My Edelweiss

My Edelweiss
Rencana B



Aluna bergegas masuk ke ruang tidur setelah menemukan kejutan Nino yang tertinggal. Gadis itu membawa kotak putih itu, mengeluarkan isinya dan mengambil beberapa potret kue tart kesukaannya. Tanpa diberitahu pun Aluna yakin itu pemberian sang mantan. Karena hanya pria itu yang tahu apa makanan favoritnya.


"Mungkin aku harus meminta maaf padanya, sikapku tadi sangat tidak baik." Aluna menyambar ponsel hitam miliknya dan mulai menekan nomor.


Memang Aluna telah menghapus nomor Nino dari kontak poselnya, tetapi wanita itu hapal 12 digit angka itu di luar kepala. Tentu saja, karena mereka telah lama bersama dan selama itu Nino belum pernah mengganti nomornya.


Berulang kali Aluna mencoba melakukan panggilan, tetapi tidak ada jawaban. Selalu saja kotak suara otomatis yang menjawab. Apakah Nino memang menghindar atau terluka oleh perkataannya tadi? Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja.


πŸ“±From: Aluna


Nino, maaf perkataan kasarku tadi. Terimakasih atas kuenya.


085736xxxxxx


Manik mata beriris coklat itu menatap lekat kue di sampingnya. Aluna memindah posisi tidurnya menjadi tengkurap, ia mencomot sebuah strawberry yang menghiasi roti bernuansa putih itu. Puas mencicipi hadiah pemberian Nino, ia meletakkan kue itu ke dalam lemari pendingin.


"Baik-baik di dalam sana ya, Kue. Jangan berantem sama terong dan sayuran lainnya!" Aluna terkekeh mendengar ucapannya sendiri.


Waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi, netranya mulai terasa lelah. Ia pun kembali ke kamar tidur, mendaratkan tubuh sintal miliknya di atas zona ternyaman kaum rebahan. Meski pesta ulang tahun tak berjalan sesuai rencana, tetapi hati Aluna merasa bahagia. Kehangatan menyelimuti relung jiwanya.


Sedangkan di sisi lain, Nino belum bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Gundah, gelisah dan merana merajai hatinya. Bayangan wajah Aluna dan sorot mata penuh kebencian itu terus berkeliaran di benaknya. Akankah ia mampu meraih kembali cintanya?


Mungkin, jika Nino mampu meluluhkan hati Aluna lagi! Kekuatan cinta mereka bagaikan magnet, terpaut satu sama lain. Nino tidak akan mengajak Aluna untuk kembali menjadi kekasihnya, tetapi ia akan membuktikan cinta suci yang sesungguhnya.


"Besok aku harus segera mencairkan cek dari Pak Gustavo, setelah itu ke rencana selanjutnya!"


"Aluna, bersabarlah! Aku akan kembali merebutmu!" sambungnya lagi sembari menarik selimut.


Nino tidak menyadari ponselnya dalam keadaan mode pesawat. Sehingga, panggilan masuk maupun pesan tidak dapat masuk. Termasuk pesan singkat Aluna, pria itu masih berpikir jika Aluna membenci dirinya. Mungkin saja hal itu benar, tetapi tidak sepenuhnya.


-*


Nino meninggalkan rumahnya pagi-pagi sekali. Pria itu bergegas ke salah satu bank untuk mencairkan cek. Setelah selesai dengan transaksi tersebut, ia segera mentransfer rekening Rere.


Sebelumnya ia mendapatkan informasi tentang nomor rekening wanita itu dari Rere sendiri. Karena sewaktu itu dia diminta untuk mentransfer sejumlah uang secara tunai oleh Rere.


Ada sesuatu yang aneh, ia merasa sejak semalam ponselnya tidak ada yang menghubungi. Nino mengecek layar dan benar saja, ia baru ingat jika telepon pintar itu dalam mode pesawat. Pria itu segera mengaktifkan kembali ponselnya.


Baru saja Nino hendak mengecek beberapa pesan singkat yang masuk, tiba-tiba benda itu berdering, ia memandang tampilan layar. Nama yang dinantikannya terpampang di layar itu, dengan sigap ia mengangkat panggilan.


πŸ“±


"Hallo, Nino. Aku baru saja mendapat notif bahwa kamu mentransferku senilai dua miliar. Apa maksudnya itu?"


"Iya, aku mengembalikan uang yang telah kupinjam dari papamu. Tolong kembalikan itu dan sampaikan rasa terimakasihku!"


"Hey, itu bukan pinjaman. Papa memberikan itu cuma-cuma karena kamu akan menjadi menantunya 'kan."


