
Reno tidak bisa berpikir untuk saat ini. Perasaannya benar-benar campur aduk.
Kenapa dia harus berbohong?
Apa dia tau kalau selama ini aku menaruh hati padanya?
Batin Reno.
Riri yang menyadari ada kecanggunan setelah pernyataan yang dia lontarkan kemudian menarik kursi dan duduk disana.
"Agenda kalian apa saja hari ini?" tanya Riri memecahkan kecanggungan. Dia mulai banyak bercerita ini dan itu agar suasana kembali hangat. Hanya Angel yang menyahuti setiap pertanyaan yang Riri lontarkan sedangkan Reno tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Aku tinggal ke belakang sebentar ya" ucap Reno lalu bangkit dari duduknya.
Riri langsung menggunakan kesempatan itu untuk mengintrogasi Angel.
"Ada apa ini sebenarnya Angel?" tanya Riri yang sudah sangat penasaran.
Angel menghela nafas berat.
"Kamu tau kan aku sudah suka sama dia sejak lama" ucap Angel memulai ceritanya.
Riri pun menganggukkan kepalanya.
"Aku gugup banget setiap ketemu dia. Awalnya aku mau pura-pura gak kenal aja. Tapi dia malah banyak tanya dan minta maaf. Jantung aku tambah mau lompat rasanya" lanjutnya.
"Minta maaf karena apa?" tanya Riri pula.
"Masalah dulu saat KKN pas kejadian Mella, dia sempat bentak aku. Aku aja udah lupa. Tapi dia malah minta maaf" jawab Angel.
Riri pun menganggukkan kepala mengerti.
"Terus? Kenapa kamu bisa bilang sudah menikah?" tanya Riri sudah tidak sabaran.
"Saking gugupnya aku pas dia tanya aku malah blank dan jawab iya iya saja" sesal Angel.
Riri tidak bisa menahan tawanya. Dari dulu Angel memang tidak pernah berubah. Asal berhubungan dengan Reno dia pasti deg degan tidak jelas.
"Jangan tertawa, aku lagi galau ini. Dia kayaknya marah" ucap Angel.
"Mungkin bukan marah, hanya sedikit syok karena kamu bohong. Jujur saja nanti dan minta maaf" ucap Riri menenangkan.
Angel pun menganggukkan kepalanya. Mungkin sudah jalannya Reno tau dengab cara seperti ini.
....
Selesai makan mereka kemudian memutuskan untuk langsung pulang. Tidak ada obrolan sama sekali diantara keduanya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bayangkan 3 jam perjalanan tanpa ada obrolan apapun, perjalanan menjadi sangat canggung dan terasa lama.
Angel pun kemudian memutuskan untuk berpura-pura tidur.
Reno melirik ke arah Angel kemudian menghela nafas panjang.
“Kenapa dia diam saja dan tidak berusaha menjelaskan apapun?” batin Reno sambil memperhatikan Angel yang tertidur.
Berpura-pura tidur ternyata membuatnya menjadi benar-benar tidur.
Sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah Angel.
Melihat Angel yang masih terlelap membuat Reno tambah bingung, haruskah dia membangunkan Angel atau tidak?.
Reno kemudian memutuskan untuk menunggu sampai Angel terbangun.
10 menit berlalu Angel belum juga terbangun, akhirnya dengan terpaksa Reno membangunkan Angel.
“Angel… “ ucapnya sambil mengguncang bahu Angel pelan.
Angel yang merasa tubuhnya diguncang langsung membuka mata, jaraknya yang sangat dekat dengan Reno membuat jantungnya serasa ingin melompat dari tempatnya.
“Re..no “ucapnya gagap, “maaf aku ketiduran”.
Reno hanya mengangguk.
Hening tidak ada lagi yang bersuara.
Angel menghela nafas pelan
“Ren, terima kasih ya sudah mengantar, mau mampir dulu?” ucap Angel kemudian.
“Tidak terima kasih, aku ada urusan lagi” jawab Reno tanpa melihat ke arah Angel.
“Sekali lagi terima kasih” ucap Angel kemudian keluar dari mobil Reno dan segera memasuki rumahnya.
.
.
“Tumben kamu kesini gak ngabarin dulu? “ tanya Rio saat membukakan pintu untuk Reno. “Kebetulan Anjas juga disini” imbuhnya.
