Nino! Aku tidak ingin kamu jatuh sakit jika terlalu memforsir tenagamu."
Nino mengakat wajah, memandang gadis yang sangat dicintainya itu dengan pandangan sendu. "Terimakasih, atas segala perhatianmu. Aku harap selamanya tak akan berubah."
Emosi Nino akhir-akhir ini sangat labil, ia bisa saja dalam hitungan detik menjadi pemarah dan kembali tertawa. Depresi? Bukan! Ini hanya salah satu caranya menutupi kebohongan.
"Tentu, aku akan tetap selalu mendampingimu," ucap Aluna sembari tersenyum manis.
"Aku benar-benar harus pergi sendiri? Kamu yakin enggak mau ikut?" tanya Aluna lagi, kali ini dengan menekankan kata.
Aluna masih merasa sangat penasaran, ia ingin sekali melihat apa yang sebenarnya Nino lakukan dengan ponsel pintarnya. Beberapa kali ia melongokkan kepala, tetapi pria itu sangat waspada sehingga selalu membelakangi kekasihnya.
"Boleh aku pinjam ponselmu sebentar? Aku ingin mengambil selfi kita berdua. Lama sekali kita tidak melakukan itu." Gadis itu masih terus berusaha mematahkan bentang pertahanan Nino.
Nino melirik wanitanya dengan mengangkat satu alisnya. "Kenapa enggak pakai ponselmu?"
"Ini mati." Aluna menunjukkan ponselnya yang tampak hanya layar hitam itu, ia sengaja menonaktifkan benda itu sebelumnya.
"Nih." Nino menyodorkan ponselnya, tetapi belum sempat Aluna menerima benda itu, Nino menarik kembali tangannya. "Ah iya, sebentar! Ini sudah."
Aluna memicingkan netranya, ia meraih benda itu. Menguatik-atiknya sebentar. Sengaja ia membuka aplikasi chatting milik kekasihnya, karena tampaknya ada sesuatu yang mencurigakan. Namun, aplikasi itu terkunci.
Hmm, aneh! Biasanya dia tidak pernah memakai password untuk aplikasi ini. Mungkin ada yang rese kali, ya. Mengingat ini akun bisnis. Sudahlah, yang penting dia masih memperbolehkanku meminjam ponselnya berati semua baik-baik saja.
"Ayo hadap ke sini! Cheers!"
Mereka mengambil beberapa foto selfi lucu, tetapi Aluna tak menyadari bahwa ekspresi Nino tampak lesu. Tiba-tiba ponsel pria itu berdering, tampilan di layar menunjukkan "R" memanggil. Ya, hanya sebuah inisial nama. Dengan sigap Nino merampas benda itu dari tangab mungil Aluna.
"Maaf, aku kembali ke ruangan dulu. Biar nanti aku bayar tagihan makan siang kita."
Pria itu mempercepat langkahnya, meninggalkan Aluna yang masih terbengong-bengong. "Kenapa, sih? Aneh! Ya sudahlah, aku akan mengajak Silvia untuk ikut denganku."
Gadis berparas oriental itu tak menyadari, semenjak tadi sepasang netra mengintainya di sudut kantin. Seorang pria paruh baya lengkap dengan jasnya duduk tepat di belakang gadis itu, menatap lekat Aluna. Ia menyeringai, mempertontonkan deretan gigi yang masih tampak terawat.
"Tunggu kejutannya Aluna. Berani-beraninya anak sialan itu membodohiku!"
Lelaki itu bangkit sepeninggalnya Aluna. Ia berjalan dengan santai menuju ruangan Pak Suhandi. Kaki tangan Nino itu terkejut atas kedatangan tamu tak diundang yang tiba-tiba muncul. Ia menyapa pria itu dengan kikuk.
"Se--selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Sampai-sampai Pak Sailendra datang sendiri ke ruangan saya."
"Ya, berikan aku data pribadi Aluna. Alamat dan nomor ponselnya. Cepat!" perintah Pria itu dengan angkuh.
Pak Suhandi terbelalak, untuk sesaat lehernya bagai tercekik. Bagaimana tidak? Memberikan data pribadi karyawan adalah suatu kesalahan fatal. "Ta--tapi, itu ...."
"Jangan khawatir aku tidak akan membawanya keluar! Ini perintah dari Bu Hilma."
"Baik, saya carikan dulu datanya," ujar Pak Suhandi, dirinya merasa sedikit lega karena yang meminta data itu adalah pemilik perusahaan, sehingga ia tak melanggar etika.
"Ini, Pak." Pria tambun itu memberikan secarik kertas pada Pak Sailendra.
"Terimakasih. Oh iya, satu lagi. Jangan mengatakan apapun pada Nino tentang hal ini atau jabatanmu akan menjadi taruhannya!"
Ayah tiri Nino itu meninggalkan Pak Suhandi yang tampak pucat pasi. Apa yang akan terjadi? Apakah ini artinya ia berkhianat pada Nino? Entahlah, semoga saja bukan hal buruk yang terjadi.