My Edelweiss

My Edelweiss
Keyakinan



Lima belas menit berlalu, Nino selesai memasang ban mobil. Pria itu mengusap peluh dengan lengan kemejanya. Matahari telah bersinar tepat di atas kepalanya saat ini, semakin membuat raganya tersiksa oleh sengatan sang mentari.


Nino kembali memacu kendaraan besinya dengan kecepatan penuh, dengan lihai ia menyalip beberapa mobil yang berjajar di


depan. Mungkin kemampuan mantan Aluna ini setara dengan pembalap mobil pro. Sayangnya ia tidak pernah berpikir untuk menjadi pembalap.


Selang beberapa menit Nino telah sampai di kediaman sang ibu. Tanpa basa-basi dan menyapa para asisten, pria itu menerobos masuk. Memang kurang sopan, tetapi bukan hal yang tabu karena itu juga rumahnya sendiri.


Dengan cekatan Nino menaiki anak tangga, walaupun tatapan dingin itu lurus ke depan ia tetap fokus. Buktinya tidak ada satu anak tangga pun yang terlewati olehnya. Sungguh kemampuan tingkat dewa.


"Mama," sapa Nino ketika ia membuka pintu ruangan sang ibu.


Wanita paruh baya itu tersenyum melihat putra kesayangannya datang. Ia membentangkan kedua tangan, berharap mendapat pelukan. Sudah sangat lama, semenjak dirinya sakit. Nino jarang sekali menjenguk secara langsung. Paling hanya sesekali menelepon untuk menanyakan kabar.


Namun, ada yang berbeda dengan putranya. Sorot mata itu berkilat, seakan menyimpan dendam. Bu Hilma memang tidak dekat dengan Nino, tetapi bagaimanapun di antara mereka ada ikatan darah. Pasti dirinya bisa membaca mimik wajah anaknya itu.


"Ada apa, Nak? Tampaknya sesuatu mengganggu pikiranmu?" tanya Bu Hilma langsung.


Nino mengambil posisi duduk di samping tempat ibunya berbaring. Pria itu mengembuskan napas kasar. "Aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Rere."


Mendengar ucapan putranya sontak Bu Hilma menoleh. Manik mata renta itu terbelalak, tersirat kekecewaan dan terkejut yang bercampur aduk. "Kenapa, Nak? Bukankah kamu sudah menyetujui hal ini?"


"Ya, awalnya, tetapi aku merasa ini tak adil. Aku ingin bahagia dengan Aluna, Ma." Nino menjawab pertanyaan ibunya dengan tegas.


Bagai tersambar petir, Bu Hilma memijat keningnya pelan. Benar apa yang dikatakan Nino, tidak seharusnya ia menerima begitu saja tawaran Sailendra tanpa memikirkan masa depan Nino. Wanita itu menghela napas dalam, perlahan mengembuskannya.


"Baiklah, Nak. Namun, bagaimana dengan uang pemberian ayah Rere? Bukankah kamu sudah menggunakan itu untuk membuka cabang baru?" Bu Hilma mengernyitkan alis.


Nino memandang ibunya lekat. "Aku akan mengembalikan uang itu."


"Bagaimana caranya? Perusahaan kita baru saja kembali merangkak."


"Apa Mama lupa jika aku memiliki sebuah restoran di Jakarta? Aku akan menjualnya dan mengembalikan uang mereka," ucap Nino penuh percaya diri.


"Jangan! Itu peninggalan kakekmu, Nino," sergap Bu Hilma dengan tatapan sendu.


"Aku rasa kakek juga akan melakukan hal yang sama, jika beliau msih hidup. Aku berjanji akan membangun kerajaan bisnis lainnya sebagai penghormatanku pada mendiang kakek," ujar Nino panjang lebar berusaha meyakinkan ibunya.


Wanita bersurai dua warna itu tersenyum simpul, ia mengusap perlahan rambut anaknya. Entah sudah berapa lama ia tidak pernah melakukan itu. Seingatnya terakhir kali, saat Nino berusia tujuh tahun.


"Baiklah, Nak. Segera dapatkan pembelinya dan perjuangkan cintamu."


"Sudah, jauh-jauh hari ada seorang rekan menawar usaha itu sebesar tiga milyar. Namun, aku masih belum berpikir untuk menjualnya. Beliau adalah salah satu pemegang saham kondominium terbesar di sana. Aku akan segera menghubunginya nanti." Manik mata Nino kali ini berbinar.


Sercecah harapan menantinya di penghujung waktu. Akhirnya ia akan memperoleh apa yang seharusnya ia miliki. Saatnya membuat kebahagiaan untuk dirinya sendiri.


"Terimakasih, Ma." Nino memeluk ibunya.


Sang ibu diam-diam meneteskan air mata, pelukan putra emasnya itu terasa sangat hangat. Masih sama ketika pemuda itu masih kecil. "Nikahi dia secepatnya, Nino. Mama ingin melihat kalian bahagia."


