
Waktu terus bergulir, tak terasa mentari mulai condong ke arah barat. Udara yang awalnya panas mulai terasa dingin, menyusup di antara pori-pori kulit. Para karyawan pun telah selesai absen dan bersiap untuk pulang.
Namun, tidak dengan Aluna. Wanita itu masih kekeh menunggu kekasihnya di parkiran. Beberapa kali ia melirik ponsel. Niat hati ingin mengirim pesan pada Nino, tetapi ia takut malah mengganggu. Sebenarnya bisa saja wanita pergi ke lantai lima. Sayangnya penyakit malas gerak merayap di tubuhnya.
"Ck, lama sekali! Bertelur kali ya di atas sana," celoteh Aluna sembari mendongakkan wajah.
Gedung yang menjulang tinggi dengan lima lantai itu di kelilingi oleh kaca. Pantulan cakrawala tampak sangat jelas di permukaannya. Indah seperti sebuah lukisan bergaya kotemporer, realisme berukuran raksasa.
"Sedang apa kamu di situ?" tanya Nino yang muncul di belakang Aluna.
Gadis itu menoleh dan membersihkan bagian belakang celananya, yang sedikit kotor karena duduk di lantai parkiran. "Menunggu uang jatuh dari langit!"
"Ayo!" ajak Aluna sembari menarik handle pintu mobil Nino.
Nino mengerutkan dahi dan berlagak lupa. "Mau kemana?"
"Kutub utara! Mau ngantar pulang manusia es yang ketinggalan di sini."
Lagi-lagi Nino terkekeh melihat tingkah Aluna, berapa tahun mereka lalui bersama. Namun, Aluna tetaplah gadis konyol yang memukau.
Lelaki itu membuka pintu mobilnya, disusul oleh wanitanya yang mulai cemberut.
"Mau pulang dulu apa enggak?" tanya Nino dengan senyum khasnya.
Aluna memutar bola matanya malas. "Langsung aja! Keburu malam."
Kendaraan besi itu melaju dengan cepat, menyusuri aspal jalanan yang mulai bergelombang. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kediaman megah Nino.
Hamparan bunga crysant yang diterpa angin menyapa mereka dengan gemulai. Aroma bunga mawar memenuhi indera penciuman. Aluna baru sadar bahwa taman itu begitu terawat dan sangat cantik.
Mereka pun memasuki kediaman Sasongko dan bergegas menuju dapur. Nino melirik kekasihnya yang sibuk menguncir rambut. Anak-anak surai yang tersisa itu makin membuatnya terlihat imut.
"Kamu mau dimasakin apa?" tanya Aluna sembari memakai celemek.
Nino mengerucutkan bibirnya. "Terserah, yang penting lengkap. Ada makanan pembuka, utama dan penutup."
"Oke, kamu mandi sana! Jangan ganggu aku!"
Lelaki itu berdiri dan menghampiri Aluna. "Harus enak, kalau kamu mau pulang dari sini."
"Idih ngancam. Hust, sana mandi! Bau acem." Aluna menutup hidung dengan telapak tangan.
Wanita itu mengerling dan mengetuk-ngetuk kepala dengan spatula. "Masak apa ya? Hmm, kulihat isi kulkas dulu deh!"
Aluna mengintip isi kulkas dan ternyata peti es itu penuh dengan berbagai bahan makanan. Mulai dari daging ayam, daging sapi dan udang. Ada juga beberapa sayuran hijau dan buah-buahan yang tertata rapi.
Memang benar isi lemari es sultan itu berbeda dengan yang ada di rumah Aluna. Kosong melompong! Saking longgarnya, kita bisa memasukkan seekor kucing di dalamnya. Paling hanya rak telur yang selalu terisi, itu pun tidak penuh enam belas baris.
Aluna mulai mengeksekusi bahan-bahan. Ia mengambil daging sapi, kentang dan wortel. Entah makanan seperti apa yang akan wanita itu hidangkan. Semoga masih wajar untuk dimakan.
"Lalala, selesai. Tinggal makanan penutup!"
Satu jam berlalu dan Nino telah berganti pakaian. T-shirt polo yang ia kenakan menambah kesan keren. Entah mengapa lelaki itu terlihat begitu tampan malam ini.
