My Edelweiss

My Edelweiss
Kedatangan Nyonya Besar



Kicauan burung dan sentuhan hangat sang mentari merambat masuk melalui celah-celah ventilasi kamar Aluna. Seperti sebuah alram yang memaksa raga untuk segera bangkit dari mimpi indahnya. Netra Aluna mengercap, menghalau cahaya yang berusaha menembus iris matanya. Ia pun mengubah posisi tidurnya dengan membelakangi sumber cahaya itu.


"Lun, bangun! Sudah jam tujuh pagi, kamu enggak kerja kah?" teriak ibu suri dari balik pintu.


Mendengar suara menggema sang ibu, Aluna menggeliat malas. Bersusah payah membuka kelopak matanya yang masih terkatup. Susah sekali untuk dibuka, mungkin ada lem yang melekat di sana.


"Astaga, aku hampir lupa hari ini waktunya laporan!" Aluna melompat dari ranjangnya, dan segera menuju kamar mandi.


Rutinitas paginya itu selesai dalam waktu kurang dari 5 menit. Dengan sigap, pemilik mata almond itu menyambar seragam kebangsaan dan berdandan kilat.


Diraihnya ponsel serta tas kerjanya dan berlari menuju teras.


Namun, Aluna tak menemukan sepeda motor kesayangan di sana. Wajahnya mendadak pias, keringat dingin mengucur dari pori-pori kulit mulusnya.


"Ya ampun, ke mana motorku?!" pekik Aluna sembari menepuk keras kedua pipinya.


"Ibu! Ibu, motor Aluna enggak ada! Gimana ini?" Aluna berlari menghampiri sang ibu yang sedang memasak.


"Ada apa, Lun? Pagi-pagi kaya kebakaran jenggot." Ibu Aluna menatap putrinya dengan bingung.


"Motor Luna hilang, tadi Aluna cari di teras enggak ada!" jawabnya sembari berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.


Aluna menumpahkan isi dalam tasnya di atas meja makan dan meraih ponsel. "Luna harus segera telepon polisi. Dasar maling sialan! Berani banget dia berurusan denganku!"


"Eh, memangnya kemarin malam Aluna pulang bawa motor? Bukannya kamu di antar Nino," celetuk ibunya tiba-tiba sembari mengernyitkan alis.


Mulut Aluna terbuka lebar dan ia menepuk dahinya. "Oh iya. kemarin aku di antar manusia es itu, berarti motorku masih di parkiran kantor. Astaga!"


Aluna mengecek layar ponselnya dan mencari kontak Nino. Beberapa kali tampak ia mengembuskan napas kasar. Dengan gusar ia menunggu panggilan itu tersambung.


"Hallo, Nino kamu harus tanggung jawab!" ucap Aluna tanpa basa basi.


"Apa maksudnya? Aku tidak melakukan kesalahan apapun, tiba-tiba disuruh tanggung jawab,"  jawab Nino dari sebrang."


"Gara-gara kamu, motorku tertinggal di parkiran! Sekarang kamu harus tanggung jawab! Jemput dan antarkan aku kerja!"


"Hmm, mau enggak ya? Boleh deh, tapi ada syaratnya!"


"Apa? Cepat katakan jangan membuang waktu lebih lama lagi!" Aluna semakin kesal.


"Kamu harus memberiku ciuman mesra pagi ini."


Aluna terbelalak, tidak menyangka kalimat alay itu keluar dari mulut kekasihnya.


"Nino jangan bercanda, deh! kalau kamu enggak segera datang, aku blokir kontakmu dan jangan harap bisa bertemu aku lagi!" jawab Aluna.


"Eh, i-iya aku jemput sekarang!" sahut Nino dengan cepat. Tidak berani membantah wanitanya jika Nino masih mau bertahan hidup.


Lelaki itu bergegas menyambar kunci mobil, dan melaju dengan kecepatan penuh. Tak peduli dengan penampilannya yang masih berantakan.


