MY ANGEL

MY ANGEL
Move on



Vino berjalan menyusuri taman yang ada di halaman rumahnya. Taman bunga yang begitu sangat dirawat dengan baik oleh Ibu sambungnya. Beberapa tahun terakhir hubungan persaudaraan antara Melody dan Vino sudah semakin membaik. sudah tidak ada pertengkaran lagi diantara mereka. Semua ini karena saran dari Reno, semenjak berpacaran dengan Reno, Melody menjadi berubah ke arah yang lebih baik lagi. Tidak ketus dan lebih pengertian kepada kakak tirinya.


Reno selalu meminta Melody untuk bisa menjalin hubungan yang baik dengan Vino. Hal itulah yang membuat Vino menyayangkan adiknya itu mengakhiri hubungannya dengan Reno. Karena bagi Vino, Reno memberikan pengaruh yang sangat positif untuk Melody.


Vino memetik bunga mawar kuning yang tumbuh di taman tersebut. Bunga yang warnanya sama dengan baju yang di kenakan gadis yang dia sukai.


Vino membayangkan pertemuannya tadi dengan gadis itu.


"Ah... Dia menggemaskan sekali. Apalagi saat dia mengeluarkan ide-idenya. Aku semakin jatuh cinta dibuatnya" guman Vino masih mengingat-ingat pertemuannya dengan pujaan hatinya.


"Semoga hubungannya dengan Reno hanya sekedar rekan bisnis saja" ucapnya pula.


Vino kemudian masuk ke dalam rumah, dipandanginya foto keluarga yang diambil beberapa bulan yang lalu. Saat itu Melody dan Reno belum putus.


Senyum Melody sangat tulus di foto itu dan Vino sangat suka melihatnya.


"Sayang sekali kamu harus berpisah dengan orang sebaik itu Dy" batin Vino.


Tapi Vino tidak bisa memaksakan kehendak karena Melody lah yang menjalani hubungan tersebut.


Vino juga bisa merasakan kalau Reno tidak mencintai Melody, entah kenapa ada keterpaksaan dalam diri Reno yang Vino lihat. Tidak ada cinta menggebu gebu seperti kebanyakan pasangan lain.


Jangankan berciuman, berpegangan tangan saja mereka sangat jarang. Dan Vino tau kalau Melodu mengiginkan hubungan yang menggelora dan dicintai begitu dalam tapi semua itu tidak dia dapat dalam diri Reno.


Vino kemudian naik ke kamarnya untuk beristirahat. Besok akan banyak agenda yang dia kerjakan.


Sebelum menutup mata dia kembali membayangkan wajah gadis yang dia cintai itu.


Belum sempat menutup mata ponselnya sudah berdering.


Terlihat nama Asisten Resek disana.


"Iya lan?" tanya Vino malas-malas. Dia sudah sangat mengantuk tapi asistennya itu selalu saja mengganggu.


"Besok ingat ya pak, Bapak harus pakai baju hitam sesuai dresscode nya" ucap Asistennya sedikiy cempreng.


"Iya, aku mau tidur dulu. Kamu jangan nelpon lagi" ucap Vino dan langsung mematikan ponselnya.


Asisten Vino hanya menggeruti kesal karena memang atasannya itu sangat menyebalkan. Mungkin bila tau namanya dibuat Asisten Resek di ponselnya, Asisten Vino akan semakin kesal dengan boss nya.


...


Pagi telah menyapa, Vino membuka korden di kamarnya. Menikmati udara pagi yang begitu sejuk.


Dia hirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan energi yang cukup sebelum berperang dengan kesibukan yang menggunung seharian ini.


Vino lengkungkan senyumnya ketika mengingat pujaan hatinya kembali.


"Cantik..." guman Vino setiap mengingat wajah gadis yang dia cintainya.


Vino regangkan otot-ototnya sebelum memasuki kamar mandi.


"Selamat pagi Siska" ucapnya seraya tersenyum. Sudah menjadi rutinitasnya belakangan ini setiap bangun tidur adalah menyapa Siska yang tidak lain adalah Angel.


Vino kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan kembali membayangkan wajah menggemaskan Angel.


"Ah... Dia memang manis" guman Vino lagi dan lagi.


Selesai mandi dan bersiap. Vino turun ke ruang makan sudah lengkap dengan pakaian yang diperintahkan asistennya kemarin.


"Asisten resek memang cocok untuk dia. Suka sekali mengganggu di jam genting" dumul Vino bila mengingat asistennya.


Walau dia sering berdebat dengan asistennya tapi asistennya merupakan teman curhat Vino selama ini. Dia akan berkeluh kesah dan menceritakan semuanya pada asistennya itu. Termasuk masalah percintaannya.