"Masak apa, Sayang?" tanya Nino sembari mengecup tengkuk Aluna.
Gadis itu membalikkan badan dengan cepat. "Jangan macam-macam! Atau irus panas ini akan menempel di bibirmu!"
Nino hanya mengedip-kedipkan mata dan memonyongkan bibir. "Galak banget."
"Taaraa! Jeng-jeng ... makanan sudah siap!"
Aluna meletakkan sepiring fetuccine sosis dan dua porsi beef steak lengkap dengan kentang dan wortel kukus. "Ayo dimakan! Tapi, berdoa dulu."
Usai memanjatkan doa, Nino dengan cepat melahap fetuccine yang merupakan makanan pembuka itu. Tekstur lembut dan kenyal dari pasta itu memanjakan lidah, apalagi ditambah dengan keju dan sosis yang gurih. Lumer dan meleleh di mulut.
"Hmm, nilainya empat," ucap Nino seenak jidad.
Aluna mengernyitkan alis. "Kok empat, sih!"
"Kurang banyak jadi cuma empat." Nino menarik sepiring makanan utama yang telah Aluna sajikan.
Kali ini Nino memotong perlahan daging sapi yang telah diolah itu. Tidak begitu keras, tetapi masih sedikit asin. Namun, jika dipadukan dengan sayuran yang notabene hambar menjadi perpaduan yang pas.
"Nilainya empat koma lima," beo Nino, kali ini dengan mulut penuh.
Aluna mengiris dagingnya dengan kesal. Ia sengaja menghentak-hentakkan kaki di bawah meja makan. Berbagai hidangan yang dimasaknya susah payah, seperti tidak dihargai saja.
Nilainya sedikit, tetapi dia melahap dengan rakus. Dasar pria aneh! Makhluk macam apa dia ini sebenarnya.
Lima belas menit berlalu, dan mereka selesai menghabiskan makanan. Saatnya makanan penutup yang mejeng. Aluna dengan sigap membuka lemaei es dan mengeluarkan sesuatu yang terlihat kenyal.
"Makanan penutupnya silky pudding!" Aluna meletakkan hidangan itu dengan sangat hati-hati.
Nino tak menghiraukan tingkah Aluna yang berlagak bagaikan koki handal itu. Secepat kilat lelaki itu menyambar hidangan penutup.
Lembut dan manis, ditambah dengan irisan strawberry yang segar. Sehingga menetralkan rasa enek dari makanan utama tadi.
"Nilainya satu koma lima." Nino kembali meneguk segelas air putih.
Wanita berparas oriental itu segera membereskan piring dan mendengkus kesal. "Astaga, capek-capek masak nilainya cuma segitu. Lain kali aku enggak mau masak lagi!"
"Kenapa?" tanya Nino dengan watadosnya.
"Kamu enggak menghargaiku! Suruh saja koki andalanmu memasak!" decih Aluna kesal.
Nino memeluk pemilik pinggang ramping itu dari belakang. "Kamu enggak bisa berhitung?"
"Apa maksudmu?" Aluna memballikan tubuh meski tangannya penuh dengan busa sabun.
"Coba jumlahkan berapa total keseluruhan nilainya? Sepuluh 'kan. Bukankah itu nilai sempurna?"
Mendadak pipi Aluna merona, entah mengapa gombalan Nino itu receh. Namun, selalu sukses membuatnya tersipu malu dengan wajah seperti kepiting rebus.
"Lepaskan! Atau kamu mau aku cuci sekalian?" pekik Aluna sembari mengusap pipi Nino.
Busa sabun cucian piring itu menempel, sehingga membuat wajah Nino terlihat lucu. Alih-alih memarahi Aluna, lelaki itu malah mengusap wajahnya dan menempelkan busa itu di wajah kekasihnya.
"Nah, ini baru adil!"
"Astaga, Nino! Ini sabun cucian piring, lho!"
"Enggak apa-apa. Lagian kamu juga belum mandi 'kan, anggap saja itu facial foam!"
"Idih! Enggak mau!" hardik Aluna sembari mencubit hidung mancung Nino.