
Detik demi detik berganti, Aluna masih terus memandang monitor dengan serius. Sesekali ia melirik pojok kanan layar kerjanya untuk mengecek jam. Sedangkan Alfaro masih sibuk memperlajari hal-hal baru dengan Retno.
Aluna menunggu waktu yang berputar begitu lambat hingga terkantuk-kantuk. Mengapa ia bisa sesantai itu? Ya, karena Aluna hanya dituntut bekerja ekstra ketika ada barang keluar dan masuk. Selepasnya, ia hanya mengecek barang kosong.
"Haeeh, lama sekali jamnya. Perasaan dari tadi enggak muter," gerutu Aluna pada monitor yang tak berdosa itu.
Gadis itu mengusir kebosanan dengan membuka tutup dirve, mengganti bacground layar bahkan bermain game kartu. Ia berusaha mengganjal netramya yang tampak sangat berat.
"Yuk, pulang. Kamu mau tidur di sini?" Alfaro membalik tubuhnya untuk menghadap Aluna.
Aluna tersadar dari lamunan. Ia mengercapkan mata beberapa kali untuk mengusir kantuk. "Ah, iya! Sudah pulang?"
Alfaro hanya menghendikkan bahu. "Lihat saja sekelilingmu, ada orang tidak?"
Dengan patuh Aluna menengok kanan-kiri tak ada siapa pun di sana kecuali mereka. Astaga, berapa lama ia berdiam diri menatap layar? Apa Alfaro meluhat tingkahnya yang enggak jelas? Persetan dengan itu! Waktunya untuk berbelanja.
"Aku bawa motorku, kamu naik mobilmu."
"Gitu? Jadi enggak mau naik mobilku?" tanya Alfaro dengan kening berkerut.
"Mau, tapi motorku gimana?" tanya Aluna sembari menggaruk tengkuk.
"Titipin saja di sini, ada tukang parkirnya juga. Besok aku jemput kamu berangkat kerja," tawar Alfaro yang berusaha meyakinkan Aluna.
"Oke, tapi beneran kamu jemput. Awas kalau enggak!" ancam Aluna dengan sinis.
"Iya, tenang aja."
Pria berperawakan kurus itu memacu kendaraan besinya dengan cepat. Sehingga hanya butuh waktu tiga puluh menit saja, mereka tiba di pusat perbelanjaan atau yang biasa kita sebut mall.
Mereka berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih. Rona wajah Aluna tampak lebih cerah dibandingkan beberapa hari yang lalu. Tak ada senyum yang ia poles di wajah ayunya. Mungkin ini seperti relaksasi untuk Aluna dalam melepas kesedihannya.
"Kamu ada saran enggak hadiah apa yang cocok untuk mamaku?" tanya Alfaro yang bingung akan pergi ke mana lagi mereka.
"Hmm, kalung? Sandal? Buku Novel? Peralatan dapur? Atau gamis?" Aluna menggetok-getok kepalanya agar encer untuk berpikir.
"Gamis aja, deh, tapi aku enggak tahu tempatnya di mana?" tanya Alfaro lagi, kali ini dengan wajah memelas.
"Aku tahu, ayo ikuti aku!" ajak Aluna antusias.
Gadis itu menggiring Alfaro untuk memasuki sebuah stand pakaian wanita. Di sana berbagai macam model dan warna terpampang nyata. Model-model yang modis dantm terkini menanti untuk dipinang. Para karyawan tersenyum dan menyambut kedatangan mereka.
"Tuh, kamu tinggal pilih yang mana?" Jemari lentiknya menunjuk ke arah gantungan baju besar yang berisi berbagai macam gamis.
Pria yang bersama Aluna itu memijat kepalanga yang tidak pusing. Tentu saja ia bingung akan memilihkan yang mana. Beruntungnya ia mengajak Aluna, jika tidak pastu dirinya kelimpungan.
"Ini bagus!" Aluna menyodorkan sebuah gamis plisket berwarna cokelat tua dengan ikat pinggang di bagian tengah.
"Oke, aku ambil ini."
Aluna terkejut, pria itu benar-benar tak mau ambil pusing. Bahkan ia tak mengecek dulu barang yang dipilih Aluna bagus atau tidak. Pembeli yang seperti Alfaro ini selalu dinantikan para sales. Karena baginya pria penurut itu sumber ATM berjalan.
"Serius kamu ambil itu?"
