My Edelweiss

My Edelweiss
Pergolakan Batin



Pak Sailendra tak ingin membuang waktu, ia segera bergegas pergi setelah menegak habis minumannya. Pria itu ingin segera menuntaskan rencana selanjutnya. Isi otaknya penuh dengan hal-hala yang membuat lelaki itu makin bersemangat. Dengan kecepatan penuh memacu mobil pribadinya. Tak butuh waktu lama, ayah tiri Nino tiba di kediaman utama keluarga Sasongko. Ia segera memarkir mobil dan bergegas menuju kamar istrinya.


"Sudah pulang, Pa?" tanya Bu Hilma yang sedang bersandar di kepala ranjang sembari memegang majalah.


"Iya, Ma. Ada hal penting yang ingin papa bicarakan!" Pria itu mengambil posisi duduk di samping Bu Hilma.


Wanita itu menutup majalah yang dibacanya, meletakkan benda itu di nakas. "Ada apa? Sepertinya sangat penting?"


Lelaki itu mengangguk cepat, ia mengarang sedikit cerita tentang pertemuannya dengan Pak Dewangga, salah satu investor. Lelaki itu berkata jika Pak Dewangga mulai ragu untuk mengucurkan dana di perusahaan mereka. Alasannya tentu karena prospek yang kian menurun. Bu Hilma terkejut, manik mata sayu itu terbelalak.


"Lantas apa yang harus kita lakukan, Pa? Mama tak ingin perusahaan itu gulung tikar," tanyanya dengan nada bergetar.


Pak Sailendra tersenyum penuh arti. Ia mengecup punggung tangan istrinya. "Bagaimana jika kita nikahkan saja Nino dengan Rere? Bukankah kita pernah akan menjodohkan mereka?"


"Gadis itu konglomerat, pasti keluarganya akan segera membantu kita bangkit. Lagipula Nino dan Rere sudah saling mengenal sejak mereka kuliah 'kan," sambung Pak Sailendra lagi.


Bu Hilma terdiam, bagaimana bisa dia akan menikahkan putranya dengan gadis lain? Sedangkan baru saja beberapa bulan yang lalu Nino membawa sang kekasih ke mari. Tidak, ia tidak mungkin menghancurkan impian putranya untuk kesekian kalinya.


"Tidak, Pa. Mama tidak setuju. Pasti ada cara lain," jawab Bu Hilma tegas.


"Apa caranya? Coba Mama pikirkan lagi! Dari mana kita akan memperoleh suntikan dana dalam jumlah besar? Ini kesempatan bagus, jangan hanya karena ego, Mama membiarkan semua jatuh!"


"Mama tega melihat para buruh menjadi pengangguran? Kelaparan di luar sana, hah?"


Pertanyaan Sailendra bagaikan pukulan telak untuk wanita paruh baya itu. Sebagai seorang atasan sudah seharusnya ia memberikan fasilitas dan kelayakan hidup untuk para karywan. Bukan malah memberi beban dan memutus mata pencaharian mereka hanya karena alasan pribadi. Kali ini jiwa kepemimpinannya dipertanyakan.


Wanita itu mengembuskan napas dengan perlahan. "Baiklah, Mama akan coba berbicara dengan Nino. Semoga saja ini tidak menyakiti dia lagi."


Sailendra menyeringai, memeluk istrinya yang tampak kosong. Wanita itu bimbang, bagaimana langkah selanjutnya? Haruskah ia kembali mempertaruhkan kebahagiaan putranya? Sungguh ini tak adil, tapi itu adalah jalan pintas.


"Pa, bisa tolong tinggalkan mama sendiri! Mama butuh waktu," pinta Bu Hilma dengan nada lirih.


"Baik, papa akan pergi ke ruang baca. Istirahatlah dulu!"


Ayah tiri Nino melangkahkan kaki dengan penuh kemenangan. Ia menutup daun pintu perlahan-lahan. Masih sempat melihat mimik wajah istrinya yang tampak gelisah. Meninghalkan wanita itu dalam hasutan-hasutan kotor yang ia tanamkan di benak istrinya.


"Persetan! Aku tidak peduli! Kebahagiaan Nino katanya, hah? Aku bahkan tak akan membiarkan anak itu menghirup udara dengan tenang. Ha-ha-ha," gumam Pak Sailendra dengan tamaknya.


Sedangkan Bu Hilma masih termenung, ia meremas selimut yang melindungi tubuhnya. Batinnya beradu argumen dengan logika, bagaimanapun itu salah! Sangat salah, apa yanh harus ia katakan pada putranya? Pantaskah anak itu menerima takdir yang begitu pahit?


"Baiklah, aku akan memintanua datang ke mari." Wanita itu meraba nakas, mengambil ponsel mungil miliknya. Ia menekan tombol dial pada nomor ponsel Nino.


"Hallo, ada apa, Ma?"


"Hallo, Nino. Bisakah setelah pulang dari kantor, kamu ke mari, Nak? Ada yang mau mama bicarakan sebentar," ucap Bu Hilma lirih.


"Baiklah, aku akan ke sana! Namun, waktuku tidak banyak. Aku ada janji dengan Aluna."


"Iya, Nak. Mama hanya meminta waktumu satu jam. Ini penting, Sayang."


"Oke, Ma. Jangan lupa minum obat!"


"I-iya, terimakasih."


Wanita paruh baya itu menutup gagang telepon dengan tangan gemetarenahan tangis. Hubungan di antara mereka mulai membaik sejak ia mengalami kejadian naas. Namun, cobaan kali ini pasti akan membuat benang merah di antara mereka.


