
Nino kembali ke ruang kerjanya dengan muka masam. Ia memijat keningnya sembari memejamkan mata. Betapa kesalnya jika ia harus bekerja dengan manusia narsis seperti Alfaro.
Ekor mata cokelat itu melirik seseorang yang baru saja berlalu di hadapannya. Rere selalu membuntuti kemana pun pria itu pergi. Risih sebenarnya jika segala pergerakannya diikuti oleh wanita aneh tersebut.
Namun, karena ayah Rere telah memberikan suntikan dana yang besar bagi perusahaan Sasongko. Mau tak mau Nino harus menerima nasibnya yang selalu diikuti Rere. Memang benar cabang yang baru saja mereka buka itu berasal dari uang pemberian Ayah Rere. Hitung-hitung pengorbanan Nino ini bentuk dari membalas hutang budi pada ayah Rere.
"Re, bisakah kamu membelikanku sekaleng minuman isotonik? Aku merasa sangat haus, tapi jika kamu tidak mau aku bisa memimta bantuan office boy."
"Baik aku akan membelinya, untuk Nino apa sih yang tidak. Sekalian aku juga mau beli beberapa makanan ringan. Tunggu ya, Honey!"
Nino mengiyakan perintah Rere hanya dengan anggukkan pelan. Akhirnya wanita itu pergi, paru-parunya merasa bisa menghirup udara lebih bebas. Sejak kedatangan Rere, hari-hari yang dilaluinya penuh dengan intrik. Sangat melelahkan dan membuat kepala ingin meledak.
Pria itu meraih ponsel, ia menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Kemudian ia mengecek beberapa pesan singkat dari para client. Entah apa yang membuat pikirannya semakin kalut, emosinya juga sering meledak-ledak sendiri tiap kali membaca pesan para rekan kerjanya.
"Persetan dengan profit!" rutuknya sembari memukul lapisan teratas meja kerjanya.
Nino iseng membuka galeri dan dirinya mendapati foto selfi terakhirnya dengan Aluna. Dadanya kembali berdesir, darahnya bergemuruh melihat wajah ayu yang masih menguasai palung hatinya itu.
"Aluna, aku tahu sekarang kamu begitu membenciku 'kan?" tanya Nino lirih pada benda mati yang dipegangnya.
Tiba-tiba Rere muncul dari balik pintu, ia menyelonong begitu saja tanpa mengetuk pintu. Wanita itu membawa sekeresek minuman dan makanan ringan. Tampaknya ia menikmati setiap saat bersama Nino, sampai-sampai membeli banyak cemilan sembari menunggu pekerjaan pria idamannya selesai.
-**
Di sisi lain Aluna tampak gelisah, ia harus meminta tanda tangan Nino untuk surat izin keluar barang. Jika ia meminta bantuan Pak Suhandi, pria itu pasti akan menyarankan untuk langsung ke ruangan Nino.
Aluna menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya. Berulang kali gadis itu melakukan hal itu, seperti akan melahirkan saja. Dengan mengatas namakan profesionalitas, Aluna bergegas menuju ruangan mantan kekasihnya.
"Selamat siang, boleh saya masuk?" tanya Aluna dari balik pintu.
"Silakan!" jawab Nino penuh antusias.
Pria itu sangat mengenal suara itu, bahana yang selalu memberinya semangat dengan omelan-omelan lucunya. Ia sangat merindukan kebersamaan mereka.
Aluna membuka daun pintu perlahan, pertama dirinya disambut oleh tatapan tajam Rere--sang macan betina--yang terus mengikuti pergerakannya. Padahal ia hanya ingin melaksanakan kewajiban sebagai seorang warehouse.
"Maaf, Pak. Saya mau minta tanda tangan," ucap Aluna sembari menunduk.
Kejadian ini bagaikan de javu, mereka sama-sama merasakan hal itu. Namun, kali ini yang berbeda ada Rere di sana. Tidak akan ada kemesraan mereka, tidak akan ada lagi candaan dan cubitan mesra.
Nino memejamkan mata. "Baik, di mana aku harus tanda tangan?"
"Di sini, Pak." Aluna menunjukkan posisi di mana Nino harus menorehkan tanda tangannya.
