My Edelweiss

My Edelweiss
Extra Part Lagi



"Sayang, aku mau cireng." Aluna merengek pada suaminya yang sedang tertidur pulas. Wanita itu mencubiti pipi Nino dengan gemas. Sudah lewat 30 menit, Aluna mengubek-ngubek wajah sang suami.


"Hmmm ...." Nino bergumam lirih tanpa membuka mata.


"Sayang! Huft! Ya, udahlah aku mau beli sendiri, aku keluar, neh!" Aluna beranjak turun dari ranjang dengan muka masam, tetapi tangannya ditahan oleh Nino.


"Astaghfirullah, Sayang ini sudah jam 1 malam! Mana ada orang jualan cireng? Jangan kemana-mana! Aku suruh Pak Yudi bikinin, deh." Nino memicingkan mata, memandang layar ponsel, ia mencari nomor telepon koki yang bekerja di rumahnya. Padahal ruang tidur mereka hanya beda 1 lantai.


"Enggak, mau!" seru Aluna.


"Eh, tadi katanya mau cireng? Enggak jadi?" tanya Nino heran.


"Jadi, tapi harus kamu yang masakin, yah!" ucap Aluna manja.


"Hah, aku?" Nino menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana bisa seorang tuan muda membuat cireng? Bahkan seumur hidup, ia belum pernah menyentuh pisau dapur dkk.


"Iya, adek bayi minta ayahnya yang masakin. Mau kan?" Aluna memandang sang suami sembari mengelus perutnya.


Ya, Tuhan! Tidaaaakkkkkk! jerit Nino dalam hati


Ingin rasanya ia berlari ke tengah hutan, lalu menjerit dan mencakar-cakar pepohonan di sana. Ia bahkan tak tahu, cireng itu berbahan dasar apa? Bagaimana cara membuatnya? Sedangkan sang istri, masih menunggu jawaban sembari menyandarkan kepala di tembok.


"Baiklah, tapi aku enggak tahu cara bikinnya," ujar Nino lemas.


"Buka kutub dong! Ada banyak tutorial memasak di sana. Ayo, kita cari bahan-bahan di dapur!" ucap Aluna bersemangat.


"Iya." Nino menggandeng tangan Aluna, mereka menuruni tangga dengan hati-hati. Ruangan tengah tampak gelap gulita karena penghuninya masih terbuai dalam alam mimpi.


Calon ayah itu menyalakan saklar lampu dapur, ruangan bernuansa abu-abu itu tampak bersih. Beberapa alat untuk memasak berbaris rapi, bumbu-bumbu dapur juga tersusun dalam wadahnya masing-masing. Aluna mengambil posisi duduk di samping meja, sedangkan Nino sibuk menatap ponsel. Pria itu sedang mempersiapkan bahan pembuat cireng.


"Tepung tapioka, tepung-tepung di mana kamu? Aissh!" Nino membuka laci dapur bagian atas satu persatu. Beruntung ia menemukan 3 toples berisi serbuk putih itu. Rona wajahnya tampak sumringah tetapi seketika muram. Ia tidak tahu yang mana tepung tapioka.


"I-ini yang mana tepungnya?" Nino bertanya sembari merangkul 3 toples tepung itu di hadapan istrinya. Aluna terkekeh melihat mimik wajah Nino saat itu.


"Ini, kan ada tulisan namanya di sini." Wanita itu menunjuk penutup toples yang berlabel nama tepung.


"Ya, ampun! Efek ngantuk, hehehe." Pria itu segera menuangkan beberapa sendok tepung ke dalam wadah. Kemudian menambahkan air sesuai intruksi dalam video. Aluna melihat sesuatu yang aneh, suaminya akan membuat bumbu untuk cireng, tapi ....


"E-eh, itu apa yang mau kamu ulek?" seloroh Aluna.


"Ketumbar," jawab Nino bangga.


"Ishh, itu merica! Ketumbar itu yang ini, lebih kecil. Banyak banget lagi, kamu mau buat aku kepedesan, ya?" tanya Aluna sengit.


"Sama aja kan bentuknya, bulat-bulat gitu. Mereka kan satu keluarga," ucap Nino asal.


"Hmm, sedikit aja mericanya. Iya, mereka saudaraan tapi beda bapak sama ibu!" seru Aluna kesal.


