My Edelweiss

My Edelweiss
Tantangan



Keesokan harinya ....


Jamahan hangat sang mentari menyusup di tenda Aluna. Walaupun udara di sana masih terasa dingin, tetapi tidak menusuk seperti kemarin malam. Gadis itu meregangkan otot-ototnya. Menggeliat manja di dalam sleeping bag yang menyelimuti tubuh sintalnya. Ia bersiap menuju toilet untuk membersihkan diri.


Aluna melangkah keluar tenda dengan mengucek mata. Ia terus berjalan tanpa memperhatikan ada yang berbeda dengan sekelikingnya. Seseorang tiba-tiba memanggil namanya dari balik punggung.


"Aluna," sapa seseorang dengan nada bergetar.


Wanita itu menghentikan langkah, ia sangat mengenal pemilik suara berat itu. Suara yang selalu menemani hari-harinya beberapa tahun ini. Suara yang selalu membuatnya menangis sesenggukan karena merasa kehilangan dan hampa.


Aluna membalikkan badannya perlahan, entah mengapa tanganya seketika dingin. Bukan karena belaian sang bayu dan dinginnya Mahameru, melainkan karena perasaan yang menyusup di relung batinnya seperti saat ia pertama kali bertemu Nino.


"Hah!" Aluna menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan kedua telapak tangan.


Manik matanya membulat sempurna melihat Nino yang berdiri bersama para rekan kerjanya di kantor. Mantan kekasihnya itu berada di barisan depan, membawa sebucket bunga Edelweiss yang telah dibudidayakan. Sedangkan para staff lain termasuk Pak Suhandi, memegang beberapa lembar kertas HVS bertuliskan "Will You Marry Me?"


Tulisan itu hanya dihias dengan spidol berwarna-warni. Sangat sederhana, tetapi mampu membuat Aluna terpaku sesaat. Manik matanya berkaca-kaca, menahan haru dan perasaan bahagia. Sampai-sampai ia tak mampu mengucapkan apapun.


Perlahan Nino mendekat, menghampiri wanita pujaannya. Kemudian ia menatap lekat wajah yang beberapa minggu ini telah dilukainya. "Maafkan, aku. Maukah kamu memulai kembali kehidupan bersamaku? Mengawali semuanya di selembar kertas putih polos bagaikan HVS, dan menghiasinya dengan kehangatan cintamu yang berwarna. Sama seperti tulisan di sana."


Nino menyodorkan bunga Edelweiss itu kepada Aluna. Gadis itu bergeming, masih saja tak menyangka ini akan terjadi. Setelah apa yang pernah dikatakan Nino dan kejadian di hari ulang tahunnya, bahkan berharap untuk bisa kembali menjadi kekasih Nino pun tidak.


Namun, hari ini pria itu mematahkan segala argumennya. Berbalik membuat dirinya membeku, perangai Nino benar-benar tidak bisa ditebaknya. Hari ini dia begitu romantis, bisa saja besok dia menjadi begitu possesif dan dingin. Sesuai dengan karakternya sebagai pria aries.


"Jawab! Jawab! Jawab!" Sorak para pendaki lain yang menonton pertunjukkan mereka.


Drama yang telah disusun oleh Nino berhasil menarik perhatian rombongan pendaki lain. Mereka terus bersorak, ada yang berteriak kencang untuk menerima. Ada pula yang berseru dan mengusulkan tantangan.


"Kalau itu memang cinta sejati, buktikan dulu, Bung! Anda harus mendaki tanjakan cinta dan tidak boleh menoleh ke belakang, jika berhasil dia benar pria yang pantas untuk Anda, Nona." Seseorang berjaket gunung biru memberikan tantangan untuk Nino.


Mendengar usulan itu Aluna tersadar dari buaian. Benar! Itu bisa memberikannya sedikit jeda untuk bernapas dan berpikiran jernih. Tanpa membuang waktu Aluna berseru. "Aku ingin kamu membuktikan cintamu, sebagai hukuman atas apa yang pernah kamu lakukan padaku. Dakilah tanjakan cinta, jika memang di hatimu hanya ada aku."


Mantan kekasih Aluna itu tersenyum simpul. "Jangankan tanjakan cinta, puncak Mahameru pun akan kudaki! Jika itu adalah salah satu cara agar aku bisa memilikimu kembali."


Nino meletakkan bunga edelweiss yang dibawanya di bawah Aluna kemudian berlalu pergi. Sorakan memenuhi danau berair jernih dan sejuk itu. Para pendaki lain yang menjadi penonton terus bersorak mendukung sikap gentel Nino.


