
Tak terasa seminggu berlalu, semenjak kabar gembira dari Pak Suhandi menyebar luas. Hari ini para staff dengan heboh berkumpul di depan kediaman Nino. Ada beberapa di antara mereka membawa carrier besar, yang entah terisi dengan apa saja hingga menggembung.
Jantung Aluna berdegub begitu kencang melihat taman depan rumah megah itu. Beberapa waktu lalu, masih segar dalam ingatan. Dirinya menangis di bawah guyuran hujan, merutuki diri dan cintanya kepada Nino di tempat penuh hamparan bunga crysant itu.
Sampai hari ini, Nino tidak memberi kabar ataupun sekedar membalas pesan Aluna. Ada sedikit kekecewaan, merasa teracuhkan. Mungkin hubungan mereka cukup sampai di sini saja. Tidak ada lagi kesempatan kedua sepertinya.
Nino keluar dari kediaman yang besar bak istana itu lengkap dengan pakaian mendaki. Sebuah jaket gunung tebal berwarna merah membalut tubuhnya. Ditambah dengan sepasang sepatu hiking berwarna cokelat pekat menambah kesan keren pria itu.
Tak lupa juga ia membawa sebuah tas gunung. Tidak begitu besar, tetapi cukup untuk menaruh sebuah sleeping bed dan beberapa benda kecil lainnya.
Selang beberapa menit, kendaraan travel datang menghampiri mereka. Hanya ada 15 orang termasuk Nino yang ikut dalam perjalanan kali ini. Mereka siap menaklukkan gunung tertinggi di pulau jawa itu.
-**
Setelah beberapa jam melalui perjalanan yang cukup memanjakan mata. Mereka tiba di Tumpang, pintu masuk ke arah Mahameru. Di sana mereka memutuskan untuk membeli beberapa bahan makanan yang diperlukan.
"Ayo kita beli beberapa bahan makanan untuk stock!" ajak Pak Suhandi bersemangat.
Walaupun berbadan tambun pria itu paling bersemangat di antara pendaki lainnya. Mereka membeli beberapa bahan makanan, gas dan peralatan memasak. Tak lupa mereka juga menyewa tenda dan flysheet.
"Oke, semua keperluan mendaki sudah lengkap. Kini saatnya kita mencari surat keterangan sehat di sini," ucap Nino kepada para staffnya.
Aluna mengerutkan dahinya. "Bikin surat keterangan sehat di pasar ini?"
Pak Suhandi dan beberapa karyawan pria lainnya terkekeh mendengar celetukan Aluna yang polos. Nino menahan tawanya dan tetap bersikap dingin.
"Bukan, tapi di klinik-klinik itu." Nino menunjuk beberapa klinik yang ada di area pasar Tumpang.
Aluna mengangguk dan tertunduk malu. Entah, benar malu atau karena yang menjawab itu mantan kekasihnya. Sehingga ia tak berani menatap pria itu langsung. Saat ini waktunya untuk bersenang-senang bukannya bergulat dengan ego.
"Semua sudah mendapatkan surat keterangan ya?" teriak Pak Suhandi.
"Sudah." Para staff itu menjawab serempak bagaikan kawanan anak ayam.
"Bagus, kita lanjutkan perjalanan."
Perjalanan dari pasar Tumpang menuju Ranu Pani, memakan waktu sekitar tiga jam bagi rombongan Nino dengan jalur yang naik turun dan berkelok. Sepanjang perjalanan, mereka melewati Coban Pelangi dan dapat melihat pemandangan indah dari perkebunan di bukit. Bukit Teletubbies dan pemandangan hijau lainnya yang bak permadani berukuran raksasa. Beruntungnya lagi jalanan itu sudah teraspal halus, sehingga mereka dapat melenggang santai.
"Ah, aku merasa sedikit lelah," keluh Aluna yang memang satu-satunya seorang pendaki wanita dalam rombongan itu.
"Istirahatlah dulu!" ucap salah satu staff bernama Yeri.
"Benar, sembari menunggu kelengkapan. Kamu bisa mengisi tenangamu di sini," timpal yang lain.
Aluna mengangguk patuh, ia tidak memperhatikan ekor mata Nino yang selalu bergerak mengawasinya. Wanita itu menyelonjorkan kaki di salah satu pilar yang terdapat di sana.
Ranu Pani merupakan desa terakhir sebelum memulai pendakian Semeru. Setibanya di sana, Nino selaku ketua kelompok langsung menuju pos untuk mengirim kelengkapan dokumen yang diperlukan, seperti foto kopi KTP anggota tim, bukti pembayaran, surat keterangan sehat dan beberapa keperluan lainnya.