"Apa? Mama memintaku untuk segera menikah?" tanya Nino tersirat ketidak percayaan.


"Mama merestui hubungan kalian. Sampai kapan pun mama akan tetap mendukung keinginanmu, Nak." Bilir bening mengalir, kembali membasahi pipi Bu Hilma.


Putra semata wayangnya itu menatap sang ibu teduh. "Terimakasih, Ma. Aku akan segera melamarnya. Mungkin di balik semua kejadian ini, banyak pelajaran yang dapat aku petik. Termasuk mulai memaafkan masa lalumu, Ma."


Tangisan Bu Hilma menjadi-jadi, kata-kata yang baru saja diucapkan Nino bagaikan secawan air yang menyirami hatinya. Begitu sejuk dan damai, inilah yang selalu ia nantikan. Tuhan telah mengabulkan doanya di sepertiga malam.


"Mama janji akan menebus kesalahan yang sudah mama perbuat padamu, Nak. Sekarang pergilah dan temui cintamu!"


Nino tersenyum dan mencium punggung tangan ibunya. Hatinya kini dipenuhi rasa bahagia, hangat, dan cinta. Kasih sayang seorang ibu telah menjalari bongkahan es dalam sanubari Nino. Memecah keangkuhan dan ego dalam dirinya.


"Baik, Ma. Aku pergi dulu. Jangan lupa minum obatnya!"


"Iya, hati-hati." Bu Hilma mengusap kepala Nino untuk kesekian kalinya.


"Ingat pesan mama, segera nikahi dia!" perintah ibunya lagi.


Pemuda itu berlalu pergi, meninggalkan Bu Hilma dengan segala kebahagian. Namun, ketika Nino sampai di teras. Ia bertemu dengan ayah tirinya, tanpa menyapa dirinya melewati lelaki yang telah mengahncurkan masa kecilnya itu.


Akhirnya Nino sadar bahwa lelaki itu bukan memberi solusi atas masalah keluarga Sasongko. Melainkan hanya ingin memecah belah hubungannya dengan sang ibu. Menghancurkan kembali masa kecilnya, dan menumbuhkan api kebencian di antara mereka.


Untuk apa anak jahanam itu kemari, hah? Cih, membuat selera makanku hilang!


Suami kedua Bu Hilma itu bergegas menuju ruang tidur istrinya. Ia ingin mengetahui apa yang dilakukan putra sambungnya itu? Tanpa memberi salam, lelaki itu langsung memasuki ruang tidur sang istri.


"Ma, mau ngapain Nino ke mari?" tanya Pak Sailendra tanpa tading aling-aling.


Bu Hilma melempar senyum ke arah suaminya. Ia tahu berita ini akan membuat Pak Sailendra sangat terkejut. Apalagi ayah Rere itu adalah sahabat karibnya. "Duduklah, Pa!"


Pak Sailendra menghampiri sang istri dan duduk di hadapannya. Rasa penasarannya semakin meningkat ketika ia melihat ada jejak tangisan yang membasahi pipi istrinya. "Ada apa? Apa dia melukaimu lagi, hah? Biar kuberi pelajaran anak itu!"


"Tidak! Nino tidak melakukan apapun, Pa. Dia hanya ingin membatalkan pernikahn dengan Rere, itu saja."


"Apa? Membatalkan pernikahan mama bilang itu saja? Ini bukan masalah sepele, Ma! Jangan berikan dia izin! Papa tidak setuju!" hardik Pak Sailendra dengan nada tinggi.


Bu Hilma menatap suaminya lurus. "Sudah terlambat, Pa. Mama sudah merestui hubungan mereka. Bagaimana pun Nino berhak bahagia dan menentukan pilihan."


"Hah, berani-beraninya Mama melakukan ini! Apa papa sudah tidak ada artinya lagi? Bagaimana caranya kita mengembalikan pemberian ayah rere? Jawab!"


"Nino akan menjual resto peninggalan mendiang kakeknya. Aset itu memiliki harga tinggi karena terletak di ibu kota, lagian seseorang juga sudah lama mengincar itu," jawab Bu Hilma dengan kalem.


"Tidak! Aku tidak setuju, apapun alasannya Nino harus tetap menikahi Rere!"


"Kenapa? Biarkan dia bahagia, Pa! Nino sudah cukup menderita sejak kecil, ayo kita menebus kesalahan!" pinta Bu Hilma, kali ini dengan nada tinggi.


Netra Pak Sailendra berkilat merah, ia tidak menyangka istrinya berani membentak seperti itu. "Dasar wanita jal*ng! Berani sekali kamu membentakku! Baik, jika kamu memilih anak jahanam itu, aku yang akan pergi!"


Lelaki berusia tiga tahun lebih tua dari Bu Hilma itu berlalu pergi sembari membanting daun pintu. Bu Hilma hanya tersenyum, ia memejamkan mata. Memandang daun-daun yang berguguran setiap harinya. Akankah Nino berhasil lolos dari cengkeraman Rere dan ayah tirinya?