My Edelweiss

My Edelweiss
Benda Wasiat



Penyesalan terbesarku adalah mengapa aku tidak memilihmu sedari awal ~ Nino Huzair Sasongko.


.


.


.


Usai membicarakan perihal pernikahan, Aluna beserta ibunya pun berpamitan pulang. Wajah Nino terlihat bersemu merah, entah karena efek sunburn selepas mendaki atau memang karena tersipu.


Tatapan mereka beradu sesaat, tak peduli Bu Asmi masih berada di sana. Waktu serasa bergerak sangat lambat, seakan tak rela mereka berpisah. Kali ini gerbang pernikahan terbentang di hadapan mereka. Dua bulan lagi, ikatan yang mereka jaga 'kan menjadi janji suci.


-**


Aluna mengucek kelopak matanya yang baru saja terbuka. Beberapa kali tampak wanita itu terantuk benda-benda yang berada di sekelilingnya. Mungkin saja ia masih merasa kantuk dan nyawa dalam raganya belum terkumpul.


"Baiklah, hari minggu yang berbeda. Waktunya mandi dan pergi ke rumah Bu Hilma," ocehnya sembari membuka daun pintu.


Usai melakukan ritual di kamar mandi, Aluna bergegas berpakaian dan meraih kunci motornya. Bu Asmi melongokkan kepala, tidak biasanya putrinya pergi sepagi itu ketika weekend.


"Lun, kamu mau kemana? Makan dulu!"


Gadis itu terus saja berjalan ke depan dan mengendarai sepeda motornya. "Nanti saja, Bu. Luna ada urusan sebentar."


Aluna memacu kendaraan roda duanya dengan ragu-ragu. Sebenarnya apa yang ingin calon mertuanya berikan? Ini aneh, bahkan Nino saja tidak mengetahui bahwa mereka membuat janji.


Lima belas menit berlalu, dan Aluna telah tiba di kediaman megah Bu Hilma. Tentu saja, karena wanita itu adalah seorang direksi sekaligus founder. Tak perlu diragukan lagi, struktur bangunan dan interior ditata dengan apik.


Langkah kecil Aluna disambut oleh Bi Inah yang memang telah menunggu kedatangannya. "Silakan masuk, Non!"


"Terima kasih, Bi. Dimana Bu Hilma?" tanya Aluna dengan tatapan menelisik.


"Mama mertua Non ada di ruang atas, tadi beliau berpesan agar Non Aluna langsung naik saja."


Wanita itu mengangguk setuju dan menaiki satu per satu anak tangga. Entah, berapa banyak jumlahnya, yang pasti cukup membuat kaki Aluna terasa pegal. Hampir saja Aluna keliru memasuki ruangan lain, di lantai atas terdapat empat buah kamar, yang memang dikhususkan untuk para tamu.


"Selamat pagi," sapa Aluna sembari mengetuk pintu yang telah terbuka.


"Pagi, Aluna. Kemarilah, Nak!" Bu Hilma melambaikan tangan ke arah calon menantunya.


"Ada apa, Ma? Sampai-sampai Mama merahasiakan ini dari Nino."


Aluna mendekatkan dirinya, dan kini ia mengambil posisi duduk di samping kursi roda sang mertua. "Apa sangat penting?"


"Haha, Mama ingin membuatkan sesuatu untukmu. Sengaja mama rahasiakan ini, karena Nino pasti berpikir semuanya hanya membuang-buang uang saja."


"Hmm, terima kasih, Ma." Aluna tertunduk mau, meskipun ia juga belum tahu apa yang akan diberikan sang mertua.


Asisten rumah tangga yang setia mengabdi pada keluarga itu tiba-tiba muncul, di belakangnya ada seorang wanita bersurai panjang, tubuhnya semampai dan jika dilihat dari penampilannya tampak seperti orang berada dan ada seorang wanita lagi, tetapi tidak terlalu mencolok.


"Margareth, ini Aluna menantuku. Dan Aluna, ini Maegareth, desainer kepercayaan keluarga Sasongko." Bu Hilma melempar senyum ke arah Aluna yang tersipu.


Wanita yang dipanggil Margareth itu tersenyum sembari mengulurkan tangan. " Margareth Flabionsa. Senang bertemu dengan Anda, Nona ...."


Aluna pun menyambut tangan mulus itu dengan cepat. "Aluna Tavisha. Senang bisa mengenal Anda, Nona Margareth."


"Bagaimana jika kalian berdua memanggil nama saja? Bukankah kalian juga sebaya?" usul Bu Hilma.


"Baiklah, Langsung saya ukur saja ya, Nyonya?" Margareth mengambil sebuah meteran kain dari tas uang sedari tadi ditentengnya.


Bi Hilma mengangguk, sebagai pertanda bahwa beliau setuju dengan permintaan Margareth. Tampaknya mereka juga sudah saling akrab satu sama lain. Hal itu terlihat dari gerak-gerik wanita itu.


"lingkar dada 86, lingkar pinggang 68 dan pinggul 102," ucap Margareth kepada salah satu asistennya yang bertugas untuk mencatat.


"Nyonya, konsepnya seperti yang Anda tunjukkan kemarin ya?" tanya Margareth lagi.