"Baik, semua data sudah lengkap. ini SIMAKSI kalian, tolong dijaga dengan baik hingga akhir pendakian!" Petugas berambut cepak itu tersenyum simpul pada Nino.
Setelah itu, Nino beserta anggotanya diajak menuju Ruang Briefing untuk diberikan penjelasan oleh relawan Semeru tentang pendakian. Mereka memberi penjelasan tentang jalur, apa saja yang boleh mereka lakukan, dan bagaimana caranya mendaki dengan aman.
"Periksa kembali barang bawaan masing-masing, jika ada yang kurang. Kita masih bisa membelinya di sini. Karena ini tempat pemeriksaan terakhir!" tandas Nino memberi perintah.
"Beruntungnya kita sampai di sini sebelum sore ya, Pak," seloroh Pak Suhandi di samping Nino.
"Benar, jika lewat batas waktu. Bisa-bisa kita harus menunda untuk mendaki keesokan harinya."
"Sudah siap?" tanya Nino, kali ini dengan menekankan kata.
"Siap!" Mereka menjawab serentak.
"Baiknya kita berdoa dahulu, lalu melanjutkan petualangan!" ajak Pak Suhandi.
Mereka semua berdoa menurut kepercayaan masing-masing dan segera melanjutkan pendakian. Tak ada canda gurau, mereka benar-benar terbuai oleh kesenangan masing-masing.
Tak terasa satu jam berlalu dan mereka tiba di pos satu. Jalur yang dilalui pun masih berupa batu konblok dan belum menanjak. Mereka menyempatkan diri untuk mengambil beberapa potret di gerbang pendakian Semeru. Termasuk Aluna yang mengambil beberapa foto selfi untuk dipamerkan pada Retno.
"Cukup fotonya! Waktu kita akan habis di sini, mari kita lanjutkan ke pos dua!" teriak Nino mengumpulkan anggotanya.
Hati Aluna berdesir melihat jiwa kepemimpinan Nino. Andai saja mereka masih sepasang kekasih, mungkin dirinya akan mendekap erat lengan kekar itu. Namun, semua itu hanya bayangan semu. Mereka bahkan tidak saling bertegur sapa lagi.
Jarak antara pos satu dengan pos dua sangatlah dekat. Mereka telah tiba di sana hanya dalam waktu 30 menit dengan berjalan cepat. Jalurnya pun sudah berbeda, jika pos pertama berupa batu konblok di pos kedua ini jalur menjadi tanah dan tidak terlalu menanjak. Meskipun begitu, Nino tetap mewanti-wanti anggotanya untuk tetap berhati-hati karena ada jurang yang menganga di bagian kiri jalan.
"Pak, saya merasa sedikit lapar," ucap Pak Suhandi sembari mengusap perut.
Nino menggeleng dan tersenyum. "Kita isi perut dulu di sana, Pak." Pria itu menunjuk sebuah warung kecil yang memang disediakan.
"Boleh saya ajak yang lain?" tawar pria tambun itu lagi.
Pak Suhandi mengekor di belakang Nino sembari beberapa kali menengok ke belakang.
"Tentu, bawa mereka semua ke mari."
Dengan sigap pria berkepala plontos itu melambaikan tangan ke arah para anggota yang sedang selonjoran. Memberi kode untuk mengisi perut dahulu dengan gerakan tangan yang dimasukkan ke dalam mulut.
Lagi-lagi Aluna membuat mereka tertawa dengan pertanyaan konyol. "Mau makan apa di sini? Rumput?"
Wanita itu menghampiri Pak Suhandi dan membersihkan bagian belakang lututnya yang kotor oleh tanah. Tatapannya bertemu dengan Nino, tetapi dengan cepat pria itu membuang muka dan asik dengan pisang gorengnya.
"Di warung itu ada semangka dan gorengan. Pilih saja yang kamu suka, tetapi jangan sampai kekenyangan. Karena itu akan membuat gerakanmu melambat. Lagipula kamu tidak ingin tertinggal 'kan?"
Aluna mengangguk dan mengambil satu iris semangka segar, setelah mengunyah buah berair itu energinya pulih kembali. "Kukira kita mau makan dedaunan itu." Wanita itu mengambil posisi duduk tepat di samping Pak Suhandi.
Hal itu membuat hati Nino meradang. Padahal wanita itu hanya duduk bersebelahan dengan Pak Suhandi, yang berusia jauh di atasnya. Walaupun mereka lebih terlihat seperti ayah dan anak, tetapi api cemburu menjamah relung sanubari pria berdarah Belanda itu.
"Makan saja jika kamu mau!" Setelah menjawab candaan Aluna, Nino pergi bergabung dengan anggota lainnya di dalam warung.