Saat sampai di ruang makan. Melody sudah ada disana menunggu Vino dengan senyum ramah. Melody sudah berias, sepertinya dia juga ada kerjaan yang menanti.


"Pagi darling" sapa Vino pada adik tirinya. Dia menarik kursi dan duduk di sebelah Melody.


“Dydy, gimana kerjaan kamu?” tanya Vino


Mereka memang sering makan hanya berdua saja karena orang tua mereka sedang ada di luar negeri karena urusan pekerjaan.


“Lagi banyak job kak, besok aku ke kota B, ada syuting  beberapa iklan selama seminggu” jawab Melody sambil mengoleskan selai di roti gandumnya.


“Kamu harus jaga kesehatan, minum banyak vitamin” Vino sudah siap dengan wejangan paginya.


“Siap boss” jawab Melody dengan cengiran, "Kakak gimana proyek dengan Mega Pro? aman kan? gimana dengan Siska?” Melody sangat penasaran dengan Siska karena kakaknya sudah berulang kali menceritakan tentang Siska.


Siska cantik, siska baik, siska pintar dan bla bla bla.


“Apakah harus aku bilang kedekatan antara Reno dengan siska?” batin Vino , “tapi kan belum tentu mereka ada hubungan juga, aku harus pastiin dulu” imbuhnya.


“Kok diem kak? kakak ditolak siska?” tanta Melody heran.


“Kakak gak mau buru-buru, nanti dia merasa gak nyaman” jawab Vino kemudian.


“Jangan lama-lama, nanti ditikung orang” ucap Melody dengan terkekeh.


“Seneng banget godain kakaknya” ucap Vino cemberut, “ Kamu sendiri gimana? udah bisa move on dari Reno?” ledek Vino pula.


“Gak usah di bahas, udah end “ jawab Melody sambil menyilangkan tangannya di dada.


“Semoga itu keputusan terbaik ya” ucap Vino sambil mengusap kepala adiknya dengan sayang.


“Ibu sempat nelpon aku bilang kalau Vino terpuruk, tapi pas aku ketemu dia ternyata dia biasa aja gak ada sedih-sedihnya sama sekali, malahan terlihat happy banget” ceita Melody. Ibu merupakan panggilan Melody untuk Ibunya Reno.


“Beda dengan aku yang nyesel banget udah mutusin dia” lanjutnya.


“Kamu gak ingin balikan aja?’’saran Vino.


Melody menggeleng, “nggak kak, kami udah gak bisa bersama lagi, ada jarak diantara kami dan hubungan kami tidak sehat. Hanya aku yang bahagia saatbkami bersama tapi dia tidak. Dia mencintai orang lain" jawab Melody mendadak sendu.


“Kakak akan selalu dukung apapun keputusan mu” ucap Vino kembali mengelus kepala adiknya.


“Kakak memang kakak ku yang terbaik, ayo makan lagi, aku mau ke studio sebentar lagi” ucap Melody.


“Kakak anter ya?”pinta Vino.


“Gak usah kak, bentar lagi Rima jemput, kakak bukannya ada janji dengan Siska?” tanya balik Melody


“ Iya nanti jam makan siang , tapi dengan Pak Andre, Siska sekarang fokus proyek mega di luar kota, kamu tau dengan perusahaan konstruksi mana mereka kerja sama?” tanya Vino.


“Pasti Reno kan?” tebaknya asal.


“Kok kamu tau?” tanya Vino heran.


“Kan gak mungkin kakak nanya gitu kalau bukan Reno” jawab Melody sambil tertawa melihat ekspresi kakaknya.


“Semoga gak ada hubungan apa-apa ya antara Reno dan Siska, karena kakak sering liat mereka bersama” ucap Vino pula.


“Sekarang itu bukan menjadi urusan ku lagi kak, Reno bebas mau jalan dengan siapa aja” kata Melody mencoba membesarkan hati, “Tapi kakak jadinya yang kalah gercep dari Reno” ucap Melody menertawakan kakaknya.


“Sialan kamu dy, sebelum jalur kuning melengkung masih ada kesempatan” sahut Vino mantap.


“Ya selamat berjuang kak, aku pergi dulu ya” Melody bangkit kemudian mencium pipi Vino sekilas.


“Hati-hati di jalan, minta Rima jangan ngebut ya” ucap Vino memperingatkan.


“Iya papa Vino” kekehnya kemudian keluar rumah sebelum di marahi Vino karena memanggilnya papa.


“Dydy… Dydy… syukurlah kalau kamu sudah bisa move on, karena kakak yakin kalau hubungan Reno dan Siska bukan sekedar rekan bisnis semata” batinnya.


Bersambung...