
Waktu bergulir begitu lambat, sesekali Aluna melirik tampilan monitor. Ia mengubah latar belakang layar kerjanya itu dengan berbagai gambar lucu. Semata-mata hal itu dilakukannya hanya untuk menghibur diri, setelah ia selesai memasukan data barang, hatinya kembali kelabu.
Pandangan manik mata indah itu menerobos bingkai kaca, Aluna menangkap bayangan yang membuatnya makin meradang. Di ujung koridor tampak Nino berjalan beriringan dengan wanita barunya. Entah, siapa wanita itu? Jelas-jelas ia terlihat sangat mempesona, berapa kalipun Aluna memandangnya.
"Apa mereka sengaja memamerkan hubungan? Ayolah, kenapa kamu terus memikirkan hal itu? Cukup! Tutup saja matamu," gerutu Aluna pada dirinya sendiri.
Aluna membuang muka ke arah lain ketika pasangan baru itu melintasi ruang kerjanya. Seketika dadanya terasa nyeri dan berdesir hebat. Ngilu merasuk hingga ke tulang rusuknya, sampai kapan ia harus menderita seperti ini?
"Cepat pergi! Cepatlah pergi!" oceh Aluna sembari memejamkan netra.
Ekor mata Nino mencuri pandang, ia tahu gadis yang pernah mencuri hatinya itu memperhatikan mereka sejak tadi. Tanpa sadar dirinya menoleh tepat di hadapan Aluna. Bingkai kaca raksasa memisahkan mereka layaknya sebuah tembok besar. Nino masih bisa melihat gadis itu, tetapi ia tak berhak menyentuhnya lagi.
"Kamu lihat apaan, sih?" tanya Rere sembari mencubit pinggang Nino.
Pria itu menggelijang, capitan panas mendarat sempurna di tubuhnya. "Tidak, aku hanya heran kenapa ruangan itu tampak berbeda."
"Hmm." Rere hanya berdehem, wanita itu mengikuti arah pandangan Nino. Ternyata pria itu memperhatikan seorang wanita yang bahkan tak melihat ke arahnya.
Apa itu gadis yang pernah dikatakan oleh Om Sailendra? Cih, tak ada yang spesial! Bahkan gaya fashionnya terlihat norak. Apa yang membuat Nino menyukai wanita lusuh itu?
Rere mengerlingkan mata, ia memeluk lengan Nino sembari menyandarkan kepalanya manja. Di lorong itu Nino berpapasan dengan Vivi, sahabat karib Aluna.
"Nino ...." panggilnya lirih seraya mengernyitkan alis.
Akhirnya ia tahu penyebab muramnya Aluna, dasar buaya darat beraninya pria itu mencampakkan sahabatnya. Vivi menatap kedua sejoli itu dengan pandangan jijik dan berlalu pergi.
"Siapa wanita itu? Mantanmu?" tanya Rere yang merasa risih dengan tatapan sinis Vivi.
"Bukan, dia bagian interior."
Rere mengangguk-anggukan kepalanya, dirinya semakin yakin wanita lusuh yang diamatinya tadi adalah kekasih Nino. Saingan cinta yang akan dibuatnya lebih menderita karena berani merebut hati Nino.
"Sebaiknya kamu lepaskan ini!" hardik Nino sembari menurunkan tangan Rere dengan kasar.
"Aku tidak mau terlihat tidak profesional. Pergilah sesukamu dan jangan terus membuntutku!"
Rere menatap pria idamannya tajam. "Kamu mengusirku?"
Nino tak menjawab, pria itu hanya menghendikkan bahu. Kemudian melenggang santai tanpa beban. Mungkin raganya bersama Rere, tetapi tidak dengan hatinya. Nino hanya butuh waktu untuk sendiri, luka batinnya masih menganga. Padahal ia sendiri yang menorehkan sayatan itu.
Nino terus melangkahkan kaki, tak lagi menengok ke belakang. "Aku akan menemui Pak Suhandi, sepertinya aku benar-benar membutuhkan saran dari orang lain."
"Hey, kamu!" Suara Rere yang lantang membuat semua yang hadir di sana sontak menoleh.
