
"Setelah pulang dari kantor, ikut aku! Ingat, jangan pulang duluan!" Nino menatap wanitanya dengan lekat. Jari telunjuknya menyentuh dagu Aluna.
Manik mata wanita itu membulat, ia segera menepis jari kekasihnya. "Issh! Turunkan tangamu! Kita mau ke mana?"
"Sudah jangan banyak tanya!"
Nino berlalu pergi, meninggalkan Aluna yang masih bengong. Wanita itu pun kembali ke posisi awalnya, yakni memelototi layar monitor.
"Pertanyaanku enggak dijawab, malah nyelonong pergi gitu aja! Dasar manusia es!" gerutu Aluna kesal.
Ia masih mengamati layar monitor, menggerakan mouse naik turun. Sepertinya ia mencari sesuatu yang tak kunjung ditemukan. Wajahnya mendadak pias, tampak beberapa kali ia membuka tutup drive c.
Wanita bersurai panjang itu menepuk kening dengan keras. "Astaga! Aku lupa dokumenku belum kusimpan. Bagaimana ini? Semua gara-gara Nino!"
Dengan bibir mengerucut Aluna kembali membuat laporan persediaan barang. Padahal tadi ia sudah mengerjakan hampir 75%, tetapi Nino tiba-tiba menghampirinya. Beberapa kali tampak ia mengembuskan napas kasar. Kesal karena harus memasukkan kembali data 1850 bahan dasar.
"Astaga, berapa jam lagi ini akan selesai?" keluh Aluna yang terduduk lemas.
Akhirnya ia tetap mengerjakan kembali laporan itu dengan wajah masam. Setelah dua jam berkutat dengan monitor, Aluna merenggangkan tubuh. Menarik tangannya ke atas.
"Ayo!" ajak Nino sembari menggandeng tangan Aluna.
"Sekarang?" Gadis itu memutar bola matanya. malas.
Ia melirik Nino sekali lagi, lalu melempar pandangan ke arah meja yang berserakan. Ditatanya satu persatu dokumen yang menumpuk tak karuan.
Pria itu menggeleng. "Biarkan saja! Besok kamu rapikan lagi, waktu kita tak banyak."
"Eh, eh tap-tapi-" Nino menyeret Aluna begitu saja ke parkiran, tanpa memperhatikan apa yang sedang wanitanya lakukan.
Pria pemilik iris cokelat itu segera menyalakan mesin mobilnya. Mobil ferari itu melaju dengan kecepatan tinggi layaknya Rio Haryato, sang pembalap mobil Indonesia. Hanya butuh waktu singkat, mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kota itu.
"Mau ngapain ke sini?" Aluna mengerutkan dahi.
Nino menatap wanitanya dengan senyum menyeringai. "Turun saja dulu!"
Mereka berdua memasuki aula tempat itu. Aluna memandang sekelilingnya dengan takjub. Ia pernah datang ke tempat itu beberapa kali, tetapi masih saja membuat dirinya kagum. Lampu-lampu gantung terpasang dengan anggun, memancarkan cahaya berkilauan bak kristal. Aroma sedap dari stand foodcourt merebak di segala penjuru. Saking asyiknya wanita itu tak sadar mereka sudah sampai di sebuah stand pakaian dan aksesoris wanita.
"Pilihlah pakaian, tas dan sepatu yang kamu suka!" perintah Nino sembari mengedipkan mata.
Aluna ternganga, bingung dengan situasinya saat ini. "Dalam rangka apa? A-aku tidak terbiasa beli baju di sini."
Nino tak mengubris kata-kata Aluna, ia mendorong masuk tubuh sintal itu. Wanita itu celingukan, bergerak kesana-kemari sembari menyentuh pakaian. Nino memperhatikan dengan tersenyum simpul, kemudian ia melambaikan tangan pada salah satu karyawan di sana.
"Mbak, tolong carikan beberapa gaun yang sesuai untuk wanita itu!"
"Baik, Pak. Untuk acara non-formal atau formal?" tanya karyawan bermata belo itu.
"Semi formal." Nino menjawab dengan cepat.
Karyawan berwajah manis itu menghampiri Aluna untuk menawarkan bantuan. Wanita itu menoleh ke arah kekasihnya. Nino hanya mengangguk dan menarik kedua sudut bibirnya.
"Tolong yang ada kerutan atau belt! Tubuhku akan terlihat gemuk jika memakai gaun kedodoran ini, Mbak," ucap Aluna setelah melihat gaun pertama, berwarna merah maroon yang dibawakan si karyawan.
