
-Aluna Pov-
Pagi ini aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Memaksa kedua kelopak ini terbuka lebar, nyeri dan perasaan mulas berulang kali membuatku meringis kesakitan. Keringat dingin mengucur deras beriringan dengan gerakan janin dalam rahim.
"Nino! Akkh, sakit!" pekikku tanpa sadar.
Lelaki yang hampir setahun bersamaku itu berlari dari arah kamar mandi. Wajahnya tampak pasi, ia pasti tergesa-gesa karena masih ada sisa sabun yang menempel di bagian wajahnya. Nino menghampiriku dan mengusap-usap perut yang kian membuncit ini.
"Aduh, kontraksi lagi ya?" tanyanya dengan panik.
Aku tak mampu menjawab, hanya mengangguk dengan sisa-sisa energi. Ya, usia kandunganku kini sudah menginjak tujuh bulan. Gerakan janin dalam rahim semakin menguat, menyisakan nyeri yang tak mampu aku ucapkan.
"Ni—no. Aww!" Aku memegangi perut yang semakin mengencang.
Apakah bayiku akan lahir sekarang? Tidak! Ini belum waktunya ia menatap dunia. Kuatur deru napas yang tersengal dengan tarikan dalam, kemudian melepaskannya perlahan-lahan. Rasa mulas itu kian mereda dan membuat syaraf sedikit rileks.
Nino masih menatapku dengan bingung. "Sayang, kita ke rumah sakit saja, ya? Mungkin saja kamu akan melahirkan. Sejak kemarin malam kontraksimu semakin sering."
"Tidak perlu, seperti kata dokter kemarin. Ini hanya kontraksi palsu 'kan?" jawabku menenangkan Nino.
Lelaki itu menghela napas kasar dan mengambil posisi duduk tepat di hadapanku. Ia membungkuk, mengusap dan mengecup hangat perutku. Seakan mengerti siapa yang menciumnya dari luar, nyawa dalam rahim ini menggelijang. Sedikit sakit, tapi tidak ada apa-apanya jika dibanding kebahagiaan ini.
"Pergilah ke kantor, Nino! Mau sampai kapan bersamaku di sini?"
Manik mataku terbelalak, membulat sempurna. Bagaimana bisa dia memutuskan untuk menemani kami? Masih tersisa dua bulan lagi jika sesuai dengan hari perkiraan lahirnya. Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tak rela jika nanti akan ada yang menggunjing bahwa Nino pemalas, tidak! Dia bukan lelaki pemalas.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" Nino kembali mengusap perutku.
Lagi-lagi bayi mungil ini merespon sentuhan ayahnya. Ia menonjolkan bagian tubuhnya, mungkin itu siku atau lutut. Yang jelas sekarang perut ini tampak seperti jelly yang bergerak-gerak. Entah mengapa, aku pun juga merasa nyaman dengan usapan Nino.
"Aku akan turun, Nino. Jangan terlalu memanjakanku," pintaku sembari menatapnya lurus
Putra Bu Hilma ini hanya tersenyum mempertontonkan dereran gigi putihnya. "Tidak, kamu harus tetap istirahat! Aku tidak ingin sesuatu terjadi, apalagi jika harus menuruni tangga."
"Tapi, Nino. Justru di usia kandungan seperti ini aku harus banyak bergerak, melatih otot-otot agar mempermudah persalinan nanti. Bukannya malah rebahan terus, aku merasa seperti seekor kuda nil!" sangkalku dengan bersungut-sungut.
Suamiku itu terkekeh mendengar ucapanku. Ia mengusap surai panjang yang masih melekat sempuran di kepala. Nino mengangguk dan tersenyum lagi. Senyum yang selalu mampu mengalihkan dunia. Hanya begitu saja membuatku merasa sangat luar biasa.
"Ya, sudah. Ayo kita turun ke bawah, tapi hati-hati. Atau mau kugendong saja?" tawar Nino dengan ekspresi serius.
Aku mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir. "Enggak! Aku enggak yakin, kamu kuat menggendongku. Sekarang 'kan berat badanku bertambah banyak!"
"Tidak masalah, bertambah berapa kilo pun berat badanmu. Kamu tetaplah seksi di mataku, Aluna," bisik Nino yang membuat telingaku berubah memerah.