
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di ruangan Pak Suhandi. Bu Hilma menarik tangan suaminya untuk segera masuk. Sedangkan Nino memasang wajah masam, ketika ia bertatapan dengan ayah tirinya. Membuat Pak Sailendra menggertakkan gigi.
"Sudahlah, jangan membuat keributan lagi, Nak! Ingat status keluargamu juga ya!"
Nino mengangguk patuh, bukan untuk ayah dan ibunya, tetapi untuk menghormati Pak Suhandi. Pria yang selama ini menjadi tempat berkeluh kesahnya. Pak Suhandi sudah seperti sosok ayah bagi Nino.
Mereka berempat telah mengambil posisi duduk, tetapi suasana menjadi sangat canggung. Tidak ada dari mereka yang mengawali pembicaraan. Pak Suhandi melirik Nino, memberi kode agar dia memulai duluan. Namun, Nino hanya memutar bola mata dan mlengos malas.
Tiba-tiba Pak Suhandi berteriak memanggil seseorang, membuat semua yang ada di ruangan itu tersentak. "Efendi, sini!"
Seorang pria berperawakan kecil memasuki ruangan itu dengan posisi tubuh sedikit membungkuk. Dia adalah Efendi, salah satu office boy. Pak Suhandi tersenyum simpul.
"Tolong kamu bawakan empat minuman ke mari, ya! Oh iya, yang satu tanpa gula."
Office boy itu berdiri di samping sang manager, ia mendengarkan dengan seksama apa saja yang diperintahkan atasannya itu.
"Baik, Pak. Akan segera saya antar!" ucap Efendi sembari berlalu pergi.
Ekor mata Nino memperhatikan Efendi yang melempar senyum kepadanya. Namun, ia tak membalas sapaan itu, karena moodnya dalam keadaan kacau. Nino mengembuskan napas kasar. Ia merasa jengah dengan situasi saat ini. Selang beberapa menit, Efendi datang membawa nampan berisi minuman.
"Mari, silakan diminum dulu!" ucap Pak Suhandi kikuk.
Bu Hilma mengganguk, ia mencoba untuk mencairkan suasana. Wanita itu mengusap lembut lengan Nino yang berada tepat di samping kirinya. Manik mata tuanya menatap Nino sendu, seakan mengisyaratkan rindu yang teramat dalam.
"Nino, apakah kamu tidak merindukan ibu, Nak? Mau ibu peluk?" ucap Bu Hilma sembari merentangkan kedua tangan.
Seketika Nino menghindari tangan ibunya, ia mendengkus kesal. "Hah, apa Anda tidak malu berkata begitu?"
Bu Hilma terbelalak mendengar ucapan putra semata wayangnya itu. Ia berharap akan ada pertemuan yang manis, tetapi tampaknya hanya fatamorgana saja.
"Kenapa harus malu? Kamu kan darah dagingku, Nino." Ibu Hilma menatap Nino dengan perasaan campur aduk tidak mampu untuk dijelaskan.
"Darah daging? Lantas, ke mana saja Anda selama ini? Apa Anda sudah lupa perbuatan macam apa yang Anda lakukan dulu? Sampai-sampai ayahku mengakhiri hidupnya karena wanita seperti Anda!" Nino menoleh ke arah Bu Hilma dengan pandangan menelisik tajam.
"A--aku, aku--" Bu Hilma tak mampu meneruskan kalimat, batinnya terkoyak begitu dalam.
Bulir nestapa mengalir begitu saja membasahi pipinya. Ia sudah tak peduli lagi dengan Pak Suhandi yang masih menyaksikan mereka. Pak Sailendra tersulut api amarah, otot-otot lehernya menegang.
"Nino, wanita yang kau maksud itu ibumu sendiri! Jaga batasanmu!" bentak Pak Sailendra.
Namun, Bu Hilma meremas tangan suaminya dari bawah meja. Berusaha membendung amarah suaminya. Ia tahu ini semua karma yang harus diterima, sebagai pertanggung jawaban atas dosa yang ia lakukan.
Tuhan, sesakit inikah balasan yang harus kuterima?
Wanita yang masih tampak cantik itu, menghela napas dalam-dalam. Ia menyeka sisa air mata dengan tissu. Kemudian melemparkan senyum pada Nino, meski dalam hatinya sudah hancur remuk redam.
"Baiklah, tidak apa-apa jika kamu belum mau mama peluk. Boleh mama tahu siapa wanita yang bersamamu tadi?"
Nino mengalihkan pandangannya, ia menatap keramik lantai. "Bukan urusan Anda!"
Lagi-lagi jawaban Nino membuat batin Bu Hilma terluka, kali ini luka itu lebih dalam. Menyayat hingga ke dasar sanubari. Penolakan secara berulang-ulang oleh putra kandungnya sendiri, membuat wanita itu mulai rapuh.
Pak Sailendra yang sedari tadi menahan api amarah semakin terbakar. Pria itu mengepalkan tangan. Menatap Nino tajam layaknya predator.
"Nino! Kamu sudah keterlaluan! Kenapa kamu tak bisa berbicara baik-baik dengan ibumu, hah?" ucap Pak Sailendra dengan nada tinggi, matanya berkilat, mengimbangi deru napasnya yang memburu.
