
Setelah berbincang bincang cukup lama di ruang tamu. Lani datang dengan wajah yang segar dan ceria, bagaimana tidak sudah lama dia tidak bertemu dengan Angel sahabat baiknya itu.
“Maaf ya lama, jangan sungkan silahkan dinikmati minumannya, maaf alakadarnya” tentu kata-kata itu untuk Reno, kalau dengan Angel sudah pasti kata-katanya akan sangat bar bar.
Lani mengambil anaknya dari gendongan Vino kemudian duduk di dekat Angel.
“Cantik kan anak Aku?” kata Lani sudah mode barbar jika bicara dengan Angel.
“Iya, dan untungnya gak mirip Kamu” jawaban yang mengundang tawa seisi rumah.
“Sialan Kamu ah” kesal Lani sambil mencubit gemas pipi Angel.
Darren turun dari pangkuan ayahnya karena tidak terima ibunya di cubit.
“nti (Aunty), janan di ubit (jangan di cubit) pipi Mama Dayen” kata Darren berkacak pinggang.
Lagi-lagi hal itu mengundang gelak tawa, memang yah hal kecil seperti itu pun bisa membuat kita bahagia.
…
Ditempat lain, Anjas tengah disibukkan dengan tumbukan proposal di mejanya. Anjas. Sejak 3 tahun lalu Anjas sudah pindah bekerja dari perusahaan yang lama,kemudian dia bekerja sebagai manager marketing di sebuah dealer Mobil.
Pekerjaan yang sangat menguras otak dan emosi, apalagi ketika target penjualan tidak tercapai, kepala akan semakin cenat cenut dibuatnya.
“Pak, ada yang cari di depan, katanya teman Bapak” kata Dian sang receptionist pada Anjas.
“Cewek apa cowok?” Tanya Anjas tanpa menoleh ke arah Dian, dia masih menyiapkan proposal penawaran produk.
“Cowok pak, emang bapak punya teman cewek?” ledek Dian karena memang mereka sudah se akrab itu.
Anjas memandang Dian dengan kesal, “nanti saya kenalin istri saya ke kamu, baru kamu bengong”.
Dian hanya tertawa menanggapi, “Secepatnya ya pak, saya tunggu”.
Anjas mendengus sebal kemudian menemui tamu yang dimaksud.
“Tumben Kamu kesini?” Tanya Anjas setelah mendudukan diri di sofa ruang tamu dealer mobil tersebut. Hari sudah sore tetapi masih banyak pengunjung yang datang.
“Sampai jam berapa Kamu kerja?” Bukannya menjawab tamu yang tak lain adalah Andi bertanya balik.
“Kerjaan Aku masih banyak, Kamu tahu sendiri bentar lagi tutup buku, masih kejar target Aku”
“Mau mau Aku ajakin kumpul, udah lama kan kita gak kumpul-kumpul”ajak Andi kemudian.
“Duh, Aku masih gak enak ketemu Reno”ungkap Anjas.
“Emangnya Kamu rebut istri dia, move on dong bro, udah lama kita temenan, masak gara-gara Kamu gagal move on pertemanan kita jadi bubar”
“Gimana ya? Canggung Aku ketemu Reno, Kamu gak ada bilang kan?”jujur Anjas.
“Ngapain Aku bilang hal gak penting kayak gitu, kalau cuma suka aja gak sampai rebut istrinya gak bakalan dia marah sama kamu, biasain aja kali” Andi tak habis pikir dengan Anjas , menurutnya tidak ada yang perlu diributkan tentang perasaan suka seorang diri yang dirasakan Anjas, toh hubungan Reno dan Angel baik-baik saja, tidak berpengaruh dengan hal itu.
Mau tak mau Anjas pun menyetujuinya. Mereka akan berkumpul di rumah Reno karena itu permintaan dari Reno tentunya.
Ke empat sekawan itu sudah berkumpul di ruang tamu di rumah Reno. Di depan mereka sudah dilengkapi beranega jenis roti kering, kripik dan juga kacang-kacangan. Anjas tidak bisa menutupi kegugupannya walau sesekali dia tertawa tetapi tetap saja kelihatan jelas perbedaannya. Reno belajar banyak dari Angel bagaimana caranya bersikap dewasa, dia menekan keras rasa cemburunya yang tidak beralasan.
Reno bangkit dari duduknya kemudian pergi ke dapur untuk mengambil jus jeruk.
