
Sementara itu di lokasi lain, Rere merintih sendirian masih dengan piyama handuk yang membalut tubuhnya. Kepala wanita bersurai sebahu itu terasa sangat berat seperti ada batu berton-ton yang menimpa. Entah, ia merasa sekujur tubuhnya tak memiliki tenaga. Lunglai dan sangat lemah, dengan kekuatan yang tersisa dirinya berusaha bangkit.
Putri konglomerat itu membuka kelopak mata, pandangannya masih remang-remang. Pening dan mual! langit-langit yang berhiaskan lampu LED itu tampak berputar-putar. "Arrgh! Apa yang terjadi?"
Tiba-tiba seseorang menerobos masuk dengan wajah kebingungan. "Aluna! Di mana Aluna?"
"Re, apa kamu melihat tawanan kita, hah?" tanya Alfaro yang seperti kebakaran jenggot.
Pria itu membelalakan mata ketika melihat kondisi Rere yang teler. Seperti orang yang habis menegak sebotol minuman keras. Apalagi dengan pakaian yang ya bisa dibilang vulgar. Beruntungnya Alfaro tidak memiliki perasaan apa pun dengan wanita itu.
"Re, kamu kenapa? Mana Nino? Dasar picik! Lelaki itu pasti membawa Aluna kabur."
"Bagaimana semua bisa gagal, hah?"
Plaak!
Tamparan panas mendarat empuk di pipi Rere, Alfaro berusaha membuat wanita itu tersadar. Setengah hatinya merasa kesal, ia sudah melakukan bagiannya. Kini, giliran Rere malah merusak segalanya. Hah! Sia-sia semua yang ia lakukan dengan rapi.
"Bangun, Re. Sadar! Mengurus lelaki begitu saja tidak becus!" sentak Alfaro dengan mata berkilat.
Rere mendongakkan wajah, mengerjap beberapa kali. Ia menutup kembali satu netranya, untuk memfokuskan bayangan Alfaro yang menjadi banyak. "A--aku enggak ta--hu."
"Dasar murahan!" Alfaro membalikkan tubuh dan beranjak pergi.
Namun, tangan Rere menarik ujung kemeja Alfaro dengan sisa energi. "Bantu aku ke luar dari sini, aku tidak ingin pa--papaku tahu hal ini. Bawa a--aku ke tempatmu."
"Mana mungkin? Apa kamu sudah gila? Di rumahku ada keluarga besar, tidak! Urus saja kepentinganmu sendiri! Aku tidak mau bekerjasama denganmu lagi!"
Rere menyeret tubuhnya dan terjatuh tepat di bawah kaki rekannya. Wanita itu memegang erat betis Alfaro. "Tu--tunggu dulu, Al. Aku masih memiliki banyak ide untuk memisahkan mereka."
"Sudah tidak perlu! Seharusnya aku dari awal sadar, bahwa rencana ini tidak akan berhasil, buang-buang waktu! Menyingkir dariku!"
Alfaro menghentakkan kaki, sehingga tubuh Rere terpental dan menabrak almari. Lelaki itu beranjak pergi tanpa menoleh ke belakang. Tampaknya Rere salah memilih orang, Alfaro sejatinya lelaki bengis dan arogan. Hanya saja ia selalu menutupi dengan tingkah kekanakannya.
"Aduh, kepalaku sakit sekali. Siapa pun tolong aku!" jerit Rere sekuat tenaga.
Ia masih berada di bawah pengaruh obat yang diberikan Nino. Memang, obat itu bukan untuk konsumsi publik. Pengedarannya pun hanya dalam lingkup medis dan diberikan kepada pasien yang benar-benar membutuhkan, seperti insomnia akut yang dialami kwkasih Aluna itu.
"Tolong ...." Rere menjerit lagi, kali ini ia berusaha menggerakkan tubuhnya.
Wanita berbibir tipis itu mencoba untuk berdiri, tetapi terjatuh lagi. Berapa kali pun ia mencoba hasilnya sama saja. Lagi-lagi limbung dan malah membuat tubuhnya semakin sakit.
Upayanya sedikit membuahkan hasil, ia mengesot sampai di ambang pintu. Tidak peduli dengan piyama handuknya yang tersingkap. Rere hanya ingin keluar dari hotel milik keluarganya itu.
"Tolong aku ...," rintih Rere yang mulai kehabisan tenaga.