Akhirnya karyawan yang memakai nametag bertuliskan Indira Ayu itu kembali menghampiri Aluna. Di tangannya terselip dua buah gaun berwarna hitam dan putih. Ia sengaja memilih kedua warna netral, karena itu akan semakin menonjolkan pancaran kulit Aluna yang pucat.
"Bagaimana dengan ini, Bu?" tanya Indira sembari menyerahkan kedua gaun yang ditentengnya.
Aluna mengamati keduanya dengan dahi berkerut. Sama-sama bagus dan elegan, tetapi gaun berwarna hitam lebih terbuka karena itu berupa mini dress dengan model sabrina on top, sedangkan yang putih berbentuk sheath dress yang memiliki aksen keyhole dibagian dada. Seperti model pakaian yang digunakan para dewi Yunani.
"Hmm, yang mana ya?" gumamnya lirih.
Ekor mata Aluna melirik sang kekasih yang mengamati dari kejauhan. Ia mengangkat tinggi kedua gaun itu, menunjukkan pada Nino. Pria itu mengernyitkan alis, lalu telunjuknya mengarah pada gaun putih. Ya, akhirnya Aluna memilih gaun itu tanpa mencobanya lagi. Ia merasa ukuran dan panjang gaun itu pas untuk tubuhnya.
"Saya ambil yang putih ini, Mbak."
"Mau dicoba dulu, Bu?" tawar Indira sembari tersenyum bahagia karena omsetnya hari ini naik.
Gaun yang dipilihkannya untuk Aluna memang memiliki harga yang terbilang mahal. Bahannya saja dari kaim sutra, sehingga tetap nyaman meski dipakai berjam-jam.
"Tidak. Kamu pintar memilihnya, sepertinya ini pas denganku," ucap Aluna sembari menempelkan gaun itu lagi di tubuhnya.
Kemudian Nino menghampiri mereka, meminta karyawan itu menunjukkan tas dan sepatu model terbaru. Mereka berpindah tempat, setelah mencocokan dengan gaun. Aluna memilih sebuah clutch bag berwarna hitam dengan sepatu berwarna senada.
"Pembayarannya non-tunai ya, Mbak, " ucap Nino pada karyawan itu.
Setelah selesai melakukan transaksi, mereka bergegas menuju tempat lain. Aluna heran dengan kelakuan Nino. Kenapa tiba-tiba mengajaknya belanja?
"Kita mau ke mana lagi?" tanya Aluna sembari mengernyitkan alis.
Nino berhenti di depan galery perhiasan. Ia menarik tangan kekasihnya, memilihkan dua buah gelang Cartier berwarna gold dan silver. Ditambah kalung dan anting yang sangat serasi, melekat sempurna pada tubuh Aluna.
Wanita itu memandang kekasihnya yang fokus menyetir mobil dengan tatapan menelisik. "Kenapa kamu memintaku membeli gaun begini? Ditambah dengan aksesoris dan perhiasan. Padahal aku tidak pernah memakai pakaian sefeminim ini."
"Aku ingin membuatmu lebih cantik."
Wanita pemilik mata almond itu mengerutkan kening. "Alasannya? Tidak biasanya kamu cerewet tentang penampilanku."
"Hari ini kita akan ke rumah Mama untuk makan malam."
Manik mata Aluna membulat. Terlintas kembali bayangan Bu Hilma, seorang wanita paruh baya yang masih tampak modis. Gaya bicaranya pun sangat berwibawa, caranya berjalan bagaikan putri bangsawan. Ia merasa tak pantas berada di antara mereka.
"A-aku menolak! Aku takut Mamamu tidak bisa menerimaku," ucap aluna sembari meremas ujung blouse yang ia kenakan.
Sontak Nino menoleh, melambatkan laju kendaraannya. "Kenapa?"
Pria itu kembali fokus melihat jalanan, ekor matanya masih mencuri pandang. Menanti jawaban sang kekasih. Aluna tertunduk malu, ia tak yakin dengan jawabannya.
"Aku merasa tak layak, Mamamu seorang wanita berada sedangkan aku-" Ucapan Aluna terhenti karena Nino mengerem mendadak.
Aluna tak berani melanjutkan kalimatnya, ia merasa bagai pungguk merindukan bulan. Benang merah di antara keluarga mereka terbentang begitu luas.
Nino memarkir mobilnya di tepi jalan. "Kamu sempurna! Ingat baik-baik! Wanita Nino itu sem-pur-na."
"Semuanya akan baik-baik saja! Ada aku di sisimu, " ujar Nino sembari menggenggam erat tangan Aluna.
Wanita itu terkekeh melihat kekasihnya mengeja kata dengan gerakan bibir dibuat-buat. Ia merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti Nino. Pria yang menerima apa adanya, tanpa memandang status sosial mereka.
