
Reno, Rio dan Andi berkunjung ke rumah Anjas untuk menjenguk sang Ibu sekalian silahturahmi. Sudah lama mereka tidak berkumpul bersama.
Anjas yang biasanya banyak bicara dan pecicilan sangat jelas terlihat perbedaannya. Dia terlihat lebih pendiam, walaupun masih ramah seperti biasa.
“Kamu kenapa sih, cerita dong sama kita-kita” kata Rio yang merasa ada sesuatu dengan diamnya Anjas.
Mereka sedang duduk di ruang keluarga sambil bermain game. Walupun sudah semakin dewasa tetapi kebiasaan itu tidak berubah.
Anjas menarik napasnya panjang.
“Sebenarnya Ibu jodohin Aku dengan Ratih, kalian tahu kan Ratih tetangga Aku itu?"
Mereka bertiga kompak mengangguk karena memang cukup mengenal Ratih. Dulu pun mereka satu kampus walaupun Ratih adalah adik kelas mereka dan jarang bertemu.
“Terus Kamu nerima perjodohan itu?” sekarang Andi yang bertanya.
Anjas pun mengangguk.
Rio menepuk bahu Anjas menguatkan karena dia sangat tahu Anjas tidak pernah menyukai Ratih dan hanya menganggap sebagai teman.
“Karena ibu Kamu sakit?” Kini Reno yang bertanya.
Lagi Anjas hanya mengangguk.
‘’Semoga Aku bisa kayak Kamu ya ,Ndi” kata Anjas tersenyum tipis.
“Kalau Aku sama istri memang sama-sama setuju, pernikahan itu harus dipikirkan baik-baik, jangan salah langkah”ucap Andi.
Ratih memang orang yang baik dan penyayang, tetapi mereka tidak akan pernah bisa cocok. Sifat Ratih yang serius sangat berbanding terbalik dengan Anjas yang selengean, kadang-kadang Ratih sering kali ngambek tidak jelas dan itu membuat Anjas tidak nyaman.
“Apapun keputusan Kamu, kita semua akan selalu dukung, dan jangan pernah menutupi apapun dari kita lagi, Aku berasa bersalah saat Kamu sendirian ngerawat nyokap mu dirumah sakit, seharusnya kita-kita bisa gentian bantuin Kamu disana” kata Reno panjang lebar.
“Terima kasih, kalian memang sahabat Aku, Aku cuma gak mau nyusahin kalian, apalagi kalian punya kesibukan masing-masing”.
“Gak ada nyusahin, kita kan sudah seperti keluarga” kata Rio penuh penekanan.
“Kalau Ratih setuju gak nikah sama Kamu?” Andi masih penasaran.
“Nggak sih kayaknya, dia kan cantik, mana mau sama kamu” ledek Andi lagi.
Rio dan Reno tergelak mendengar jawaban Andi, bisa-bisanya Andi meledek disituasi yang boleh dibilang sedikit sedih. Tentu saja itu dia lakukan untuk merubah suasana hati Anjas yang tampak murung.
“Sialan Kamu, yang ada dia yang beruntung dapat suami kayak Aku”.
“Jadi Ratih setuju?” sekarang giliran Rio yang penasaran.
Anjas menggeleng, “Dia tidak setuju”
“Terus ngapain Kamu masih murung kalau dia juga gak mau?” Andi semakin penasaran.
“Dia tidak setuju awalnya, tetapi akhirnya setuju juga” jawab Anjas berbelit belit.
“Yaelahhh” Kesal Rio menepuk kembali pundak Anjas.
“Coba aja pelan-pelan buka hati Kamu, siapa tahu dengan sering bersama Kamu bisa jatuh cinta” Usul Reno, “Kamu ada yang di suka?”
Deg. Mendengar pertanyaan Reno mendadak dadanya bergemuruh.
Sudah lama dia memendam rasa kepada Angel, istri dari sahabatnya itu. Tetapi karena tahu bagaimana besarnya sayang Reno kepada Angel, Anjas mundur perlahan-lahan.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Reno dan yang lain, dulu saat masih kuliah, Anjas sering mengikuti kegiatan Angel di club Music.
Mendengarkan Angel bernyanyi bisa sangat menenangkan hatinya, bahkan saat Reno sudah bersama Melody, Anjas tetap tidak berani mendekati Angel karena tidak ingin persahabatannya dengan Reno menjadi rusak.
Menurutnya persahabat lebih penting dari segalanya.
Tetapi entah kenapa, sampai saat ini walaupun Reno dan Angel sudah menikah, dia tetap belum bisa membuka hati untuk wanita lain.
“Semoga Reno tidak pernah tahu perasaan Aku pada istrinya” kata Anjas dalam hati.
BERSAMBUNG ❤