“Aku lagi butuh temen curhat” jawab Reni dengan wajah yang terlihat begitu gusar.
“Ayo masuk” ajak Rio kemudian.
Reno pun kemudian mengekori Rio memasuki rumahnya.
Anjas menatap heran kedua sahabatnya tersebut. Rio yang nampak kebingungan sedangkan Reno yang nampak frustasi
"Kenapa ? " katanya keheranan.
Reno menceritakan kepada kedua sahabatnya itu kalau ternyata selama ini Angel membohonginya.
“Bagus dong berarti, kamu masih ada kesempatan, jangan kayak dulu lagi, sekarang harus kamu tunjukin kalau kamu memang mengukainya“ Anjas Angkat bicara.
“Iya bener kata Anjas, buang gensi mu, nyatakan perasaan kamu yang sebenarnya sama Angel” saran Rio.
“Tapi apa maksudnya dia bilang kalau udah nikah? Bukannya secara tidak langsung dia mau bilang kalau aku gak boleh deketin dia?” tanya Reno dengan pemikiran yang ada di kepalanya.
Rio dan Anjas kompak mengedikkan bahu.
Reno mengusap wajahnya kasar. Bingung harus berbuat apa. Dikepalanya hanya ada satu pertanyaan. Kenapa? Kenapa? dan Kenapa? dan jawabannya dia sama sekali tidak tau.
"Besok aku ada pertemuan lagi dengan pak Andre, bagaimana caranya aku bersikap? sedangkan aku sendiri masih bingung harus bagaimana?" ucap Reno sambil berpangku tangan. Tak pernah dia segalau ini. Angel benar-benar membuat Reno merana.
"Jangan lagi berasumsi sendiri, lebih baik katakan langsung,tanyakan kejelasannya pada Angel" tegas Rio dan Anjas pun mengangguk setuju.Mereka keemudian menatap Reno yang masih terlihat bingung itu.
Reno hanya bisa menghela nafasnya kasar.
.
.
Esoknya…
Sesuai jadwal harusnya Reno dan Andre akan membahas perkembangan proyek mereka di kantor Andre, tapi ternyata Reno berhalangan hadir dan digantikan rekan kerjanya.
Angel yang sudah menunggu kedatangan Reno nampak kecewa.
Sampai pertemuan itu berakhir dia terus melihat Ponsel nya , berharap Reno menghubunginya, tapi nihil.
Andre yang menyadari perubahan sikap adiknya kemudian bertanya, “ Kamu kecewa karena bukan Reno yang kesini?” goda Andre. Andre kira Angel akan mengelak. Tapi ternyata .. Angel malah mengangguk.
“Reno sudah tau kalau selama ini aku bohongin dia tentang status pernikahanku kak”jawab Angel sendu.
Andre menghela nafas akhirnya yang dia takutkan terjadi juga.
“Cepat temui Reno dan minta maaflah” Andre menyerahkan cek kepada adiknya, ‘’Berikan cek ini sebagai alasan kamu menemuinya, ini dp pembayaran mega proyek” jelas Andre. Dia ingin adiknya segera menyelesaikan konflik dengan Reno.
“Tapi kak” protes Angel. Dia ragu Reno mau berbicara dengannya.
“Udah gak ada tapi-tapi, gak enak juga proyek kita masih panjang sama dia”ucap Andre tidak menerima penolakan.
Angel pun mau tidak mau menrrim cek tersebut dan menuju ke kantor Reno.
"Semoga dia mau menerima permohonan maaf dari ku" batin Angel.
Angel sudah memikirkan kata-kata yang akan dia ucapkan saat bertemu Reno.
"Gimana ini?" Angel sangat tegang saat ini. Rasanya dadanya berdegup sangat kencang saat melajukan mobilnya menuju kantor Reno.
"Ya Tuhan" terus saja gumaman yang keluar dari mulutnya hingga gedung megah tempat Reno bekerja mulai terlihat.
Glek.
Angel menelan ludahnya kasar. Tangannya pun sudah berkeringat dingin. Rasanya ini lebih menegangkan dari sidang skripsi.
Sebelum turun dari mobil Angel menghirup oksigen banyak-banyak.
"Aku pasti bisa" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Bersambung...