Tatapan kedua pria dewasa itu beradu, Pak Sailendra sudah di ambang batas sabarnya. Tiba-tiba pria paruh baya itu berdiri, mencekal kerah baju Nino.
"Katakan sekali lagi! Ayo katakan! Dasar anak tak tahu diuntung!"
Nino mencekeram erat tangan tua milik ayah tirinya itu dengan erat. Lalu dihempaskan hanya dengan satu kali kibasan. Gerakannya itu membuat tubuh Pak Sailendra terhuyung ke belakang.
"Maaf, aku tidak mau mengotori tangan. Pak Suhandi, apa Anda punya hand sanitizer?"
"Ah-oh iya, ada. I-ini, Pak Nino." Pria tambun itu menyodorkan sebotol cairan antiseptik.
Nino meraih cairan itu, lalu menuang isinya. Dengan santai ia membersihkan tangan di hadapan orangtuanya. "Terimakasih, Pak."
"Dasar brengsek!" decih Pak Sailendra masih dengan mata yang berkilat merah.
Nino menoleh ke arah ayah tirinya lagi. Ia menatap dengan dingin pria yang telah menghancurkan masa kecilnya itu. "Aku belajar semua itu darimu, brengsek! Kau lupa, kau mastahnya berengsek!"
"Sudah! Cukup!" Pak Suhandi menyela pertikaian mereka, ia sudah tak tahan hanya menjadi penonton.
"Maaf saya lancang, tapi bisakah kalian tidak bertingkah seperti anak-anak, hah? Tujuan Bapak dan Ibu datang ke pabrik bukankah untuk menyapa Tuan Muda? Kenapa jadi bertikai seperti ini."
Pak Sailendra merasa malu, ia menundukkan kepala dan kembali ke posisi duduk. Sedangkan Nino memandang ke arah kaki kananya, pria tambun itu tampak menggelangkan kepala. Akhirnya, Nino yang mengawali lagi pembicaraan itu.
"Apa yang ingin Anda tanyakan, aku tidak memiliki banyak waktu," tanya Nino tanpa melihat lawan bicaranya.
Bu Hilma tersenyum simpul, walaupun kata-kata itu dingin paling tidak putranya mau merespon. "Aku penasaran siapa sebenarnya wanita tadi, Nak? Kamu terlihat begitu mesra dengannya."
"Dia kekasihku," sahut Nino tanpa peringatan.
Jawaban Nino membuat otot-otot leher Pak Sailendra kemabi menegang. Bagaimana bisa Nino sudah memiliki seorang kekasih? Ia berencana menjodohkan anak tirinya itu dengan Rere, yang notabene anak konglomerat. Hal itu dilakukan agar sayap bisnisnya makin melebar.
"Apa?? Kekasih katamu?!" tanya Pak Sailendra dengan geram. Ia tak bisa membayangkan berapa besar kerugian yang akan dihadapi jika Nino menikah dengan gadis biasa.
"Ya, lantas kenapa?"
"Apa kamu tak ingat tentang perjodohanmu dengan Rere, hah? Kamu sengaja ingin mempermalukanku?" Pak Sailendra berkacak pinggang, kepalanya sudah memanas.
"Aku belum menerimanya. Lagipula Anda siapa mengatur hidupku? Aku bebas berkencan dengan siapa pun yang aku mau."
Pria paruh baya itu mengalihkan pandangan kepada istrinya yang hanya terdiam membisu. "Jadi, kamu memilih wanita biasa dibandingkan Rere yang dari keluarga terhormat, hah? Aku tak menyangka seleramu begitu rendah!"
Nino menatap tajam wajah ayah tirinya, entah sampai kapan ayah tirinya mengobarkan api permusuhan. Nino tak terima jika wanitanya dihina. Ia berdiri dan menghampiri lelaki itu dengan tangan mengepal.
"Kamu boleh merusak masa keciku, tetapi jangan sekali-sekali menghina wanitaku! Karena kamu pun tak lebih dari sampah! Camkan itu!" bentak Nino pada Pak Sailendra, ia sudah tidak menggunakan bahasa yang sopan lagi. Telunjuknya menuding tepat di wajah pria paruh baya itu.
Pak Sailendra menyeringai. "Pantas saja, buah tak jatuh jauh dari pohonnya."
Nino tak mengerti apa arti ucapan pria brengsek itu. Pak Suhandi berdiri dan menjauhkan Nino dari ayah tirinya. Ia takut pertumpahan darah akan terjadi. Pria tambun itu menepuk-nepuk bahu Nino. "Sabar, kembalilah duduk!"
Bu Hilma menatap putranya lekat lalu ia mengucapkan satu kalimat. "Jika benar dia kekasihmu, bawalah wanita itu untuk makan malam di rumah hari ini. Mama ingin mengenalnya."
Nino sontak menoleh, manik mata yang tadi berangsur tenang kembali berkilat. Untuk apa tiba-tiba ibunya meminta Aluna datang? Rencana busuk apa lagi yang akan mereka lakukan? Berbagai pertanyaan mengusik pikiran Nino.
Apa yang tengah keluarganya rencanakan?