Sorot mata tajam bagikan elang itu menatap Aluna lurus. Sedangkan Aluna yang merasa tidak mengenalnya berlagak cuek. Padahal ia tahu bahwa wanita itu adalah orang yang bersama dengan Nino sedari tadi.
"Kamu tuli, hah!" sentak Rere lagi, kali ini dengan menudingkan telunjuk ke wajah Aluna.
Aluna berdiri dengan santai menatap wanita yang tampak seperti mak lampir. Ia melipat kedua tangannya di dada. "Maaf, saya tidak mengenal Anda."
Mantan kekasih Nino itu kembali duduk, memainkan kursor komputernya. Tak menganggap kehadiran macan betina yang siap menerkam. Malah Aluna dengan watadosnya memakai headphone untuk mendengarkan musik favoritnya.
"Berdiri! Dasar wanita rendahan!"
Rere menarik paksa tubuh Aluna, hingga ia berdiri dan bertatap wajah dengan Rere. Wanita itu masih saja mengamati Aluna dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. "Cih, tak ada yang menarik darimu!"
Aluna yang merasa jengah dan terganggu mulai membangunkan singa dalam dirinya. Ia memicingkan mata, menatap wanita itu lekat. "Sebenarnya apa mau Anda? Saya tidak tahu Anda siapa? Tolong tunjukkan etika Anda di ruang kerja saya!"
Mendengar ucapan Aluna, kuping Rere memanas. Berani sekali wanita itu mengguruinya, bahkan dia hanya seorang buruh! Harga diri Rere serasa dicabik-cabik, deru napasnya semakin cepat.
"Kamu wanita murahan yang sudah merebut Nino 'kan! Dasar tak tahu malu!" Gadis itu menjambak surai panjang Aluna.
Beberapa orang di dalam ruangan itu gak ada yang berani melerai pertengkaran mereka. Apapun alasannya, ini bukan saat yang tepat bagi mereka untuk ikut campur. Lebih baik diam saja, duduk manis melihat pertikaian para calon ibu itu. Daripada mereka harus pulang dengan penuh cakaran.
Aluna dengan sigap menekuk pergelangan tangan Rere. Mendorong tubuh kurus itu hingga menempel ke kaca pembatas di samping meja kerjanya. Banyak yang heran bagaimana Aluna bisa melakukan gerakan seperti itu? Tentu saja karena wanita itu pernah mengikuti pelatihan karate sewaktu duduk di bangku SMK.
"Jangan macam-macam denganku! Atau kamu tahu akibatnya!" ancam Aluna setengah berbisik.
"Cih!" Rere meludahi wajah Aluna yang mendekat padanya.
Dengab sigap Aluna membalikkan tubuh Rere, tangan kanannya bersiap untuk menonjok wanita di depannya, tetapi pukulan keras itu sengaja ia plesetkan di samping kanan wajah Rere. Seketika wajah anak konglomerat itu pucat pasi, ternyata orang yang dianggap musuhnya bukan wanita lemah.
"Jaga etikamu! Kalau tidak, tinjuanku tak segan-segan mendarat di wajah cantikmu!"
Mantan kekasih Nino itu berlalu pergi menuju toilet. Ia ingin membasuh wajah agar emosinya kembali mereda. Beberapa karyawan yang menjadi saksi gemetaran menyaksikan adegan itu. Aluna yang tampak ceria dan lucu itu ternyata begitu mengerikan.
"Tunggu saja pembalasanku! Semut kecil berani menggigitku, lihat saja nanti!"
Rere menyembunyikan wajahnya yang tampak merah padam. Ia merasa sangat malu karena kalah dalam pertengkaran itu. Sembari membenahi gaunnya yang tampak sedikit lusuh, ia mengatur strategi untuk mengenyahkan Aluna dari hadapan Nino.
Wanita itu menjentikkan jari, sebuah ide luar biasa melintas di otaknya. Siapapun tak boleh memiliki Nino, jika itu bukan dirinya. Cara apapun akan dilakukannya tidak peduli dengan cicitan orang lain.