My Edelweiss

My Edelweiss
Hukuman



"Tunggu, apa yang akan kamu lakukan? Ingat ini di kantor." Aluna berusaha meredam amarah Nino.


Lelaki itu menoleh, menatap dingin ke arah calon istrinya. "Aku tidak peduli. Sekali cecunguk itu berani menyentuhmu, tandanya ia harus berhadapan denganku! Akan kuajari pria badung itu tata krama!"


Aluna menarik paksa ujung kemeja Nino sehingga langkah pria itu terhenti. "Tolong jangan membuat keributan! Lagipula ini hal sepele, aku bisa menyelesaikannya."


"Hah, sepele katamu? Kalau suatu hari dirinya melakukan hal yang lebih extreme, kamu mau?"


"Atau jangan-jangan, kamu juga suka dia, hah?" tanya Nino dengan tatapan menelisik.


Wanita bersurai panjang itu menelan salivanya. Tampaknya ia salah memberi penjelasan. Berapa kali pun ia memberi alasan pasti keliru, saat ini Aluna harus memikirkan cara untuk membuat kekasihnya tenang.


"Nino, tolong dengarkan aku! Aku tidak ingin masalah ini sampai terdengar mamamu. Jangan menambah beban pikiran beliau!"


Lelaki itu terdiam sejenak, bagaimanapun apa yang dikatakan Aluna benar. Sebisa mungkin ia harus mengontrol emosi agar tidak memperburuk kondisi mamanya. Akhirnya pria itu luluh dan mengempaskan bokong di sofa.


"Oke, aku tidak akan ikut campur, tapi pastikan cecunguk itu tidak menyentuhmu lagi! Kalau perlu akan kupindah tempat dudukmu." Lagi-lagi Nino mendengkus kesal.


Aluna menarik napas dalam-dalam. Beruntung sekali otaknya masih bisa memikirkan alibi yang tepat. Wanita itu mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipisnya.


Tiba-tiba Nino mendekat, menarik pergelangan tubuh Aluna ke dalam dekapannya. "Tidak semudah itu semua selesai, yang bersalah tetap harus dihukum."


"A-apa? Bu-bukan aku yang melakukannya," sergah Aluna dengan terbata-bata.


Aroma parfum Nino menusuk indera penciuman Aluna, entah mengapa darahnya berdesir hebat. Ia memejamkan netra beberapa detik, kemudian membukanya perlahan. Ini bukan mimpi, kehangatan yang ia rasakan adalah kenyataan.


"Kenapa melihatku begitu, hah?" bentak Nino.


Wanita itu mengerjapkan mata. "Ah, I-itu hukuman apa yang harus kujalani?"


Nino semakin mempererat pelukannya, tidak ada lagi jarak di antara mereka. Deru napas dan detakan jantung saling beradu. Membaur dalam suasana intim itu. Astaga, mau apa mereka? No! Cepat lepaskan tanganmu Nino sebelum setan mengambil alih!


Dada Nino bergemuruh hebat, bagaikan deburan ombak di lautan. Lelaki itu meregangkan pelukannya, menyempatkan diri untuk menatap ke dalam iris mata hitam pekat milik Aluna.


"Kamu harus ikut aku ke rumah sore ini!"


Manik mata Almond itu membulat. "Hukuman apa yang ada di benakmu, hah? Kamu pikir aku wanita panggilan?"


Wajah ayu itu kini berubah menjadi merah padam. Bukan karena tersipu, melainkan memendam amarah. Kata-kata yang diucapkan Nino sungguh ambigu.


"Aku tidak berkata begitu, temani aku di rumah malam ini dan ...."


Aluna memutar bola matanya. "Apa?"


"Nino! Kamu benar-benar mengira aku wanita murahan? Kamu dengan Alfaro sama saja, berotak mesum!" sentak Aluna dengan lantang.


Aluna bergegas bangkit dan mpercepat langkah menuju daun pintu. Namun, Nino menghadang dengan cepat. Tubuh kekar lelaki itu menutupi handle pintu.


"Siapa yang memintamu melakukan hal mesum?" Nino mengernyitkan alis.


Wanita itu membuang muka. "Ha-ha, siapa tadi yang berkata membuatku merasa puas? Oh, aku salah. Mungkin itu hanya suara angin lewat atau jin!"


"Aku hanya mengatakan puas, maksudku puas makan alias kenyang! Coba lihat, siapa yang terlihat mesum di sini?" Nino tersenyum lebar dan menggeleng ringan.


Seketika oksigen terasa sulit untuk masuk ke rongga dada Aluna. Terasa begitu sesak dan ingin meledak. Astaga, ternyata Nino bukan menginginkan tubuhnya melainkan hanya masakan. Mengapa dirinya bisa berpikiran ke arah sana? Memalukan!


"Ma-maaf, kukira tadi-"


Nino membekap mulut Aluna. "Diamlah! Lama-lama kamu seperti burung beo. Turuti perintahku dan jangan sesekali genit dengan pria lain! Paham?"


Aluna mengangguk patuh, sekujur tubuhnya dingin. Tatapan gunung es itu benar-benar mematikan. Nadinya serasa membeku, dan jantungnya berhenti berdetak.


"Bagus." Nino mengecup punggung tangannya yang ia letakkan untuk membekap Aluna.


Hanya sebuah ciuman tak langsung? Mengapa di saat seperti itu Aluna malah berharap Nino bena-benar membelainya? Ternyata apa yang dikatakan kekasihnya benar. Bukan lelaki itu yang berotak kotor, tetapi dia --Aluna.


"Kembalilah! Kita akan bertemu nanti sepulang kerja," ucap Nino dengan nada kembali tenang.


Lagi-lagi Aluna hanya mengangguk patuh. "Iya, aku kembali dulu."


"Ingat, jangan menempel pada cecunguk itu!"


Nino terkekeh, ia merasa puas melihat wajah ketakutan Aluna. Baginya ekspresi yang begitu pasrah itu penuh gairah. Semakin membuat lelaki itu jatuh ke dalam pesonanya.


"Salah sendiri masih membela Alfaro! Aku akan tetap membuat perhitungan dengannya. Cecunguk itu harus diberi pelajaran agar tidak membuat ulah!"


-


-


-


Terimakasih telah membaca kisah receh Aluna dan Nino. Jangan lupa like, vote dan komen ya! Dukungan kalian sangat membantu author remahan rempeyek ini.


Sampai jumpa di episode selanjutanya, yaw! 😘😘