
Sebelumnya aku selalu yakin, bahwa kita hanya dapat mencintai seseorang satu kali. Nyatanya, berulang kali pun aku selalu dibuatnya jatuh cinta. Lagi dan lagi....
~Aluna Tavisha.
💕💕
Aluna membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur. Berbagai macam ritual agar ia bisa terpejam pun telah dilakukannya. Mulai meminum susu cokelat, menghitung domba dalam angan-angan, sampai mendengarkan alunan musik lembut lewat begitu saja.
Wanita itu memeluk guling bersarung motif pikachu dengan erat. Andai saja benda itu bisa berbicara, mungkin akan meronta-ronta dan memohon untuk dibebaskan.
"Kenapa wajah kamu bersliweran? Pergi sana, aku mau tidur," rancau Aluna lirih.
Wajah siapa yang bergentayangan dalam benak Aluna? Tentu saja Nino. Beberapa bulan lalu ia terluka bahkan terlintas niatan mengakhiri hidup.
Namun, logikanya dengan cepat mengambil alih. Menjernihkan kembali hati yang terjebak kemelut. Mendapat sedikit sentuhan saja membuatnya terbuai. Astaga, apa ini yang disebut tergila-gila?
Ponsel hitam metalik yang berada di nakas bergetar, membuat benda pipih itu bergerak maju perlahan. Ah, tampaknya ada seseorang sedang menghubunginya. Jemari lentik itu segera menyambar, ketika ia melihat tampilan nama di layar.
"Hallo, a-ada apa?" Jantung Aluna berdetak sangat cepat.
"Hallo, Sayang. Belum bisa tidur juga?"
Wanita itu melonjak kegirangan, padahal ini bukan kali pertama sang kekasih menelepon. Eh, tapi kalau dipikir-pikir ini pertama kali mereka saling berbicara via suara setelah berpisah 'kan. Pantas saja Aluna kembali merasa nervous.
"Iya, habisanya kamu sih!" rajuk Aluna manja.
"Aku kenapa? Oh iya, tadi lupa mau bilang besok kita ke rumah mama. Gaun pengantinmu sudah siap. Mau 'kan?"
Manik mata Aluna berbinar. " Iya, aku mau."
"Oke, selamat malam, Sayang."
Saking senangnya, Aluna sampai tidak menjawab salam calon suaminya itu. Dia langsung memutuskan panggilan sepihak. Dasar Aluna, sampai kapan ia akan bertingkah begitu? Padahal hari pernikahan mereka semakin dekat.
Setelah ia mendengar suara Nino, hatinya merasa tentram dan netranya mulai mengantuk. Cinta mengubah segalanya, bahkan mata pun ikut terhipnotis. Perlahan, Aluna mengatupkan kedua kelopak matanya.
🕊🕊
Langit yang kelam kini berubah menjadi terang, jamahan sang surya mulai menghangatkan dunia. Aluna pun telah berdandan rapi, lengkap dengan tas kerja di tangannya.
Tiba-tiba, terdengar seseorang mengetuk dari luar. Aluna bergegas membukakan pintu, aneh tidak ada seorang pun di sana. Namun, ketika ia melangkah keluar untuk mengecek lebih jauh. Kakinya terantuk sesuatu, sebuah kotak berwarna cokelat muda.
"Paketan siapa ini?" bisik Aluna dengan alis mengernyit.
Wanita karir itu pun kembali masuk dan mengunci pintu. Berjaga-jaga jika ada maling yang menerobos, karena hari itu ia sendirian di rumah. Sang ibu mendapatkan banyak pesanan, sehingga berangkat lebih awal.
Ia membaca tulisan yang tertera di permukaan benda yang nampak seperti kardus itu. "Tolong segera dibuka! Rawan hilang."
Jiwa penasarannya bergelora, ini paketan untuknya atau sang ibu? Sama sajalah, mereka 'kan tinggal seatap. Jika itu memang punya ibunya, tinggal ia berikan saja nanti. Aluna mulai membuka selotip yang merekat kuat pada benda itu.
Di dalam kotak itu terdapat kotak lain berwarna hitam dan berukuran lebih keclil. Lagi-lagi, Aluna harus menarik perekat itu, sesekali ia melirik jam dinding yang bergelayut manja. Takut jika telat, ternyata masih ada waktu setengah jam lagi.
"Orang iseng kali ya ngirim ini? Masa di dalamnya ada kotak lagi. Menyesal aku buka, buang-buang waktu!" rutuknya pada diri sendiri.
