My Edelweiss

My Edelweiss
Aji-aji Spabol Ala Bi Atin



"Sayang, bangun!" Nino mengguncang-guncang tubuh Aluna dengan kencang.


Namun, wanita itu tidak merespon sedikit pun. Mungkin ia terlalu lelah atau memang betah tidur? Entahlah, anggap saja itu kelebihan Aluna, sebut saja dia wanita berkekuatan kukang.


"Sayang, ayolah bangun. Hari ini kita akan ke rumah mama," bujuk Nino lagi, kali ini dengan mencubit hidung kekasihnya.


Tetap nihil, segala upaya yang dilakukan Nino tidak berhasil membangunkan Aluna. Akhirnya lelaki itu memilih jalan pintas, ia menarik pergelangan tangan wanita itu dengan paksa. Tubuh Aluna hanya bergeser kira-kira satu inci.


"Buset! Ternyata Aluna begini kalau sudah tidur." Nino menepuk keningnya keras.


Putra Bu Hilma itu memutar otak, dan ia menemukan cara jitu. Nino berjalan mengendap-endap keluar, ia memasuki gudang untuk mencari sesuatu.


"Nah, dengan ini pasti dia bangun, hehehe."


Berbekal senjata tempurnya, Nino mendekati Aluna. Ia menaikkan benda putih berbentuk corong itu sejajar dengan mulut. "Alunaa bangunnn!"


Suara yang dihasilkan toa itu menggema di segala penjuru hunian Nino. Beberapa asisten rumah tangganya yang mendengar itu terperanjat, bahkan ada yang sampai melemparkan telur karena saking kagetnya.


"Ada apa itu?" tanya Bi Atin dengan wajah pucat pasi.


Wanita paruh baya itu terlihat seperti kehilangan banyak darah. Bukan karena sakit, melainkan ia sadar telah memecahkan satu rak telur. Astaga, sudah tanggal tua harus mengganti telur lagi. Malang nian nasibnya Bi Atin.


"Tidak tahu, coba kamu cek saja ke atas? Mungkin Tuan butuh bantuan," ucap sang koki.


Bi Atin mengangguk dan menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Ia merapikan celemeknya yang sedikit kotor karena terkena pecahan telur. Kini wanita itu telah sampai si depan ruang tidur majikannya.


"Permisi, Tuan. Saya mendengar Anda berteriak, apakah butuh bantuan?" tanya Bi Atin sembari menunduk.


Nino mengembuskan napas kasar. "Iya, tolong bangunkan Aluna! Aku menyerah, Bi."


"Baik, Tuan."


Asisten pilihan mamanya itu mengusap lembut pipi Aluna. Ia mendekatkan bibir ke telingan wanita itu dan berbisik. "Non, bangun sarapan sudah siap."


Seketika Aluna membuka kelopak matanya, seakan ada sihir yang menjalari tubuh sintal itu. "Menunya apa, Bi?"


"Spagheti Bolognaise, kesukaan Non Aluna 'kan?" bisik Bi Atin lagi.


Aluna mengangguk setuju, benar ia merasa sangat lapar karena kemarin hanya sarapan pagi saja. Apalagi insiden gila itu menguras banyak tenaganya. Tubuhnya lemas tak berdaya ditambah harus mengeluarkan banyak darah.


"Tolong siapkan untukku ya, Bi," pinta Aluna dengan lirih.


"Siap, Non."


Wanita itu mereganggkan otot, kemudian bersandar di kepala ranjang. Manik matanya memandang paras Nino yang tampak keheranan. Bahkan ia sampai membuat ekspresi lucu, menggaruk-garuk kepala dan mengernyitkan alis.


"Terima kasih, Bi. Cara apa yang Bibi lakukan untuk membangunkannya?" tanya Nino dengn penasaran.


Bi Atin terkekeh. "Aji-aji spabol, Tuan. Itu rahasianya, saya permisi dulu."


Nino tak menjawab lagi ucapan asistennya itu, ia langsung menghampiri Aluna yang masih tampak mengantuk. Memandang calon istrinya lekat-lekat. Pantulan siluetnya terlihat jelas di iris hitam pekat Aluna.


