
"Alhamdulillah ... sah!" ujar para saksi serentak.
Prosesi akad nikah telah mereka lewati. Saat ini Nino dan Aluna telah menjadi pasangan kekasih halal. Selanjutnya adalah penyerahan mahar. Aluna menerima bingkai putih berisikan beberapa uang kertas dan siluet foto mereka berdua, simbol dari janji suci ini.
Nino mengecup mesra kening Aluna. Ketika itu sang bibi, wakil dari keluarga Nino datang menghampiri, seraya memberikan seserahan berbentuk sangkar burung kecil. Di dalamnya tersemat cincin pemberian Bu Hilma.
Lelaki itu meraih cincin itu, menyematkannya di jari tengah Aluna. Pertanda bahwa Aluna sudah menjadi istri dari seorang Nino Tri Sasongko. Aluna terpesona untuk beberapa saat, ia mengamati cincin yang melingkar di jarinya.
Bentuknya minimalis, bertahtahkan 5 permata putih yang berkilauan. Aluna sangat menyukai cincin itu, sederhana namun menghipnotis tiap mata yang memandang.
"Ini benar-benar indah, Nino," bisik Aluna sembari tersenyum.
Lamunan Aluna seketika buyar, sang rias pengantin menepuk bahunya pelan. Mengisyaratkan sudah saatnya sesi pemotretan. Tamu undangan silih berganti berpose bersama kedua mempelai, tak lupa juga seluruh keluarga yang berbahagia pun turut serta.
"Ayo berpose tersenyum semua ya!" titah fotografer yang terlihat seusia Nino itu lantang.
"Hitungan ke tiga, gaya bebas oke?"
Pria itu memberi kode dengan jari-jari tangannya. "Satu, dua, tiga ... cheers!"
Setelah sesi pemotretan selesai, sang perias memapah kedua mempelai ke dalam ruang rias untuk berganti pakaian resepsi. Nino melemparkan senyuman ke arah istrinya, namun Aluna hanya merespon dengan kerlingan manja.
Gaun yang dikenakan Aluna saat ini, sedikit berbeda dengan saat prosesi akad nikah. Ia mengenakan gaun berwarna kuning emas, dengan bagian bawah membentuk pola sangkar melengkung, seperti milik putri kerajaan.
Aluna tertawa melihat pantulan dirinya, ia berpikir posisi seperti apa yang akan membuatnya nyaman, ketika duduk menggunakan gaun itu. Di ruangan lain Nino merasa risih dengan sang perias, yang sedari tadi menyentuh wajahnya. Membenahi riasan tipis yang mulai memudar.
Ia mengenakan setelan tuxedo berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu. Para asisten berdecak kagum, memandang ketampanan Nino.Nino memang memiliki wajah yang rupawan, ia merupakan blesteran Belanda. Ketampanannya diwariskan dari keluarga ibunya, yang notabene berparas rupawan semua.
Sang perias menggandeng kedua mempelai, kembali ke singgasana mereka. Bagai ratu dan raja semalam. Tamu undangan pun terkesima oleh kedua mempelai, banyak yang berkata mereka adalah pasangan serasi.
Di sudut lain terdengar kasak-kusuk tamu undangan lain, yang mengatakan bahwa mereka berjodoh karena memiliki kemiripan paras.
"Oh, Tuhan ... aku berharap semoga mendapatkan calon menantu yang tampan sepertinya!" pekik wanita bergaun merah.
Ucapan wanita itu, mengundang gelak tawa tamu lain yang ada di sekelilingnya. Menurut salah satu sumber, wanita bergaun merah itu hanya memiliki 2 anak laki-laki. Apakah mungkin, ia akan menikahkan putranya dengan seorang lelaki juga? Sungguh candaan yang mengocok perut.Mereka saling bercanda gurau melepas penat, sembari menikmati hidangan mewah yang telah tersaji.
