My Edelweiss

My Edelweiss
Gegana



Setelah Aluna mendapatkan rekaman video itu, ia bergegas pergi. Tak lupa gadis berparas oriental itu mencium pipi Nino, memberinya semangat yang makin membuat hati pria itu remuk redam. "Aku percaya padamu, Nino. Kamu pasti bisa menghadapi situasi ini!"


Nino hanya tersenyum sembari mengusap surai panjang Aluna. Memandang punggung kekasihnya yang perlahan menghilang, berbagai rasa berkecambuk di sanubarinya. Menyesal? Kecewa? Bimbang? Entahlah hanya Nino yang mengerti.


Gadis itu berdendang riang, keluar dari ruangan Nino. Ia sibuk mengutak-atik ponsel. Mengedit beberapa bagian video yang kurang sempurna. Aluna merasa sedikit lega karena ternyata alasan Nino membatalkan janji itu benar-benar penting. Bayangan gadis itu menghilang di perempatan koridor.


"Nino, apalagi yang kamu tunggu? Lekas pergi dari sini!" bentak seseorang dari balik pintu.


Sontak Nino menoleh, di wajahnya tersirat kesedihan mendalam tak rela untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Seakan-akan jika ia pergi, maka segala kenangan indah bersama Aluna akan menghilang. Langkahnya terasa amat berat, kali ini ia harus segera memutuskan mana yang terpenting. Nino mengembuskan napas panjang, menghampiri ayah tirinya.


"Papa menunggumu sedari tadi di ruangan Pak Suhandi. Kamu malah asik pacaran! Atau mungkin kamu sudah memutuskan gadis itu, hah?" tanya Pak Sailendra antusias.


"Ya."


"Woo, tampaknya kamu mulai pandai memilih. Bagus!" puji ayahnya sembari menepuk bahu Nino.


Anak tirinya itu langsung menepis tangan Pak Sailendra dengan kasar. "Aku setuju bukan berarti kamu berhak menyentuhku!"


"Camkan itu!" hardik Nino lagi, kali ini dengan menudingkan jari telunjuknya di hadapan wajah sang ayah.


Mereka berdua memasuki mobil pajero milik ibunya. Tak ada pembicaraan hangat layaknya ayah dan anak. Pria paruh baya itu terus menatap Nino tajam, bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.


Sedangkan Nino hanya duduk terdiam membisu, tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir pria rupawan itu. Dasar nuraninya terkoyak sangat dalam, seharusnya malam ini ia dan Aluna berbahagia. Seharusnya, mereka merayakan ulang tahun calon mertuanya dengan suka cita.


"Sampai kapan hidupku akan terus seperti robot begini?" tanyanya membuka pembicaraan. Nino melayangkan pertanyaan itu tanpa menoleh.


Pria itu melipat kedua tangannya di dada, "Sampai kamu setuju untuk menikahi Rere," pungkasnya.


"Apa? Aku tidak akan pernah menikahi wanita gila itu! Tidak akan pernah!" sahut Nino dengan nada tinggi.


"Terserah kalau itu maumu, berarti kamu memilih untuk melihat perusahaan keluarga Sasongko hancur," sambung pria itu santai.


Nino tertegun sesaat. Ia sama sekali tidak mencintai Rere, tetapi bagaimanapun juga dirinya juga tak ingin peninggalan ayahnya gulung tikar. Pria itu berpikir sangat keras, cara apa yang harus ia lakukan untuk bisa lepas dari cengkeraman Rere dan perusahaan dapat terselamatkan. Dengan berat hati, ia memilih untuk mengorbankan perasaan.


"Baik, akan kucoba."


Pak Sailendra tak lagi menjawab ucapan Nino, ia hanya menyeringai sembari memandang ke luar jendela. Rasa puas jelas terbesit, ia memelintir kumis tebal yang membingkai wajahnya dengan perlahan.


Akhirnya, anak terkutuk ini tunduk padaku.


Empat jam berlalu dan mereka pun tiba di Surabaya, cahaya sang surya menusuk lapisan terluar kulit Nino. Ya, Surabaya memang sangat panas, kota yang menjadi pusat Jawa Timur itu memang padat penduduk. Bangunan-bangunan industri berjajar di sepanjang jalanan, banyak pula mall dan tempat-tempat untuk mencuci mata. Surga bagi para kaula muda, Nino memicingkan mata, menghalau sinar mentari yang menyilaukan.


