
Entah mengapa semesta selalu mempunyai cara sendiri. Mempertemukan dua hati yang saling merindu, walaupun terpisahkan oleh waktu.
-
-
-
Sedikit kebahagiaan yang dirasakan Aluna memberinya semangat baru. Sakit yang dia rasa tidak akan sirnah dengan mudah, masih menorehkan luka yang membekas. Tidak tahu sampai kapan Aluna akan bertahan menanggung kesedihannya sendiri. Wanita yang masih berusaha tersenyum meski hatinya sedang meradang.
Aluna mengenakan gaun pemberian Alfaro, dia menggunakan warna merah maroon. Gaun berbahan lace, dengan lengan tiga per empat dan panjang di bawah lutut melekat sempurna di tubuh sintalnya. Aksen pita kecil di bagian belakang menambah kesan manis, tetapi tidak kekanakan.
Gadis itu sengaja menjapit sebagian surainya. Menyisakan anakan rambut yang akan menari ketika angin berembus. Polesan wajah yang natural membuatnya makin memukau. Aluna siap menghadapi kehidupan barunya. Asik memandangi pantulan diri di cermin, Aluna sampai tidak mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya.
Sang ibu tergesa-gesa membuka pintu, alis mata wanita paruh baya itu berkrenyit heran. Siapakah gerangan yang ada di hadapannya? Seorang lelaki muda dengan wajah yang tampak seperti berdarah arab. Namun, perawakannya kurus tinggi bukan besar seperti kebanyakan pria daerah timur.
"Mohon maaf. Mencari siapa, Nak?" tanya Bu Asmi dengan mimik wajah bingung.
"Selamat pagi, Bu. Saya Al, rekan sekantor Aluna. Hari ini saya menjemputnya, karena motor Aluna masih di parkiran kantor. Boleh saya menemuinya?" tanya balik pria itu dengan sopan.
Bu Asmi mengangguk dan mempersilakan tamunya. "Silakan masuk, Nak Al! Ditunggu sebentar ya, ibu panggilkan Aluna dulu."
"Baik, Bu. Maaf merepotkan."
Alfaro mengamati ruang tamu keluarga Aluna dengan seksama. Bukan ruangan yang luas, tetapi barang-barang yang tertata tampak sangat rapi. Pemilihan warnanya juga pas, sesuai dengan design minimalis dari rumah itu.
Pandangan pria itu tertuju pada sebuah foto yang tergantung apik di dinding. Potret diri seorang gadis kecil, berusia kira-kira lima tahun, tampak dalam foto itu ia sedang bermain bersama beberapa kelinci.
Mungkin itu foto Aluna, lucu sekali dia.
Beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu telah muncul. Manik mata Alfaro membulay sempurna, takjub dengan dandanan gadis yang ada di depannya. Hanya dengan sedikit mengubah tampilan, Aluna tampak bersinar. Pantas saja Nino menjatuhkan hatinya pada wanita itu, tetapi mengapa mereka putus? Pertanyaan yang sama selalu menghantui pikiran Alfaro.
"Ayo kita berangkat! Bagaimana penampilanku hari ini?" Aluna meraih handbag hitamnya.
Alfaro meletakkan satu tangan di dagu, membuat ekspresi seolah sedang berpikir keras. "Lumayan, kamu terlihat lebih berkelas sekarang. Cantik."
"Terimakasih," jawab Aluna dengan pipi merona.
Ketika mereka beranjak pergi, Bu Asmi berjalan ke arah mereka sembari membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan roti bakar. "Loh, mau ke mana? Sarapan dulu! Sarapan itu baik bagi tubuh kalian, ayo dimakan! Maaf ya, Nak. Suguhannya sederhana." Bu Asmi mengalihkan pandang pada Alfaro.
"Terimakasih, Bu." Alfaro mengangguk dan tersenyum ke arah Bu Asmi.
Wanita yang dipanggil Aluna ibu itu, meletakkan menu sarapannya di meja ruang tamu dan bergegas kembali ke dalam dapur. Melanjutkan rutinitas sehari-harinya.
"Ayo dimakan dulu! Masih ada waktu satu jam," celoteh Aluna sembari mencomot roti bakarnya.
Mereka menikmati sarapan mereka dengan lahap, kemudian bergegas menuju kantor. Tak lupa sebelumnya mereka berpamitan dengan Bu Asmi--Ibu Aluna.