Pukul sebelas malam acara resepsi telah usai. Para tamu undangan sudah tak nampak lagi. Hanya beberapa asisten yang terlihat mondar-mandir merapikan sisa-sisa hidangan. Nino melangkahkan kakinya ke luar ruangan, memandang ombak pantai yang bergemuruh di seberang.
Lokasi pernikahan Nino adalah sebuah gedung elit yang memiliki view tepi pantai. Nuansa romantis dan bahagia terpancar dari temaram lampu hias. Ia merogoh ponsel di saku celananya, dan mulai menuliskan pesan singkat.
To: Aluna
Sayang, aku tunggu kamu di luar, lokasi tepatnya arah jam 3. Setelah selesai berganti pakaian, lekaslah kemari! Aku ingin menunjukkan sesuatu, sebelum kita pulang ke rumah.
Aluna
Nino pun tersenyum tipis dan kembali memasukkan ponselnya.
Aluna membenahi pakaiannya dan bergegas pergi menuju tempat di mana Nino menunggu. Tampak olehnya pria itu melamun memandang ombak yang berkejaran. Aluna mendekat, memeluk tubuh pria yang telah menikahinya itu dari belakang.
"Sayang, apa kamu sudah enggak sabar?" tanya Nino sembari membalikkan tubuhnya.
"Ah, apaan sih!" jawab Aluna dengan pipi merona.
"Tuh, buktinya kamu main peluk-peluk gini." Nino terus menggoda istrinya.
Aluna memonyongkan bibirnya, dan mendengus kesal.
"Huft! Enggak jadi aku peluk!" tandasnya dengan wajah cemberut dan melepaskan tangannya yang melingkari tubuh Nino.
Nino dengan sigap menahan tangan Aluna, menariknya kembali dalam pelukan. Aluna tersipu dan membenamkan kepala di dada suaminya.
Pria itu mengusap lembut rambut istrinya, mendongakkan sedikit wajah kekasih halalnya itu. Mendekatkan wajahnya perlahan-lahan dan menggulum lembut bibir Aluna. Hasrat mereka menyatu dalam deburan ombak, desahan napas Aluna semakin membangkitkan jiwa lelaki Nino. Ia mulai mendekap istrinya sangat erat. Tangannya bergerilya, menyusuri leher jenjang Aluna, semakin ke bawah ....
Nino mengacak rambutnya seraya berkata, "Kenapa? Bukankah kita sudah menikah?" tanya Nino kebingungan. Aluna tertawa kecil dan menyandarkan diri di pagar pembatas gedung itu.
"Iya, memang kita sudah menikah. Tetapi, apa kamu enggak punya tempat yang lebih intim buat kita berbulan madu, Sayang?" tanya Aluna menggoda Nino manja.
Nino memandang sekelilingnya dan ikut tertawa. Ia menyadari meskipun tempat itu sunyi, tetapi masih ada banyak orang berlalu-lalang membersihkan gedung itu.
"Apa kamu mau, kita jadi tontonan banyak orang?" hardik Aluna lagi sembari memainkan jarinya di atas bibir Nino. Pria itu tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya dan mengecup lembut kening istrinya.
"Ayo masuk!" ajak Nino sembari menggandeng tangan Aluna. Istrinya itu menurut dan mengikuti langkah Nino.
Sebuah mobil Avanza putih berhenti di depan gedung. Menanti kehadiran pasangan pengantin baru itu, lengkap dengan sopir yang siap mengantarkan mereka. Sebelum mereka pergi, Nino mengucapkan terimakasih, kepada seluruh asisten kepercayaan ibunya yang telah membantu.
Ucapan itu disambut dengan baik dan rasa hormat. Mereka tak menyangka, seorang Tuan Muda tak malu bertatap muka dengan bawahan. Mengucapkan terimakasih langsung dari bibirnya. Sungguh beruntung, mereka telah bekerja di bawah naungan Bu Hilma.
Mobil pengantin telah meluncur jauh, membawa beribu kenangan bagi mereka yang memandang. Di dalam mobil, Nino terus menggoda istrinya. Terkadang dicubitnya manja pipi Aluna, sehingga Aluna membuat ekspresi lucu. Sopir pribadi itu mencuri pandang, tersenyum kecil melihat pasangan pengantin baru. Mengingatkan akan cinta masa mudanya dulu.