“Kamu kenapa sih?” Tanya Rio yang merasa aneh dengan sikap Anjas.
“Aku kenapa? Aku gak kenapa-napa kok” elak Anjas.
Sedang Andi sibuk dengan ponselnya, tidak peduli dengan obrolan Rio dan Anjas.
Anjas terkejut sudah pasti tapi dia berusaha biasa saja.
Rio dan Andi mulai memainkan game mereka, sedangkan Reno dan Anjas hanya menonton dibelakang.
“Kamu kenapa? Ada masalah lagi?” Tanya Reno karena Anjas hanya diam saja.
“Gak apa-apa kok, ehehe” jawab Anjas sambil memasukkan popcorn ke mulutnya.
“BTW makasi ya udah anterin anak dan istri Aku pulang waktu ini” kata Reno lagi dengan tersenyum.
Anjas menelan ludahnya paksa, “Sama-sama, Aku liat Darren sudah ngantuk banget waktu itu makanya Aku anterin pulang”.
“Iya, emang anak Aku mirip banget kayak Aku, habis makan pasti ngantuk” kata Reno sambil tertawa, dia ingin menghilangkan kecanggungan antara dia dan Anjas yang entah karena apa.
Anjas pun ikut tertawa menimpali. Sifat Reno memang turun pada anaknya, terutama galaknya.
“Aku gak sengaja denger omongan kamu sama Andi waktu ini” kata Reno lagi.
Ded. Jantung Anjas seperti berdetak begitu kencang.
“Tapi itu tidak akan merubah apapun diantara kita, Kamu tetep sahabat Ku, tapi Aku mohon sama Kamu, lupain istri Ku” tegas Reno.
Anjas tidak bisa berkata-kata. Semua pikirannya menjadi kosong.
Reno menepuk-nepuk pundak Anjas, “Kamu harus bahagia, seperti Aku dan Angel, Aku yakin Kamu bisa dapet yang jauh lebih baik”.
Anjas menganggukkan kepalanya, “Terima kasih karena Kamu masih mau jadi sahabat ku setelah tahu kebenarannya”.
“Apaaan sih Kamu, selamanya kita berempat adalah sahabat, Aku gak bisa ngelarang kmu suka sama siapa aja, tapi Aku mohon kamu harus bisa buka diri Kamu untuk wanita lain, Angel sudah jadi istri Ku sekarang, Kamu juga harus bahagia”.
Anjas tersenyum tipis, “Semoga saja Aku bisa secepatnya move on dari istri mu, Kamu harus bahagiain dia ya, kalau sampai Kamu nyakitin dia, Aku yang paling pertama bakalan bunuh mu”
“Yaelah gaya mu” Reno ngakak mendengar perkataan Anjas.
Rio dan Andi diam-diam mendengarkan obrolan kecil dibelakang mereka, tapi keduanya memilih pura-pura tidak mendengarkan. Biarlah itu menjadi urusan Reno dan Anjas.
“Aku doain semoga secepatnya kamu nemuin wanita yang tepat”.
“Terima kasih bro, Aku juga pengennya gitu”.
“Bukannya Kamu sering keluar nyari customer, masak gak ada yang klik satupun?”tanya Reno pula.
“Mungkin focus Ku bukan nyari istri tapi kejar target biar segera closing”jawab Anjas jujur.
“Kenapa gak pindah aja sih? Banyak lho kerjaan yang lebih bagus dan gajinya gede” ucap Reno memberi saran.
“Nunggu modal dulu, bentar lagi Aku mau buka dealer sendiri, doain ya”.
“Wah hebat nih sobat ku”ucap Reno sambil menepul pundak Anjas.
“Biar samaan kayak Kamu, Kamu kan udah jadi pengusaha cukup sukses” timpal Anjas.
Mereka pun sama-sama tertawa.
“Ya semoga nanti Aku jadi pengusaha yang sukses, bukan cukup sukses lagi” kata Reno menimpali.
“Hahaha” mereka akhirnya bisa tertawa kembali setelah sekian lama kecanggungan yang tercipta.
Rio dan Andi pun menghentikan permainan mereka dan ikut bergabung mengobrol dengan Reno dan Anjas, entah membicarakan apa. Yang jelas dari A sampai Z ada saja yang dijadikan topik pembicaraan.
BERSAMBUNG 😍