MY ANGEL

MY ANGEL
Dunia ini sempit



“Angel? “ Tanya orang tersebut.


“Pak Daffa? Maaf pak , apa kaki bapak sakit?” Tanya Angel tidak enak karena sudah menginjak kaki Daffa.


Reno pun menghampiri mereka dan merangkul pundak istrinya.


“Tidak apa-apa, kalian berdua saja?” Tanya Daffa yang hari itu berpenampilan berbeda. Biasanya dia akan memakai kemeja dan celana panjang. Hari ini penampilannya sedikit fresh, memakai baju kaos dan celana pendek serta sepatu sneaker putih. Dia sendiri tidak terlihat bersama siapapun disisinya.


“Iya pak, kami sedang berlibur” jawab Reno, “Bapak sendiri?”.


“Sama istri, masih di toilet, kalian sudah menikah?”jawab Daffa.


“Iya pak, nyusul bapak” Reno yang menjawab lagi.


Daffa mengulurkan tangannya, “Selamat ya”


Reno menerima uluran tangan tersebut, gantian Daffa juga menjabat tangan Angel.


“Terima kasih pak” kata Angel pula.


Mereka berbincang sebentar kemudian berpisah.


“Kenapa dunia ini sempit ya? Kita selalu bertemu masa lalu” celetuk Reno sambil menggandeng tangan Angel.


Angel tersenyum kecil , “menjalin hubungan baik dengan siapa saja kan bagus sayang, siapa tahu anak kita nanti kuliah disana dan Pak daffa yang jadi dosennya”.


“Apa mungkin dia masih jadi dosen saat anak kita sudah kuliah?”.


“Mungkin saja, dia kan masih muda”balas Angel.


‘’ Untung dulu kamu tidak suka dengan Pak Daffa ya, berat sainganku”ucap Reno pula.


Angel memukul pelan lengan Reno, “Ada-ada aja, aku tidak punya masa lalu, kalau kamu baru iya” Angel menjulurkan lidahnya kepada sang suami.


“Tidak usah dibahas, yang penting masa depan ku itu kamu” Reno mencuri kecup pipi Angel.


“Isshh, tempat umum sayang” kesal Angel karena Reno tidak tahu tempat.


“Kita pulang yuk” ajak Reno setelah tawanya reda.


“Pulang ke rumah? Katanya 3 hari?”tanya Angel terheran.


“Ke Villa, aku mau berenang” jawab Reno.


“Oh… kirain mau yang lain”goda Angel.


‘’Yang itu sudah pasti” jawab Reno tersenyum jahil.


Senyum keduanya mengembang saat memasuki mobil, berbeda dengan Daffa yang terlihat menekuk wajahnya.


“Dosen kamu kenapa itu?” Tanya Reno saat sudah didalam mobil.


Angel menggedikan bahunya, “ Dosen kamu juga”.


.


.


Di tempat lain, Anjas sedang duduk di ruang tunggu seorang diri di sebuah rumah sakit swasta di kotanya. Pikirannya menerawang jauh memikirkan perkataan Ibunya yang sekarang sedang menjalani proses operasi pengangkatan Rahim. Beberapa bulan ini dia sibuk wara wiri mengurus proses pengobatan ibunya yang diduga mengidap penyakit kanker Rahim. Itu juga alasan kenapa dia tidak pernah berkabar lagi dengan teman-temannya. Kesehatan ibunya yang jauh lebih penting dari segalanya.


“Anjas, kalau Ibu sudah tidak ada, menikahlah segera supaya kamu ada teman hidup, jaga diri kamu Bapakmu dengan baik, walaupun dia sedikit bicara tetapi dia sangat sayang pada kita”.


Anjas terus mengingat-ingat kata ibunya sebelum masuk ke dalam ruang operasi.


“Menikahlah dengan Ratih, dia wanita yang baik dan penyayang”.


Perkataan Ibunya terus berputar berulang-ulang dikepalanya.


Ratih merupakan tetangganya , dari kecil mereka sudah saling mengenal. Sayangnya Anjas hanya menganggap Ratih sebagai seorang teman tidak pernah lebih. Apalagi sebenarnya jauh di lubuk hati Anjas yang paling dalam, ada nama gadis yang sudah bersemayam di hatinya sejak lama. Tetapi dia sadar hal itu tidak mungkin terjadi, maka dia pendam semuanya dan tidak pernah menceritakan itu kepada siapapun.


“Mungkin memang sekarang sudah saatnya aku berbakti dengan orang tua” kata Anjas lirih.


BERSAMBUNG ❤