
“Mungkin memang sekarang sudah saatnya aku berbakti dengan orang tua” kata Anjas lirih.
Kurang lebih satu jam proses operasi itu berlangsung, Ibu Anjas sudah dibawa ke ruang observasi dan jika tidak ada halangan bisa langsung diproses ke ruang rawat inap. Sample daging yang di dapat di Rahim akan di uji dilaboratorium untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita ibu Anjas merupakan kanker atau penyakit lain, hasilnya paling cepat akan keluar kurang lebih 2 minggu mendatang.
Anjas dengan setia menemani ibunya yang masih belum sadarkan diri. Anjas merupakan anak kedua dari dua bersaudara, Kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya diluar negeri.
Bapak Anjas dirumah karena harus menemani kakeknya yang mengidap stroke dan tidak bisa ditinggal sendiri.
Tepat pukul 12 lewat 10 menit, Ibu Anjas mulai tersadar tetapi belum seratus persen. Matanya masih tertutup tetapi mulutnya mengoceh dan berkata yang tidak-tidak, terus saja berkata tentang kematianm
Anjas menguatkan sang Ibu dan berkata kalau tidak akan terjadi hal yang buruk. Mulutnya memang bisa berkata begitu, tetapi dalam hati dia menangis dan sangat takut sesuatu yang buruk terjadi pada sang Ibu.
Dalam hati Anjas selalu berdoa untuk kesembuhan Ibunya. Entah karena pengaruh bius atau apa, Ibu Anjas terus saya berguman-guman seperti seseorang yang kesakitan, Anjas semakin tidak tega melihat ibunya seperti itu.
“Ibu yang kuat, ibu pasti sembuh, kalau ibu sembuh aku akan menikah dengan Ratih, aku berjanji bu” kata Anjas sambil membelai tangan ibunya lembut.
. . .
3 Bulan Kemudian,
Kehamilan Angel sudah memasuki trimester ke 2, sekarang adalah jadwalnya control ke dokter. Seperti biasa Reno dengan setia menemani sang istri.
Angel sedang mengecek tekanan darah dengan perawat jaga.
Sedangkan Reno menunggu di kursi tunggu, saat itu juga dia melihat Anjas yang keluar dari ruang praktek dokter dengan Ibunya.
Reno tampak terkejut dan menghampiri sahabatnya itu. Kesibukan membuat mereka sangat jarang bertemu. Anjas hanya sesekali ikut kumpul dan sangat jarang membalas obrolan di grup chat.
“Anjas” Panggil Reno sambil sedikit berlari.
“Reno” kata Anjas kaget karena tidak menyangka bertemu sang sahabat disini.
“Apa kabar tante?” sapa Reno ramah.
“Iya tante, Istri hamil 4 bulan” jawab Reno tersenyum.
Reno kemudian melirik ke arah Anjas seolah meminta penjelasan. Anjas yang mengerti kemudian menjelaskan.
“Beberapa bulan lalu Ibu Aku di vonis kanker Rahim dan harus di operasi, setelah hasilnya keluar untung saja bukan kanker melainkan hanya tumor jinak” Anjas menjelaskan.
Reno terkejut. Dia tidak menyangka selama ini Anjas disibukkan dengan perawatan Ibunya, sebagai sahabat dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menemani Anjas saat masa sulitnya.
“Maaf Aku gak tahu, Jas”ucap Reno merasa bersalah.
Anjas menepuk pundak Reno pelan, “Aku yang salah karena gak cerita ke kalian, nanti kita ngobrol lagi ya, Aku mau anterin Ibu pulang dulu”pamit Anjas.
“Iya, hati-hati di jalan”ucap Reno menimpali.
Setelahnya mereka pun berpisah. Reno kembali menghampiri sang istri yang sudah selesai mengecek tekanan darah dan berat badan, tinggal menunggu giliran control di dokter kandungan.
“Kamu kemana tadi?” Tanya Angel saat Reno sudah duduk disebelahnya.
“Tadi ketemu anjas, nganterin ibunya”jawab Reno.
“Oh iya? Sakit apa?”tanta Angel khawatir.
“Tumor jinak, tetapi sudah di operasi”jawab Reno.
“Syukurlah kalau begitu, semoga baik-baik saja”.
Reno pun mengangguk menyetujui.
BERSAMBUNG 🥰