My Edelweiss

My Edelweiss
Segel Aman



Belaian sang bayu menerpa permukaan kulit


Menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang


Burung-burung yang bersenandung ria


Seakan menyairkan senandika hati


Dedaunan pun ikut menari bersama dengan sajak dan bait di cakrawala


Ah, hasrat hati ingin merengkuh lukisan Sang Pencipta. Apa daya tangan tak sampai.


💕💕


"Aluna, kamu di mana, Nak? Ibu sudah pulang, " ucap Bu Asmi sembari mengetuk pintu.


Wanita bernetra kecokelatan itu mengamati sekeliling huniannya. Ia menengadah memandang benda mungil yang berada tepat di atas kepala. Sebuah lampu pijar kecil tergantung manis masih padam. Begitu pula dengan nasib penerangan lain di samping rumah. Tampaknya belum ada seorang pun yang menyentuh saklar.


"Ke mana dia pergi sampai jam sembilan malam? Biasanya Aluna telepon dulu, atau mungkin bersama Nino, ya." Bu Asmi menerka-nerka apa yang menyebabkan putrinya belum kembali.


Jemari-jemari yang selalu mengusap lembut wajah Aluna itu sibuk mengobrak-abrik isi dalam tas. Mencari keberadaan kunci cadangan, dan akhirnya benda pipih berwarna keperakan itu ditemukan.


Decit pintu terdengar, memecah kesunyian malam itu. Bu Asmi meraba-raba dinding untuk menemukan saklar. Ia menekan tombol itu perlahan-lahan dan seketika ruangan menjadi terang. Interior rumah yang minimalis menyapa kedatangan single parent itu.


"Baiklah, aku akan membersihkan diri lalu menelepon Aluna. Perasaanku kok tidak enak ya," gumam Bu Asmi lirih.


Bu Asmi meletakkan barang bawaannya di dapur dan berjalan menuju kamar mandi. Merasa tubuhnya kembali segar, wanita itu bergegas meraih ponsel mungil pemberian Aluna. Ditekannya nomor telepon sang anak, menanti jawaban dari seberang.


📱


"Hallo, Aluna kamu dimana, Nak?"


"Hallo, maaf, Bu. Ini saya Nino. Aluna masih membantu mama menulis nama untuk undangan pernikahan. Mungkin hari ini dia akan menginap, mohon maaf karena belum memberi kabar."


"Oh iya, enggak apa-apa, Nak. Ibu cuma khawatir kok belum pulang. Kalau begini 'kan ibu sudah tenang. Sampaikan salam pada mamamu, ya. Selamat malam."


"Malam, Bu. Selamat beristirahat."


📱


Nino memutus panggilan yang baru saja ia terima. Manik matanya memandang Aluna yang kini tertidur di kasur. Terpaksa ia harus berdusta pada calon mertua tentang keadaan anaknya.


Tujuannya tentu agar wanita berusia setengah abad itu tidak berpikiran macam-macam. Apalagi beliau memiliki riwayat penyakit asma, Nino tak mau memperburuk kondisi ibu dari kekasihnya itu.


"Tidak! Jangan dekati aku! Pergi!"


Aluna tiba-tiba merancau tak karuan, tangan dan kakinya menghentak-hentak seakan membuat gerakan mendayung. Keringat dingin mengucur dari balik pori-porinya. Wajah seputih porselen itu tampak sangat ketakutan.


"Sayang, bangun. Ini aku Nino, sadarlah! Kita sudah di rumah." Nino menepuk-nepuk pipi kekasihnya agar wanita itu tersadar dari mimpi buruk.


Perlahan Aluna membuka kelopak mata, napasnya berderu mengiringi gerakan dada yang naik-turun. "Ni--nino. A--aku takut!"


Seketika tangisan Aluna pecah, wanita itu menutupi seluruh wajahnya dengan dmkedua telapak tangan. Kejadian yang baru saja dialaminya mengakibatkan trauma kecil. Apalagi ia bersama Nino saat ini, perasaan bersalah dan putus asa merenggut jiwa.


"Tenanglah, aku di sini bersamamu!" Nino menarik tubuh Aluna dan membenamkan di dada bidangnya.


Lelaki itu mengecup puncak kepala Aluna dengan lembut. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu."


"Ta--tapi, aku tidak tahu apa yang dia lakukan pada tubuhku. A--aku malu padamu, Nino! Aku memang wanita bodoh," rutuk Aluna sembari mengacak-acak surainya.


Tampaknya kondisi psikis Aluna terganggu, tekanan yang ia dapat membuat alam bawah sadarnya tidak berfungsi dengan baik. Entah mengapa, bukannya pergi meninggalkan wanita itu. Nino malah semakin ingin melindunginya.


Padahal bisa saja, Aluna telah kehilangan kesucian. Namun, itu adalah sebuah kecelakaan, bukan karena kehendak Aluna sendiri. Nino mengembuskan napas kasar, manik matanya terbelalak ketika ia melihat gaun yang dikenakan kekasihnya bersimbah darah.


