My Edelweiss

My Edelweiss
Terbongkar



"Pertunjukkan bagus akan segera dimulai."


Seorang pria tersenyum menyeringai dan perlahan meninggalkan kantor di mana Aluna dan Nino bekerja. Pria itu mempercepat langkahnya menuju parkiran mobil. Ia segera memacu kendaraan besi itu dengan kecepatan penuh.


Bukannya pulang ke rumah dan menghibur sang istri yang sedang gelisah memikirkam perusahaan. Pak Sailendra malah berhenti untuk mampir di suatu kedai kopi. Baginya usia tak membatasi dirinya untuk tetap menikmati apa yang disukainya saat muda.


"Espresso satu," pesannya pada sang barista.


Pemuda yang lihai menggerakkan alat bernama rok presso itu segera memainkan jemarinya. Dimulai dengan meracik kopi, dirinya bisa dengan begitu mudah menentukan rasio air dan kopi, menakar coffee grind size, dan memperkirakan waktu seduhan kopi. Tampaknya pemuda itu sangat serius dan teliti.


Karena memang perbedaan sedikit saja akan membuat cita rasa kopi yang dihasilkan berbeda, inilah yang membuat rasa kopi di satu kedai bisa berbeda dengan kedai lain, meskipun jenis minuman kopi yang dipesan sama. Menurut banyak orang, di cafe itulah espresso ternikmat dapat kita nikmati.


"Silakan, Pak!"


"Terimakasih," ucap Pak Sailendra datar.


Pria itu menyeruput sedikit kopinya, ia mencecap rasa khas espresso yang pekat. Kemudian menyeringai, meraih ponsel di saku celananya, dan mengeluarkan secarik kertas. Masih dengan senyum licik, ia mulai menekan tombol ponsel sesuai angka yang tertera di lembaran putih itu. Ya, itu adalah nomor ponsel Aluna.


"Barista, tolong berikan ini pada kasirmu! Aku buru-buru," ujar pria itu sembari meletakkan uang kertas lima puluh ribuan di bawah cangkir kopinya.


Sang barista mengangguk patuh, ayah tiri Nino itu kembali mengendarai mobilnya. Pria itu hanya tinggal menunggu pertunjukkan kembang api. Entah apa yang dia kirimkan tadi, yang jelas itu bukan kabar baik.


-**


Sedangkan Aluna yang baru saja selesai membeli hadiah untuk sahabatnya berada di depan pintu rumah. Ponselnya yang bergetar beberapa kali, ia acuhkan begitu saja. Jemari lentik itu sibuk mencari anak kunci rumahnya. Sampai akhirnya ia menemukan benda yang dicari.


"Ah, aku lupa menyalakan lampu tadi."


Gadis itu berjalan menuju sudut ruangan, menekan saklar untuk menyalakan lampu. Ruangan minimalis itu kini tampak terang-benderang. Sofa merah yang menghiasi dinding berwarna kuning gading itu tampak sangat serasi.


Aluna mengangkat wajah, ia tersenyum memandang jajaran bingkai foto dirinya dengan sang kekasih. Akan tetapi, hatinya sedikit terluka. Pria yang sangat dicintainya itu kini perlahan semakin menjauh.


Walau raga mereka bersama, tetapi setiap kali Aluna mengajaknya bicara. Tak ada chemistery yang terajut seperti dulu. Obrolan di antara mereka pun hanya sebatas sapaan kering. Bahkan dalam kurun waktu yang singkat, Nino telaj menolak ajakan kekasihnya itu berkali-kali.


"Ah iya, ponselku tadi bergetar. Apa mungkin itu dari Nino?" gumam Aluna sembari menempatkan bokong di salah satu sofa.


Tiba-tiba manik matanya terbelalak. Seseorang telah mengirimkannya beberapa foto panas via whatsapp. Seketika Aluna merasa langit-langit berputar dan runtuh menimpa. Bagaimana tidak? Di foto itu jelas terlihat kekasihnya sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita lain.


"I--ini tidak mungkin!" pekik Aluna dengan salah satu tangannya menutup mulut.


Hatinya hancur berkeping-keping tak lagi tersisa. Gadis itu menyeka butiran bening yang lolos begitu saja membasahi pipinya. Sesak, pedih, dan terkoyak dalam hanya itu yang mampu mewakili perasaan Aluna.


"Nomor siapa ini? Aku harus meneleponnya."