Hadeh, wanita memang memusingkan! Nino mengendarai mobil dengan sangat cepat, sudah seperti pembalap pro.


Sedangkan Aluna mematikan panggilan sembari mendengkus kesal, ia meremas ujung seragam kerja yang dikenakan dengan gemas. Ekor matanya melirik jam dinding yang bergelayut manja di tembok seperti sedang mengejeknya.


"Ya Tuhan, sudah hampir setengah delapan." Aluna menutupi wajah dengan telapak tangan.


"Semoga saja Nino cepat sampai, kalau tidak ...." Wanita itu menggertakkan gigi.


Sang ibu yang sedari tadi mendengar pembicaraan pasangan kekasih itu, hanya menggelengkan kepala. Ia memilih untuk tidak ikut campur urusan anak muda, dan kembali berkencan dengan wajan dan spatula.


Selang 10 menit, mobil avanza putih terparkir manis di depan rumah Aluna. Nino merapikan rambutnya yang tampak berantakan, mungkin terkena angin karena ia membiarkan kaca mobil terbuka.


"Selamat pagi," ucap Nino memberi salam.


"Pagi," jawab Aluna cepat sembari berlari menghampiri kekasihnya.


Aluna tak lagi menghiraukan sang ibu yang memanggil namanya, wanita paruh baya itu bergegas mengikuti putrinya. "Lun, kamu enggak sarapan? Sekalian, Nak Nino di ajak juga. Ayo makan dulu!"


Mata Nino membulat sempurna mendengar ucapan calon mertuanya itu. Apa yang harus dia lakukan lagi?   Sudah cukup kemarin malam ia tersiksa karena perut yang begah. Akhirnya ia menelepon Aluna agar bisa segera terlelap. Namun, tak terasa hingga jam dua malam ia mengoceh dan terus mengeluhkan perutnya yang sakit.


Mati aku!


Aluna menoleh ke arah Nino, sudut bibirnya tertarik ke atas. "Enggak usah, Bu. Jamnya sudah mepet banget nanti malah telat lagi."


"Kalian yakin enggak mau makan? Menu hari ini enak loh."


"Yakin." Nino dan Aluna serempak menjawab.


"Ya sudah, Aluna berangkat dulu," ucapnya sembari mencium punggung tangan sang ibu.


"Hati-hati di jalan. Jangan lupa motornya nanti di bawa pulang!"


"Iya, Bu." Aluna menyembulkan kepala dari balik kaca mobil yang mulai bergerak itu.


"Hmmm, anak muda jaman sekarang sukanya terburu-buru saja. Kalau begitu aku akan menyimpan separuh masakan hari ini untuk mereka." Sang ibu membalikkan tubuh dan bersiap untuk membuka depot.


-**-


"Hihihi," Aluna cekikikan sembari mencuri pandang ke arah Nino. Ia teringat ocehan lelaki di sampingnya itu


"Kamu kenapa? Kesambet jin dari mana? Pagi-pagi malah cekikikan enggak jelas!" rutuk Nino kesal.


"Enggak, aku keinget seseorang yang tadi malam kekenyangan terus wajahnya lucu banget. Habis itu dia enggak bisa tidur terus telepon aku."


"Ishh, terus aja ngejekin aku! Gara-gara kamu bilang kita belum makan, aku jadi tersiksa semalam." Nino mengerucutkan bibirnya.


"Hahahaha, kita impas kan," seloroh Aluna masih dengan gaya mengejek.


Nino memutar bola matanya dan mendengkus kesal. "Dasar wanita aneh!"


Tiga puluh menit kemudian ....


Dua sejoli yang bagaikan tom dan jerry itu tiba di depan kantor. Tampak oleh mereka para karyawan bergerombol di depan pintu masuk. Parkiran mobil pun tampak penuh hari ini. Nino merasakan signal tak beres. Apa yang menyebabkan kericuhan ini?


"Ada apa ya kok ramai sekali?" tanya Aluna sembari celingukkan.