Wanita berparas oriental itu hanya memperhatikan gerak-gerik sang suami yang asik memasak. Adonan cireng sudah terbentuk, dan sekarang saatnya menggoreng. Nino menuangkan minyak goreng hati-hati, sesekali ia memandang istrinya yang mulai mengantuk. Tak sampai 10 menit, camilan yang diidamkan Aluna siap untuk disantap.


"Wow, terimakasih, Sayang!" pekik Aluna kegirangan.


"Hmmm, kelihatannya lezat!" Aluna menggigit cireng itu dan memasang ekspresi aneh. Dahinya berkerut, namun ia masih tetap mengunyah. Nino yang melihat perubahan mimik wajah istrinya penasaran. Lalu ia mencomot salah satu cireng.


"Kenapa, sih?" Nino mencicipi hasil karyanya. Manik matanya terbelalak. Pria itu memuntahkan makanan yang baru saja ia rasakan. Ia melempar senyuman kecut pada sang istri.


"Asin sekali, ya?" tanya Nino malu.


Aluna hanya mengangguk, tetapi walaupun asin, wanita itu masih saja terus mengambil sisa cireng dan melahapnya habis. Lalu ia mengambil segelas air mineral dan menghabiskannya dengan sekali teguk.


"Ayo kita kembali tidur! Aku sudah puas sekarang." Aluna bergelayut manja di lengan Nino.


Pria itu menurut saja, lagi-lagi ia tak habis pikir. Masakan itu sangat tidak enak, tetapi istrinya sanggup menghabiskan semua. Entah apa yang merasuki Aluna? Kira-kira begitulah pemikiran Nino.


Aluna segera berbaring, ia memiringkan tubuh, menghadap sang suami. Nino yang masih penasaran menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Sayang, cireng tadi itu asin sekali. Namun, kenapa kamu menghabiskannya?" tanya Nino pasrah dengan jawaban istrinya.


"Karena ... hmm, karena aku, Cupz!" Aluna mendaratkan kecupan di pipi Nino. Ia tersenyum manis, kedua tangannya menggapai wajah Nino. Wanita itu menatap lekat-lekat manik mata cokelat milik suaminya.


"Karena aku mencintai apa adanya, Nino. Apapun yang kamu lakukan aku tetap menyukainya, bagaimanapun rasanya, jika itu dibuat dengan tanganmu. Aku akan melahapnya habis, karena aku tidak mau melihatmu bersedih." Aluna mengusap lembut pipi Nino.


"Tangan ini yang selalu membuatku bahagia, memberikan perlindungan. Bagaimana mungkin aku mengecewakannya?" Wanita itu berpindah, menggenggam erat jemari sang suami.


Nino sangat tersentuh dengan ucapan Aluna. Ia mengembuskan napas panjang, memejamkan mata, bulir bening menetes perlahan dari ekor matanya. Saat ini, hanya Aluna dan sang buah hati yang paling berharga baginya.


Aluna, dulu hanyalah gadis biasa yang selalu ceria, berjuang hidup demi masa depannya. Kini ia menjadi lebih tegar, lebih dewasa. Beruntungnya Nino memilihnya sebagai istri.


"Kamu adalah berlian yang aku temukan di antara bebatuan yang tampak tak berharga. Bismillah ... semoga aku bisa menjadi seorang suami dan ayah yang baik bagi keluarga ini," gumam Nino lirih.


Aluna mengamati wajah suaminya yang melamun, tampak sisa-sisa tepung menempel di wajah tampan itu. Sepertinya membuat cireng saja membuat Nino kewalahan. Ia menyentil hidung mancung itu, menyadarkan Nino dari lamunan.


Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu. Memeluk erat tubuh Aluna, mengecup kening sang istri seraya berbisik, "Aku akan selalu menjagamu, membiarkanmu tumbuh dalam proses kehidupan. Sama seperti Edelweiss, cinta ini kan tetap abadi selamanya."


Senyuman manis terbingkai di wajah Aluna, tatapan lembut pria itu meruntuhkan segala egonya. Ia membenamkan kepala dalam dekapan hangat Nino. Biarlah kisah mereka kan tetap abadi, hingga ajal yang memisahkan.


-


-


-


Keluarga adalah harta yang paling berharga, aku rela menempuh jalan yang terjal demi kebahagian orang yang kucintai.


-Aluna Tavisha-


Sekali aku mencintai, tak akan pernah kulepas apalagi membaginya dengan orang lain. Kau milikku. Hanya milikku seorang. Be My edelweiss!


-Nino Huzair Sasongko-