Aluna mencoba menghubungi nomor itu berulang kali, tetapi tak ada respon. Hanya mesin penjawab otomatis yang menerima langgilannya. Seakan-akan nomor itu sudah menyelesaikan tugasnya dan dinon-aktifkan.


Tangannya gemetar hebat, ia menekan tombol dial pada nama kekasihnya.


"Ya, hallo."


Wanita itu tak mampu lagi mengucapkan hal lain. Ia mengatupkan bibir, menahan isakan tangis agar tak terdengar. Didekapnya erat ponsel itu, bulir nestapa kembali membasahi permukaan wajah ayu yang telah terlluka dalam. Tubuhnya perlahan memerosot ke bawah, kini posisi Aluna meringkuk sembari memeluk erat dengkulnya.


Ponsel hitam yang tak berdosa itu meluruh, dari genggaman tangan yang mulai basah oleh genangan air mata. Aluna tak lagi menghiraukan benda yang masi menyala itu, Nino terdengar beberapa kali memanggil namanya. Namun, sayatan yang ditorehkan terlalu dalam, menggores palung hati, merobek kepercayaan yang telah ia berikan!


"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Nino? Kenapa!"


Aluna mulai merancau tak karuan sembari meremas bantalan sofa. Berulang kali tangan mungilnya memukul-mukul permukaan sofa. Apa jadinya nanti jika ia harus bertatap muka dengan Nino? Haruskah ia menunjukkan kiriman foto itu? Atau hanya diam menunggu kejujuran lelaki pujaannya.


Akhirnya gadis itu memilih untuk diam, menanti sang kekasih mengatakan yang sebenarnya. Entah mengapa kakinya terus melangkah keluar, memacu sepeda motor maticnya untuk pergi menuju kediaman Nino. Pandangannya nanar, manik mata yang kecil itu tampak sembab dan bengkak. Air matanya terus menetes, mengering di terpa angin, kemudian meluruh lagi dan lagi. Menerobos masuk di antara celah sudut bibir ranumnya.


"Selamat datang, apa Anda ingin bertemu Tuan Nino?" tanya seseorang berpakaian maid.


Gadis itu mengangguk pelan, ia terus menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang tampak sendu di balik geraian surai panjang. "Bisakah aku masuk sekarang?"


"Silakan! Namun, Tuan sedang menerima tamu," jawab gadis berusia di atas Aluna itu sembari tersenyum.


Wanita yang menyandang status kekasih tak dianggap itu tak mempedulikan ucapan asisten rumah tangga. Ia menerobos masuk, tampak olehnya sang kekasih sedang berbincang-bincang dengan seorang pria yang perawakannya tak asing bagi wanita itu. Bahkan sangat familiar!


Aluna melangkah sangat pelan, derap kakinya tak terdengar. Bagaikan tak menyentuh lantai tempatnya berpijak. Ia mencuri dengar pembicaraan di balik punggung mereka. Tampak Nino berulang kali mengembuskan napas kasar, ketika lawan bicaranya mengatakan sesuatu.


"Begini, Pak. Barusan saya mendapat kabar bahwa Nona Rere akan tiba nanti. Pesawat yang ditumpanginya akan mendarat pukul tujuh malam. Saya hanya menyampaikan amanat dari Pak Sailendra."


"Sejak kapan Anda akrab dengan Papa?" tanya Nino sembari mengerutkan kening.


Kaki tangannya itu merasa terpojok. "Se--sejak dahulu. Bukankah ayahmu juga bosku."


"Hmm, baiklah aku akan menjemputnya!


Katakan itu pada Papa."


Menjemput? Nona? Siapa wanita itu? Apa ini penyebab Nino menolak semua ajakannya? Aluna tak lagi dapat berpikir dengan jernih. Kesakitan yang dirasakannya teramat perih, yang ia mau hanya kejujuran Nino.


"Nino ...." panggil Aluna dengan suara makin merendah.


Seketika kedua lelaki yang asik mengobrol itu menoleh. Wajah Nino berubah pucat pasi, sedangkan Pak Suhandi segera berdiri dan berpamitan pulang. Pandangan netra keduanya beradu, manik maga almond milik Aluna tampak berkaca-kaca.


"Aku tak menyangka kamu tega melakukan ini! Kamu bajing*n!" sentak Aluna yang sudah tak mampu mengontrol emosi.


Jarak di antara mereka tak mampu meredam bahana Aluna yang menggelegar. Memenuhi seluruh penjuru ruangan yang hampa. Nino hanya terdiam, memandang netra sang kekasih yang tampak berkilat.


"Apa maksudnya, Sayang?"