"Sa--sayang, i--itu kenapa pakaianmu penuh noda da--darah?" tanya Nino tergagap.


Aluna tersentak dan refleks menjauh dari Nino. "Ini seperti ...."


Wajah Aluna mendadak merah dan ia tertunduk sembari meremas ujung gaunnya. "Aku butuh sesuatu, sedari pagi belum kuganti. Kenapa aku bisa melupakan hal ini?"


"Ganti apa?"


"Itu, nganu. Aku lagi ...." Lagi-lagi pipi Aluna bersemu merah.


"Permisi, Tuan. Ini susu hangatnya," ucap Bi Atin sembari meletakkan segelas susu cokelat yang masih mengepulkan asap.


"Loh, Non lagi halangan?" tanya Bi Atin tanpa sungkan.


Aluna mengangkat wajah dan manik matanya seketika berbinar. "Iya, Bi, tapi saya lupa enggak bawa ganti."


"Ealah, gitu kok enggak bilang saya. Sebentar saya ambilkan dulu ya itunya." Bi Atin terkekeh ketika melihat pandangan Nino yang penuh pertanyaan.


Kening lelaki berdarah Belanda itu berkerut, netranya menatap lurus Aluna yang cekikikan. "Apa sih yang kalian bicarakan?"


"Bantu aku berdiri! Mau mandi," pinta Aluna dengan lembut.


Nino memapah tubuh sintal itu, lagi-lagi manik matanya menyusuri lebam di sekujur tubuh Aluna. "Apa ini sakit?"


Lelaki itu menunjuk salah satu lebam di bagian lengan Aluna yang semakin membiru. Hatinya berdesir, tak tega rasanya melihat tubuh molek itu terluka. Andai saja ia bisa mengganti posisi luka itu di tubuhnya.


"Sedikit sakit, tapi hilang ketika aku melihatmu." Aluna mengerling manja sembari melepaskan tangan Nino yang melingkar di pinggangnya.


"Hmm."


Rona wajah Nino berubah merah padam mendengar ucapan Aluna. Biasanya dia yang menggoda wanita itu. Namun, kali ini dia yang terpesona. Beginikah rasanya salah tingkah? Ah, sungguh perasaan yang bercampur aduk.


"Non, ini gantinya saya taruh di mana?" tanya Bi Atin yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.


"Apa sih, Bi? Sini biar kuberikan. Aluna masih mandi," hardik Nino sembari merampas bungkusan putih di tangan Bi Atin.


"Baik, Tuan. Saya pamit undur diri."


"Iya, terima kasih, Bi."


Nino mengamati benda itu, sepertinya ia pernah melihat yang serupa. Namun, dimana ya. Benda itu di terbalut bungkusan putih tampak seperti kue kering. Ia meletakkan itu di atas nakas.


"Segar, kamu masih di sini rupanya? Apa Bi Atin menitipkan sesuatu?"


Usai mandi, raut wajah Aluna tampak lebih rileks dan tenang. Seakan-akan guyuran air membawa segala kepahitan yang ia alami. Ya memang benar air memberikan ketenangan. Menjernihkan kembali pikitan yang tengah dilanda kemelut.


"Iya kutaruh di sana." Nino menunjuk nakas.


Aluna menatap kekasihnya, respon lelaki itu biasa saja. Apa dia tidak tahu benda apa yang ia pegang? Padahal kemarin ia begitu malu ketika membaca daftar benda itu di struck belanjaan.


"Itu apa, sih?"


Aluna menghampiri kekasihnya dengan senyum geli, ia mendekatkan bibir di telinga Nino. "Itu pem ... wanita."


"Hah! Hiii, aku mau cuci tangan dulu! Ternyata isi dalam kemasan seperti itu, kukira tadi kue." Nino bergidik dan bergegas ke kamar mandi.


Wanita itu terkekeh dengan tingkah kekasihnya. Wajar saja jika lelaki itu tidak pernah tahu bentuk benda permono yang masih berada dalam kemasan dalam. Karena seumur hidupnya Nino dibesarkan oleh sang kakek, dan tidak pernah memiliki saudara perempuan.


"Artinya kamu masih tersegel aman!" pekik Nino yang baru saja keluar toilet.


Lelaki itu menatap Aluna dengan teduh, tetapi mematikan. Pandangan lembut yang selalu berhasil membuat hati putri Bu Asmi meleleh. Nino membopong tubuh Aluna dan berputar seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah baru.


"Kukira dia sudah bermain lebih jauh denganmu." Perlahan Nino menurunkan tubuh Aluna dari gendongannya.


"Tidak, dia tidak melakukan itu. Hanya saja sepertinya b*jingan itu mencuri ciumanku."


Nino memicingkan netranya dan mendekap erat tubuh Aluna. "Kalau begitu, biar aku yang menghapusnya."