Jantungnya berdegub begitu cepat, kini ia berada di salah satu kediaman Rere. Tepatnya di Pakuwon City Surabaya, salah satu perumahan elite di sana. Nino melangkahkan kakinya dengan malas, menyusul ayah tirinya yang selangkah berjalan di hadapnya.


Tampak seorang gadis berambut sebahu menyambut kedatangannya. Tubuhnya yang semampai dan berbagai outfit mahal yang dikenakan menambah kesan anggun. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari menghampiri pria pujaannya.


"Selamat datang, Honey!" Tanpa rasa malu, wanita itu mendekap erat lengan Nino.


Pemuda itu terdiam membisu, ini bukan apa yang diinginkannya. Namun, tetap harus terjadi. Baginya bertemu dengan Rere adalah bencana besar dalam hidupnya. Penyebab dari segala kesengsaraan yang dialami Nino saat ini.


"Baik."


Gadis itu mempererat pelukannya, kemudian menggiring Nino untuk memasuki kediaman yang tampak begitu megah. Hamparan taman bunga luas yang dipenuhi berbagai patung membuat siapa saja yang melewati itu seakan sedang berada di monumen.


"Re, biarkan Nino duduk dulu!" perintah seseorang berpakaian serba hitam.


"Iya, Pa. Sini duduk didekatku!"


Ya, gadis itu Rere. Ia menggeret paksa Nino untuk duduk didekatnya. Pria itu tak menolak, bagaikan robot dengan tatapan kosong. Begitulah ekspresi Nino, hatinya menolak, tapi raganya tetap bergerak.


"Sudah lama Anda tidak berkunjung, Pak Sailendra. Saya merasa sangat tersanjung," ucap pria berbaju hitam yang tak lain adalah ayah Rere.


"Iya, kami hanya ingin bersilahturahmi. Tampaknya putra-putri kita juga saling memendam rindu."


"Ha-ha-ha. Anda bisa saja, bagaimana jika Anda menemani saya bermain catur dahulu? Biarkan yang muda meluapkan ekspresinya!" ajak pria itu dengan mengedipkan sebelah netranya.


Pak Sailendra mengangguk setuju, ia merasa sangat bahagia. Akhirnya kemewahan tanpa batas akan segera dinikmatinya. Pria itu merangkul bahu ayah Rere, mereka memang sangat akrab. Karena kedua pria itu adalah sahabat karib sejak muda.


"Honey, kenapa kamu diam saja? Aku begitu merindukanmu." Rere menyandarkan kepala di bahu Nino.


"Tidak apa-apa."


"Oh iya, kamu mau minum apa?"


"Apa saja."


"Hmm, baiklah. Bi, tolong buatkan dua gelas jus alpukat untuk kami!" perintahnya pada seorang asisten yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan.


Wanita berusia sekitar 35 tahun mengangguk patuh, tak berapa lama ia mengantarkan pesanan Rere. Dengan sangat hati-hati asisten itu meletakkan dua gelas jus yang tampak sangat segar.


"Ayo diminum! Ini bagus untuk vitalitasmu," bisik Rere dengan nada menggoda.


Gadis itu menyodorkan segelas minuman pekat itu pada Nino. Sang pria hanya menyeruput dengan pasrah, entah mengapa Nino jadi seperti itu? Pandangannya nanar dan tak bergairah.


"Aku sangat senang akhirnya kita bisa sedekat ini bagaikan sepasang kekasih."


"Kita bukan kekasih," jawab Nino cepat.


"Ya, sekarang memang bukan. Nanti, kamu pasti akan menjadi milikku."


Nino merasa makin muak dengan gadis disampingnya. Ia menggeser tubuhnya dengan gerakan cepat, tetapi hal itu malah menyebabkan suatu kecelakaan. Rere terjatuh tepat di atas dadanya, karena gadis itu sedari tadi menyandar pada Nino. Posisi mereka saat ini sangat bahaya, membuat orang lain salah paham.


"Kamu ternyata pria yang tidak sabaran," kata Rere sembari mengusapkan jemari di bibir Nino.


Nino berusaha untuk bangkit, tetapi tangan Rere menekan dadanya. Bahkan mereka semakin dekat, jarak antara bibir keduanya hanya berkisar lima senti. "Kamu mau mengawali yang bagaimana, hmm?"