Ketika kotak hitam telah terbuka, di dalamnya terdapat sebuah amplop cokelat besar. Masih dikelilingi dengan isolasi transparant, tetapi lebih tipis dari yang ada di permukaan kotak. Wajah Aluna mulai nampak kesal dan jenuh, jangan-jangan itu hanya kotak kosong!
Aluna meletakkan bungkusan cokelat itu di meja sudut, dan menghampiri suara yang sangat dikenalnya --Nino. "Tumben sudah datang?"
"Nanti kalau aku telat, kamu marah. Sekarang aku datang lebih awal kok tumben. Wanita memang sulit dimengerti."
Wanita itu terkekeh dan menjulurkan lidahnya. "Bwee! Biarinlah, suka-suka aku. Mau sarapan dulu apa enggak?"
"Enggak deh, aku sudah sarapan di rumah." Nino menempatkan bokongnya di salah satu sofa.
Manik mata lelaki itu tertuju pada amplop cokelat yang tergeletak dan sedikit terbuka. "Itu apa?"
"Oh iya, hampir saja lupa." Aluna menyambar bungkusan itu dengan cepat.
"Kamu mau melamar kerjaan lagi?" tanya Nino dengan tatapan menelisik.
Kekasihnya hanya menggeleng ringan dan memeluk amplop itu, lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Beberapa detik kemudian ia kembali di hadapan Nino. Sepertinya Aluna tidak ingin calon suaminya mengetahui isi paketan itu sebelum dirinya. Bisa saja itu untuk ibunya, mungkin berisi dokumen penting.
"Aku enggak tahu punya siapa, tadinya mau kubuka, tapi enggak jadi deh. Mungkin punya ibu. Ayo kita berangkat saja!"
Kening Nino berkerut dan ia mengangkat satu alis. "Enggak ada nama pengirimnya atau ditujukan untuk siapa gitu?"
"Nope! Sudah lupakan saja, ayo buruan!" Aluna menarik lengan kekasihnya dengan lembut.
Suasana yang hening dan hanya ada mereka berdua membuat jiwa usil Nino tergelitik. Ia menarik tubuh Aluna ke dalam pelukannya. "Sandinya mana? Mobil aja butuh bahan bakar untuk jalan. Aku juga dong."
"Nino, jangan bercanda! Nanti aku telat, lho," rajuk Aluna.
Lelaki berdada bidang itu mengembuskan napas kasar. "Lantas kenapa kalau telat? Kamu 'kan datang bersamaku. Siapa yang berani memarahi?"
Benar sekali, siapa yang akan memarahinya? Lelaki yang ada di hadpannya itu 'kan anak dari pemilih perusahaan. Alasan yang kurang tepat, bahkan sangat konyol untuk Nino.
"Emm, ya enggak ada sih yang marah. Emang kamu mau kita digerebek?" tanya Aluna dengan memberi alibi yang lain.
"Memang kita mau ngapain? Aku cuma minta cium pipi."
"Sudahlah, kita pergi saja! Aku sudah enggak mood," ucap Nino sembari menyentil hidung Aluna.
Tubuh Aluna seperti tergerak sendiri, ia menahan langkah sang kekasih. "Enggak jadi?"
"Enggak! Aku takut aura mesummu keluar." Nino mengempaskan tangan Aluna dan berlari menuju mobil.
Wanita itu mendengkus kesal, ia menyambar tas kerjanya dan mengunci pintu. "Awas saja ya, aku bukan wanita mesum!"
Nino terkekeh, terpancar rasa puas karena telah mengerjai calon istrinya. Sebenarnya tentu saja ia mau mendapatkan ciuman. Namun, hanya ada mereka berdua, bahaya sekali jika mereka tidak dapat menahan gelora.
"Biarkan aku menunggu saat aku bisa memilikimu seutuhnya, Aluna. Kalau hanya sebatas cium, aku takut tidak bisa menjaga birahiku saat ini. Sayang, bagaimanapun aku akan menjagamu sampai kita halal."
Pipi Aluna mendadak bersemu merah. Ya, Nino memang tidak sebrutal dahulu. Bahkan bisa dibilang mereka jarang sekali melakukan kissue. Benar adanya, membentengi diri sebelum menikah itu penting.
"Terima kasih, Sayang," ujar Aluna lirih.
Baru kali ini Aluna memanggil Nino dengan sebutan sayang. Rasanya canggung dan membuat wajahnya memanas. Lantas, apa kabar dengan amplop cokelat? Akh, rasanya sudah tidak sabar menunggu. Kejutan indah atau shock terapi yang akan didapatkan Aluna?