
Lani kembali ke kantornya setelah puas mengenang masa lalu dengan Angel. Angel pun telah menceritakan kepada Lani bagaimana masa KKN nya yang di bully habis-habisan karena dekat dengan Daffa, serta menceritakan bahwa semenjak itu dia menggunakan nama belakang sebagai nama panggilan. Ternyata sang sahabat yang sudah membuat si boss patah hati, dan lagi ternyata pacar Angel sekarang adalah mantan pacar dari adik si boss. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Lani berdenyut. Bak benang kusut yang saling terhubung, itulah hidup.
Sampai di kantor dia sudah dipanggil si boss, memang boss satu itu tidak seperti boss kebanyakan. Pembawaannya cerewet dan gampang curhat sana-sini atau mungkin hanya di depan Lani yang seperti itu, entah lah karena Vino merasa nyaman curhat dengan Lani. Selama ini selain Melody, Lani lah teman curhatnya, teman berbagi keluh kesah, termasuk cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
“Bapak memanggil saya?” tanya Lani saat memasuki ruangan Vino.
Vino mengangguk, “Silahkan duduk Lani” perintah Vino. Lani pun duduk di depan meja Vino, sebenarnya dia sudah tau, dia dipanggil pasti tentang kepergiannya dengan Angel tadi. Vino ini memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya sedikitpun. Kentara sekali menyukai Angel.
“Ada apa ya pak?”
“Santai aja Lan, tak usah tegang begitu” ucap Vino mencairkan suasana , “Bagaimana makan siangnya enak?”tanya Vino basa basi.
“Bapak mau nanya makan siang saya apa nanya yang saya ajak makan siang?” goda Lani pada si Boss.
Vino tertawa menanggapi, “Kamu tau ternyata ya, kalau saya tau dari dulu kalian temenan, mungkin sudah dari dulu saya minta saran ke kamu bagaimana cara mendekati Siska, yahh… saya diduluin mantan calon adik ipar”ucap Vino merasa lucu.
Lani tak bisa menahan tawanya, malangnya nasib si boss begitulah pikirnya.
“Ya tertawa saja sepuasnya” ucap Vino pura-pura merajuk.
“Maaf pak, saya gak bermaksud” ucap Lani sambil menggigit bibir bawahnya, menahan tawa di bibir yang sudah terlanjur meledak.
“Kalian dulu deket ya?”tanya Vino penasaran.
“Deket banget pak, saya teman Angel satu-satunya” jawab Lani dengan tertawa kecil. “Dulu dia orangnya pemalu, tidak seperti sekarang” jelas Lani. Mereka kemudian mengobrol membicarakan Angel. Vino mendengarkan dengan seksama dan sesekali tertawa ketika ocehan dari mulut Lani tentang Angel yang terdengar lucu.
“Manisnya” kata Vino dalam hati memperhatikan Lani yang berceloteh. Hari-hari berlanjut, mereka semakin dekat dan sering makan siang bersama. Vino sering memakai alasan menanyai tentang Angel kepada Lani, padahal sebenarnya dia memang ingin dekat dengan Lani. Lama-lama dia sudah mengubur perasaannya kepada Angel. Angel sudah bahagia bersama Reno. Ikhlas adalah pilihan yang terbaik.
Suatu sore, Vino mengajak Lani jalan keluar. Dia menjemput Lani dirumahnya dengan alasan mencari inspirasi untuk event terbaru, Lani mau saja menemani sang boss di hari libur.
“Gak pa-pa pak, saya juga gak ada kerjaan dirumah, yang penting bapak traktir saya makan malam ya” kata nya tak tau malu.
Vino hanya geleng-geleng kepala. Lani memang beda dari yang lain, orangnya bar-bar dan tidak ada jaim-jaimnya, tapi kalau sudah kerja sangat profesional. Diam-diam Vino semakin kagum dengan sosok Lani.
Selesai urusan keliling-keliling di tempat pameran, Sesuai janjinya Vino pun mentraktir Lani makan malam di restoran korea sesuai permintaan Lani.
"Sering-sering ya pak” kata Lani saat makanan mereka baru saja tiba, “Mari makan” katanya riang.
Vino hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “pelan-pelan makannya, masih panas’ kata Vino perhatian.
Vino terus memperhatikan Lani yang nampak sangat lahap menyantap makanannya. Tentu saja Lani menyadari kalau dari tadi Vino terus memperhatikan dirinya. Lani salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh si Boss.
“Bapak jangan perhatiin gitu sama saya, nanti saya salah sangka” tegur Lani sambil cekikikan.
“Kamu bukan salah sangka, tapi aku memang ada rasa sama kamu” jujur Vino.
“Uhukk…” Lani tersedak kemudian buru-buru meminum air putih didekatnya.
“Kamu gak percaya?” tanya Vino.
“Ya iyalah, setelah 2 tahun saya kerja sama Bapak, Bapak selalu ngomongin Angel, sekarang tiba-tiba bilang ada rasa sama saya, jangan ngada-ngada deh pak” kesal Lani.
“Aku serius, dulu memang aku pernah sangat menyukai Siksa, tapi lama-lama rasa itu terkikis dengan hadirnya dirimu, bahkan dia sengaja aku pakai alasan untuk bisa mengobrol denganmu” ucap Vino jujur. Entah sejak kapan rasa itu sudah bersemayam di hatinya.
Bersambung...