
Waktu demi waktu bergulir, hari demi hari pun berganti. Tak terasa tiga bulan berlalu, tetapi kondisi Bu Hilma tidak ada perubahan apapun. Beliau masih belum mampu berjalan di atas kedua kakinya, bahkan untuk berdiri sejenak masih membutuhkan bantuan. Hal ini menyebabkan wanita yang masih tampak cantik walau tanpa polesan itu menjadi sedikit down. Bagaimanapun beliau memiliki tanggung jawab yang besar.
Perusahaan yang dikelolanya mulai mengalami guncangan. Bisa dikatakan hampir bankrut, karena selama tiga bulan beliau harus bedrest dan perusahaan itu untuk sementara berada di bawah naungan Andim, putra sambung dari Sailendra. Peran Bu Hilma sangatlah besar, beliau menjabat sebagai founder dan pemilik saham. Bagaikan rumah tanpa pilar, begitulah kondisi perusahaan yang dikelola Bu Hilma. Entah bagaimana cara Andim memimpin perusahaan, hingga hampir mengalami collapes.
"Sampai kapan aku akan terus begini?" gumam Bu Hilma sembari menyentuh bingkai jendela kamarnya, tetap di atas kursi roda.
Tiba-tiba seorang pria berkemeja hitam datang menghampirinya, menepuk pundak wanita itu pelan. Pria itu mendekatkan wajah, kumis tebal yang membingkai bak Pak Raden itu hampir menyentuh daun telinga Bu Hilma.
"Sayang, jangan terlalu bersedih! Serahkan semuanya padaku. Percayalah!" Pak Sailendra berusaha meyakinkan tekad istrinya yang mulai meredup.
"Iya, tapi mengapa kemarin aku melihat banyak penurunan di laporan periodik?"
Pria itu menelan salivanya dengan pelan. "Mu-mungkin karena banyak pesaing. Ya, di luar sana makin banyak produk serupa dengan milik kita. Namun, Papa yakin sebentar lagi perusahaan kita akan bangkit."
"Bagaimana caranya?" tanya Bu Hilma antusias.
Pak Sailendra membalikkan tubuh, membelakangi istrinya. "Tunggu saja, jika sudah matang, Papa akan memberi kabar gembira itu untuk Mama."
Wanita itu mengangguk patuh, tetapi terbesit kecurigaan di wajah ayunya. Entah, beberapa waktu ini ia mulai memiliki perasaan aneh dengan sang suami. Perangainya berubah semenjak dirinya lumpuh, bahkan putra sulungnya tak kunjung menjenguk Bu Hilma. Alasannya selalu sama, masih sibuk dengan pekerjaan.
"Papa keluar sebentar ya. Hari ini i ada janji dengan Pak Dewangga."
Kening istrinya berkerut, tumben sekali lelaki itu mau repot berurusan dengan client. Biasanya dia hanya memerintah seseorang dan menunggu hasil di rumah. Semakin hari semakin aneh saja kelakuan suami kedua Bu Hilma itu.
"Iya, hati-hati, Pa."
Bu Hilma menatap lurus tubuh suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu. Ada apa gerangan? Namun, wanita itu berusaha menepis kegalauan hati. Ia meyakinkan diri, apapun yang dilakukan sang suami mungkin untuk kebaikan aset berharga mereka. Wanita itu kembali menikmati pemandangan di balik kaca, pemandangan yang sama di lihatnya setiap waktu. Sebuah pohon pinus besar, yang mulai menua. Setiap hari daunnya mulai mengering, gugur satu per satu menyentuh tamah. Mengingatkan Bu Hilma bahwa usianya kian hari bertambah dan semakin dekat dengan kematian.
-**
"Hallo, Re. Maaf membuatmu menunggu." Pak Sailendra mengulurkan tangan pada seorang gadis berambut sebahu.
Gadis itu tersenyum, membenahi kacamata kotak yang membingkai wajah ayunya. "Tidak, Rere baru sepuluh menit yang lalu sampai. Om mau pesan apa?"
"Kopi hitam saja."
Gadis berkacamata itu melambaikan tangan, memanggil seorang pelayan. Menambah kopi hitam di daftar pesanannya. Pak Sailendra mengamati sebuah gelang rantai yang mrlingkari pergelangan tangan gadis itu. Warnanya tampak kuning berkilau, dihiasi beberapa permata yang tampaknya berlian. Membuat pria itu seketika meneguk saliva.