Wanita bersurai dua warna itu menaruh curiga, jalas terlihat dari sorot netranya yang terus memandang lekat putri semata wayangnya. Tumben sekali Aluna memperbolekan pria lain untuk menjemput. Apakah hubungan anak emasnya dengan Nino sedang tidak baik? Mungkin beliau akan menanyakan hal itu nanti sepulang dari depot.
-**
Nino memarkir mobilnya dengan perlahan sembari menatap sebuah sepeda motor yang berada di ujung parkiran. Manik mata kecokelatan itu memicing, meyakinkan dirinya bahwa itu milik mantan kekasih.
"Itu bukannya motor Aluna, kenapa ia meninggalkannya di parkiran?" Baru saja ia bergumam, sebuah mobil pajero sibuk mencari lahan kosong untuk berparkir.
Nino memutar bola mata malas, ia tahu benar siapa pemilik kendaraan sport itu. Itu milik musuh bebuyutannya, mereka sempat berpapasan kemarin di hari pertama Alfaro bekerja.
Namun, manik mata Nino terbelalak melihat seorang wanita anggun yang turun dari mobik bersama Alfaro. Tampilannya sungguh manis dan berbeda dari biasanya. Pria itu dapat melihat jelas bagaimana Alfaro memperlakukan mantan kekasihnya layaknya seorang putri. Entah mengapa tubuh Nino bergerak menghampiri mereka.
"Hey, apa yang kamu lakukan dengan Aluna, hah?" sentak Nino sembari menudingkan jari telunjuknya.
Kening putra bungsu Pak Dewangga itu berkerut. "Memangnya kenapa? Dia pacarku."
Mendengar ucapan Alfaro, gadis yang menahan gejolak di dada itu sontak menoleh. Netranya memelototi Alfaro, sedangkan sahabatnya itu hanya membalas dengan sebuah kedipan genit.
"Apa? Bagaimana bisa kalian berpacran, hah? Aluna, apa benar yang pria narsis ini katakan?" tanya Nino dengan mata berkilat.
Namun, mantan kekasihnya bergeming. Tak mengeluarkan suara apapun. Bahkan wanita itu tak memandang ke arah Nino. Dengan geram pria itu mencengkeram kerah kemeja Alfaro. "Jangan menggangu Aluna! Atau aku, akan memberimu pelajaran yang tak terlupakan, seumur hidupmu!"
"Woi, slow bro! Apa urusanmu ikut campur hubungan kami? Bahkan kamu bukan kekasihnya 'kan?"
Nino tertegun. "Itu--" Belum sempat Nino menyelesaikan kalimat, Alfaro bertingkah lagi.
Pria itu mengusap lembut pipi Aluna. "Bukankah kamu tidak keberatan bersamaku, Sayang?"
Gombalan Alfaro membuat pipi Aluna memerah sempurna. Ia tertunduk dan mengangguk pasrah, akting pemuda itu sangat meyakinkan. Nino tampaknya ingin melahap mereka bulat-bulat sekarang.
"Lepaskan! Jangan sentuh dia!"
Secepat kilat Nino menarik pergelangan tangan Aluna. Menggiring wanita itu ke lobby dengan deru napas yang berat. "Kenapa kamu jadi serendah ini, hah? Apa kamu tidak merasa risih dengan kelakuannya? Coba lihat dirimu yang sekarang!"
Aluna mendongakkan wajah, sentuhan Nino kali ini sungguh berbeda. Pria itu hampir saja membuat pergelangan tangannya terkilir. "Apa aku tidak berhak menentukan hidupku? Sedangkan kamu bisa dengan leluasa bersama gadis lain. Kamu tidak lebih baik dari Alfaro! Kalau kamu saja bisa menggandeng wanita lain dalam semalam, aku juga bisa! Aku lelah, Nino memikirkan sikapmu! Aku muak!"
Segala emosi yang dipendam Aluna tertumpah begitu saja. Wanita itu berlari menuju ruang kerjanya, berusaha menghindari Nino. Beruntungnya Rere sudah kembali ke Surabaya, sehingga ia tak memperkeruh masalah itu. Situasi semakin rumit, hubungan di antara mereka kian memanas. Apakah sebenarnya masih ada cinta di antara mereka? Jika benar, bagaimana cara Nino kembali merebut miliknya dari tangan Alfaro?
"Persetan dengan semua!" Nino meremas brosur yang tertata rapi di meja customer service.