Dewi Fortuna tampaknya masih memihak pada Rere, beruntung ada seorang room boy yang melintas. Pemuda berparas lumayan itu segera menolong Rere, menyandarkan rubuhnya di dinding.
"Apa yang terjadi dengan Anda, Nona?" tanya lelaki itu dengan gusar.
"Bantu aku keluar, mobilku ada di parkiran. Kamu tidak mengenalku?" Rere bukannya menjawab malah bertanya balik.
Lelaki yang biasa disebut Andi itu menggeleng ringan. "Tidak, Nona."
"Aku--" Rere menghentikan kalimatnya.
Otaknya mulai dapat berpikir jernih, ada untungnya lelaki itu tidak mengetahui siapa dirinya. Bukankah itu bagus? Sehingga identitas asli sebagai anak pemilik hotel tidak terbongkar. Martabat keluarganya akan tetap terjaga dengan baik, bagaimana pun Rere tidak ingin kondisinya saat ini terekspos orang luar.
"Aku mabuk dan pacarku meninggalkanku. Bisakah kamu memapah sampai parkiran? Nanti akan kuberikan tip yang pantas." Rere menatap lurus pemuda yang berusia sekitar dua puluh tiga tahun itu.
Room boy itu menundukkan kepala, bola matanya bergerak ke penjuru arah. Ini tawaran yang bagus untuk menambah pundi-pundi tabungannya. Namun, juga berisiko besae jika ada salah satu karyawan lain yang memergoki.
"Tapi ada syaratnya, Nona."
Rere mengerutkan kening. "Apa pun akan kuterima, asalkan kamu membawaku pergi dari sini!"
"Kita lewat tangga darurat bukan lift! Apakah Anda bersedia?" tanya lelaki itu ragu.
"Bukan masalah besar asalkan kamu membantuku berjalan."
Lelaki berambut cepak itu mengangguk setuju. "Baik, Nona. Mari saya bantu!"
Setelah memastikan keadaan aman terkendali dan tidak ada seorang pun yang membuntuti. Mereka mulai bergerak menuju pintu darurat. Bagus juga ide Andi, dengan begitu tidak akan ada orang yang melihat mereka.
"Pelan-pelan saja, Nona."
Rere mengangguk, beberapa kali ia hampir tergelincir. Untung saja pria itu masih memegang pinggangnya dengan erat. Jika tidak, mungkin ia akan terjatuh berguling-guling di anak tangga.
"Masih berapa banyak lagi yang harus kita lalui?" tanya Rere terenggah-enggah.
Jumlah anak tangga yang mungkin puluhan itu harus ia lalui dengan tubuh lemah. Apalagi ruangan tempat ia berada tadi berada di lantai lima. Betapa sulitnya mengendalikan keseimbangan diri, apalagi di ruangan yang terasa lembab itu.
"Mungkin sekitar lima belas anak tangga lagi. Tenang saja, saya akan membantu Anda sampai di bawah dengan selamat."
Wanita kaya raya itu hanya berdehem, tenaganya sudah habis. Jika ia tidak dibantu dengan Andi, mungkin sudah limbung dan tersungkur. Penderitaan ganda dan rasa kecewa karena ia tidak jadi bercinta dengan Nino.
Benar dugaan Andi, hanya dalam kurun waktu sepuluh menit mereka tiba di bawah. Hiruk pikuk jalanan mulai terdengar. Rere melepaskan pengangannya dan Andi pun melonggarkan tangan.
"Apa tidak apa-apa jika Anda mengemudikan sendiri? Dalam kondisi seperti ini, akan sangat berbahaya, Nona." Andi membantu Rere untuk bersandar di sisi kanan mobilnya yang tidak terlihat dari depan.
Pengagum rahasia Nino itu sadar bahwa ia tidak membawa apapun saat keluar. Rere menggelengkan kepal dan menepuk keningnya keras. "Shit! Kunci mobilku masih di atas. Tolong bantu aku mengambilnya! Aku akan menunggu di sini saja."
"Ba--baik, Nona."
Andi menarik napas dalam-dalam, misinya kali ini sangat sulit jika dibandingkan tugas hariannya. Mau tidak mau ia harus kembali ke atas, mungkin lebih baik jika ia meminta izin pulang saja sekalian mengantarkan pelanggan yang tak lain adalah ahli waris tempat di mana ia mengumpulkan pundi-pundi uang.