Selang beberapa menit, mobil itu sudah berhenti di depan kediaman Nino. Para pelayan menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya mereka dengan antusias. Beberapa dari mereka, menawarkan bantuan apa yang dibutuhkan pasangan pengantin ini. Namun, Nino menggelengkan kepala dan bergegas mengajak istrinya ke kamar tidur.
Para pelayan saling bertukar pandang dan tersenyum. Mereka memiliki satu pemikiran yang sama, yaitu Sang majikan, sudah tidak sabar untuk bertempur di malam pertamanya.
Nino merogoh kunci kamar dari saku celananya, membuka pintu itu perlahan. Aluna terkesima ... tercengang untuk beberapa saat. Nino tak ingin melewatkan momen itu, ia segera membopong istrinya.
Kedua manik mata Aluna sibuk menyusuri ruangan yang didominasi warna putih itu. Nino meletakkan tubuh istrinya di pinggir ranjang, dan bergegas mengganti pakaiannya.
Ranjang bersprai putih yang didudukinya saat ini di hiasi oleh bunga-bunga yang indah. Di sudut kanan-kiri tempatnya berpijak, tertata rapi lampu-lampu tidur bergaya klasik. Tatapannya tertuju pada bucket bunga kecil di tengah ranjang. Ada secarik kertas di sana, Aluna meraih kertas itu dan mulai membaca.
💞Dipelukanmu, kurebahkan diriku yang putus asa didera rindu.
Dipelukanmu pula, kutemukan kekuatan untuk meneruskan perjalanan hidup yang penuh liku.
Dunia tak lagi indah jika kaupergi dariku, Sayang. Malam-malam akan menghitam tanpa hadirmu.
Berjanjilah mulai detik ini, biarkan hanya aku yang memilikimu sepenuhnya! Hanya milikku seorang.
Yakinlah 'My Edelweiss', cinta kita 'kan kekal abadi ... sepanjang masa.
--*
Aluna melipat kertas itu, meraih rangkaian bunga Edelweiss putih yang berada di hadapnya. Didekapnya erat seraya memejamkan mata, menghela napas panjang. Menikmati aroma khas dari bunga liar ini.
Edelweiss, sejatinya adalah bunga liar yang tumbuh di dataran tinggi, tak semua pendaki gunung mampu menemuinya. Butuh pengorbanan yang besar untuk bisa bercengkrama dengan bunga ini.
Ya, dia adalah simbol cinta abadi. Cinta yang sarat akan pengorbanan. Cinta yang tak akan lekang oleh waktu, layaknya Edelweiss yang tak akan rusak meskipun telah layu dan mengering.
Aluna membuka mata, suaminya kini telah berada tepat di hadapannya. Piyama biru yang dikenakan Nino, menambah kesan keren. Entah mengapa wajah Aluna memerah. Ada perasaan malu menghinggapinya, mungkin karena mereka masih pengantin baru.
Nino mendekati gadis berwajah oriental itu, memegang bahunya perlahan dan merebahkan tubuh sintal yang kini menjadi miliknya.
Aluna tersipu, dikatupkan kedua mata indahnya. Ia terlihat pasrah bagaikan anak kelinci yang akan diterkam harimau. Mereka pun memadu kasih, diiringi gemricik air hujan malam ini.
Desahan napas membaur ... peluh yang mengalir beradu dengan detak jantung, mereka telah merengkuh kenikmatan dunia bersama. Memulai mahligai cinta yang telah mereka bina.
—End—
Terima kasih saya ucapkan kepada para readers yang masih setia membaca kisah receh ini. Dukungan kalian berupa vote, like dan komen begitu berarti. Terima kasih sekali lagi, tanpa kalian saya tidak akan dapat menyelesaikan novel ini.😘
Salam manis
Author Remahan Rempeyek