Ibu kandung Nino itu mengangguk seraya tersenyum. "Bahannya sudah siap 'kan?"


"Sudah, kemarin selepas Anda memberi kabar, saya langsung berburu kainnya."


"Saya undur diri dulu, Permisi." Margareth berlalu pergi, diikuti oleh wanita bertubuh semok yang ternyata asistennya.


"Hmm, maaf lancang, Nyonya. Apakah kita jadi ke ruang tengah?"


"Ah, iya! Untung saja kamu mengingatkannya, Inah. Aku hampir saja lupa, tolong bantu aku kesana!" titah Bu Hilma kepada asistennya.


Aluna hanya mengamati, bergeming saja tanpa mengucapkan apapun.


"Astaga, Aluna ayo ikuti mama! Kenapa diam saja di situ?"


Pemilik mata sipit itu tersentak. "Sa-saya juga, Ma?"


Bu Hilma tersenyum simpul. "Iya, ikuti mama! Nanti kamu kesasar lag."


Ternyata Bu Hilma ini orangnya supel, kesehariannya di rumah sangat berbeda jauh dengan ketika ia berada di kantor. Banyak yang bilang wanita berusia paruh baya itu begitu kolot.


Namun, saat ini Aluna membuktikan pernyataan itu hanya isapan jempol. Sikap Bu Hilma sangat terbuka padanya, bahkan ia merasa seperti bersama teman sebaya. Pembawaan ibu Nino itu begitu luwes, tak diragukan lagi caranya berkomunikasi.


Sang abdi dalem berperawakan tinggi itu mendorong kursi roda dengan hati-hati, melewati setiap koridor rumah. Sebisa mungkin membuat majikannya merasa nyaman dan tidak terganggu. Sedangkan Aluna mengekor mereka sembari menikmati lukisan-lukisan yang dipasang di sepanjang lorong.


Bi Inah adalah salah satu orang kepercayaan Bu Hilma. Ia sudah bekerja pada keluarga berada itu selama 12 tahun, seolah-olah hidupnya hanya untuk mengabdi kepada keluarga itu.


"Cukup, berhenti di sini saja, Bi Inah!" perintah Bu Hilma.


"Baik, Nyonya. Apakah Anda membutuhkan sesuatu lagi?" tanya Bi Inah masih dengan kepala tertunduk.


Bi Hilma tersenyum tipis, dan menunjuk kotak kayu kecil di atas meja kerjanya. Dengan segera Bi Inah mengambil kotak itu dan memberikannya pada sang majikan.


Beliau menatap lekat-lekat kotak yang telah usang itu. Diusap lembut permukaannya untuk menghilangkan debu-debu yang menghiasi coraknya.


"Aluna, tahukah kamu apa isi dalam kotak ini?" tanya Bu Hilma tiba-tiba.


Kekasih Nino itu terjingkat dan menoleh ke arah calon ibu mertuanya. "Ah, Aluna tidak mengetahui apa isi kotak itu "


"Kotak ini menyimpan kenangan indahku. Maukah kamu membantuku membukanya?" Bu Hilma menoleh ke arah samping tepat dimana Aluna berdiri.


"Mama percaya padamu. Tolong bukakan kotak ini!" ucapnya lagi, ketika ia melihat keraguan yang tersirat di wajah calon menantunya itu.


"Baiklah, Ma. Dengan senang hati," jawab Aluna sembari mengambil tuas kecil yang disodorkan Bi Inah.


Kriek!


Derit kecil terdengar ketika kotak kayu itu terbuka. Untuk beberapa detik Aluna terbengong melihat isi dari kotak usang itu.


Dengan tangan gemetar ia menyerahkan kotak itu pada calon mertuanya. Ny. Bu Hilma tersenyum lebar, rona bahagia menyelimuti raut wajah ayu yang tak lekang oleh waktu. Diraihnya benda bersinar dalam kotak usang itu.


"Sasongko ...," bisik Bu Hilma sangat lirih.


Sang direksi itu memejamkan mata dan menarik napas dalam. "Ambilah ini, Aluna!"


"Ta-tapi Aluna tidak bisa menerima barang mewah itu, Ma."


Kening yang tampak keriput itu berkerut. "Kenapa? Aluna sebentar lagi resmi menjadi bagian keluarga Sasongko. Lagipula ini memang mama simpan untuk diberikan kepada calon istri, Nino."


Aluna tertunduk malu, mungkin karena ada Bi Inah di sana. Ia merasa tidak pantas menerima pemberian calon mertuanya itu. Karena jika dilihat cincin itu pasti berharga fantastik.


"Bi Inah, bisa tolong ambilkan kami minum?"


"Dengan senang hati, Nyonya.


Bibi Inah mengangguk setuju, dan mempercepat langkahnya. Bayangnya pun menghilang di antara cahaya remang-remang.


Bu Hilma. mengamati setiap sudut ruangan kerjanya dahulu. Sudah sangat lama, semenjak sakit dirinya tak pernah lagi berkunjung.


Ia tersenyum bahagia, melihat tatanan barang-barang yang tak bergeser sedikit pun. Padahal, Bi Inah yang memegang kunci ruangan itu, namun ia hanya membersihkannya secara berkala tanpa merubah apapun.


"Ambillah, Nak! Ini milikmu sekarang."