Selepas memperoleh apa yang ia butuhkan, Aluna pamit undur diri. Namun, Rere membentangkan kedua tangan untuk menghadang Aluna. "Tetaplah di sini!" Wanita itu menghampiri Nino dan duduk di pangkuan mantan kekasih Aluna, ia melingkarkan tangan di leher kekar Nino.
"Oh, aku lupa gadis sepertimu mana sanggup. memahami kata-kata wanita terpelajar sepertiku," hina Rere sembari menyeringai.
Aluna bergemimg sembari memegang ujung map dengan tangan bergetar. Andai saja ini bukan di kantor, dirinya ingin segera menumbuk habis Rere. Apa untungnya dia terus membuat Aluna kesal? Balas dendam kah? Atau sengaja agar Aluna tak berpikir untuk kembali ke pelukan Nino.
"Jawab! Atau otakmu memang tidak bisa merangkai kata-kata yang baik? Bagaimana sih perusahaan besar begini bisa menerima karyawan tak berguna?!"
Mata Nino terbelalak, ia segera menyingkirkan wanita rubah itu dari tubuhnya. "Cukup, Re. Biarkan dia pergi!"
"Hust, hust pergilah! Aku muak melihat wajahmu yang sok cantik itu!" cerca Rere lagi.
"Aku akan pergi tanpa kamu memintanya. Toh, aku merasa jijik dan mual melihat kalian!" hardik Aluna sembari memegang handle pintu.
Mantan kekasih Nino itu membanting pintu dengan keras, sehingga menimbulkan suara yang nyaring. Hampir saja perang para emak-emak di mulai. Nino merasa seperti wasit yang berkewajiban untuk menengahi mereka berdua. Hanya berlaku di dalam ruang lingkup perusahaan.
Nino menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Sial!"
Entah siapa yang dirutuk Nino, Aluna atau Rere? Yang jelas api amarahnya kembali tersulut. Berkobar dan membakar habis nuraninya. Tekanan demi tekanan yang membuat otaknya blank, menjadikan Nino tak dapat berpikir jernih.
Bahkan saat Aluna dihina di depannya, ia tak melakukan apapun. Nino berharap dapat memperbaiki hubungan mereka, walaupun itu hanya sebatas teman. Nino tersadar dan merasakan cinta mereka telah dilukainya. Sehingga pada akhirnya ia harus kehilangan Aluna. Tidak ada wanita manapun yang mampu menggantikan posisi Aluna.
Penyesalan memang selalu datang di akhir, Nino sudah tak berharap lebih. Apalagi hari ini benang merah di antara mereka semakin menebal. Membatasi pergerakan mereka, benar berada dalam satu bangunan.
"Honey, kenapa kamu melamun?" tanya Rere sembari membuka makanan ringan.
Nino menatap Rere lekat, wanita di depannya benar-benar sudah tidak memiliki hati. Tanpa rasa bersalah sedikitpun ia menyakiti orang lain, bahkan masih bisa mengemil. Seakan kejadian barusan bukan ulahnya.
"Re, aku mohon jangan bersikap tidak tidak pantas di depan karyawan lain. Aku tidak ingin mereka menganggap aneh-aneh."
"Oh, kamu masih mencintai dia?" tanya Rere tanpa basa-basi.
Pertanyaan yang menohok bagi Nino. Jika dirinya menjawab "tidak", itu artinya ia membohongi hatinya sendiri. Namun, jika ia berkata "iya" akankah semua baik-baik saja? Pilihan yang sangt sederhana, tetapi sangat menentukan hidupnya.
"Terserah apa pendapatmu. Aku hanya meminta agar kamu tidak melampaui batasan."
"Baiklah, aku akan menurutimu," ujar Rere sembari tersenyum memamerkan kawat gigi yang baru dipasangnya beberapa hari lalu.
Nino sangat menyyesali keputusannya untuk meninggalkan Aluna hamya demi materi. Mungkin sekarang ini cara terbaik agar Aluna tak makin terluka. Aluna mencintainya dengan cara sederhana, tapi sangat membekas.
"Aluna ...." Nino memanggil nama Aluna sembari memandang lemari.
Tuhan, ini sangat sulit bagiku. Berilah aku petunjuk mana yang harus kupilih. Jadikanlah imanku sebagai pacuan hidup.