Pemandangan indah kala mentari merekah membuat pendakian semakin sempurna, memberikan semangat baru untuk melanjutkan perjalanan. Mereka segera meringkas tenda besar, dan mengisi perut dengan menu seadanya sebagai tambahan energi.


"Apa letak tanjakan cinta itu jauh?" tanya Aluna pada Yeri.


Walaupun Nino sudah kembali menyatakan lamarannya. Aluna masih belum berani berbicara banyak pada mantan kekasihnya itu. Ia terus saja menempel pada Yeri yang wajahnya tampak sedikit pucat.


Tiba-tiba pria itu limbung, jatuh dari tempat ia duduk. Tubuhnya teebaring lemah di atas hamparan pasir. Manik mata pria itu terbelalak, tetapi tubuhnya meeingkuk dan menggigil hebat. Aluna yang berada paling dekat dengan Yeri memekik keras.


Aluna semakin histeris ketika ia melihat cairan segar berwarna merah mengalir dari hidung Yeri. Tanpa menunggu lagi, ia segera menepuk bahu Pak Suhandi yang berada lumayan jauh dari mereka.


"Pak, tolong Yeri sepertinya sakit!"


Pria berkepala plontos itu mengerutkan kening. "Hah?" Pak Suhandi segera menuju arah di mana tubuh Yeri tergolek. Ia memeriksa denyut nadi pria bertubuh kurus itu.


"Astaga, Pak Nino! Yeri mengalami hipotermia berat!" teriak Pak Suhandi yang mulai kelabakan.


Tiba-tiba Yeri berteriak-teriak bagaikan orang kesurupan setan. Nino segera menggotong tubuh ringkih itu ke dalam tenda, ia membungkus tubuh Yeri dengan sleeping bag. Berusaha semaksimal mungkin, agar rekan kerjanya itu tidak berada di fase hibernasi.


"Sadarlah, Yer! Ini aku!" Nino menepuk-nepuk pipi Yeri yang terasa amat dingin.


"Seseorang tolong buatkan minuman hangat! Cepat!" teriak Nino dari dalam tenda.


Aluna yang mendengar perintah itu bergegas mengambil sedikit air di Ranu Kumbolo dan menyalakan kompor listrik. Tangannya bergetar hebat, masih jelas bayangan wajah Yeri kulitnya pucat dan bola mata pria itu tampak membesar. Sungguh pemandangan yang menakutkan.


"I-ini minumannya," ucap Aluna sembari menyodorkan segelas besar teh hangat.


Nino menatap lembut Aluna, kali ini dingin menusuk tepat di jantung gadis berparas oriental itu. "Terimakasih."


Usai memberikan pertolongan pertama, Nino keluar dari tenda kecil, tempat dimana Aluna melepaskan lelahnya tadi malam. Ia mendiskusikan sesuatu dengan anggota lainnya.


"Kondisi Yeri tidak baik, apa sebaiknya kita turun sekarang? Atau ada yang masih mau melanjutkan pendakian?" tanya Nino pada anggota tim prianya.


Sebagian dari mereka mengangguk, tetapi ada juga yang menggelang pelan. Mungkin mereka takut jika hal serupa terjadi lagi. Nino menerima apapun keputusan mereka, karena nyawa memang yang terpenting saat di alam bebas.


"Jika kita berhenti, bagaimana dengan pembuktian cinta Anda, Pak?" tanya Raka tanpa basa-basi.


"Itu janjiku, aku yang akan menepatinya."


"Kalian bisa beristirahat di sini, aku akan naik ke atas. Setelah itu kembali ke sini lagi dan bergabung bersama kalian," sambung Nino dengan nada meyakinkan.


"Tidak! Saya akan menemani Anda." Awan yang sejak tadi diam, kini angkat bicara.


"Saya juga! Bukankah nanti butuh seseorang untuk merekam? Saya siap!" tawar seseorang lagi, yang berambut ikal dengan semangat.


Nino tersenyum, walaupun jarak tanjakan cinta tak seberapa jauh. Dirinya sangat bangga memiliki anak buah yang setia menemaninya.


"Pak Suhandi, Anda tetap di sini bersama yang lain. Dirikan saja kembali tenda utama untuk kalian beristirahat."


"Baiklah, Pak. Saya doakan tidak ada gangguan yang membuat Anda menoleh ke belakang. Jaga diri Anda!" tutur Pak Suhandi sembari menepuk bahu Nino.