
"Mau aku suapin?" Reno duduk di tepi ranjang berusaha meminta Angel untuk makan.
Angel memaksakan diri untuk duduk, padahal kepalanya mulai berkunang-kunang.
"Aku bisa sendiri kok sayang, kamu berangkat kerja aja".
"Beneran?" Reno tidak percaya dengan istrinya, terlihat dengan jelas kalau istrinya sedang menahan sakit.
"Bener, kamu berangkat aja, nanti kalau perlu apa-apa aku panggil ibu".
Reno sebenarnya tidak tega untuk meninggalkan istrinya dirumah, tapi mau bagaimana lagi sekarang dia ada pekerjaan penting di kantor.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya" ucap Reno kemudian mengecup kening Angel sebelum meninggalkan kamar.
.
.
Reno sampai di kantor dengan perasaan cemas. Meninggalkan Angel dirumah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja membuatnya tidak konsentrasi dalam bekerja.
"Ren, kita harus nyari staff baru di bagian administrasi, si Gina sebentar lagi melahirkan" kata Bayu saat memasuki ruang kerja Reno.
"Iya pak, nanti saya akan buatkan iklannya, atau bapak kalau ada rekomendasi juga bisa diajukan".
"Ada sih tetangga aku, anaknya baru lulus kuliah tapi sayangnya jurusannya tidak sesuai, kita harus ngajarin dari awal, sepertinya akan repot, kita cari yang berpengalaman saja"jawab Bayu.
Reno kemudian mengangguk.
"Gimana yang Ibu Winia? sudah ada perkembangan?" tanya Bayu pula.
"Sudah pak, untungnya Ibunya sudah setuju dengan design terakhir" jawab Reno.
"Syukurlah, memang harus kamu yang bertemu ibunya baru dia mau" ucap Bayu lega.
"Bukan begitu pak, memang baru sekarang designnya cocok dengan selera ibunya, dia lebih suka rancangan Emil dari pada Diyo"ucap Reno menjelaskan.
"Ya baguslah, akhirnya kelar juga sama tu ibu-ibu cerewet, Aku ke proyek sebentar ya ketemu Pak Markus" ucap Bayu seraya berpamitan.
"Baik pak hati-hati di jalan".
Reno kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Baru beberapa menit bergelut dengan proposal-proposal, Reno kembali teringat dengan istrinya.
"Aku telpon aja kali ya" batin Reno.
3x panggilan tidak dijawab, Reno semakin panik.
Dia kemudian menghunbungi Mira sang Ibu.
Terdengar salan dari seberang.
"Halo bu, bagaimana keadaan Angel bu?" tanya Reno pada Ibunya.
"Buburnya dimakan dikit banget, sekarang masih tidur, katanya kepalanya pusing" ucap Mira menjawab pertanyaan Reno.
"Ibu udah kasi obat?"tanya Reno pula.
"Ibu gak berani ngasi obat, kalau hamil gimana? kita ajak ke dokter aja nanti sore ya, jangan lupa beli test pack nya" jawab Mira.
Reno menghela nafas.
"Aku pulang sekarang aja bu, aku ajak Angel ke dokter sekarang saja" ucap Reno yang sudah sangat tidak tenang.
"Bagus itu, lebih cepat lebih baik" ucap Mira menyetujui usul Reno.
Reno menutup telponnya lalu bersiap-siap pulang.
15 menit kemudian dia sudah sampai dirumah dan segera memboyong istrinya menuju rumah sakit terdekat.
.
.
"Sayang, udah dong ngambeknya, aku kan udah bilang kalau aku sama Riri gak ada hubungan apa-apa" Rio dan Raina sedang makan siang bersama di restoran di dekat Bank XX tempat Raina bekerja.
"Gak usah dibahas, aku gak punya waktu lama-lama, jam istirahatku terbatas" ketus Raina.
"Maaf sayang, aku udah kasi Anjas album itu, aku bener-bener lupa kalau masih ada di mobil, maaf sayang" Rio meraih tangan Raina dan menggenggamnya erat.
"Please, maafin aku, kamu tahu kan gimana perjuangan aku buat dapetin kamu? kamu harus percaya kalau aku sama Riri gak mungkin ada hubungan sedangkan hati aku cuma terpaut sama kamu" Rio menjelaskan panjang lebar dengan anggapan Raina bisa memaafkannya.
Sebenarnya Raina sudah tahu kalau antara Rio dan Riri hanya berteman saja, apalagi dia dengar sendiri saat Angel dan Riri menelpon malam itu. Saat Riri patah hati gara-gara Rio.
Tapi tetap saja, dia tidak terima Rio masih menyimpan hadiah pemberian dari wanita lain.
Bersambung ❤