
Nino tersentak kaget, ia memalingkan wajah berusaha menjaga jarak. Namun, wanita itu semakin mendekat dan mendekat, kemudian Rere memiringkan sedikit kepala. Sehingga jika orang lain melihat dari belakang, mereka tampak seperti berciuman. Padahal belum terjadi apapun saat itu.
Pak Sailendra tak sengaja memergoki mereka, ia berniat mengambil rokok di saku jaket yang diletakkannya di sofa yang berhadapan dengan Nino. Pria itu tersenyum, merogoh saku celananya. Ia mengurungkan niat untuk mengambil rokok dan malah mengabadikan momen menjijikan itu, sungguh pria yang aneh. Kemudian dengan santai ia kembali menemui ayah Rere.
"Re, jangan!" pinta Nino lirih.
"Tidak apa-apa. Aku bisa memberimu lebih dari ini," ucapnya setengah mendesah.
Untuk beberapa saat Nino memandang gadis di hadapannya. Entah mengapa sosok yang muncul adalah bayangan Aluna. Mungkin karena semenjak tadi yang ada di benaknya hanyalah wajah gadis berparas oriental itu.
Nino menyentuh wajah Rere lembut, ia mengangkat pelan kepalanya. Namun, tiba-tiba terdengar suara barang pecah belah terjatuh. Pria itu tersadar dari khayalan semu dan segera mendorong tubuh Rere.
"Sial! Apa itu yang pecah?" umpat Rere sembari beranjak pergi untuk memeriksa sumber suara.
Kekasih Aluna itu menghela napas panjang, ia merasa Tuhan telah menolongnya. Jika tidak, mungkin mereka sudah melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi. Rona wakah Nini berubah seketika, ia merindukan Aluna. Senyum manis dengan ginsul di sisi kiri selalu menghiasi wajah wanitanya.
"Aluna, kamu sedang apa?" tanya Nino lirih, nyaris tak terdengar oleh siapapun.
Tak lama kemudian Rere datang kembali menghampiri Nino yang masih tertunduk. Gadis itu mengambil posisi duduk di samping bantalan sofa. Menyilangkan kedua kaki, dengan sengaja memperlihatkan pahanya yang mulus.
"Kita lanjutkan yang tadi?" tanya Rere penuh gairah.
"Tidak. Aku akan menyusul Papa bermain catur," tandas Nino sembari berdiri.
"Oh, astaga! Temani aku dulu, Honey!" Gadis itu menarik ujung kemeja Nino.
Namun, Nino dengan gesit menepis tangan itu. Ia merapikan kembali penampilannya yang sedikit berantakan akibat insiden tadi. Sedangkan Rere mengekor di belakangnya.
"Nino, ke mari! Om tantang kamu bermain," ajak ayah Rere dengan lantang.
Pak Sailendra tersenyum pada Rere, tetapi gadis itu tak memperhatikannya sama sekali. Ia malah asik memainkan ponsel bercase merah jambu miliknya.
"Kalian jadi menginap di sini 'kan?" tanya ayah Rere tiba-tiba.
Nino mengerutkan dahi, ini bukan seperti apa yang dikatakan ayahnya tadi. Memang mereka akan menginap di Surabaya, tetapi di hotel bukan di kediaman Rere. Karena besok mereka akan turut merayakan peresmian kantor cabang anak perusahaan milik keluarga konglomerat itu.
"Tentu saja," jawab Pak Sailendra secepaf kilat.
Nino menghentikan pion caturnya, menoleh ke arah sang ayah tiri. "Bukankah kita akan menginap di hotel?"
"Ah iya awalnya begitu, tapi papa pikir-pikir lagi lebih baik jika kita menginap di sini saja. Lagipula papa belum puas mengobrol dengan Om Hendra."
Pria itu akhirnya hanya mengembuskan napas kasar. Saat ini yang terpenting baginya adalah menyelamatkan perusahaan yang telaj dibangun oleh almarhum ayahnya dengan susah payah. Akan sangat durhaka, jika ia sebagai anak satu-satunya malah menghancurkan kerajaan bisnis Sasongko.
"Re, lepaskan tanganmu! Biarkan Nino bermain catur dengan Papa! Kamu ini ...."
Gadis itu mengerucutkan bibirnya, lalu melepas genggaman tanganya dengan berat hati. "Ah, Papa ngeselin!"
Sedangkan Aluna mencoba menghubungi Nino, tetapi ponselnya tidak aktif. Mungkin karena itu meeting penting, jadi pria itu mematikan ponsel atau mungkin memang lowbatt? Gadis itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pesan singkat yang berisi ucapan semoga sukses. Sayangnya Nino tak menyadari hal itu, ia meletakkan ponselnya di dashboard mobil.
"Hore! Kamu hebat, Honey. Papa akhirnya dapat lawan yang sebanding," pekik Rere kegirangan.
"Om, boleh Rere pinjam Nino sebentar?" sambungnya lagi.
"Silakan! Lama juga boleh, kok."
Rere menggerakan jarinya, menyatukan ibu jarinya dan telunjuk. Membentuk simbol Ok! Tentu Rere tahu maksud ucapan Pak Sailendra, karena mereka memang sudah sepakat akan tugas masing-masing tempo hari lalu. Saat ini waktunha gadis itu untuk membuat Nino jatuh ke pelukannya.
"Aku antar kamu ke kamarmu, ya?"
Anak tunggal Bu Hilma itu mengangguk patuh, ia juga merasa lelah dan butuh istirahat. Sedari tadi energinya habis oleh berbagai masalah. Pikirannya tengah kalut, pria itu sudah tak dapat lagi berpikir jernih. Nino akan segera menuntaskan tugasnya dengan cepat, mungkin itu yang ada di benaknya.
"Ini kamarmu." Rere membuka sebuah ruang tidur luas di bagian lorong rumah itu.
Ruangan itu didominasi warna abu-abu, kasur yang tertata di tengah-tengah tampaknya berukuran King. Jika dilihat dari lebar benda empuk itu bisa dimuati oleh tiga orang sekaligus. Rere memasuki ruangan itu, kemudian duduk di tepi ranjang.
"Kemarilah!"
Entah mengapa tubuh Nino bergerak sendiri, ia menghampiri gadis itu. Kini posisi mereka berhadapan, Nino berdiri tepat di depan Rere. Gadis itu menarik dasi Nino, memaksa pria itu sedikit membungkuk. "Di sini, kamu bebas melakukan apapun, Honey."
"Cukup, aku ingin tidur sebentar. Keluarlah, Re!" Nino kembali menegakkan tubuhnya dan merapikan dasi.
"Yakin tidak mau kutemani?"
"Tidak, aku tak ingin dianggap tamu kurang ajar. Biarkan aku sendiri!" hardik Nino yang masih memiliki kesadaran.
"Baiklah, aku akan membangunkanmu nanti."
Rere berlalu pergi, menutup pintu perlahan-lahan. Gadis itu tampak sangat puas, bahkan hanya beberapa kali kulit mereka bersentuhan sudah membuatnya ingin merasakan sesuatu yang lebih. Mampukan Nino melawan semua ini?