"Makasih, Sayang," ucap Aluna tiba-tiba.
Kekasihnya hanya membalas dengan senyuman dan kembali menancap gas. " Kita langsung ke salon?"
"Hey, aku belum mandi! Pulang dulu ke rumahku!" hardik Aluna sembari mencubit pinggang Nino.
Pria itu menggeliat geli, beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Aluna. Tanpa menunggu lama wanita itu bergegas ke kamar mandi. Sedangkan Nino menunggu di ruang tamu sendirian.
"Ternyata aku pantas juga memakai gaun seperti ini," decak Aluna saat memandang pantulannya di cermin.
Ia asik berpose memakai semua barang pemberian Nino itu, sampai tak menyadari kekasihnya masuk ke kamar yang memang pintunya terbuka lebar. Mengendap-endap, menghampiri wanitanya.
"Cantik," ucap Nino sembari memeluk Aluna dari belakang.
Aluna terkejut dan membalikkan tubuh. "Akh, Nino. Kenapa kamu di sini? Ayo keluar!"
Pria itu mengikuti Aluna yang menyembunyikan rona merah di pipinya. "Aku bosan menunggu! Kupikir kamu ketiduran eh ternyata ...."
"Sudah, ayo ke salon!" ajak Aluna mengalihkan topik pembicaraan.
Tiga puluh menit kemudian ....
Aluna selesai dirias, Nino tercengang memandang kekasihnya yang luar biasa cantik. Bagaimana tidak? Setelan dress putih anggun yang pas membalut tubuh sintalnya, dipadukan dengan perhiasan yang gemerlapan. Surai indahnya dibuat sedikit bergelombang di bagian bawah, lalu dijepit dengan hairpin ke arah samping. Make up wanita itu pun serasi, lipstik berwarna peach berpadu dengan eyeshadow cokelat muda. Penampilannya yang seperti itu bak artis korea ala dewi Yunani.
"Nino, ayo!" ajak Aluna sembari menggandeng lengan kekasihnya yang masih terbengong.
Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menyadarkan dirinya dari sihir Aluna. "Iya."
Mobil ferari itu kembali menjajaki aspal, menuju kediaman Bu Hilma. Jantung Aluna berdegub kencang, wanita itu tak tahu harus memulai dari mana nanti. Sedangkan Nino menyeringai, ia tak sabar menyaksikan reaksi kedua orangtuanya melihat penampilan Aluna, terutama ayah tirinya.
"Silakan masuk, Tuan," ucap salah satu pelayan di rumah itu.
Aluna terbelalak, design interior kediaman Bu Hilma sungguh luar biasa. Rumah yang didominasi warna putih-abu itu tampak elegan, perabotannya tertata rapi dan artistik, ditambah hamparan taman bunga yang terawat menjadikannya sangat asri.
"Jangan memasang tampang begitu! Bersikaplah sedikit angkuh!" perintah Nino tanpa menoleh ke arah Aluna.
Wanita itu merasa malu dengan sikapnya yang seperti orang pedalaman. Aluna membusungkan dada, menegapkan postur tubuh. Ia mendongakkan sedikit wajah agar terlihat berwibawa. Entah berapa banyak pelayan di dalam rumah itu yang memandang ke arah Nino dan Aluna. Mereka takjub melihat pasangan yang sangat serasi.
"Langsung saja ke ruang makan, Nino," ucap Bu Hilma sembari menuruni tangga.
Wanita itu melempar senyum ke arah Aluna. Ia merasa senang putranya mau memenuhi jamuan makan malam itu. Sudah sangat lama mereka tak makan bersama.
"Nino, duduklah di sampingku!" bisik Aluna lirih.
Pria itu melirik kekasihnya, dan mengangguk. Bu Hilma mengambil posisi duduk di seberang Aluna, sedangkan Pak Sailendra baru saja bergabung. Lelaki itu mengecup mesra pipi sang istri sebelum duduk, membuat Nino merasa muak.
"Terimakasih sudah memenuhi keinginan, Mama."
Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangan ke arah asistennya. "Bi Inah, tolong siapakan hidangan!"
Pak Sailendra tak menyapa kedatangan Aluna dan Nino. Ia menatap tajam wanita di samping anak tirinya. Dahinya berkerut, mengamati penampilan Aluna yang tampak berbeda dan berkelas.
Gila! Wanita ini hanya ingin memeloroti harta kekayaan keluarga ini! Buktinya dari mana ia bisa membeli semua barang mewah itu? Pasti wanita licik ini memintanya pada Nino.