Gila! Gadis ini benar-benar kaya raya, ladang duit bagiku. Aku harus bisa meyakinkannya.
"Bagaimana, Om? Apa yang perlu Om Endra bicarakan denganku?" tanya gadis itu tanpa basa-basi lagi.
Pak Sailendra membenahi posisi tubuhnya, sedikit lebih tegap. Ia menatap lurus gadis berpenampilan glamour itu. "Begini, Re. Om dengar kamu menyukai Nino sejak jaman kalian masih berkuliah, apa itu benar?"
"Kemarin Nino datang ke rumah, dia membawa seorang gadis, tapi ...." Pak Sailendra memutus kalimatnya, sengaja memancing emosi gadis itu.
"Apa? Gadis mana lagi?"
"Bukan gadis yang sepadan denganmu tentunya. Dia hanya gadis biasa, dari kalangan bawah. Om juga tidak setuju, jika Nino bersama dia. Mau ditaruh di mana muka keluarga kami, hah." Ayah tiri Nino membuat obrolan itu semakin panas.
"Lantas, bagaimana caranya Rere bisa memisahkan mereka? Rere sangat mencintai Nino."
"Om akan membantumu untuk melancarkan perjodohan yang pernah om bicarakan dengan papamu, tapi ... ada syarat yang harus kamu penuhi," sambung pria itu sembari mengaduk kopinya.
"Apa? Cepat katakan! Apapun akan Rere lakukan demi mendapatkan cinta Nino, Om!" hardik Rere penuh ambisi. Gadis itu menyelipkan sebagian rmabut di belakang telinga.
"Om akan membantumu untuk mendapatkan cintanya, bahkan sampai dia menikahimu. Namun, kamu harus membuat perusahaan milik keluarga Sasongko menjadi milik om, bagaimana?"
Rere mengerutkan dahi, tak paham apa yang dimaksud lelaki tua itu. Bukankah pria itu juga bagian dari keluarga Nino. Lantas mengapa ia berkata begitu?
"Apa maksudnya, Rere belum jelas."
"Begini, Cantik. Semua saham dan aset keluarga Sasongko masih atas nama istriku. Dan itu nanti akan diberikan pada Nino. Nah, tugasmu hanya satu. Jika nanti kamu sudah menjadi istri Nino, Om mau kamu membujuk dia agar seluruh perusahaan itu beralih menjadi nama om. Kamu paham?"
Rere mengangkat satu alisnya, ternyata lelaki hidung belang di hadapannya itu pria yang licik. Bahkan harta istrinya sendiri ingin dia kuasasi. Jika itu akan membuatnya bisa bersama Nino, Rere akan melakukan perintah konyol itu.
"Baik, itu hal mudah. Lagian kalau sudah menjadi suamiku, Nino tak butuh perusahaan itu lagi, dia akan menjadi pewaris di keluargaku."
"Bagus."
Ayah tiri Nino menyeringai, ia merasa sangat puas. Kali ini ia berhasil menangkap umpan besar, sisanya hanya tinggal meyakinkan istrinya yang tak berdaya itu. Sedikit sentuhan dan muslihat saja, Pak Sailendra yakin Bu Hilma akan tunduk pada keinginannya.
"Nanti om hubungi lagi. Setelah om berhasil meyakinkan Hilma. Oke?"
"Baik, Om. Rere suka kesepakatan ini, bagaikan simbiosis mutualisme. Tak ada pihak yang dirugikan," ucap gadis itu sembari menyedot sisa jusnya.
Lagi-lagi Pak Sailendra menyeringai, ia memicingkan mata. Melempar pandangan ke arah lantai, sungguh kesepakatan yang sangat menguntungkan baginya. Hanya dalam hitungan menit, gadis itu mampu diperdaya. Mungkin setelah ia menikahi Nino, dia juga akan mulai mengatur strategi untuk memperoleh sedikit harta konglomerat itu. Lumayan untuk mengisi pundi-pundi rupiahnya.
"Om, Rere pamit pergi dulu. Ada pesan dari Papa."
Suara gadis itu membuyarkan lamunan busuk Pak Sailendra. Ia geragapan, terkejut bukan main. "Ah, i-iya. Bagaimana dengan tagihan minuman ini?"
"Tenang, Rere sudah membayarnya. Sampai jumpa lagi, Om." Gadis itu berlalu pergi menuju parkiran yang berada tak jauh dari mereka.
"Bagus, awal yang bagus." Pak Sailendra menatap umpan segar yang sudah berhasil ditaklukan.