Putri Bu Asmi itu mendongak, mengedip-kedipkan netranya seperti boneka susan. "Kamu pikir aku setan?"


Bukannya menjawab, wanita itu malah balik bertanya. Wajahnya tampak pucat, bibirnya yang berwarna merah itu berubah menjadi pink semburat kering. Kantung matanya pun menghitam, menambah kesan seram untuk Nino.


"Sayang?" sapa Nino sembari menepuk bahu Aluna.


"Apaan, sih? Aku mau mandi! Hust, hust sana."


Alih-alih segera pergi, Nino malah terpaku dihadapan wanitanya. Ia seperti terhipnotis oleh sesuatu yang membuatnya diam beribu bahasa.


Aluna memutar bola mata. "Kamu kenapa? Masih enggak percaya aku Aluna, hah?"


"Lihat apaan, sih? Jangan nakutin!"


Nino menarik napas dalam dengan tatapan lurus. "Itu, apa yang kamu lakukan dengan selimutku?"


Wanita bersurai panjang itu mengikuti arah telunjuk Nino, ternyata selimut bulu kesayangan lelaki itu telah ternodai oleh cairan merah. Wajah Aluna merah padam, ia menarik dan menggulung kain tebal itu ke dalam pelukan.


"Haha, maaf. Aku segera mencucinya!"


Bagaikan dikejar banteng, Aluna mengambil langkah seribu dan meluncur ke toilet membawa serta selimut yang semalam menghangatkan tubuhnya.


Sementara Nino masih tidak bisa menerima kenyataan. Ya, selimut itu adalah barang kesayangannya sejak ia berusia lima belas tahun. Bahannya terbuat dari sulaman benang sutra yang dipadukan dengan bulu domba.


"Oh, shit! Selimut buluku sudah tidak suci," rutuk Nino sembari mengacak rambut.


Entah mengapa, benda itu tampak sangat berharga bagi Nino. Mungkin karena kain penghangat tubuh itu diperoleh dengan barter. Tidak sembarang orang bisa memiliki benda langka yang sekilas mirip taplak meja berbulu.


"Nino, sudah kucuci. Bisa tolong ambilkan aku ember? Aku ingin menjemurnya." Aluna berteriak dari balik toilet.


Ingin rasanya Nino memotong-motong tubuh Aluna menjadi sebelas bagian. Lalu memberikan dagingnya pada kucing tetangga. Sudah berbuat kesalahan masih saja memerintah dirinya, tetapi anehnya lelaki itu menurut dan pergi ke bawah untuk mengambil ember.


"Aku tunggu di ruang makan," ucap Nino sembari meletakkan ember di depan kamar mandi.


Usai menjemur wanita itu segera menyusul Nino. Aroma khas saus bolongnes menusuk hidung Aluna, cacing dalam perutnya semakin bersemangat untuk menyanyi. Astaga, ia ingin sekali menghabiskan sepiring besar pasta favoritnya itu.


"Ini, Non. Khusus Nona tidak pedas." Bi Atin menyodorkan sepiring penuh makanan ala italia itu.


Saliva Aluna seakan meluncur keluar ketika asap dari hidangan itu menyentuh permukaan pori-porinya. Ia melahap dengan rakus, seperti tidak makan selama berhari-hari. Kesan lembut dari pasta yang membuat lidahnya tidak ingin berhenti, dipadukan dengan asam dan manis toping sausnya membuat Aluna ingin terus makan.


"Pelan-pelan saja! Tidak akan ada yang merampas makananmu, " ucap Nino dengan mengangkat satu alis.


Aluna berusaha menelan sisa makanan yang berada dalam mulut. "Biarkan! Apa kamu pikir semalaman aku tidak lapar, hah? Inisiatif menawarkan sedikit camilan saja tidak, dasar lelaki tidak peka!"


"Bi Atin, Aluna mau nambah lagi! Boleh?"


Nino membelalakan netra. "Apa kamu ini wanita berpunuk? Satu piring itu masih kurang?"


"Kamu pikir aku unta! Aku mau balas dendam, akan kuhabiskan seluruh isi kulkasmu!"