Nino menghendikkan bahu. "Entah, ayo masuk saja!"


Mereka turun dari mobil dengan santai, tiba-tiba seorang security menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.


"Pak Nino, Ibu Hilma dan Tuan besar berkunjung hari ini," ucap security kantor menjawab pertanyaan dalam benak Nino.


Wajah Nino mendadak pias, mereka memasuki lobby.


Nino menangkap bayangan dua orang yang paling dibencinya tepat di baris depan. Ia segera berbalik membelakangi mereka. Enggan bertemu apa lagi menyapa mereka.


Cih, untuk apa mereka ke mari?


Seorang pria paruh baya menatap lurus ke arah Nino dan tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Nyonya, Pak Nino sudah datang. Dia ada di sana," ujar Pak Suhandi sembari menunjuk arah posisi Aluna dan Nino berdiri.


Pasangan suami-istri elite itu menghampiri mereka. Sang wanita memakai gaun terusan berwarna merah maroon, sedangkan pasangannya yang memakai setelan tuxedo menatap Aluna tajam. Tampaknya ia merasa tidak senang dengan kehadiran wanita itu di samping Nino.


"Nino." Wanita itu menyapa putranya lirih.


Sontak mereka berdua menoleh ke arah sumber suara itu berada. Aluna terperanjat kaget, sedangkan Nino bergeming. Tak mengeluarkan suara apapun.


Astaga, bukankah wanita ini adalah orang yang sama dengan foto yang kulihat di rumah Nino tempo hari. Mungkinkah beliau ibunya? Aduh, situasi macam apa ini? Sebaiknya aku segera pergi.


Aluna merasa kikuk dan tak enak hati. tampaknya kehadiran mereka saat ini bukanlah waktu yang tepat. Pria yang berada di samping ibu Nino terus menatapnya sinis. Membuat Aluna salah tingkah dan ingin melarikan diri.


"Ma--ma--maaf, aku permisi dulu."


Aluna menggeser posisi tubuh, ia berniat untuk pergi meninggalkan Nino bersama keluarga yang tampak tak akrab itu. Namun, tangan nino menahan pergerakannya. Pria itu mencengkeram erat lengan Aluna.


"Mau ke mana kamu?" tanya Nino, suara baritonnya membelah kerumunan.


"Aku ma--" Nino menyela kalimat Aluna. "Tetaplah di sini!" ucap Nino tidak terbantahkan.


Pria itu menggandeng tangan Aluna. Mengisi sela-sela kosong di antara jemarinya dengan jari mungil Aluna. Hati Aluna berdesir, wajahnya memanas. Saat ini orang-orang di sekelilingnya menatap mereka.


Mau apa lagi dia ini?


Aluna tertunduk, ia benar-benar merasa sangat malu menjadi pusat perhatian di tempat umum seperti itu. Nino melirik wanitanya, ia mendongakkan wajah Aluna dengan telunjuk kanannya.


"Angkat wajahmu! Kamu tak pantas bersikap merendah di depan mereka." Nino memberikan perintah kepada Aluna yang terlihat segan dengan orang tua Nino, petinggi di kantor tempatnya bekerja.


Aluna menengadah, menatap orangtua kekasihnya. Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas dan membentuk lengkungan. Sebuah senyuman yang terlihat sangat dipaksakan.


"Nino, jawablah sapaan ibumu! Apa kamu tak senang dengan kehadiran kami?" ucap pria berperawakan tinggi besar itu tajam.


Dia adalah Sailendra, ayah tiri Nino. Seseorang yang mengahancurkan impian masa kecilnya. Lelaki yang paling tak ingin ia temui di dunia ini.


"Cih, tak usah basa-basi. Apa mau kalian?"


Netra milik ayah tirinya berkilat merah, dadanya terlihat naik-turun. Tangan kirinya mengepal erat, menatap Aluna dengan pandangan menelisik. "Siapa wanita ini, hah?"