"Tidak, aku sudah mengembalikan uang tersebut. Jadi hubungan kita sudah berakhir, kamu dan aku hanya orang asing sekarang."


"Tu-tunggu dulu! Kamu tidak bisa seenaknya sa-"


πŸ’•πŸ’•


"Selesai."


Ternyata Nino dapat mengakhiri sandiwaranya dalam satu jentikkan saja. Mengapa ia tak memikirkan hal itu sebelumnya? Penyesalan selalu saja datang di akhir cerita. Namun, saat ini waktunya ia kembali bangkit. Membuka lembaran baru dan berjuang untuk cinta.


Pria itu mempunyai ide brilian, awalnya dia berencana untuk kembali menyatakan cinta pada Aluna di loby kantor, tetapi karena terjadi insiden ketika ulang tahun Aluna. Berbeloklah ke rencana cadangan, entah hasilnya akan seperti apa yang terpenting mencoba dahulu.


Tangan kekar itu kembali merogoh saku celana, mencari telepon pintar yang selalu berada di dekat Nino. Pria itu menekan tombol panggil dan mulai melancarkan aksinya.


"Pak, saya harap jenengan bisa datang ke gubuk saya sewaktu makan siang." Nino berbicara dengan aksen jawa kepada lawan bicaranya di telepon.


Nino menutup kembali ponsel hitam metaliknya setelah membuat janji dengan seseorang. Pria itu berjalan-jalan di sekitar taman pribadinya. Hari itu adalah hari terakhir dirinya cuti, mungkin sedikit memanjakan mata akan mempengaruhi mood yang berantakan.


Waktu bergulir begitu saja, Nino yang sedari tadi berkeliling taman tak menyadari jika saat itu sudah memasuki jam makan siang. Seorang asisten kepercyaannya berjalan terpongoh-pongoh menghampiri sang majikan.


"Tuan, maaf saya mengganggu kesenangan Anda. Di luar ada tamu yang menunggu," ucap wanita yang biasa dipanggil Bi Atin itu.


Nino melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Astaga, ini sudah siang! Baiklah, aku akan segera menemuinya. Terimakasih, Bi."


Secepat kilat Nino melangkahkan kaki untuk menemu tamunya. Lelaki itu melempar senyuman hangat, ketika ia melihat sosok tambun yang tengah duduk di ruang tamu.


"Selamat siang, Pak Suhandi. Padahal hanya beberapa hari saya tidak berjumpa dengan Anda, tetapi tampaknya Anda sedikit langsing," canda Nino mengawali perbincangan.


Pria tambun berkepala plontos itu terkekeh sembari memegangi perutnya. "Pak Nino ini ada-ada saja, langsing jika dilihat dari ujung sedotan."


Mereka berdua tertawa bersama, memang hubungan Nino dengan kaki tangannya itu begitu rekat. Bisa dibilang seperti ayah dan anak angkat saja.


Pria tambun itu tampak sumringah melihat ekspresi Nino yang lebih ceria. "Ada keperluan apa ini Pak Nino sampai-sampai mengundang saya ke mari?"


"Jangan begitu, Pak. Ini hanya jamuan kecil, saya ingin membicarakan tentang agenda tour tahunan perusahaan kita untuk para staff.


Mimik wajah Pak Suhandi tampak berbeda, ia terlihat lebih bersinar setelah mendengar ucapan Nino. "Loh, bukankah agenda itu akan dihapuskan untuk tahun ini? Mengingat kondisi perusahaan yang sedang merintis kembali."


"Tidak, tahun ini tetap akan ada tour. Saya tahu pasti para staff juga membutuhkan refreshing 'kan."


"Tentu saja, Pak. Lihat ini kepala saya sampai botak memikirkan berbagai tugas," kelakar Pak Suhandi.


Nino terkekeh dan kemudian melanjutkan pembicaraan. "Kalau begitu saya sudah punya tempat yang akan kita kunjungi kali ini."


"Di mana, Pak?"


Pria itu lagi-lagi memamerkan deretan gigi putihnya. "Semeru."


"Wow, ide yang bagus!" Pak Suhandi membelalakan mata sembari menepuk pundak Nino.


"Saya yakin akan banyak yang ikut, tetapi bisakah Pak Suhandi membantu saya mempersiapakan beberapa hal?"


Kening pria tambun itu berkerut, tetapi ia tidak bisa menolak permintaan Nino. "Dengan senang hati."


Apa yang akan Nino rencanakan selanjutnya? Mengapa ia memilih gunung sebagai tempat tour kantor kali ini?