"Tuhan, aku benar-benar wanita keji. Bahkan saat ini aku akan merebut lagi kebahagiaan putraku. Ampuni aku, Tuhan!"


Bahu wanita itu berguncang, ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Sesak di dadanya terasa amat menyakitkan. Tak ada seorangpun yang akan mengerti hati manusia lain, termasuk dirinya yang tak akan pernah bisa menebak isi hati putranya.


Dua jam kemudian ....


"Selamat sore, Ma."


"Sore, Sayang. Ke marilah!" Bu Hilma membentangkan kedua tangan, bersiap untuk menerima pelukan.


Nino bergerak maju, tapi ia tak memeluk sang ibu. Melainkan hanya mengecup punggung tangan wanita itu sebagai tanda penghormatan. Tampaknya kepercayaan Nino terhadap ibunya belum mencapai titik maksimal, sehingha sebuah pelukan itu terlaku berlebihan baginya.


"Ada apa, Ma?" tanya Nino sembari memandang wajah ibunya yang tampak kecewa.


Bu Hilma menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Nino, pabrik kita mengalami penurunan. Kita butuh suntikan dana segar secepatnya."


"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah selama ini Kak Andim yang menggerakannya?"


"Benar, tetapi progress kita sangat lambat. Mungkin karena terlalu banyak pesaing di luar sana. Mama tak ingin pabrik itu gulung tikar, Nak."


"Lantas apa hubungannya denganku?" Nino mengernyitkan alis, seharusnya sang ibu memanggil kakak tirinya bukan dia.


"Mama butuh bantuanmu demi keberlangsungan perusahaan kita."


"Bantuan apa? Bahkan Nino bukan bagian penting dari tubuh pabrik itu, apa wewenangku?" tanya Nino bertubi-tubi, memuaskan rasa penasarannya.


Bu Hilma mengengam tangan putranya, tangan yang mulai keriput itu bergetar. "Mama ingin kamu menikahi, Rere untuk menyelamatkan perusahaan kita."


Manik mata Nino terbelalak, ia segera menepis tangan ibunya. Ternyata di balik semua ini ada maksud tersembunyi. Netra yang semula tenang itu berkilat, deru napasnya berat. "Apa-apan ini! Aku menolak!"


"Tolong bantu mama! Perusahaan itu berdiri berkat hasil jerih payah ayahmu. Mama tak ingin ini berakhir. Tolong sekali ini saja! Demi perusahaan warisan ayahmu. Mama tahu ini sulit bagimu, tapi semua ini bukan kehendak mama. Keadaan yang memaksa kita, hanya ini satu-satunya jalan pintas," Bu Hilma menahan pergelangan tangan putranya dengan linangan air mata.


"Sampai kapan Mama akan menggadaikan kebahagiaanku, hah?" Nino berbalik, menatap tajam ibunya. Ia menghempaskan tangan renta itu di atas kasur.


"Kukira Mama sudah berubah, ternyata tetap berhati iblis!"


Nino meninggalkan ruang tidur itu dengan penuh amarah, ia menendang daun pintu yang menghalangi jalannya dengan sekuat tenaga. Bu Hilma tak mampu lagi mencegah kepergian putra semata wayangnya, hatinya kembali hancur. Bukan karena sentakan Nino, tetapi karena ia gagal menjadi seorang ibu yang mengayomi anak. Tubuhnya terasa sangat lemas, pandangannya mendadak berkunang-kunang. Ia meraba botol obat di nakas untuk meredakan nyeri di dadanya, tetapi pusing yang melanda kian mengaburkan penglihatannya.


Prangg!


Sebuah gelas berisi air putih terjatuh dari tempatnya. Dengan cepat Bi Inah berlari menuju ruang tidur sang majikan. Ia segera menolong wanita itu, mengambilkan beberapa obat dan segelas air putih baru.


"Minumlah ini, Nyonya. Apa yang terjadi? Mengapa Anda tidak memanggil saya?" cerca asisten rumah tangga kepercayaan Bu Hilma itu.


Wanita it meneguk habis air dan obat yang diberikan Inah. Ia mengatur napas, memejamkan mata sejenak. "Tolong panggilkan Sailendra!"


"Baik, Nyonya. Saya pamit undur diri," ujar Bi Inah dengan tak mengurangi rasa hormat.


Tak berapa lama, Pak Sailendra hadir. Manik matanya menyusuri ruang kamar. Bekas ceceran air masih tersisa di sana. Ia mengernyitkan alis dengan heran. "Ada apa ini?"


"Nino baru saja ke mari, Pa."


"Bagus, di mana dia sekarang?" tanya pria itu sembari celingukkan mencari putra tirinya.


"Sudaj pulang, dia menolak untuk menikahi Rere. Mama sudah berusaha membujuknya, tapi tidak berhasil," kata Bu Hilma dengan tatapan sendu.


Pak Sailendra menggertakkan gigi. Bagian ini yang paling sulit, membuat anak badung itu tunduk pada perintahnya. Apa yang harus ia lakukan? Padahal kemenangan sudah di depan mata!


"Tenanglah, Ma! Papa akan menemuinya besok di kantor. Siapa tahu dia berubah pikiran?" Pak Sailendra berusaha membujuk kembali istrinya.


"Terserah Papa saja, asalkan jangan membuat keribuatn lagi!"


Pria itu mengganguk patuh, manik matanya bergerak liar. Bagaimanapun caranya ia harus membuat Nino menikahi Rere! Tak peduli jika itu akan menghancurkan seisi pabrik sekali pun.