Pertanyaan Aluna hanya dijawab dengan anggukkan saja. Kemudian pria itu mendekati Aluna dengan setengah berbisik, ia mengucapkan sesuatu. "Mumpung di sini sekalian beli gaun untuk kerja besok. Cari yang feminim dan enggak norak. Aku tunggu di sini ya."
"Iya, cerewet banget! Apa semua karyawan akunting seperti dirimu cerewetnya?" sindir Aluna yang mulai kesal.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Ya, tolong pilihkan aku dua gaun untuk bekerja! Aku tunggu di sini," ucap Aluna sembari duduk bergabung dengan Alfaro.
Selang beberapa menit, karyawan itu membawa dua buah gaun yang manis. Satu berwarna hijau botol, yang menjadi trend saat ini dan satunya berwarna merah maroon. Panjangnya masih di bawah lutut sehingga masih tergolong sopan.
"Aku ambil ini saja," ujar Aluna pada karyawan itu.
Mantan kekasih Nino itu mengembalikan gaunnya ke kasir beserta gamis milik Alfaro. Setibanya di kasir Aluna membuka tas, dan menyodorkan debit card. Namun, tangannya ditepis oleh Alfaro.
"Biar aku yang bayar," ucapnya lembut.
"Eh--jangan! Aku akan membayar ini sendiri."
"Anggap saja ini hadiah kecil simbol persahabatan kita, kamu mau 'kan?" pinta Alfaro dengan tersenyum.
Gadis bersurai panjang itu mengangguk patuh. Betapa beruntungnya ia bertemu dengan Alfaro. Pria yang terkenal baik, murah hati dan royal. Suatu penghormatan baginya bisa berteman dengan Alfaro.
"Yuk, sudah! Kita pulang sekarang!" ajak Alfaro sembari menggandeng pergelangan tangannya.
Tak habis pikir, Aluna hari ini mendapat banyak rejeki. Mungkin Tuhan memberikan itu sebagai ganti atas kekecewaannya. Sesekali ia tersenyum melihat tingkah konyol Alfaro. Mereka pun berjalan ke parkiran bersama.
"Kamu di rumah sama siapa sih? Kayanya kemarin sepi banget," tanya Alfaro sembari menancap gas.
"Ibu saja, ayahku sudah lama meninggal. Jadi mau tak mau kami harus hiduo berdua, Saling membantu san menyokong apapun keputusan bersama lebih indah.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Alfaro sempat melirik Aluna dari kaca yang sengaja ia letakkan di atas dashboard.
"Eh, enggak. Itu sudah sangat lama!
Lagi-lagi Alfaro tersenyum. Hobi sekali pria itu tersenyum? Gila? Bukan! Lantas apa? Hanya Tuhan yang tahu tentunya. Manik matanya menatap Aluna yang sibuk mengintip tas belanjaan.
Mereka memutuskan untuk Cuci mata dahulu sebelum Aluna pulang. Mengapa ini jadi seperti kencan? Ah, masa bodoh yang penting mereka tidak melakukan perbuatan yang melanggar asusila. Toh, sama-sama masih jomblo.
"Lun, kamu sudah lama pacaran dengan Nino?" tanya Alfaro di tengah-tengah obrolan.
"Lumayan, mungkin lima tahunan. Ada apa?"
"Enggak, cuma sensus. Lalu hal apa yang kamu sukai darinya?" cecar Alfaro lagi.
Aluna memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam kemudian mengembuskannya perlahan-lahan. "Dia dingin, sedingin puncak Himalaya."
"Spesifiknya?" Pria itu mengintrogasi seperti detektif yang sedang mememcahkan kasus.
"Entah, aku juga tak tahu mengapa aku dulu mencintainya, " jawab Aluna parau.
Sebisa mungkin ia berusaha menahan bendungan air nestapa. Semata-mata tak ingin membuat sahabatnya malu, karena mengajak wanita cengeng.
"Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik! Aku siap mendengarkan keluh kesahmu, meskipun kita baru saja berjumpa, tapi aku merasa kita telah lama saling mengenal. Aku tahu semua itu berat bagimu, luapkan saja!"
Alfaro mengusap kepala Aluna yang mulai sesenggukkan. Akhirnya ia menangis di hadapan pria itu. Menangisi masa-masa indahnya dengan Nino yang kini hanya tinggal kenangan.
"Bersandarlah di bahuku, mungkin akan membuatmu merasa lebih baik," tawar Alfaro sembari tersenyum, tatapannya lembut menyentuh palung hati Aluna.